“Lo semua udah gila, Hah?!” Suara El menggema di seluruh ruangan “Saint’s room”.
Matanya melotot, nada suaranya meninggi tanda bahwa Ia tidak setuju dengan ide yang disampaikan pada diskusi hari ini. El yang semula duduk tenang di belakang drum kesayangannya, kini berdiri menyampaikan ketidaksetujuannya akan hal ini.
Produser dan manager yang berada di ruangan sudah tidak dihiraukan oleh El. Aku bingung kenapa anak ini begitu tidak setuju dan kenapa cara menyampaikannya sangat tidak sopan seperti ini. Biasanya, El memang lebih tenang dan terkesan dingin. Namun hari ini, Ia seperti kesetanan saat mendengar Ravenna menjadi kandidat pengganti Jay saat festival nanti.
“Lo aja kali yang gila, gak usah ajak-ajak kita” ucap Haris agak pelan.
“El, lo boleh gak setuju sama ide ini. Tapi tolong dong cara bicara lo diperbaiki. Disini ada produser juga. Behave!” Aku berusaha mengingatkan El dari tempatku duduk tepat berseberangan dengan El.
“Ya coba lo pikir. Basic cewek itu apa sampe lo semua punya pikiran buat make dia. Lo semua digodain segimana sih sama cewek itu”
Aku berusaha menahan emosi ku di depan produser yang lebih senior dari kami. Aku juga berusaha keras untuk menyembunyikan emosi dan menahan nada suaraku agar tidak membentak anak ini. “El, sekali lagi gue minta lo buat bicara dengan sopan, dan pikiran lo yang begitu mending lo buang jauh-jauh deh. Gak guna banget”
“Kenapa?! Lo gak suka? Lo kan yang digoda sama cewek itu, hah? Dapat apa lo? Si*lan, hobi banget ngerusuhin orang-...”
Belum sempat El melanjutkan bicaranya yang sudah keterlaluan menurutku. Aku meminta El untuk berhenti menyebutkan nama Ravenna dengan kesan buruk seperti itu. “Gue bilang pikiran lo gak guna! Si*lan!”
Suasana jadi berantakan. Tanpa sadar aku berusaha berjalan ke arah El untuk melayangkan pukulan ke arah bibirnya yang sudah seenaknya membicarakan orang lain dengan buruknya. Beruntung, Haris dengan cepat menahan tubuhku sehingga tidak terjadi hal yang membuat keadaan semakin berantakan.
“Liat tuh dia marah kan ayamnya dibawa-bawa” El semakin menyulut emosiku.
“B*erengsek lo!”
Buggg!
Bunyi pukulan menghiasi ruangan yang sudah berantakan sejak tadi. Tanpa sadar aku melayangkan pukulan ke wajah El. Suasana benar-benar tidak kondusif saat ini. Sangat tidak mungkin bagi kami untuk melanjutkan diskusi ini.
El terdiam dan terjatuh dari tempatnya di balik drum. Aku pun ikut terjatuh setelah melayangkan pukulan di wajahnya. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang ringan tangan, yang mudah memukul dan melakukan kekerasan. Tapi kali ini, sepertinya aku sudah tidak tahan melihat El.
Semenjak kecelakaan Jay, hubungan anak-anak S&T menjadi lebih renggang. Kami jadi jarang berkumpul sekedar berbincang mengenai hari yang telah dilalui. Biasanya kami akan menyisakan waktu atau bahkan tanpa sengaja berkumpul untuk bercanda satu sama lain.
Aku dibawa keluar oleh Haris dan entah siapa yang menenangkan El di ruangan. Aku seperti kesetanan, semua tampak gelap dan menyulut emosiku. Apa yang sebenarnya membuatku seperti ini?.
Haris membawaku ke koridor di lantai lima. Ia berusaha menenangkan ku. Awan menyusul ke tempat kami berdua berada. Tiba-tiba saja, aku meneteskan air mata. Emosi yang memuncak seperti ini membuatku ingin menangis. Menangis menyesal karena sudah membiarkan kemarahan menguasai diriku. Bahkan hingga memukul El.
Perasaan bersalah muncul di kepalaku. Kurang lebih selama dua menit Haris dan Awan membiarkanku menangis di koridor. Hingga tiba-tiba Haris membuka suara.
“Bang, cakep banget lo. Makasih udah mewujudkan keinginan gue dari kemarin. Sumpah gue pengen banget bang mukul dia, emosi banget gue”
“Ris....” Awan sepertinya berusaha mengingatkan Haris untuk tidak membahas hal itu lagi.
“Sorry, Wan. Gue emosi juga soalnya asli deh gue-....”
“Haris” Awan sekali lagi memanggil nama Haris.
“Iya, Wan. Sorry” katanya pelan.
Jujur saja ada perasaan bersalah di pikiran dan hatiku karena telah bersikap tidak professional seperti ini. Seharusnya sebagai leader grup, aku mampu mendengarkan setiap opini dari anggotaku. Tapi, sepertinya hal wajar jika opini menjatuhkan orang lain sebaiknya tidak diberi ruang ‘kan?.
Bukan mengenai siapa yang dibicarakan, tapi mengenai apa yang dibicarakan dan disampaikan. El dengan gamblang menyebut Ravenna sebagai w*************a untuk mendapatkan keuntungan. Padahal hanya keuntungan sebatas menjadi pengganti Jay di festival nanti. Kenapa El sampai hati mengatakan hal buruk seperti itu. Bahkan mengenai orang yang belum lama dikenalnya.
“Gue mau ngomong sama El” Aku bangkit dan berjalan menuju ruangan.
Haris dan Awan mengikutiku dari belakang. Ku buka pelan pintu Saint’s room. Ku lihat El sedang bermain dengan smartphonenya. Masih di posisi dimana Ia duduk sejak tadi.
Matanya langsung melihat ke arah pintu saat ku buka pelan. Produser dan manager sudah tidak terlihat di ruangan. Aku meminta Haris dan Awan untuk memberikan aku waktu untuk berbicara dengan El.
Aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku yakin nantinya aku akan mendapat hukuman karena bertindak seceroboh ini. Manager pasti saat ini sedang berusaha memujuk produser untuk tidak membicarakan hal ini ke atasan.
Awan sebelumnya sudah mengingatkanku untuk tetap tenang dan mengontrol emosiku saat berbicara dengan El. Haris dan Awan sudah keluar dari ruangan. Hanya tinggal aku dan El di ruangan ini.
Terlihat memar di ujung bibir El. Tidak begitu kentara, tapi karena sebelumnya aku yang menciptakan memar itu, jadi aku langsung melihat dengan jelas bahwa El terluka.
“Gue paham lo gak setuju sama ide ini. Tapi gak gitu cara lo-...” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, El berbicara.
“Gue muak banget dari tadi lo cuma bilang gak gitu cara lo trus mau lo gue harus pake cara gimana?” Lagi, El membuat emosiku memuncak.
“El, lo tau apa maksud pembicaraan lo?”
El diam dan menatap tajam ke arah mataku. Benar-benar anak ini. Apa yang membuatnya seperti ini.
“Make? Make lo bilang? Make dia? Kita gak make dia ya b*erengsek bahasa lo-...” Lagi, El memotong.
“Trus mau lo gue pake bahasa baku menurut EYD?! Hah? Lo kira lo siapa merintah-merintah gue?”
Aku memejamkan mataku berusaha untuk menurunkan panas di kepala dan tubuhku. Sepertinya jika diukur suhu tubuhku akan mencapai seratus derajat persis seperti oven memanaskan cookies. Api kemarahan sepertinya mulai menguasaiku. “Oke, gue gak akan bahas lagi tentang tadi. Jadi,plis kita bahas semuanya dengan kondusif, dengan kepala dingin”
“Kepala dingin apaan, lo yang mulai kepanasan cuma karena ngebelain cewek yang sok kecantik-...”
“El! Gue gak mau memperkeruh keadaan. Jay di apart sekarang berusaha keras buat mulihin keadaan dia. Jadi plis kerja samanya buat gak ngecewain Jay”
“Pinter banget lo ngalihin pembicaraan”
Beruntung kali ini aku mampu mengembalikan diriku. Aku bisa menahan emosi di depan El yang bersikap sesukanya. Berusaha mengalah untuk mengembalikan situasi seperti ini, ada bagusnya dilakukan seseorang. Agar tidak berlanjut menjadi semakin panas.
Kami melanjutkan pekerjaan tanpa membicarakan hal yang beru saja terjadi. Manager memintaku untuk menjumpainya di kantin agensi. Saat ini sudah pukul 21.00. Suasana agensi sudha cukup tenang, karena beberapa karyawan dan artist mulai kembali melanjutkan pekerjaannya dan beberapa lagi pulang ke rumah masing-masing.
Manager memintaku menjelaskan semua yang dilihatnya sore tadi. Aku yakin sebenarnya Ia mengetahui jelas kronologi sore tadi. Tapi sepertinya Ia memintaku untuk menjelaskan apa yang menjadi alasan ku untuk melakukan tindakan kekanakan tadi.
Manager menyampaikan bahwa Ia memujuk produser untuk tidak membicarkan hal itu kepada orang lain atau membesar-besarkannya. Melihat dari gaya bicara manager saat ini, sepertinya Ia kecewa dan akan memberiku hukuman. Kami sejak lama memberlakukan hukuman bagi siapa pun anggota yang melanggar aturan.
“Oke, kali ini gue coba paham maksud dari tindakan lo barusan, Chris. Gue paham lo juga emosi karena bahasa El. Jujur, gue juga agak kaget kenapa El bisa bicara gitu tiba-tiba.”
Aku hanya bisa terdiam menunggu hukuman macam apa yang akan disampaikan manager kepadaku. Terdiam, menunduk, melipat kedua tangan di atas meja persis seperti anak sekolah dasar dimarahi oleh gurunya.
“Gue mau gak mau harus ngehukum lo. Tindakan lo barusan juga udah keterlaluan. Gue gak mau memihak antara lo dan El. Gue juga udah ngasi hukuman buat El. Jadi, kali ini hukuman lo sama kayak hukuman El. Kalian gak dibenarkan memberi pendapat atau vote mengenai siapapun yang akan menggantikan Jay di festive nanti.” Jelas Manager.
Aku mendongak melihat ke arah Manager. Mau bagaimanapun aku harus menerima hukuman ini. Sepertinya ini hal yang adil bagi kita berdua. Aku dan El maksudnya.
“Dan, lo berdua yang harus ngeberesin ruangan setelah selesai latihan!” tambahnya masih mengenai hukuman.
“Shi*t!” batinku.
Manager meninggalkanku di kantin setelah menyampaikan segala arahan dan hukuman untukku. Sebenarnya keadaan kantin saat ini sedang tutup, karena sudah terlalu larut. Sidah waktunya bagi seluruh pekerja di agensi ini untuk beristirahat di rumah masing-masing. Tapi bagi beberapa orang, waktu tidak begitu penting.
Setiap waktu adalah waktu untuk bekerja dan berkarya. Walaupun jam kerja sudah diatur di agensi, tapi kami memaksa untuk menyelesaikan pekerjaan kami di sini. Seperti hal nya aku.
Hari ini aku belum menghubungi Jay. Entah bagaimana kabar anak itu di apartemennya. Aku juga tidak melihat Haris dan Awan sejak tadi sore. Sepertinya mereka ke apartemen Jay untuk melihatnya.
Aku berjalan meninggalkan kantin yang sudah sedikit lebih gelap dari biasanya. Di lantai lima tempat biasa aku beristirahat barang sebentar, aku melihat Ravenna. Ingin memanggilnya, tapi rasa hati terus mengingat kata-kata El barusan. Seperti ada rasa bersalah. Walaupun aku tahu apa yang El bilang tentu tidak benar.
“Ravenna” panggilku yang langsung disambut senyuman. Lisanku mengalahkan pikiranku.
Senyumnya menenangkan. Dua gigi kelinci miliknya tampak sangat menggemaskan. Mata almondnya mengecil memberikan eyesmile yang sangat candu bagiku. Emosi yang sejak tadi berubah-ubah tidak stabil, kini menjadi lebih stabil. Hatiku seakan meleleh. Setiap melihatnya, mendengar namanya, melihat senyumnya, menghirup samar aroma saat Ia lewat di dekatku membuat seluruh tubuhku menghangat.
“Loh, Chris. Kamu belum pulang?”
“Belum. Kamu mau pulang?”
“Iya, nih”
“Eum.. gimana kalau aku antar?”
“Kamu mau pulang juga?”
“Aku ... eum iya- eum, aku mau ke apart Jay sih niatnya tadi. Tapi ya gapapa itung-itung nemenin kamu soalnya udah malem gini”
“Apart Jay? Ah, iya. Udah lama ga liat Jay. Aku boleh ikut juga? Ntar dari apart Jay aku pulang sendiri aja. Deket juga lagian”
“Sekalian aja aku antar”
Thank, God. Setelah apa yang ku lalui sejak tadi akhirnya terbayar. Chaosnya keadaan sore tadi kini sudah tergantikan dengan hal manis. Ah, bukan hal manis, Chris. Kau hanya sedang tidak waras sepertinya, Chris. Hahaha.
Aku dan Ravenna berjalan menuju lokasi parkir di seberang agensi. Keadaan jalan sudah sunyi. Bahkan sejak tadi tidak terdapat ada kenderaan yang lewat. Aku memerhatikan gerak-gerik Ravenna. Untuk memastikan apakah Ia nyaman atau tidak berada di kesunyian seperti ini bersama dengan pria asing sepertiku.
Di mobil, aku mencoba menguhubungi Jay. Untuk menanyakan apakah Ia sudah makan atau belum. Karena akan menuju ke sana sebaiknya aku sekalian membawakan makanan jika Ia belum makan. Aku juga sempat bertanya ke Ravenna. Apakah Ia sudah makan atau belum, tapi Ia menjawab sudah. Entah Ia memang sedang berdiet dan tidak makan malam atau bagaimana. Tapi, sejak tadi aku tidak melihat Ravenna di kantin. Biasanya Ia makan siang di kantin agensi.
Perjalanan dari agensi ke apartemen Jay cukup memakan waktu. Aku masih bertanya-tanya apakah Ravenna merasa nyaman atau tidak berada di sekitarku. Ini kali pertama kami ada di satu mobil yang sama. Hanya berdua, aku dan Ravenna.
Sepertinya Ravenna merasa nyaman-nyaman saja, sejak tadi Ia tidak menunjukkan gerak-gerik seperti tidak nyaman. Ku dengar Ia menerima telefon dari seseorang dan mengatakan Ia sedang di jalan pulang. Sepertinya itu Galang.
Entah kenapa setiap kali berbicara dengan Ravenna, aku merasa Ia pandai mengendalikan situasi. Situasi canggung menjadi lebih nyaman dan bicara dengannya cukup menyenangkan. Selama di mobil pun kami berbincang mengenai hal apapun. Seperti mengalir saja.
Walaupun begitu, untuk memberikan rasa nyaman ke Ravenna, aku menghidupkan lagu dari playlist dari smartphone yang ku sambungkan ke head unit. Random. Aku memainkan lagu dengan random, karena tidak ada waktu untuk memilih.
Waktu sudah cukup larut untuk aku memilih-milih lagu untuk dimainkan. Dan Jay juga sudah harus istirahat. Aku dan Ravenna berniat untuk mengunjunginya sebentar saja. Melihat Ravenna yang telah lama ingin melihat Jay namun sepertinya kesibukan tidak mengizinkannya.
“Your lips, my lips, apocalypse”
Tiba-tiba saja lagu itu terputar. Kesunyian tiba-tiba menghiasi mobil. Memang sebelumnya Ravenna sedang menerima telefon dari seseorang, dan setelah telefon berhenti, kami berdua baru saja kembali fokus ke lagu yang diputar. Liriknya terdengar jelas.
“Not this song” gumamku pelan. Entah terdengar oleh Ravenna atau tidak akupun sudah tidak peduli.
Lagu itu benar-benar membuatku salah tingkah. Untung saja keadaan mobil sedang gelap, jadi tidak terlihat memerah di pipiku. Memerah hahaha. Ada-ada saja.
“Haha” Ravenna terdengar memberikan tawa kecil.
Kami bertatapan. Mata berusaha keras menembus kegelapan dan menangkap lekat netra satu sama lain. Setelah itu memberikan tawa satu sama lain. Kami tertawa walaupun tidak paham sebenarnya alasan di balik tawa ini.