Sleep tight! You've work hard today--Ravenna's POV

2128 Words
Mega terlukis indah menghiasi langit sore hari ini. Saat ini aku sedang berdiri di balkon agensi. Menikmati angin yang memanjakan kulit. Sore ini, kami diberi waktu untuk beristirahat setelah latihan. Angin terus saja memanjakan kulitku. Menyentuh lembut tiap helai rambut ku. Rambutku memang hanya sebahu dan pagi tadi ku hias dengan membentuk wave di tiap helainya. Festival sebentar lagi akan diselenggarakan. Waktunya semakin dekat saja, dan hal itu memaksaku untuk bekerja lebih lebih dan lebih keras lagi. Saking kerasnya aku bekerja, rambutku bahkan tidak ku cuci selama empat hari. Saat ini ku yakin keadaan rambutku sangat lengket dan ya menyebabkan bau-bau yang kalian pasti paham tanpa ku jelaskan. Seharian mengenakan hairclip untuk menjaga poni ku agar tetap di tempatnya dan tidak mengganggu aktivitasku. Rambut yang dengan sengaja ku semir indah. Dengan polesan blonde bercampur hijau. Colourfull bukan?. Alasan aku menyemir rambutku dengan warna hijau karena aku iseng dan ingin menampilkan penampilan baru. Sudah tiga bulan aku dikenal dengan panggilan si rambut hijau. Untung saja, hijau di rambutku tidak terlalu mencolok. Ku akui warnanya bagus dan menarik mata, tidak menyesal aku mencoba warna ini hahaha. Aku membuka smartphoneku yang sejak tadi ada di genggaman. Ku buka dan menampilkan pesan teks dari Chris. Malam itu, Chris mengirimkan pesan singkat kepadaku. Sebelumnya, Chris tidak pernah menghubungiku. Biasanya Ia akan menghubungi Galang dan memintanya untuk menyampaikan kepadaku. Tapi, kali ini Ia mengirimiku pesan langsung. Aku yakin Chris tidak tahu bahwa aku mengetahui pesan tersebut adalah darinya. Aku menyimpan nomor Chris namun tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya. Aku mendapat nomor Chris dari Galang. Saat itu, Galang memintaku menghubungi Chris karena sesuatu, makanya Galang mengirimkan kontaknya kepadaku. Tapi, sampai hari ini aku belum pernah sekalipun menghubunginya. “Sleep tight! You’ve work hard today” Begitulah pesan singkat yang dikirimkan Chris kepadaku tepat pukul 03.00 dini hari. Aku membuka pesan itu saat terbangun di pagi hari. Ada apa dengannya? Apa alasan Ia mengirimkan pesan secara tiba-tiba. Bahkan Ia tidak memberi tahu siapa pengirimnya, meskipun tanpa dikasi tahu akupun sudah hafal nomor handphonenya. Ku lihat dengan seksama pesan yang ku dapat malam itu. Ku perhatikan tiap huruf yang ada di dalamnya. Hanya frasa sederhana, namun mampu memenangkan hatiku. Ingin rasanya aku membalas pesan tersebut. Tapi, hatiku terlalu malu dan takut. Sering kali ku lihat Chris berjalan beriringan dengan seorang wanita. Wanita yang sama saat pertama ku lihat di depan agensi sedang beriringan dengan Chris di pagi hari. Karena hal itu lah, aku merasa tidak pantas untuk menyukai Chris lebih dari sekedar fans. Lagipula, mana mungkin Chris memiliki perasaan yang sama terhadapku. Siapa kau ini, Ravenna? Bukan siapa-siapa! Di sela istirahat ku ini, ku coba mencari tahu siapa wanita cantik yang sering ku lihat bersama Chris. Ternyata Ia seorang model. Pantas saja, tubuh dan wajahnya terlihat indah. Rasa penasaran ku hari ini telah membunuhku. Awalnya aku tidak ingin mencari tahu siapa wanita itu, tapi entahlah tindakan dan pikiran ku kadang tidak sejalan. Selama kurang lebih sepuluh menit aku berada di balkon ini. Untung saja, saat ini telah disediakan bangku berbentuk panjang di sini, jadi tidak terasa capeknya berdiri seperti saat aku dan Chris berad di sini beberapa waktu lalu. Semenjak aku bekerja di agensi, aku lebih sering berada di sini. Walaupun studioku ada di lantai lima, tapi kegiatanku lebih banyak berada di lantai tiga. Di sini lah aku melepas lelah. Memandangi jalanan yang terkadang sepi, terkadang ramai. Menikmati semilir angin yang mengibas-ngibaskan indah rambutku. Di sini, aku merasa seperti semua beban di pundakku terasa ringan. Healing. Setiap kali memasuki balkon ini dan menutup pintu antara koridor dan balkon, pikiran ku seakan menghilang. Ringan. Tubuhku seperti tidak menanggung beban berat. Entah apa yang sebenarnya ada di balkon ini. Entah hal itu merupakan sugesti semata, atau memang ada sesuatu yang memengaruhi diriku setiap berada di sini. Terlalu asik aku menikmati waktu istirahat ini, hingga tidak menyadari bahwa Chris telah hadir berganung di balkon ini. Chris mengetuk pintu balkon dan memanggil namaku pelan. “Daydreaming? Again?” Chris ikut duduk di sampingku. Bangku ini cukup panjang untuk diduduki oleh dua orang dewasa. Sepertinya sering kali Chris melihatku melamun. Sering kali juga Ia menanyakan hal itu. “Daydreaming?” hal itu yang sering kali Ia ucapkan ketika bertemu dengan ku. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Melihat waktu sepertinya sudah menyatakan untuk kembali latihan. Lagipula, saat ini aku tidak ingin berada terlalu lama di dekat Chris. Aku memutuskan untuk menarik diri dari Chris. Aku percaya pria ini sebenarnya tidak ingin bermain dengan perasaan wanita, tapi aku hanya tidak ingin meningkatkan ekspektasi ku terhadap Chris. Melihat Awan yang sepertinya memiliki hubungan secara diam-diam dengan seorang wanita, aku pun menjadi yakin bahwa Chris juga sebenarnya sudah memiliki wanitanya. Maka itu, aku memutuskan untuk menyelamatkan hati ku agar tidak patah pada tempatnya. Memilih untuk menjaga jarak dengan Chris. Mencoba untuk tidak terlalu lama berada di dekat Chris dan tentu tidak menghiraukan kesempatan untuk bertemu dengan Chris. “Udah jam segini, yuk latihan lagi” Aku berdiri dan hendak meninggalkan balkon. Chris hanya menatapku dan masih duduk di tempatnya. Tanpa menghiraukan Chris, aku langsung berjalan menuju Saint’s room. Tidak menunggu lama, Chris pun mengikutiku. Hanya diam yang ada di antara kami berdua. Terdengar suara langkah kaki yang aku yakin tidak satupun dari kami mengetahui mana milik ku dan yang mana miliknya. Dari sudut mataku, ku lihat Chris memandangi ku. Menatap ku seakan meminta jawaban. Jawaban apa yang aku bahkan tidak tahu. Ku buka pintu Saint’s room dan tiba-tiba menampilkan seorang pria dewasa yang kerap kali dipanggil bocil oleh Chris. Pria itu berdiri dengan mata membulat lebar seperti melihat penampakan. “K-kalian abis darimana?” Jay bersuara masih dengan mata membulat lebar. “Gue dari balkon situ” jawabku menunjuk ke arah balkon. “Sejak kapan Jay datang? Udah gak sakit emang tangannya?” Jay masih mematung, padahal pertanyaanku barusan sangat sangat membutuhkan jawabam. Beberapa hari lalu ku lihat keadaan Jay memang sudah cukup membaik, tapi sepertinya masih belum cukup baik untuk dibawa melakukan aktifitas berat. Matanya menatap aku dan Chris bergantian. Sekitar satu menit kami berdiri di depan pintu seperti orang aneh. Sejak tadi, Jay hanya memasang wajah bingung hingga kemudian Ia menampilkan wajah jahilnya. “Lo berduaan?” “Iya” Chris dengan lantang dan tanpa berpikir menjawab pertanyaan itu. Kemudian Ia memilih masuk ke dalam Saint’s room dengan tanpa beban. “Engga. Tadi gue sendiri trus baru aja disamperin sama Chris buat ngajak latihan lagi” Setelah diberi penjelasan dari ku, Jay masih saja mematung di depan pintu. Agak bergeser sedikit dari posisi awalnya, karena barusan kan Chris melewatinya dan memintanya bergeser agar tidak menutupi jalan masuknya. Seiringan dengan langkah ku memasuki Saint’s room, Jay pun mengikuti dari belakang. Aku bertanya keadaan Jay dan berbincang cukup lama dengan Jay, sambil menunggu Awan kembali dari waktu istirahatnya. Aku dan Jay duduk di sofa panjang dekat dengan televisi. Kami berbincang asik diikuti Haris. Sedangkan Chris duduk berseberangan dengan kami, dan El masih sibuk dengan kegiatannya di belakang meja komputer. Tanpa sengaja aku melihat Chris menatapku dari tempat duduknya. Saat aku menoleh melihat ke arah matanya, Ia masih memberikan tatapan kepadaku dan kemudian aku pun mengalah untuk memalingkan pandangan ku darinya. Ke dua kali aku memergokinya melihat ke arahku dan seperti tidak bergeming. Apakah Chris tidur dengan mata terbuka? Dan menghadap ke arahku? Entahlah. Aku, Jay dan Haris sudah cukup mengenal satu sama lain. Kami sering kali berbagi cerita seputar pekerjaan. Bahkan kami juga sering bercanda bersama, makan siang dan makan malam bersama, dan menuju parkiran bersama. Kedekatanku dengan mereka berdua sudah seperti teman satu tongkrongan. Jay dan Haris memiliki sifat yang humble. Meskipun mereka selebritis dan merupakan salah satu seniorku di agensi ini, tapi mereka tetap menghargai keberadaanku. Suara tertawa selalu mengiringi setiap kali aku dan Haris juga Jay bercengkerama. Mereka berdua ini selalu saja membuat orang lain tertawa. Menyelipkan candaan dan di sela bercanda, pasti mereka bertengkar. Ada saja tingkahnya agar membuat orang tertawa. Selama beberapa menit sejak tadi, suara tertawa dari kami bertiga memenuhi seisi ruangan. Ku akui, seru sekali memang jika bersama dua pria dewasa yang selalu saja dipanggil bocil oleh Chris. Pintu Saint’s room terbuka dan menampilkan Awan datang dari luar. Wajahnya langsung menampilkan senyum lucu sekali ketika Haris dan Jay mulai meledeknya. Lagi, suara tawa menghiasi ruangan ini. Sepertinya, jika Jay dan Haris tidak meledek dan bercanda ke Awan, pasti El sudah memarahi Awan. Karena sebenarnya Awan telat balik ke agensi, padahal sudah lebih 30 menit waktu istirahat. El bangkit dan segera mengajak untuk melanjutkan latihan. Melihat itu, anggota S&T pun segera bersiap untuk memulai latihan kali ini. Tapi, Chris hanya duduk dan tetap melihatku dari jauh, bahkan setelah aku berdiri. Wajahnya datar, kakinya terus bergoyang-goyang, dan juga jari-jarinya tidak henti menyentuh jari-jari tangan miliknya sendiri. Ada apa dengannya? Sejak di balkon tadi, sepertinya Chris memerhatikan ku lebih rajin. Aku merasa, belakangan Chris seperti menunjukkan gerak-gerik terlalu ramah kepada ku. Tidak masalah sebenarnya, hanya saja hal itu tidak sehat untuk hati dan perasaanku. Kalian tahu kan bagaimana aku menggemari Chris, dan semenjak sikap yang Chris lakukan pada ku, rasa gemar dan kagum ku bahkan berubah menjadi suka in person. Karena hal itu lah, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Chris. Lagipula, aku mengetahui bahwa Chris sudah memiliki pacar, jadi aku tidak mau menambah ekspektasiku atas semua perlakuan Chris. Chris bangkit dan mulai bersiap setelah Haris memanggil namanya. Tahu sendiri kalau Haris anaknya suka drama dan berlebihan. “Kepada bapak Christopher Anderson, dimohon kesediaannya untuh berhenti menatap primadona di antara kita. Agar kita semua bisa latihan dengan khidmat” Haris bersuara cukup keras hingga membuat si empunya nama terkesiap. “Tau tuh, dari tadi mata nya ngelirik ke sini terus. Ya kan bro?” Jay menyahuti perkataan Haris barusan. Mereka bekerja sama untuk membuat si leader dari grup S&T itu malu-malu. Chris langsung bangkit dan memberikan ekspresi malu-malu. Padahal sejak tadi wajahnya datar. “Ada yang salting guys, sok malu-malu” Jay bersuara kembali. “Kek bocah ya” Haris menyahuti. Haris sudah bersiap di balik sintesizhernya, sedangkan Jay masih duduk di sofa berniat untuk melihat kami latihan. Tapi, keduanya seakan kompak membuat leader mereka merasa salah tingkah. Manager dan produser yang saat ini juga sedang berada di Saint’s room pun menyahuti candaan Haris dan Jay. Semakin merona saja wajah Chris. Syukurnya Ia bisa segera menetralkan ekspresinya. Chris langsung menghidupkan microphone dan pura-pura check sound. Haha lucu sekali Chris kalau salah tingkah begini. Meskipun sebenarnya aku tidak mengetahui apakah Chris benar salah tingkah atau tidak. Sesi latihan kali ini sudah lebih stabil dari latihan pertama. El juga tidak lagi menghujani ku dengan komentar nya yang biasa Ia ucapkan secara terang-terangan. Chris, ah Chris lagi. Ia juga sudah terlohat puas dengan performa ku selama latihan. Produser yang sering memantau keadaan kami pun sudah lebih sering memuji ku dan juga mengakui bahwa aku pantas menjadi pengganti Jay untuk festival nanti. Jay yang sejak tadi melihat kami latihan, memberikan standing ovation saat kami sudah menyelesaikan full performance untuk festival nanti. Hari ini, kami diminta untuk latihan lebih keras lagi. Karena rehearseal akan segera dilakukan beberapa hari kemudian. Aku merasa bersyukur, Jay mengatakan bahwa aku cukup bagus dalam menggantikan posisinya. Bahkan Jay tadi sempat berterima kasih kepadaku, karena sudah bersedia menggantikannya. Hari ini aku memutuskan lembur di agensi. Setelah selesai latihan dengan S&T, aku memutuskan untuk melanjutkan project dengan Sam, Restu dan Jack. Sebenarnya sudah selesai juga project bagian kami, tapi malam ini aku berniat untuk mengecek ulang saja bersama mereka. Galang hari ini sedang sakit dan tidak bisa masuk kerja. Sudah beberapa hari ini aku tidak bersama Galang, karena Ia sedang sakit. Sakit demam sepertinya Ia kecapekan. Besok pagi, aku berniat untuk menemani Galang di apartementnya. Galang tinggal di apartement sendiri dan tentunya tidak ada yang mengurus dirinya. “Thanks guys! Tinggal nunggu jadwal rehearsal kita, setelahnya kita sama-sama nampilin yang terbaik!” Chris mengakhiri sesi latihan dengan ucapan terima kasih. “Puas banget menurut gue, perform kalian udah puas banget, asli” Jay bersuara dan memberikanbopininya mengenai penampilan kami tadi. Tepukan tangan meriah terdengar di Saint’s room. Semua orang sepertinya merasa puas akan latihan hari ini. Syukurlah. Ku siapkan barang-barang ku yang ada di Saint’s room untuk ku bawa ke studioku di lantai lima. Aku juga sudah menghubungi Sam untuk bergabung dengan tim setelah ini. “Guys, duluan ya” kataku kepada seisi ruangan. “Oke, Ra. Hati-hati ya” “Perlu dianter ga, Ra?” “Ra, awas diculik” “Oke, Ra” Jawaban-jawaban berikut yang diberikan oleh anggota S&T. Yang pertama menjawab adalah Jay, diikuti oleh Haris, kemudian Jay menjawab lagi, dan terakhir dijawab oleh Awan. Lucu sekali mereka. El dari balik drum nya bersiap juga untuk pulang sepertinya. Ia terlihat memberi tatapan datar kepadaku. Tidak sama sekali menanggapiku. Begitu pula dengan Chris. Ia hanya menatap dan tersenyum singkat. Singkat namun manis. Pria ini benar-benar membuatku gila. Senyumannya candu bagiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD