Suasana berisik, rusuh, riuh, ramai, dan penuh desakan menghiasi apartement Jay. Untung saja, dinding di apartement Jay cukup mampu meredam suara berisik dari pria-pria dewasa yang kekanakan ini.
Sudah tiga menit mereka memaksaku untuk menjawab pertanyaan aneh dari Jay. Padahal pada awalnya semua protes kalau pertanyaan ini tidak nyambung dan bukan pertanyaan yang cocok untukku.
Entah kenapa tiba-tiba semuanya berubah menjadi antusias menunggu jawaban dari mulutku. Haris si ketua geng pemain game kelas atas yang selalu bersikap penuh drama setiap kali kami memainkan game. Sama halnya dengan Jay, kalau Haris dumb maka Jay adalah dumber.
Keduanya bersuara persis seperti monyet kecil yang kelaparan. Suaranya melengking menjerit tanpa memikirkan telinga orang lain yang ada di sekitarnya. Sedangkan Awan, korban pertama dalam permainan ini pun tidak mau kalah mendesakku untuk menjawab pertanyaan.
Saat ini aku seperti pengasuh anak-anak balita di taman kanak-kanak khusus balita. Suara jeritan tanpa henti disambut tepukan meriah dari tangan maupun segala peralatan yang ada di dekat mereka.
Frustasi rasanya aku meyakinkan mereka bahwa pertanyaan ini tidak asik dan tidak ada hubungannya denganku, namun bukan mereka namanya kalau tidak penuh drama. Sebenarnya aku yakin, kalau Haris hanya meriuhkan suasana tanpa menghiraukan maksud dari pertanyaan ini. Tapi, aku yakin Awan sedikit banyak mengerti arah dari pertanyaan ini.
Di tengah suara berisik dan drama tanpa akhir dari Haris dan Jay, pintu apartement terbuka menampilkan El dari balik pintu. Di tangannya terlihat bingkisan plastik dan box yang dari luar terlihat jelas bahwa itu pizza.
Haris dan Jay yang semula berisik, dan Awan yang menjadi tim hore kini diam tanpa suara melihat ke arah El. Hal itu yang mengundang pertanyaan dari El. Semuanya kembali ke tempat duduk awal, bahkan saking hebohnya Haris bergerak hingga menyenggol lengan Jay.
“Aaw! B*ego lo ngapain duduk situ!” pekik Jay sambil memegangi lengannya yang disenggol Haris.
Haris yang tertawa canggung langsung bergerak kecil untuk pindah menjauhi Jay. Ia sadar kalau dirinya terlalu banyak bergerak, hingga takut akan menyenggol Jay untuk ke sekian kalinya.
El langsung bergabung ke tempat dimana kami duduk dan bermain game. Diletakkannya pizza dan bingkisan plastik yang langsung dibuka oleh Haris.
“Soda satu”
“Soda dua”
“Soda tiga”
Haris dan Jay persis seperti anak TK yang belajar berhitung. Anehnya, mereka tahu kapan giliran mereka untuk mengucapkan angka secara bergantian.
Kedatangan El membuat tiga krucil bocil itu melupakan game yang saat ini giliran ku untuk menjawab pertanyaan. Syukurlah.
Semuanya mulai membuka botol soda dan juga mengambil potongan pizza untuk disantap. Padahal mereka baru saja makan camilan yang banyak, tapi masih saja terlihat seperti orang kelaparan.
“Bang, lo diet?” Haris berbicara dengan mulut terisi penuh.
“Engga”
“Dibawain pizza sama soda banyak gini harus dihabisin bang. Nih cup nya, tuang sendiri”
Haris menyenggol kepala Jay. “B*ego! Bang Chris kan gak minum soda”
“Tau, lo adek apaan gak inget kalo abang nya gak minum soda” Kali ini Awan ikut bersuara. Memang sih, sejak tadi juga Awan sudah menghidupkan mode tidak warasnya sama seperti Jay dan Haris.
El melihat ke arahku sambil tangannya memegang cup berisi soda. “Sorry, Chris. Gue tadi buru-buru takut kemaleman jadi gak sempat nyari jus buah kesukaan lo”
“Santai, bro”
“Kalian nginep aja guys, besok berangkat dari sini”
“Gue balik aja kayaknya” Awan berbicara dan melihat smartphonenya yang sejak tadi berdering.
“Yee si bocah dah pinter pacaran sekarang”
“Loh Awan pacaran sama siapa emang? Gue ketinggalan banget kayaknya”
Jay dan Haris pun dengan senang hati menceritakan kepada El mengenai kisah percintaan Awan. Padahal mereka hanya mengetahui kulit terluarnya saja, bahkan belum lima puluh persen dari keseluruhan kisahnya. Awan bergegas menyiapkan dirinya untuk pulang dan menunggu driver untuk menjemputnya. Awan memesan taksi online karena sebelumnya mobil Awan diparkir dan tinggal di agensi.
“Gue duluan ya” Awan berjalan ke pintu apartement dan segera keluar.
Sejak Awan menyebutkan bahwa dirinya akan segera pulang, Haris dan Jay tidak henti meledeknya. Kasihan sekali. Yang diledek hanya menampilkan senyum malu-malu.
“Nah karena kalian nginep sini, jadi tolong dong sekalian rapiin apart gue ya” perintah Jay sambil senyum nyengir.
Melihat keadaan apartement Jay saat ini sepertinya tidak layak disebut apartement. Keadaannya berantakan, padahal hanya lima orang saja di dalamnya tapi bisa seberantakan ini. Kami pun dengan malas namun tetap bangkit membereskan sampah dimana-mana.
Mau tidak mau kami harus membereskan kekacauan ini. Kalau tidak, kami tidak akan bisa tidur. Kamar di apartement Jay hanya ada satu dan itu kamar Jay. Tidak memungkinkan untuk kami tidur bersama di kamar tersebut, karena keadaan tubuh Jay yang saat ini tidak bisa sembarangan disentuh karena memang masih sakit.
“Guys, sejujurnya di hati gue yang palingggg dalem....” Jay menghentikan kalimatnya.
Ia berdiri tegak sambil menatap mata kami satu per satu. Jay menunjukkan ekspresi sedih, pura-pura sedih lebih tepatnya. Haris yang sedang membereskan tempat tidur beralaskan cover bed cukup tebal untuk kami, Ia pun berdiri memerhatikan wajah sedih Jay. Berusaha menebak apa yang akan dikatakan oleh Jay.
“Buruan ngomong. Jangan setengah-setengah” protes Haris masih dnegan berdiri di depan wajah Jay.
“Gue sebenernya pengen gabung sama kalian, bobok disini juga” lanjutnya memasang tampang tersedih yang Ia bisa.
Mengetahui drama yang dimulai oleh Jay barusan, Haris langsung mengambil posisi tiduran di tempat yang telah Ia bereskan tadi. Cepat-cepat dibalutnya dirinya dalam selimut agar tidak memberi celah kepada Jay untuk melanjutkan dramanya.
El pun mematikan lampu ruang tengah tempat dimana kami akan tidur. Sementara Jay masih berdiri dan memerhatikan kami.
“Udah sana lo masuk kamar. Istirahat buru!” Haris ternyata masih memedulikan sobatnya itu.
“Gue capek, Ris. Capek gue istirahat mulu. Pengen gitaran gue, tapi masih ga bisa gerak ini tangan gue”
“Ya lo sabar dikit lah, namanya orang sakit kan emang harus istirahat”
Pembicaraan masih berlanjut padahal lampu telah dimatikan. Haris dan Jay terdengar cukup serius namun masih diselingi canda dan sedikit tawa. Sepertinya Jay benar-benar merindukan teman-temannya dan kehidupan lamanya sebelum keadaan dirinya seperti ini.
Haris mengusulkan untuk mengganggu Awan. Mencoba menelfon Awan, lebih tepatnya video call. Piliran Haris dan Jay memang benar-benar kompak. Mereka tampak kegelian menunggu jawaban dari Awan. Beberapa menit menunggu, tampak pada layar bahwa Awan menolak panggilan mereka.
“Lah ditolak. Nagapain tuh dia sekarang tumben-...”
Jay memotong bicara Haris. “Making lemonade mungkin”
Kata-kata itu membuat aku dan El berbalik menatap mereka berdua. Yang ditatap hanya tertawa tertahan karena tidak sadar sedang dilihati. Ada-ada saja pikiran dumb and dumber ini.
“Lo berdua tidur atau gue tendang?”
Keduanya kalang kabut kala mendengar suara El. Sepertinya mereka mengira aku dan El sudah terlelap. Bagaimana mungkin kami bisa terlelap, suara mereka bahkan sudah dalam mode wishper pun masih seperti orang berteriak.
Haris langsung masuk ke dalam selimutnya, menyisakan Jay yang terduduk di atas sofa. Melihat temannya itu bersiap untuk tidur karena telah ditegur El, Jay pun bangkit dan berjalan memasuki kamarnya.
Malam telah larut. Cahaya bintang dan bulan malam ini cukup terang. Terlihat dari balik tirai tipis cahayanya menelisik masuk ke dalam apartment bersedia untuk menemani kami tidur malam ini.
Semua terasa amat nyaman. Meskipun kami tidur beralaskan cover bed berwarna biru tua dengan liris putih. Pikiranku masih berkeliling menyapa setiap celah dalam otak dan hatiku.
Sudah lama sejak aku tidak lagi memikirkan perasaan seperti ini. Perasaan seperti kesepian. Kesepian terakhir yang ku alami ialah saat aku bergabung dengan agensi dan bertemu Jay. setelahnya seperti kehidupan baru mengenal yang namanya warna.
Terlebih disaat aku dan Jay bertemu dengan calon anggota grup band yang akan didebutkan oleh agensi. Kehidupanku semakin mengenal yang namanya warna. Sejak aku tinggal di sini, semua terasa hampa. Bertahun ku alami homesick yang menyiksa.
Bersyukur aku bisa bertemu dengan anak-anak di saat aku merasa di puncak kesepian. Mereka hadir dan memberikan warna di hidupku. Membantuku menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang pekerja keras, menjadi seorang yang lupa akan apa arti kesepian.
Entah kenapa perasaan itu datang lagi menimpaku saat ini. Sudah setahun sejak kesepian hadir kembali di diriku. Seperti aku membutuhkan seseorang untuk mengisi kekosonganku.
Kesepian menghampiriku malam ini seakan tidak mengizinkan aku bermanja dengan bulan dan bintang di langit sana. Hal itu membuatku susah tidur, padahal sejak tadi aku memejamkan mataku erat.
El dan Haris sudah tertidur pulas di samping ku. Terdengar sayup suara dengkuran milik mereka berdua. Dengan pelan aku bergerak. Bangkit dan berniat duduk di kursi meja makan.
Ku ambil smartphoneku dan mulai menggulir. Menghidupkan musik dengan airpod terpasang di telingaku. Jika sudah begini, aku akan terjaga hingga matahari menyambut.
Ku buka aplikasi pemutar musik di smartphoneku. Menampilkan aktivitas dari beberapa followers ku malam ini. Ku lihat akun milik Jay masih aktif dan sedang memainkan musik dari playlist seorang pria muda bertalenta yang dikenal sebagai pelantun lagu Hard Sometimes. Ya, saat ini Jay sedang mendengarkan lagu ini secara berulang-ulang.
Entah kenapa melihat aktivitas akunnya, aku merasa ada sesuatu yang dirasakan Jay hingga masih terjaga di waktu sedini ini. Aku bangkit dari dudukku dan berniat untuk mendekati pintu kamar Jay. Ku coba mendengarkan dengan seksama apakah Ia masih bangun atau sudah tidur dan membiarkan akunnya memainkan lagu yang sama berulang-ulang.
Tidak ada tanda sedikitpun mengenai pergerakan Jay. Sepertinya anak ini sudah tertidur. Ku coba memutar kenop pintu kamarnya dengan pelan. Berniat untuk memastikan keadaannya.
Tidak terkunci. Pintu terbuka dan ku lihat Jay terduduk menghadap jendela kamarnya. Lampu kamarnya masih hidup dan jendelanya terbuka menghadirkan semilir angin malam menembus seisi kamar.
Aku paham keadaan Jay saat ini. Di tengah tertawa dan jahil yang masih Ia tampakkan kepada kami, Ia merasa hampa. Keadaan seperti ini mungkin saja membuat dirinya tidak puas dan tertekan.
Ingin mengeluh namun Ia tidak ingin melihat orang yang dijadikan tempat mengeluh malah khawatir akan keadaannya. Aku paham betul sikap dan sifat Jay jika sedang begini.
Biasanya Ia akan menangis di malam hari. Kemudian, beberapa hari setelahnya pasti Ia ceritakan padaku tentang apa yang dirasakannya dan apa yang membuatnya menangis.
Jay dan Haris memang tidak transparan mengenai perasaan mereka. Tapi masih lebih transparan Haris dibanding Jay. Haris yang tidak biasa berbohong menjadikan Ia juga tidak dapat memendam perasaan jenuh dan sedih yang dialaminya kala harinya terasa berat.
Berbeda sedikit dengan Haris, Jay biasanya lebih mampu berbohong mengenai perasaannya. Haris dan Jay biasa menceritakan keadaan hatinya kepadaku. Kalau Haris biasa bercerita kala Ia benar-benar merasa terpuruk, Jay akan bercerita kala masa terpuruknya sudah mampu Ia lewati.
Dua manusia berisik yang selalu mengisi hariku ini sebenarnya lemah dalam menghadapi kerasnya benturan kehidupan. Bukan maksudku menghakimi kedua sahabat yang sidah ku anggap seperti adik sendiri ini, hanya saja mereka selalu berbohong tentang perasaannya kepada semua orang.
Mereka akan berlaku berisik dan menghibur, sementara dirinya sendiri membutuhkan hiburan. Fakta bahwa mereka adalah selebritis yang selalu dituntut menampilkan sisi sempurna dan bahagia, menjadikan mereka harus mampu berbohong menutupi perasaan jenuh dan sakit yang dirasakan bahkan ke orang-orang terdekatnya.
Mereka tidak memikirkan dirinya sendiri demi menampilkan sisi kesempurnaan itu. Sebenarnya kami semua sama, berusaha menampilkan gula dan menyembunyikan garam di balik telapak tangan kami.
Pekerjaan ini memaksa kami untuk berlaku demikian. Bagaimana pun kami harus memberikan dan menampilkan yang terbaik meskipun feedback yang kami dapat tidak sesuai keinginan kami.
Hal itu sepertinya yang menjadi alasan Jay masih terjaga sedini ini. Aku paham betul bagaimana dirinya ingin menampilkan yang terbaik melalui festival nanti. Tapi, keadaan memaksa Ia harus menampilkan situasi seperti ini.
Aku tidak ingin mengganggu Jay. Ku biarkan Ia tenggelam dalam air matanya sendiri. Karena aku yakin, saat ini Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat kelemahannya.
Perasaan sedih akan semakin terasa membunuh, terlebih ketika tidak ada tempat untuk mengadu. Tidak ada kesempatan untuk bersandar barang semenit. Perasaan seperti ini biasanya jarang ku biarkan menguasai pikiranku. Tapi melihat keadaan Jay barusan dan juga mengingat perasaan kesepian yang akhir-akhir ini ku rasakan. Semua bercampur jadi satu.
Malam semakin larut. Suara dari luar sudah tidak terdengar mengganggu. Semua terasa senyap. Aku harus tidur karena besok akan melanjutkan latihan.
Waktu festival semakin dekat, pekerjaanku semakin menuntut agar aku tetap sehat dan produktif. Maka dari itu, aku harus mengalahkan insomnia ku malam ini. Ku pejamkan mataku sekali lagi, namun yang muncul di pikiranku adalah seorang wanita berambut sebahu dengan collarbone indah terhiasi kalung dengan bandul bulan sabit.
Tanpa sadar aku menginginkan keberadaan wanita itu saat ini. Berharap Ia akan mengelus rambutku kala aku menyandarkan kepala ku berusaha melepas lelah. Jika diizinkan untuk jujur, kepala dan leherku cukup lelah menanggung kewajiban dan berdiri tegak menampilkan sisi sempurna ku.
Entah darimana keinginan aneh itu muncul tiba-tiba saja di kepalaku. Wajah wanita itu memenuhi kepala ku saat ini. Saat ini sudah pukul 03.00 dini hari. Aku hanya menginginkan tidur dan istirahat, tapi berani-beraninya pikiran ku sendiri menggagalkan keinginanku untuk sekedar mengistirahatkan diri.
Sebelumnya rasa kesepian menyapa, kekhawatiran mulai menghantui, rasa penat dan letih menghujaniku dan memaksaku untuk mencari sebuah sandaran serta pegangan. Saat-saat perasaan itu bermain di kepala ku, muncul pula siluet wanita yang bahkan aku tidak terlalu mengenalnya.