Worryness--Ravenna's POV

2116 Words
Sudah satu menit berlalu sejak Chris memintaku menunggu di balkon ini. Satu menit terasa sangat lama hari ini. Pintu balkon itu sepertinya tidak terkunci, tapi aku terlaku takut untuk bergerak dari tempatku berdiri. Kali ini aku seperti akan dihukum mati. Seluruh tubuhku merespon untuk menurut pada perintah Chris barusan. Aku terlalu takut untuk bergerak. Aku berusaha merogoh kantong di baju yang ku kenakan untuk mencari smartphone. “Ah, sial! Kan dress ku ga ada kantongnya.” “Gimana mau ngubungin Galang ish! Ini gue kalo mati di sini udahlah ga paham lagi gue pasrah aja” gumamku pelan. Sebenarnya aku panik bukan main, hanya saja aku berusaha meredam suaraku dan berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. “ya Tuhan baru aja gue bersyukur hari ini” gumamku masih dengan suara pelan. Aku memukul-mukulkan pelan tanganku ke besi pembatas balkon. “God, please” Sebenarnya keadaan saat ini tidak begitu menakutkan. Hanya saja, karena overthinking maka aku memikirkan kemungkinan buruk akan situasi ini. Mengingat kesalahan yang ku buat saat latihan tadi cukup memberikan emosi pada anggota S&T, namun mereka mampu menahannya. Aku berpikir akankah tindakan Chris yang tiba-tiba ini adalah bentuk dari emosinya dan saat ini Ia akan melampiaskan kemarahannya padaku. Mendorongku dari balkon? Atau menamparku? Atau memberikan hukuman yang menyeramkan? Atau mungkin Chris menyuruhku menunggu di balkon ini karena sebenarnya Ia ingin memberiku pelajaran? Atau Ia akan mengurungku di balkon ini? Kalian tahu kan bagaimana dinginnya di balkon? Angin yang dengan kencang menampar kulit? Saking kencangnya, rasanya seperti menusuk di kulit. Aduh, pikiranku benar-benar kemana-mana saat ini. Tok tok. Ketukan singkat terdengar di pintu balkon. Jantungku semakin tidak karuan. Untung saja saat ini suara angin dan suara jalanan mendominasi, sehingga tidak kentara bunyi detak jantungku yang mulai menggila bahkan lebih menggila dari saat tadi. Ku beranikan diri untuk melihat ke arah pintu. Tampak Chris membawa jaket berbahan jeans berwarna putih cream. Mungkinkan Chris akan mengikatku menggunakan jaket itu? Mengikat tubuhku di pembatas balkon ini? Oh Tuhan. Chris membawa minuman botol di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggenggam jaket. Tiba-tiba saja, jaket yang dibawanya dilampirkan di bahu ku. Sebelumnya, Ia memintaku untuk memegang minumannya. Ada tiga botol minuman. Wow untuk apa ini. Mataku mengikuti pergerakan Chris. Ia berusaha menutupi bahu ku yang lumayan terekspos hari ini. “Biar gak kedinginan” Chris mengambil dua minuman dari tanganku. Aku masih memandanginya dengan wajah heran bercampur takut. “Itu minumannya untuk kamu, haus kan?” Chris berucap sambil menunjuk minuman di tanganku. “Hahaha. Lucu banget sih kamu” katanya singkat. “shi*t” batinku. Bisa-bisanya aku dibilang lucu. Padahal keadaan jantungku saat ini sudah hampir saja melompat dari sarangnya. Ketakutan tanpa alasan menghantuiku. Bayangkan saja, diajak ke tempat dimana hanya ada kami berdua, tanpa kata, tanpa penjelasan dan alasan. Manusia mana yang tidak akan ketakutan. “M-mau apa?” tanyaku yang dibalas tawa oleh Chris. Chris masih belum menjawab pertanyaanku sejak tadi. Ia mengambil botol minuman di tanganku. Membukanya dan memberikannya lagi kepadaku. Ia letakkan langsung di tangan kananku yang menggantung karena botol minum tadi. “Minum dulu” katanya. Oh Tuhan, pria ini benar-benar membuatku gila. Chris membuka botol minuman miliknya, jus guava. Sebelum diminumnya, Ia melihat ke arahku dan memberikan tanda untukku agar segera meminum minumanku. Mau tidak mau aku menurutinya. “Good job, Ravenna” Chris menyelesaikan minumannya dan memberikanku tatapan lembut. Siapa yang tidak terkejut diperlakukan seperti ini. Tadinya aku mengira aku akan mati di tangan Chris hari ini. Tapi yang terjadi juga sebenarnya bisa membuatku mati meleleh karena kelembutannya. Aku masih diam. Diam karena semakin tidak mengerti jalan pikiran Chris. Sejak tadi raut wajahnya seperti akan mempertemukanku ke malaikat maut, tapi barusan Ia bahkan memujiku. “Chris” Aku berusaha bersuara. Niatnya ingin menanyakan akan ada apa selanjutnya. Chris memalingkan wajahnya ke arah jalanan di depan agensi. “Aku tau ini sulit untuk kamu, tanggung jawab yang diberikan untuk kamu ini benar-benar berat” Chris diam sebentar dan melanjutkan. “Aku mau minta maaf” “M-ma-af? Maaf kenapa?” Chris menatapku lagi, menatap lekat, dan memberikan senyumannya, menampilkan dimple di sudut bibirnya. “Oh Tuhan pria ini” batinku. Detak jantung ku yang sudah mulai stabil karena perlakuan manis Chris sebelum ini, kini berubah tidak karuan lagi karena senyum manisnya. “Aku yang menyetujui usulan Pak Adrian” katanya bersamaan dnegan hilangnya senyum di wajah Chris. “Oh itu, it’s okei. Manager udah bilang ke aku” “Soalnya aku lihat potensi kamu cukup bagus” katanya Chris memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Situasi seperti ini mengingatkanku pada saat pertama kalinya aku memproduseri rekaman untuk perilisan lagu pertamaku. “Aku juga mau kamu dikenal orang sebagai pemusik dan penampil, makanya perlahan aku coba untuk bantu kamu melalui festive ini” Aku juga memposisikan diriku menghadap ke arah Chris. “Chris, i actually don’t want to be a performer. Aku belum punya cukup keberanian bahkan ilmu dan pengalamanku masih minim untuk itu” “Tapi kamu cocok, Ravenna” “No. Nggak, aku gak pantes untuk itu” Cukup lama kami berdebat mengenai pantas tidaknya aku menjadi penampil. Menjadi pemusik dengan citra baik di depan penggemar. Menampilkan lagu-lagu terbaik ciptaan ku. Sejujurnya aku sangat ingin, namun keberanianku tidak mengatakan ingin. Menerima tawaran sebagai pengganti Jay ku lakukan juga demi Jay sendiri. Aku sempat diminta oleh Jay untuk menerima tawaran itu. Karena hal itu, aku mengesampingkan ketakutan yang memenuhi pikiran dan hatiku. Setelah tiga puluh menit kami berdiri di balkon dengan angin yang menerpa kulit dan rambut kami,Chris mengajakku masuk ke dalam. “Ayo masuk, kamu pasti capek berdiri” katanya sambil mempersilahkanku melangkah ke dalam. “Chris, tau gak aku hampir mati disini?” “Hah? Maaf banget, Ravenna. Capek pasti berdiri ya?” Chris menarik tanganku dengan lembut dan mengajakku untuk segera masuk. “Aku hampir mati ketakutan” “Kamu takut ketinggian?” katanya melepaskan tanganku. “Iya. Tapi bukan karena itu” Chris menekuk alisnya tanda Ia keheranan. “Terus?” “Gara-gara kamu! Kamu tau gak muka kamu tadi kayak mau nerkam orang. Aku udah pasrah tadi bakalan dimarahin atau bahkan dihukum atau didorong sekalian dari-...” Chris tertawa memotong kata-kataku. “Kamu lucu banget sumpah” Chris masih tertawa. Matanya menyipit, dimplenya keluar tercetak sempurna di wajahnya. Ia terlihat manis dan lucu. Ah, pria ini. “Ya abis kamu ngapain buat ekspresi kayak gitu!” kataku sambil memukul pelan lengan Chris. “Oh shi*t, lengannya!” batinku setelah merasakan tekstur lengan pria yang mampu menbuatku gila hanya dengan sebuah tatapan. “Aku tadi marah karena kamu ngelamun mulu” katanya masih dengan diselingi tawa. “Mana ada aku ngelamun” kataku sambil berjalan masuk dan diikuti Chris. “Apaan. Barusan kamu pas aku panggil kan ngelamun tuh. Berdiri matung persis patung banget sambil ngeliatin aku minum” Bingo! He got the point. Chris tahu kalau aku melihatnya minum dan bahkan sepertinya Ia tahu kalau aku terpesona melihat dirinya minum. “Ngeliat kamu minum? Ih kegeeran banget, orang aku ngeliatin Haris” dalihku. “Tetep aja kamu ngelamun. Aku tau juga kamu ngelamunin apa” “Apa?” Aku dan Chris berhenti berjalan tepat di tengah koridor lantai tiga. “Kamu masih khawatir tentang pendapat fans kan?” Tanpa menjawab aku pun menunduk. Chris tahu tentang ini, Ia masih ingat akan hal ini. “Itu yang buat aku marah. Bukan karena ketakutan kamu, tapi aku ngerasa kamu gak percaya kalo aku bisa ngelindungi kamu dari kritikan fans” “Noo. Aku percaya kok. Aku percaya tapi aku juga ga bisa, eum belum bisa ngehilangin pikiran itu, Chris” “Maaf ya, aku egois banget. Tapi aku juga marah memikirkan kalau fans benar-benar memberi kritikan jahat untuk kamu. Aku marah karena itu. Aku marah kenapa fans yang aku banggain, ternyata bisa ada kemungkinan membenci orang yang-...” Chris menghentikan bicaranya. “Chris. Kamu gak perlu marah sama fans kamu. Mau bagaimana pun, mereka penggemarmu, mereka punya hak untuk berpendapat. Apalagi pendapat mengenai kehadiranku di stage bareng sama kalian.” Chris menatapku. Kami sama-sama diam. Sepersekian detik diam mengelilingi antara kami berdua. Hingga tiba-tiba Galang memanggilku dari kejauhan. “Aku mau kamu prioritasin fans kamu untuk saat ini” Aku berjalan meninggalkan Chris di koridor tempat kami berdiri dan berbicara sejak tadi. Galang dengan wajah paniknya menghujaniku pertanyaan-pertanyaan dan tidak memberiku waktu untuk menjawab. Galang mengaku khawatir karena aku bahkan tidak membawa smartphone. Ia bahkan mencariku ke ruangan sebelah namun tidak terlihat. “Ra, kamu kenapa pake jaket di gedung? Kamu sakit? Kedinginan?” Bersamaan dengan suara heboh dan berisik Galang, Awan melewati kami berdua. Terlihat di tangannya memegang kunci mobil. Di samping itu, suara El menghiasi koridor. “Wan, dari mana aja lo? Pake gak bawa handphone lagi” Awan hanya tersenyum menampilkan kawat behel di giginya. Ia tidak menjawab pertanyaan dari El. Setelahnya terdengar berisik suara El yang memarahi dan mengomentari kepergian Awan sedari tadi. . “Eh! Siapa sih nama lo? Itu, kalo latihan tolong fokus lo jangan kemana-mana dong! Gak kelar-kelar ini latihan kalo gini ceritanya, satu lagu aja susah banget fokusnya!” El mengomentari ku. Aku hanya mengangguk karena sejujurnya apa yang El bilang bukan hal yang salah. Fokusku memang mudah terbagi jika perasaanku sedang tidak baik. Saat ini perasaanku seperti memikirkan kemungkinan buruk seperti yang tadi aku ceritakan dengan Chris. Hari sudah malam dan ini sudah pukul 21.00. sebenarnya ini bukan waktu yang wajar bagi semua orang untuk tetap bekerja, tapi karena mengejar ketertinggalan di penampilan ini maka kami memutuskan untuk tetap melanjutkan sesi latihan. Aku tidak sadar kalau aku bahkan tidak fokus saat latihan. Sejak tadi aku berusaha menghilangkan pikiran buruk di otakku. Aku berusaha memikirkan suatu hal yang positif. Tepat seperti apa yang Chris selalu bilang ke aku. Tapi, bagaimana pun otak ku bekerja keras menciptakan pikiran positif, tapi hati ku tidak berhenti mengkhawatirkan hal negatif yang ku jaga rapat-rapat agar tidak kejadian. Dari kejauhan, ku lihat mata Chris menatapku lekat. Bibirnya bergerak menanyakan keadaanku. Ia bertanya dalam diam. Oh Tuhan, pria ini bahkan lebih mampu membuatku kehilangan fokus saat ini. Aku memutuskan untuk izin ke toilet sebentar untuk mengembalikan fokus ku. Di toilet aku mengutuk diriku sendiri di depan kaca wastafel. Malu bercampur salah tingkah. Malu karena sempat ditegur terang-terangan oleh El, dan salah tingkah karena perlakuan Chris sejak tadi. Ku biarkan suara keran air mengalir menghiasi seisi toilet. Rasanya aura segar berada di sekitar jika terdengar suara air yang mengalir seperti saat ini. Ah, jangan salah sangka dulu. Toilet di agensi ini seluruhnya bersih dan wangi. Setiap waktu dibersihkan oleh cleaning service, jadi walaupun toilet digunakan bersama dengan karyawan lainnya, tapi toilet ini cukup bersih dan memberikan kesan nyaman. Aku berusaha sebisa mungkin menetralkan pikiranku agar bisa melanjutkan latihan. Aku mensugesti diri sendiri untuk tetap berpikiran positif dan membuang jauh-jauh pikiran negatif yang memungkinkan akan kejadian karena hal itu pasti akan memengaruhi kegiatanku. Setelah ku rasa pikiran ku cukup segar, aku memutuskan kembali ke ruang latihan untuk kembali berlatih. Jarak dari toilet ke Saint’s roon atau ruang tempat aku berlatih bersama S&T cukup jauh. Melewati lima ruangan dan toilet tepat berada di ujung lorong dekat dengan tangga. Aku berjalan pelan menuju Saint’s room. Keadaan di koridor ternyata sunyi, sepertinya artis dan produser lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Di koridor aku melihat Awan sedang berdiri. Tampaknya Ia sedang menerima telfon dari seseorang, terlihat dirinya sedang berbicara pelan sambil menaruh smartphone di telinganya. Aku berjalan pelan berniat untuk membiarkannya menyelesaikan kegiatan menelfonnya, lalu aku bisa berjalan kembali memasuki Saint’s room. Karena terlalu dekat, terdengar sayup suara Awan yang mengatakan kalau Ia akan pulang lebih lama dari biasanya. Bukan maksud ingn mencampuri urusan Awan, tapi terdengar tanpa sengaja olehku bahwa Ia berbicara dengan seorang wanita. Ah, ternyata Awan sudah memiliki pacar. Atau mungkin itu ibunya. Ah sudahlah itu bukan urusanku. Aku menunduk melewati Awan. Sekilas menoleh ku berikan senyuman untuk menyapanya. Ia terlihat berhenti berbicara dengan orang yang di seberang telefon, sepertinya Ia menutupi pembicaraannya. Melihat gerak-gerik Awan yang seperti tidak ingin diketahui pembicaraannya, aku pun berjalan lebih cepat untuk masuk ke Saint’s room. Saat ku buka pintu, terlihat Haris akan keluar dari ruangan dan sekilas aku mendengar Ia menyebutkan nama Awan. Sepertinya Haris ingin mencari Awan. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar, entahlah. Aku melihat bahwa Awan pun menyembunyikan sesuatu dari S&T. Karena yang ku tahu, belakangan Awan sering menghilang dari agensi. Mengingat itu, aku mencoba menahan Haris. Ku pegang lengan Haris yang hendak membuka pintu ruangan. Haris menoleh dan langsung bertanya apakah aku melihat Awan di luar. Aku langsung menjawab tidak, padahal tadi aku melihatnya dan kami saling memberikan senyuman. Firasatku mengatakan seperti Awan benar menutupi sesuatu. Jadi, aku berinisiatif untuk tidak memberitahukan Haris kalau Awan ada di koridor. Untung saja, Haris percaya dan segera menutup kembali pintu ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD