Chris's Point of View--Sudut Pandang Chris

1769 Words
“Halo. Gimana keadaan lo? Oke? Udah makan belom, lo?” Jay yang baru saja menjawab telefonku langsung ku hujani dengan pertanyaan. Sejak tadi anak itu tidak mengangkat telefon, entah kenapa bikin khawatir saja. “Aman, bang. Udah, gue udah makan. Kalian disana gimana? Aman latihannya aman? Kangen gak sama gue?” Padahal masih sakit tapi kepercayaan dirinya tidak turun sedikitpun. “Aman, udah, lo gak usah mikirin kita disini. Khawatir banget lo padahal biasanya bodo amat, dih” “Yaelah bang, gue kan biasanya baek sama kalian” “Yaudah, gue mau makan. Bye!” Belum sempat Jay menjawab dari seberang telefon, aku langsung memutus jaringan telefon. Hahaha. Meskipun keadaan sakit, bahkan bernafas saja sulit tapi bisa-bisanya berisik banget. Beberapa hari ini sepertinya aku terlalu lelah. Jadwal makan tidak teratur, jadwal tidur juga sama tidak teraturnya. Ya, walaupun di hari biasa juga hampir sama tapi sepertinya beberapa hari ini aku terlalu banyak bekerja. Bekerja menggunakan otak dan fisik sekaligus ternyata melelahkan. Setelah konser satu bulan lalu, aku tidak sempat istirahat sekedar merilekskan tubuh dan fikiran. Kegiatanku di agensi benar-benar penuh. Terlebih kondisi saat ini yang membuatku harus membagi fokus dan kekhawatiran antara pekerjaan dan Jay yang sedang sakit. Sebenarnya Jay juga tidak meminta tanggung jawab dariku, tapi sebagai abang yang biasa jadi tempat Ia berbagi cerita, aku harus membantunya menghadapi situasi ini. Situasi dimana Jay tidak dapat beraktivitas. Bagi seorang seniman terkhusus pemusik, situasi dimana Ia tidak dapat membuat karya atau musik sama saja seperti keadaan dirinya menemui kematian pertama. Sejujurnya menurutku kematian ada dua, satu waktu dimana kita tidak mampu berkarya dan satu waktu lagi dimana Tuhan benar-benar mengambil nyawaku. Ya, bukan saja menurutku, tapi sepertinya aku pernah mendengar hal itu. Jay memang bukan pemusik legenda yang terkenal di seluruh dunia, tapi anak itu memiliki hobi dan talenta di bidang musik. Ia telah menciptakan setidaknya 75 buah lagu dan beberapa masih belum dirilis. Aku tahu pasti mengenai perasaan Jay saat ini. Saat dimana Ia dipaksa untuk berhenti bermusik, berhenti bermain gitar, berhenti bertemu penggemar. Meskipun dalam waktu sementara, namun aku paham yang dirasakan oleh Jay. Hampa. Seperti menemui kematian. Sebisa mungkin aku membagi waktu antara bekerja dengan memerhatikan keadaan Jay. Ia sendirian di kota ini, orang tuanya tinggal di luar kota yang cukup jauh dari sini. Melihatnya sendirian di kota ini mengingatkan aku pada masa-masa dimana aku baru tiba di Indonesia dari negara asalku. Saat dimana aku tidak mengenal siapapun selain nenek dari ibuku. Saat dimana aku baru mengenal hal baru, kultur dan kebiasaan baru di sini, dan juga tempat dan orang-orang yang baru juga. Beberapa tahun yang lalu aku memutuskan untuk tinggal di sini, mulai melakukan hal yang sebelumnya belum pernah ku lakukan yaitu bermusik. Aku memilih bermusik pada awalnya karena rasa bosan yang kerap kali datang selama aku tinggal disini. Biasanya aku akan bermain dengan adik lelakiku di Tamworth, Australia. Setelah berjauhan jarak dengannya, aku merasa kesepian. Ditambah lagi aku masih belum sepenuhnya beradaptasi di sini. Gitar yang ku temukan di rumah nenekku awalnya milik pamanku yang telah pindah ke kota Sidney, Australia bersama istrinya. Melihat gitar itu aku jadi ingin mencoba memainkannya dan ternyata aku menyukainya. Setelah itu aku meminta izin kepada orang tuaku untuk mengikuti kursus instrumen musik. Beberapa instrumen musik telah ku coba. Dan juga, pamanku mantan penyanyi band, jadi banyak alat musik yang masih tertinggal di rumah nenek. Bertahun menjalani kursus menyanyi dan bermain alat musik menjadikanku cinta akan kegiatan ini. Setiap harinya aku bermain gitar, piano, mencoba sinthesizer dan bernyanyi. Karena itulah aku mengikuti audisi di agensi ini. Aku dan Jay bertemu saat diadakan audisi untuk sebuah grup band di agensi ini. Sejak itu kami berteman dan sekarang kami menjadi penyanyi di satu grup yang sama. Setelah enam bulan berlatih di agensi, aku bertemu dengan Awan, Haris dan terakhir El. Kami telah saling mengenal lama sebelum grup band ini terbentuk. Tentunya bertemu di agensi ini sebagai calon penyanyi. Karena hubungan yang cukup lama ini, aku terus-terusan khawatir kepada Jay. Dan jikalau terjadi hal serupa menimpa anggota S&T yang lain pasti aku akan merasakan hal yang sama. Kami sudah seperti keluarga di grup dan agensi ini. Sangat beruntung rasanya aku menemukan lingkungan yang sangat positif seperti ini. . Sudah seminggu sejak aku tidak pulang ke apartemenku. Dan aku juga belum sempat mengunjungi nenekku di luar kota. Fikiranku penat dan penuh akan deadline serta kewajiban yang harus ku selesaikan. Siang ini, aku seperti menarik diri dari anak-anak S&T. Setelah pertengkaran Haris dan El di rumah sakit kemarin, rasanya emosiku memuncak tiap kali melihat wajah mereka. Maka dari itu, aku memutuskan ke kantin sendirian. Biasanya juga kami tidak terlalu sering makan siang bersama karena kesibukan masing-masing, tapi hari ini kebetulan anak-anak sedang di studio dan aku seperti sedang tidak ingin makan bersama mereka. Aku sadar hal ini tidak profesional. Tapi, biarlah ku lakukan ini demi emosiku dan demi mereka juga. Siapa yang tahu setelah makan siang, emosiku memuncak ketika melihat mereka bertengkar lagi. Entah kenapa belakangan ini Haris dan El sering sekali bertengkar, walaupun penyebabnya hanya hal kecil tapi keduanya meninggikan emosi dan ego masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah. Suasana agensi cukup ramai. Tiap studio berisi orang-orang yang mengerjakan lagu atau sekedar berlatih. Bahkan ruangan rapat juga digunakan untuk berlatih oleh beberapa artis. Namun, kantin agensi terlihat cukup sepi. Padahal ini memasuki jam makan siang. Aku memasuki pintu kantin dan langsung menuju prasmanan. Sistem kantin di agensi ini yaitu prasmanan, masing-masing individu mengambil sendiri makanannya dengan diperhatikan oleh pegawai kantin. Hari ini aku memilih ayam asam manis, tahu bumbu kuning, sambal terasi dan capcay telur. Di agensi ini juga menjunjung tinggi gaya hidup sehat. Makanya, setiap kali makan di kantin diharuskan untuk mengambil buah yang disediakan. Hari ini minuman yang disediakan ialah jus semangka. Segar banget berhubung hari sedang terik-teriknya. Ya, meskipun di dalam agensi tidak terkena sinar matahari segitu banyaknya, tapi tetap saja keadaan gerah jika sedang panas di luar agensi. Ditambah keadaan mental dan emosiku yang tidak stabil saat ini, rasanya sekali disenggol orang langsung ingin meledak. Aku berbalik dari prasmanan dan menemukan seorang wanita sedang duduk di meja kantin nomor 2. Cukup jauh dari prasmanan, nomor meja dimulai dari arah pintu masuk kantin. “Cantik” gumamku dalam hati. Dari kejauhan sudah terlihat cantik, bagaimana jika ku dekati. Kami saling mengenal dan cukup sering juga ngobrol dan duduk di meja kantin yang sama. “Daydreaming, huh?” kataku menyapa wanita cantik itu. Ia sepertinya terkejut akan keadatanganku yang tiba-tiba. Dan sepertinya juga aku mengganggu kegiatan melamunnya. Terlihat dari bagaimana Ia membalas sapaanku dengan terbata. Haha lucunya wanita ini. Aku langsung mengambil tempat duduk tepat di hadapannya agar dapat ku lihat jelas wajahnya saat makan. Lucu. Wajahnya lucu dan menggemaskan. Makanya aku sering duduk di depannya ketika kami berada di meja kantin yang sama. Tadi aku melihatnya melamun dan bahkan tidak menyentuh makanannya. Saat ku datangi pun makanannya hanya sedikit yang berubah. Ada apa dengannya. Bagaimana kalau aku mengajaknya bercerita, mungkin Ia membutuhkan tempat untuk cerita. Bagaimana kalau aku menawarkan bantuan, mungkin Ia membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja muncul keinginan untuk lebih dekat dengannya. Bukan maksud untuk mencampuri atau bahkan mengusik privasinya. Hanya saja, aku ingin menjadi pria yang berbagi cerita dengannya. Aku memberanikan diri bertanya mengenai keadaannya. Dari waut wajahnya terlihat bahwa ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Dan kebetulan di sini hanya kami berdua. Biasanya kan Ravenna makan siang bersama Galang. “Kamu udah selesai makan?” tanyaku Ravenna langsung melihat ke makanannya, benar saja hanya tersentuh sedikit. “Belum sih” “I’m here if you wanna talk about the cause of your daydreaming” “Hehe aku gak lagi daydreaming ih. Cuma lagi mikirin sesuatu” Aku masih melanjutkan makanku. Memberikannya waktu jika saja Ia benar ingin menceritakan pikirannya kepadaku. “Eum, Chris...” sapanya pelan sambil memainkan sendoknya di piring makan yang masih terlihat banyak makanan di atasnya. “Hem. Yea?” sapaku menghentikan aktivitas makanku dan melihat ke arah matanya. Matanya indah, seperti kacang almond. Matanya membuatku candu. “Chris?” Ravenna mengayun-ayunkan tangannya di depan wajahku. Ah, ya. Sekarang aku yang sedang sibuk. Sibuk melamun. Sibuk mengagumi keindahan di depanku ini. What a cliche. “O-oh iya, Ravenna. Kenapa?” Aku menundukkan pandanganku ke piring makanku dan mulai menyendok makanku kembali. “Itu, aku mau ngobrolin tentang pengganti Jay untuk festive nanti” “Oh itu. Manager udah ngomong ke kamu? Terus gimana menurut kamu? Kalo kamu oke, kita juga oke. Kan lumayan jadi pengalaman baru buat kamu” “Iya. Aku juga sebenarnya mau. Tapi, kamu tau kan fans S&T itu ada dimana-mana. Aku khawatir kalo misalnya fans kalian gak setuju sama ide ini” “Ah, fans. Gausah khawatir. Fans pasti setuju sama keputusan kami, selama semuanya demi kebaikan semuanya” Ternyata yang ada di pikiran Ravenna sejak tadi ialah hal ini. Wajar memang, kekhawatiran setiap orang jika bekerja sama dengan grup atau penyanyi lain. Satu-satunya kekhawatiran terbesar ya mengenai reaksi penggemar. Mendengar itu, aku berusaha untuk meyakinkan Ravenna bahwa Ia tidak perlu khawatir. “Kalau ada yang berani nyakitin kamu, aku yang maju duluan ngelawan mereka. Aku tebas satu-satu, aku kulitin tuh biar end game dia tuh” ucapku berusaha meyakinkan Ravenna. Ravenna tertawa. Menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang terlihat kecil dan imut. Lucu sekali. Ada apa denganku. Sejak tadi aku merasa Ravenna lucu sekali. Padahal sebelumnya emosiku sedang tidak stabil karena anak-anak S&T yang ah entahlah. Tapi sekalinya bertemu Ravenna, seluruh dunia seperti berwarna merah muda. Sudah lama sejak aku menyukai seseorang seperti ini. Rasanya seperti remaja saja. Tiap kali aku melihatnya, ada rasa nyaman dan excited muncul di hati ku. Kali ini, rasa itu amat mendominasi perasaanku. “Tapi kan aku gak jago main gitar, kalo Jay kan main gitarnya jago banget. Ntar yang ada aku malah nyusahin S&T. Jadi lama latihannya” katanya di sela tertawa karena bicaraku tadi. “Kamu coba pertimbangin lagi aja, tapi jangan lama-lama supaya kalo setuju bisa langsung latihan. Ntar aku ajarin” “Wah, makasih banyak ya. Aku jadi punya dua guru les gitar nih” katanya. “Dua? Siapa?” “Iya, dua. Kamu sama Kak Sam” “Wah kalah start nih gue” batinku. Ternyata Sam sudah memulai lebih dulu untuk mendekati Ravenna. Oh wait, ada apa dengan pikiranku. Bisa saja kan ternyata Sam memang menawarkan bantuan karena murni keinginannya ingin membantu. Ayolah, Chris. Kenapa jalan pikiranmu seperti remaja yang sedang jatuh cinta?. Sekarang bukan saatnya bagiku untuk menjadi remaja yang sedang jatuh cinta, walaupun sebenarnya aku seorang pria dewasa. Tidak munafik, aku membutuhkan kekasih. Tapi jika dipikir-pikir, lebih baik aku fokus ke karir ku saja. Mengurus pekerjaan sudah cukup melelahkan bagiku, apalagi mengurus wanita “ku”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD