Apocalypse II--Ravenna's POV

2119 Words
“Your lips, my lips, apocalypse” “Go and sneak us through the rivers” “Flood is rising up on your knees, oh please” “Gila lagunya kenapa harus ini” batinku. Keadaan di dalam mobil Chris saat ini seperti perang. Lebih ke keadaan diriku sendiri sebenarnya. Hatiku berperang seperti yakin bahwa Chris sudah memiliki wanitanya, dan yakin sebelum ada kabar di televisi mengenai kabar kencan dari anggota S&T, sepertinya aku mengikuti firasat ke dua ku, yakin bahwa Chris masih sendiri. “Not this song” Chris bergumam pelan dan berusaha mengganti lagunya dari head unit di mobilnya. Setelahnya aku tertawa kecil dan disambut tertawaan juga dari Chris. Kemudian kami bersahutan tertawa cukup keras hanya karena sebuah lagu. Anehnya, lagu itu bahkan sudah memasuki bait ke dua tapi tidak satupun kami sadar bahwa lirik itu telah diulang dua kali. Hingga kemudian tiba-tiba aku menghentikan aktivitas menelefon Galang, kami pun menyadari bahwa liriknya sangat intim. Chris berusaha mengganti lagu dari smartphonenya. Kebetulan saat ini mobil sedang berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan merahnya. Lagu yang diputar saat ini dimulai dengan alunan sebuah gitar. Dari intronya aku tidak mengetahui lagu apa itu, tapi sepertinya terdengar tidak asing di telingaku. Sepertinya kesukaan musik kami memiliki selera yang hampir sama. Benarkah? Ah, tidak mungkin. Mungkin saja kan kalau Chris memutar lagu secara acak dan bukan dari playlist atau recent playnya. “I never should have called” “Cause i knew you would leave me” “But i didnt think you could do it so easily” “Ah, lagu ini. Lagu orang putus cinta yang bener aja” batinku lagi. Chris tertawa kecil. “Lagu putus cinta banget kayaknya”. “Heeum bener. Jadi sedih” candaku. “Sorry banget ya, lagu-lagunya unexpected banget” Chris kemudian melanjutkan menyetir mobil. “No poblem. By the way, kamu suka Ciggarettes after S*ex?” “After what? S*ex? What y-you eum ... ah oh my god” Chris terbata. Sepertinya pikirannya menangkap hal lain. Aku tertawa kecil menanggapi maksud dari Chris. Kemudian Ia menggaruk belakang kepalanya yang ku yakin tidak gatal sama sekali, hanya saja itu bentuk dari rasa malu yang ada di dirinya. Haha lucu sekali. “Sorry, aku kurang fokus soalnya jalanan gelap banget” Chris berdalih. Aku hanya bisa menahan tawaku. Hal wajar menurutku Chris berfikiran aneh ketika ku tanya mengenai nama grup musik tersebut. Tanpa aba-aba aku menanyakan hal itu, wajar saja Chris terkejut dan menjawab hal yang lain. Maafkan aku Chris. 30 menit sudah berlalu sejak perjalanan dari agensi ke apartemen Jay. Sepertinya kami akan segera tiba. Sejak tadi, aku memerhatikan Chris. Aku mengambil kesempatan ini untuk memerhatikannya, ah bukan, aku mengaguminya dalam kegelapan. Chris ternyata suka menggerakkan salah satu tangannya dan juga kakinya untuk mengisi waktu. Dan sepertinya hal itu menjadi kebiasaannya yang bahkan tidak disadari oleh Chris sendiri. Saat berhenti di lampu merah tadi, kakinya bergerak bergoyang-goyang. Dan saat mobil sedang berjalan pun, tangannya bergoyang-goyang di setir. Keadaan mobil sangat gelap. Jalanan yang terlihat remang karena tidak banyak penerangan pun tidak membantu penerangan sama sekali di mobil. Tapi, anehnya aku mampu menangkap setiap gerak-gerik Chris. Setiap hal yang dilakukannya seakan terlihat jelas di mataku. Bahkan urat yang menonjol di jari-jari tangannya menjalar ke lengan juga dapat terlihat olehku. Chris terlihat tampan saat menyetir. Terlebih keadaan cahaya yang remang menampilkan warna kulitnya yang terlihat bersinar. Haha berlebihan sekali diriku ini ya Tuhan. Setelah sesi mengagumi Chris di dalam mobil miliknya sendiri, kami pun tiba di apartemen Jay. Kami berjalan menuju unit kamar Jay. Dari gedungnya terlihat sangat megah. Sepertinya Jay membayar cukup banyak untuk menyewa satu unit apartemen ini. Chris membuka pintu apartemen Jay. Sepertinya Ia tahu pin sandi apartemen Jay, wajar saja mereka berteman cukup dekat. Di dalam, ternyata Jay sedang menonton televisi. Lebih tepatnya Ia yang ditonton oleh televisi alias Jay tertidur di depan televisi. “Eh, aku ganggu waktu istirahat Jay kayaknya” ucapku berbisik kepada Chris. Chris hanya menggeleng dan melihat keadaan Jay sebentar. Setelahnya Jay terbangun dan bangkit untuk mempersilahkan kami duduk. “Bang, lo kok bisa bawa pacar orang ke apart gue malem-malem gini?” Jay bertanya di sela kantuknya kepada Chris. Chris langsung menatapku yang duduk tepat di antara Chris dan Jay. “Pacar? Orang? Sok tau banget lo bocil” “Beneran. Ra, lo pacar orang kan?” Jay tiba-tiba bertanya hal itu kepadaku. Aku sebenarnya tidak mengerti arah pembicaraan dua pria ini, tapi aku berusaha memberi jawaban. “Ya iyalah aku pacar orang, masa pacar buaya sih?” “Nah kan bener bang, hebat banget lo bisa bawa pacar orang” Jay lagi-lagi berbicara tidak masuk akal. Sebenarnya Ia hanya bercanda. Chris terdiam dan langsung bangkit dari duduknya. “Da ah gausah sok tau lo. Gue mo ngantar Ravenna balik. Lo baek-baek di sini” Jay berusaha bangkit juga dari duduknya. “Ye kek bocil aja gue” “Emang” Chris berjalan ke arah pintu. Aku pun mengikuti langkah Chris. “Kabarin gue kalo ada apa-apa, butuh apa-apa, jangan nekat lo ngapa-ngapain sendiir ntar tangan lo makin parah diamputasi baru tau rasa” “Ya bang udah hapal banget gue kata-kata lo. Udah cepetan pulangin tuh pacar orang, awas dilabrak lo” “Biarin, gue lawan gak takut gue” Chris menjawab dan segera keluar dari apartemen Jay. Padahal tadi sepertinya Jay masih akan menanggapi perkataan Chris, tapi karena Chris dan aku sudah lebih dulu keluar dari apartemen dan gagal lah tindakan Jay menanggapi Chris. Keadaan Jay sudah lebih membaik dari minggu lalu. Dokter bilang tidak butuh perawatan ekstra di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya, hanya diperlukan istirahat ekstra dan jangan terlalu banyak bergerak. Makanya Jay diperbolehkan tinggal di apartemennya dan bukan di rumah sakit. . Hari ini aku secara resmi bergabung dengan S&T untuk menggantikan posisi Jay sementara. Hal ini merupakan tantangan cukup sulit untukku. Pekerjaanku sebagai produser belum sepenuhnya ku selesaikan, namun aku harus menjadi gitaris sementara S&T untuk mengisi posisi Jay. Masalahnya, Jay memainkan posisi penting di grup. Sehingga jika dibiarkan kosong, akan memberikan kesan yang jelek. Maka dari itu, mereka mencari pengganti untuk mengisi posisi Jay. Jujur saja, ini bukan kemampuan alami ku dalam bermain alat musik. Aku bahkan berkecimpung di dunia musik baru di tahun ini. Memegang gitar pun hanya beberapa kali bahkan di waktu beberapa tahun sebelumnya. Aku menekankan kepada diriku sendiri untuk mampu menyelesaikan semuanya. Pekerjaanku dan juga tanggung jawab yang disandarkan pada diriku harus sepenuhnya ku selesaikan. Vintage dress hari ini jadi konsep outfit yang ku kenakan. Dress yang ku kenakan sepanjang tibia atau tulang kering, bergaya open-shoulder, berwarna broken white dengan list kecoklatan di sisi pinggang menjadikan diriku tampak feminin dan modis. Ku padukan dress dengan sepatu loafers berwarna hitam dengan pita kecil menambah kesan feminin ku pagi ini. Tak lupa aku menyemprotkan parfum beraroma rose ke seluruh tubuhku, terutama bagian leher dan pergelangan tangan, sounds clacssic like an old lady, right? Sejujurnya aku tidak terlalu hobi menggunakan parfum, biasanya aku hanya menggunakan pewangi pakaian saat mencuci. Setelah belerja di agensi dimana banyak orang-orang dengan wangi yang mencerminkan karakter diri masing-masing, aku jadi ingin mengikuti cara mereka menonjolkan diri di lingkungan ini. Ah, berbicara parfum, aku jadi ingat dengan aroma parfum seseorang. Aroma ikonis dari cruelty-free synthetic musk yang dipadukan dengan bambinella pear dan black vanilla menghiasi nasalku setiap kali kami berpapasan. Kesan aroma manis dan sensual serta dewasa dari seorang pria memberikan candu pada diriku. Kalian pasti tahu siapa, ya, dia Chris. Selain tampan, Ia juga harum. “Pagi, Ra” Galang menyapaku dari dalam mobil. “Hi, pagi!” sapaku saat menaiki mobil. “Hari ini kamu latihan bareng S&T, setelahnya kamu join Sam dan tim project kamu ya.” Galang mulei mendikte kegiatan yang akan aku lakukan hari ini. “Okeii. Hari ini kayaknya aku ambil lembur deh, biar cepat selesai” “Berarti kamu gak balik ke apart?” “Engga, deh” “Udah bawa baju buat besok?” “Udah dong, nih” kataku sambil menunjukkan paper bag berisikan baju-baju ku untuk dua hari ke depan menginap di agensi. Untung saja studioku nyaman untuk tidur dan ada AC jadi lumayan gak kepanasan. Walaupun tidur di sofa studio, tapi sofa studioku sangat lembut dan empuk. Wajar saja, biaya untuk pembelian furnitur di agensi ini cukup besar, makanya aku bisa mendapat fasilitas yang lumayan seperti ini. “You look fine, tho” Galang tiba-tiba saja memuji penampilanku hari ini. Ya memang, biasanya juga Ia sering memberi pujian. “Kayak anak band tapi masih ada kesan girly yang elegan gimana gitu” tambahnya. Aku hanya bisa memberikan senyum malu-malu di kursi penumpang sambil meremat seatbelt yang ku kenakan. Karena terlalu malu dipuji seperti itu, aku memberikan pukulan pelan di bahu Galang. Yang dipukul lengannya hanya memekik pelan. “Tumbenan kamu malu begini, biasanya malah nunjukin pose model kamu” Jalanan hari ini cukup lengang, jadi perjalanan menuju agensi tidak memakan waktu lama. Sebenarnya aku berharap jalanan macet dan aku berada di perjalanan dalam waktu yang cukup lama. Karena aku terlalu gugup untuk memulai sesi latihan bersama S&T. Sebelumnya aku sempat mempelajari teknik sasar bermain gitar. Aku belajar di agensi tepatnya di studio Sam. Meskipun aku sudah mengetahui dasar-dasarnya, tapi tetap saja rasanya gugup jika mengetahui fakta bahwa aku akan melakukan penampilan bersama dengan idolaku. Entah ke berapa kali keberuntungan datang kepada ku di tahun ini. Rasanya seperti tahun ini dipenuhi dengan kejadian hebat yang sama sekali tidak pernah ku duga. Setiap kejadian akan aku syukuri, pastinya, tapi kejadian-kejadian di tahun ini seperti memberiku kekuatan lebih untuk selalu bersyukur dan berusaha. Aku berlatih bersama S&T di Saint’s room. Semua berjalan lancar. Sepertinya doa ku sejak malam tadi dijawab oleh Tuhan. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang akan terjadi saat berlatih. Kesalahan-kesalahan muncul di pikiranku dan memaksa untuk tetap membuka mata ku. Alunan musik terdengar menghiasi Saint’s room. Kesalahan kecil masih terjadi, dan lagu yang dilatihkan belum sepenuhnya sempurna. Karena aku belum terlalu menguasai lagu-lagunya. Hari ini, pelatih meminta kami untuk berlatih satu lagu utama dari S&T. Berkali-kali latihan dihentikan karena kesalahan kecil yang ku buat. Setelah empat jam berlatih, entah diriku yang mulai jenuh berlatih atau memang pikiranku yang sedang kemana-mana, aku tidak paham. Tiba-tiba saja tangan ku ini memetik terlalu keras senar gitar yang diberikan kepadaku. Putus. Senar gitar putus. Satu dari sekian senar telah putus dan sepertinya butuh perbaikan segera. Untung saja, Galang berada di studio saat kejadian memalukan itu terjadi. Galang langsung mengambil gitar yang ada di tanganku. Melihat keadaan gitar, dan segera mencoba memperbaikinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Galang tidak berada di sana saat itu. Pada siapa aku meminta pertolongan? Ah, untung saja. “Latihan sampai sini dulu, kalian silahkan istirahat. Kita lanjut jam 18.30 ya” Pelatih memerintah. “Oke thanks, coach” semua anggota serentak menjawab. Ku lihat Awan segera keluar dari Saint’s room. Entah akan pergi kemana, tapi sepertinya ada sesuatu yang harus Ia kerjakan. Sesuatu yang privasi, bahkan saat Chris bertanya akan kemana, Ia hanya menjawab singkat. Di sudut ruangan, Chris dan Haris sedang duduk sambil meminum air mineral. Sepertinya mereka kelelahan. Dari cerita orang-orang di agensi, S&T berlatih tanpa henti setelah kabar kecelakaan Jay. Sepertinya mereka takut akan mengecewakan fans jika tidak memberikan penampilan terbaik. Melihat dan mendengar hal itu, aku yang ditunjuk sebagai pengganti Jay pun kembali overthinking untuk ke sekian kalinya. “Hey!” Chris tiba-tiba saja berada di depan ku sambil melihat intens melihat ke wajahku. Aku melamun. Memikirkan kembali kemungkinan kesalahan yang akan ku buat saat festival nanti. “Oh Chris” Aku melihat ke sembarang arah, mencoba untuk tidak melihat langsung mata Chris yang masih lekat memerhatikanku. “Ikut aku sebentar” Chris berjalan keluar dari Saint’s room. Aku mengikuti Chris dari belakang sambil memberi tanda kepada Galang untuk tidak mengikuti kami. “M-mau kemana? Chris?” Chris hanya berjalan tanpa memberikan jawaban. Jalannya semakin cepat. Mau tidak mau, aku juga harus mempercepat langkahku. Chris berjalan hingga ke ujung lorong. Tepatnya balkon lantai tiga. Keadaan langit masih terlihat cukup cerah. Ya, ini masih pukul 16.30. Chris menutup pintu yang mengarah ke balkon. Aku tentu terheran-heran. Ada apa ini. Kenapa tiba-tiba Chris seperti ini. Jika dijelaskan, raut wajah Chris seperti ada kekesalan dan kemarahan. Aku sadar selama latihan tadi aku membuat cukup banyak kesalahan. Meskipun hanya kesalahan kecil, tapi tetap itu dinamakan kesalahan. Dan sepertinya, jika dibandingkan dengan performa anggota S&T ketika latihan tadi tentu aku terlihat seperti anak yang ketinggalan mengejar pelajaran. Kesalahan hanya datang dari ku, sementara mereka menguasai setiap langkah. Chris membuka kembali pintu yang tadi ditutup olehnya. Ia memintaku untuk menunggu sebentar di balkon ini. Ia tidak mengatakan akan kemana dan akan melakukan apa. Aku hanya bisa berperang dengan pikiran sendiri. Overthinking di balkon agensi. Lagi-lagi, pikiranku berputar entah kemana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD