Truth or Dare--Chris's POV

2607 Words
Sesi latihan berakhir di jam 22.30. Sesuai dengan arahan manager kemarin, aku diminta untuk membereskan Saint’s room setelah selesai latihan. Parahnya lagi, aku harus membereskan ruangan bersama El. Sebenarnya aku dan El tidak memiliki masalah apapun atau bahkan riwayat masalah sebelum-sebelumnya. Tapi, entah kenapa rasanya canggung jika harus melalukan pekerjaan hanya berdua dengannya. Anak-anak menawarkan untuk membantu kami seusai latihan hari ini, tapi karena ku pikir itu bukan tanggung jawab mereka. Jadi, aku meminta anak-anak untuk pulang ke apartemen masing-masing dan membiarkan aku dengan El melakukan hukuman ini. Aku dan El tidak cukup dekat, meskipun kami memiliki umur yang sama. Entahlah, El seperti menutup sebagian dirinya di antara kami. “Gimana Jay? Gue belum sempat ke apart dia dari kemarin” El tiba-tiba bersuara saat sedang membersihkan lantai menggunakan vacuum cleaner. Ruangan ini tidak cukup luas, jadi hanya dengan satu vacuum saja akan cukup sepertinya. “Ya gitu, masih belum bisa banyak gerak” Aku menjawab tanpa melihat ke arah El karena saat ini aku sedang mengganti isi pengharum ruangan. “Berarti emang seratus persen ga bisa ikut festive?” What the f-. El masih saja membahas hal ini. Sebenarnya bukan hak ku untuk memaksa El menerima keputusan dalam memilih Ravenna sebagai pemain gitar pengganti Jay di festival nanti, tapi seharusnya El menerima hal itu karena kesepakatan telah beberapa hari ditetapkan. “Ya, engga lah” jawabku singkat sambil berusaha menetralkan pikiran kesal kepada El. Aku tidak paham mengenai apa yang ada di pikiran El hingga begitu membenci Ravenna. Bukan membenci sepertinya, tapidarigerak-gerik El terlihat seperti Ia menyimpan perasaan kesal dan marah kepada Ravenna. Sebelumnya aku tidak pernah melihat El dan Ravenna ada di situasi yang sama di agensi. Mengingat itu, agak tidak memungkinkan bagi mereka untuk bermasalah dan kesal satu sama lain. Pikiranku dipenuhi oleh rasa penasaran mengenai alasan di balik kebencian El terhadap Ravenna. Meskipun belum seratus persen dikatakan benci, tapi aku menganggap El membenci Ravenna. Terlihat dari bagaimana pandangan El kepada Ravenna hingga menganggapnya sebagai w*anita p*enggoda. Bagaimana mungkin orang yang belum mengenal satu sama lain, bisa menyimpulkan hal buruk seperti itu. Atau mungkin sebenarnya mereka sudah saling mengenal? Entahlah. Ingin rasanya aku menanyakan kepada El. Ada apa dengan dirinya dan Ravenna. “El...” El hanya berdehem singkat memjawab panggilanku. “Lo kenapa bisa sebenci itu sama Ravenna?” tanyaku. El menghentikan aktivitasnya ngevacuum lantai ruangan. “Lo dikasi tau juga ga bakal percaya” Tidak percaya mengenai apa maksud El? Apakah benar kalau mereka sudah mengenal satu sama lain? “Maksud lo?” aku menanyainya. El tertawa dan melihat ke arahku. “Gue tau lo naksir cewe itu kan?” “Cewe siapa maksud lo? Dia punya nama jadi jangan sekali lagi gue dengerlo nyebut Ravenna pake cewe itu kek apaan” “Norak lo, kek anak baru gede” El mengakhiri sesi perdebatan kami malam ini. El menyelesaikan pekerjaannya. Ia meletakkan vacuum cleaner di sudut ruangan dan menyiapkan barang miliknya untuk segera pulang ke apartement nya. Sebelum El keluar dari ruangan, aku memintanya melakukan sesuatu. “El, gue minta sama lo untuk gak ngerendahin Ravenna. Apalagi kalau lo sampe ngerendahin di depan dia langsung. Gue minta tolong sama lo” El hanya tertawa dan berlalu meninggalkan aku di ruangan ini. S*ial anak ini benar-benar membenci Ravenna sepertinya. Aku melanjutkan kegiatanku menyusun peralatan di ruangan ini. Ruangan ini sebenarnya sudah tergolong bersih dan rapi setelah aku dan El membersihkannya. Tapi, karena pikiranku yang sedang kacau dan masih da kemarahan di hati ku mengenai sikap El barusan, jadi aku memutuskan untuk membereskan ruangan ini agar ada kegjatan saja. . Keadaan Jay sudah kembali membaik, meskipun masih belum sepenuhnya pulih. Malam ini, kami memutuskan untuk bolos latihan dan pergi ke apartement Jay. Sudah lama sejak kami berkumpul lengkap berlima. Makanya, hari ini aku meminta anak-anak untuk meluangkan waktu sekedar untuk menikmati malam santai setelah sekitar dua minggu berlatih dan bekerja tanpa jeda. Awan dan Haris sudah menyetujui ide ku untuk berkumpul di apartemen Jay. Sedangkan El, sejak tadi siang tidak tampak di Saint’s room. Aku berusaha menghubungi El, meminta kesediaannya untuk berkumpul bersama anak-anak. Ah, aku lebih senang memanggil anggota S&T dengan sebutan anak-anak. Karena saat awal bertemu dengan mereka, kami masih remaja dan sangat tampak kekanakannya. Jadi, panggilan itu sudah lama ku ucapkan jika untuk memanggil anggota S&T bahkan sebelum terbentuk nama grup ini. Aku, Awan dan Haris pergi duluan menggunakan range rover yang ku beri nama snowy. Ya, snowy karena berwarna putih. Agak aneh sepertinya, mobil setangguh itu ku berikan nama snowy. Tapi ya bagaimanapun aku menyukainya. Sering kali anak-anak mengejekku setiap aku menggunakan nama snowy saat mengucapkan mobil ku. Mereka selalu bilang bahwa diriku yang tampak di luar berbeda dengan diriku yang ada di dalam. You know inner self? Ya, anak-anak menyebut aku memiliki inner self yang imut dan menggemaskan. “Lets goo, snowy” kataku sambil memukul pelan setir mobil di depan ku. “Bang, plis lah. Ganti kek jadi apa gitu masa snowy” Haris mengomentari. Haris memang memiliki jiwa julid sejak dulu. Bahkan dilihat dari wajahnya saja, orang-orang akan tahu bagaimana anak ini mengomentari dan berbagi gosip dengan orang lain. Tapi, sebenarnya Haris memiliki kepribadian yang solid dan jujur. Belum pernah sekali pun Haris ketahuan bohong, dan Haris juga selfless jika mengenai pertemanan. “Snowy kan bagus, ris. Emang napa si?” kataku membalas komentar Haris tadi. Aku mulai menghidupkan mesin mobil dan bersiap untuk jalan. El sudah kami beri kabar dan katanya Ia akan menyusul setelah kami sampai di apartement Jay. Kami singgah ke market yang ada di dekat agensi sebelum menuju ke apartement Jay. Tidak ingin membeli banyak, hanya beberapa camilan dan minuman utnuk dihabiskan saat berkumpul nanti. Tidak lengkap rasanya berkumpul tanpa memakan sesuatu. Kami juga sebelumnya sudah makan malam, jadi kami hanya membeli camilan atau makanan ringan. “Bang, anjing lo yang di Australia siapa namanya? Gue lupa” “Dove namanya, napa lo tiba-tiba banget” “Engga, ini eum-...” Awan memotong bicara Haris dari bangku belakang. “Haris lagi chat sama adek lo bang” “Lah, terus hubungan adek gue sama anjing gue apaan?” “Ga sih, gue mau nyari topik aja” Haris menjawab malu-malu. “Lo sejak kapan deketin adek gue? Bukannga izin dulu sama abangnya lo, ga ada akhlak banget” candaku sambil fokus menatap jalanan. Haris hanya diam di bangku sebelah pengemudi. Ia hanya bermain dengan smartphonenya, kalau ku lihat sepertinya Ia bermain i********:. Wajar saja, anak itu selebgram terkenal, jadi tiada hari tanpa bermain i********:. Dan kalau diperhatikan, sepertinya Haris menjadi dekat dengan adikku Carrisa melalui aplikasi i********:. Karena, sebenarnya adikku juga cukup terkenal sebagai selebgram di Australia. “Lo deket sama adek gue juga, Wan?” candaku kepada Awan yang sejak tadi juga bermain dengan smartphonenya di belakang. Sebenarnya mustahil jika Awan dekat dengan adikku juga. Karena aku hanya punya satu adik perempuan dan satu adik laki-laki namanya Dareen. Jadi, perkataanku tadi hanya bercanda untuk mengalihkan fokus Awan yang sejak tadi asik dengan dunianya sendiri. “Hahah yang bener aja bang. Lo deket sama Dareen, Wan?” Haris membalik posisinya menghadap Awan. “Engga” Awan menjawab singkat diselingi tawa kecil. Awan anaknya agak lebih pendiam. Di antara kami, Awan lah yang tergolong normal dan waras. Hanya saja, ketika mood nya mengatakan ingin menjadi gila, maka Ia akan lebih gila daripada kami. Sifat Awan pendiam namun sangat peduli dengan orang di sekitarnya. Banyak dari karyawan di agensi yang mengidolakan Awan in romantic way. Tidak sedikit dari mereka yang merasa salah tingkah ketika mendapat perlakuan manis dari Awan. Awan benar merupakan icon dari pria manis dan pacar idaman. Bahkan, karyawan agensi yang memiliki anak perempuan selalu meminta Awan untuk berkenalan dengan anaknya. Karena sikap manis dan tulus dari Awan , orang-ornag di sekitarnya merasa bahagia karena mendapat kesempatan diperlakukan baik oleh Awan. Belakangan, ku lihat Awan lebih sering bermain smartphone dan juga sering menghilang dari agensi. Entah kemana Ia pergi. Sebenarnya itu bukan urusanku, hanya saja tidak biasanya Awan menghilang tanpa memberi kabar kepadaku. . “Ey yo sup, bro?” Jay bersuara begitu kami membuka pintu apartment. Menampilkan dirinya dengan excited menyambut kedatangan kami, dengan sedikit pekikan sepertinya Ia masih merasa sakit jika banyak bergerak. “Wey santai, lo duduk aja. Ngeri gue liat lo gerak-gerak” Haris berusaha mendudukkan Jay ke atas sofa di depan televisi. Awan yang memegang belanjaan langsung meletakkan ke atas meja yang berada tepat di depan Jay. “Cheese cake nih, lo craving cheese cake kan?” “Tau banget emang sobat gue. Aaa aw!” “Kan gue bilang dari tadi lo duduk aja gak usah banyak gerak” “Iya, Jay. Lo duduk aja udah deh. Biasanya gue dateng juga lo baring disitu gak ada nyakbut-nyambut apaan segala macam” “Ya itukan lo dateng sendiri bang, kalo ini kan ramean sama anak-anak. Ga enak kalo gak disambut tuh” “Alah apaan lo kek yang baru kenal sehari” “Udah daripada debat, nih makan cheese cake. Nih udah gue siapin garpunya” “Widih, gercep banget lo, Wan” “Bang El mana btw guys?” “Ntar nyusul katanya” Jay memakan cheese cake yang telah kami bawakan. Jay memang sangat menyukai cake, terkhusus cheese cake. Sejak istirahat di rumah, Jay tidak mendapat kesempatan untuk memakan cake kesukaannya itu. Padahal bisa saja Jay meminta salah satu dari kami untuk membelikan cheese cake atau bisa saja memesan melalui aplikasi pengantar makanan. Tapi, katanya tidak seru jika makan sendirian. Jay benar, seenak apapun makanan yang dimakan, jika makan sendirian pasti lah rasanya berbeda dan tidak terasa enaknya. Malam ini terlihat raut wajah Jay sangat senang ketika tahu kami membawakannya cheese cake dan memakan bersamanya. Kami menghabiskan malam di apartement Jay. Bercerita, bercanda, berbagi tawa, menghabiskan makanan yang dibeli saat menuju ke sini, begitulah jika kami sudah berkumpul. Walau tidak melakukan kegiatan yang begitu berarti, tapi rasanya sangat nyaman dan memberi kebahagiaan. Jay juga banyak bertanya mengenai keadaan agensi, keadaan latihan kami tanpa nya, menanyakan kabar-kabar yang belum didengarnya. Tiba-tiba Jay menanyai kami tentang pertengkaran aku dan El. Ia berasumsi masalah antara aku dan El cukup serius, makanya malam ini El tidak datang ke apartemen bersama yang lain. Padahal tidak, masalah kami sudah selesai. Kalau pun akan ada pertengkaran di hari mendatang, kemungkinan itu hanya dikarenakan hal kecil dan bukan kelanjutan dari masalah sebelumnya. Bertengkar dalam sebuah persahabatan atau pertemanan itu adalah hal wajar. Sekali bertengkar pasti akan berbaikan. Kesalahan kecil pasti masih akan dimaafkan. Sama hal nya dengan kami. Kami juga sering bertengkar karena suatu hal, tapi syukurnya kami akan segera memperbaiki kesalahan tersebut dan berbaikan. Karena bosan, kami memutuskan untuk bermain truth or dare. Peraturannya sama seperti peraturan permainan pada umumnya. Jika terpilih maka harus memilih di antara truth atau dare. Jujur atau tantangan. Kami menggunakan remote televisi sebagai penunjuk. Kami duduk membentuk lingkaran dengan remote televisi di bagian tengah menjadi pusatnya. Saat bermain nanti, remote akan diputar dan dibiarkan berhenti. Jika berhenti dan arah ujung remote menunjuk ke saah satu orang, maka orang tersebut harus memilih antara truth atau dare. Kemudian, satu dari sekian peserta permainan memberikan pertanyaan untuk dijawab jika memilih truth atau jujur. Dan memberi tantangan jika memilih dare. “Oke, ready?” Haris terlihat bersemangat dalam permainan ini. Sedangkan Awan hanya bisa menghela nafas kasar, karena sepertinya Ia tidak setuju akan permainan ini. “Satu ... dua ... tiga!” Aku memutar remote searah jarum jam. Remote terputar kencang pada porosnya. Untung saja bentuk remote ini lonjong di ujungnya, sehingga memudahkan untuk menentukan siapa yang terpilih nantinya. Suara berisik memenuhi apartement Jay saat remote terputar. Semuanya excited menunggu siapa yang ditunjuk oleh remote yang ku putar tadi. Suara jeritan bersahutan ketika remote hampir berhenti terputar. Semuanya diam di tempat berharap dirinya tidak terpilih. Setelah remote benar-benar berhenti, Haris yang paling bersemangat menentukan siapa yang ditunjuk oleh remote tersebut. Awan menunduk dan berdecih hampir mengumpat. “Ah, shi*t!” Umpatan Awan barusan disambut tawa dari anak-anak. Semua bersiap menentukan pertanyaan yang akan diberikan jika Awan memilih Truth dan menentukan tantangan jika memilih dare. Aku yakin ada sesuatu yang disimpan oelh Awan dan belum ingin dibagikan kepada kami. Makanya sejak Haris dan Jay mengajak bermain, Awan terlihat suram. “Lo pilih T or D? Cepetan!” Haris memerintah dengan suara tinggi dan excited. Kedua pilihan itu tidak sama sekali ada yang beresiko rendah bagi Awan. Terlihat dari raut wajahnya yang menahan kesal namun masih tetap tersenyum menampilkan sedikit giginya yang dikawat behel. “D” Haris bertepuk tangan dan segera mengajukan diri untuk memberikan tantangannya. “Oke mantep banget sasaran empuk lo. Dare call your crush!” Awan terlihat semakin suram dan semakin menunduk. Awalnya Ia memprotes dare dari Haris karena menurutnya waktu sekarang sudah malam dan tidak mau mengganggu orang yang dianggap crushnya. “Gue tau lo punya crush makanya gue kepo banget. Cepetan cepetan!” teriak Haris penuh drama. Awan merogoh saku celana jeansnya dan mengambil smartphone dari dalamnya. Ia membuka smartphonenya dan mulai membuka kontak. Haris, Jay dan aku sangat antusias melihat pergerakan Awan. Awan jarang kenal dekat dengan wanita in romantic way. Kebanyakan wanita yang dikenalnya hanya dari agensi saja. Jadi, kami sangat menantikan siapa sebenarnya wanita yang selama ini disembunyikan dari kami. Awan juga sangat jarang berpacaran, karena memang anak ini terlalu fokus pada les vokal dan karirnya, sehingga tidak punya waktu banyak untuk berpacaran. “Oke, gue bakal telfon tapi kalian diem jangan bersuara” perintah Awan sambil memegangi smartphonenya. Tiit... suara dering dari seberang telefon berbunyi. Tanda telefon tersambung. “Hallo, babe?” Suara wanita terdengar dari smartphone Awan. Sebelumnya kami meminta untuk menghidupkan speaker dari telefonnya, sehingga kami bisa mendengar suaranya. Mendengar suara wanita itu yang langsung memanggil dengan sebutan nama sayang, kami pun menahan diri untuk tidak bersuara. Awan hanya bisa pasrah dan menjawab panggilan wanita itu. “Kamu udah tidur?” Kemudian keduanya berbicara melalui telepon. Kami pun mulai memendam rasa excited melihat teman kami ternyata sudah memiliki kekasih. Setelah Awan selesai dengan crushnya atau kekasihnya, kami mulai melempar ledekan-ledekan kepada Awan. Mulai meledek satu sama lain. “Ris, lo yang putar remotenya. Usahain kena ke bang Chris, gue gak mau tau gimanapun caranya” “Napa lo tiba-tiba banget? Bang Chris gaada yang bikin gue penasaran, gak asik ntar” “Gue ada nih penasaran ke dia, udah buru putar” “Awas lo, Jay. Gak usah nyebar cerita yang engga-engga lo!” Terlihat Jay memberikan wajah mengejek ke arah ku. Sejujurnya aku tidak tahu mengenai rasa penasaran yang ada di pikiran Jay barusan. Tapi, entah kenapa hati ku was-was takut sesuatu dibongkar oleh anak ini. “Pas banget, Ris. Kena lo bang” Seperti ini rasanya terpilih oleh remote televisi. Seperti inilah rupanya yang dirasakan oleh Awan tadi. Jay terlihat excited akan memberikan pertanyaan atau tantangannya kepada ku. Si*alan anak ini. “Udah buruan lo sampein pertanyaan lo” “Ntar dulu, b*ego. Lo milih apa ni bang? T or D?” “T deh. Gak tau gue mau milih apa. Keknya lebih aman milih T aja” Entah kenapa detak jantungku tidak karuan. Aku yakin saat ini telingaku sudah memerah dan sepertinya wajahku tampak merona tanpa alasan. “Oke T ya. Pertanyaan dari gue, lo milih mini skirt atau midi skirt?” “Jay asli gak mutu banget lo nanya itu ke bang Chris” Awan ikut menimpali. “Gak ada hubungannya deh, Jay” Aku paham kemana arah pertanyaan Jay barusan. Ia memberi isyarat untuk aku memilih mini skirt yang biasa dikenakan oleh salah satu teman dekatku atau midi skirt yang biasa dikenakan oleh seorang wanita yang baru saja ku kenal. Ternyata Jay peka akan perasaan ku saat ini, padahal aku tidak sama sekali pernah membicarakan hal ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD