Jalanan yang padat, suara klakson bersahutan, dan beberapa suara protes teriakan orang-orang di jalanan pun turut menghiasi malam yang cukup terang saat itu. Malam ini, agensi menerima kabar buruk dari seseorang yang dibanggakan oleh agensi itu sendiri.
Galang menghentikan mobilnya karena bertepatan dengan antrian panjang mobil tanda kemacetan parah terjadi di perjalanan pulang malam ini. Di tengah kemacetan itu, Galang mengambil kesempatan untuk menanyaiku mengenai respon yang kuberikan barusan di telefon bersama temanku.
“Ra, ada apa?”
“Kak, coba liat ini” kataku sambil memberikan smartphone ku kepada Galang.
“Salah satu anggota grup band S&T mengalami kecelakaan parah di jalan xxx” Galang membacakan hal yang tertulis di smartphoneku.
“Kak, coba telfon siapa gitu biar mastiin ini beritanya bener gak sih, aku panik banget kak”
“Iya deh bentar aku telfon Chris”
Menunggu kabar dari Chris, aku masih mencari berita yang ku anggap akurat. Karena banyaknya berita-berita hoax terlebih mengenai artis yang sedang naik daun membuatku sulit percaya dengan sekali saja membaca berita di platform manapun. Apalagi, saat ini sedang ramai berita akan diadakan festival yang selalu dinanti-nanti oleh para fans, biasanya bersamaan dengan kabar yang ramai mengenai agensi atau artis pasti akan ada ulah manusia yang iseng dan jahil untuk menjatuhkan berita bahagia tersebut.
“Chris, beneran Jay kecelakaan? Lo dimana?” Suara Galang memenuhi seisi mobil. Tanda Ia juga panik saat ini.
“Astaga. Jadi gimana keadaan Jay?” tanyanya lagi masih melalui telefon.
“Gue di jalan mau nganterin Ravenna pulang dulu. Ntar gue kesana” Setelahnya Galang memutus sambungan telefon dengan Chris.
“Kak, aku ikut aja ya?” pintaku langsung setelah Galang menjauhkan smartphonenya dari telinganya sendiri.
“Kamu istirahat aja di apart, Ra”
“Kak, ih. Jay juga temen aku. Jadi gimana keadaan Jay?”
“Kabarnya masih belum sadar di rumah sakit, Ra”
“Ya ampun, Jay. Rumah sakit mana? Aku mau kesana juga, Kak”
“Yaudah deh, bentar aja ya. Ntar abis dari sana kamu langsung aku antar pulang”
“Iya.” Aku menjawab singkat lalu langsung menghubungi Nayla untuk memberi kabar mengenai pria idamannya, Jay.
“Kamu tadi dapet kabar dari mana, Ra?”
“Dari Nay, Kak. Kaget banget aku kirain hoax. Ya ampun, mana dah deket lagi tuh festivalnya”
Jay, pria bertalenta dan humoris serta tampan itu mengalami kecelakaan cukup parah malam ini. Menurut kabar dari saksi dan teman-teman Jay yang saat ini sedang berkumpul di rumah sakit, Jay kecelakaan saat mengendarai sepeda motor besar miliknya. Jay hendak pulang ke apartemennya karena ingin mengambil paketan dari orang tuanya yang diletakkan di depan pintu apartemen oleh pengantar paket.
Kegiatan latihan dan juga pekerjaannya mengerjakan musik-musik di agensi sepertinya menjadi alasan kenapa Jay bisa seperti ini. Kabarnya, sudah seminggu ini Jay belum pulang ke apartemennya sendiri karena sedang mengerjakan project di agensi. Anggota S&T yang lain juga membenarkan kabar tersebut. Sepertinya, rasa excited dan rasa letih bercampur menjadi satu hingga menyebabkan Jay kurang fokus dalam mengendarai sepeda motornya.
Beberapa menit yang lalu, dokter yang menangani Jay menyampaikan keadaan yang dialami Jay kepada Chris, selaku orang yang dijadikan wali Jay saat ini. Jay mengalami keretakan pada tulang rusuk bagian kanan dan patah tulang lengan bawah sebelah kanan. Chris syok bukan main mendengar keadaan yang dialami oleh Jay. Dan saat ini, Jay kehilangan kesadaran akibat syok karena kecelakaan dan akan sadar dalam beberapa jam ke depan. Keadaan Jay saat ini tidak begitu penuh darah dan luka luar, hanya ditemukan luka sobek di bagian pelipis, sudut bibir dan juga beberapa jari kaki.
Chris sempat menanyakan kepada dokter mengenai separah apa keadaan Jay dan juga waktu perkiraan kesembuhannya. Dokter mengatakan bahwa Jay membutuhkan waktu istirahat yang cukup dalam beberapa bulan ke depan. Tidak dibutuhkan prosedur seperti operasi yang membutuhkan dana dan waktu yang lama, melainkan hanya beberapa prosedur kesehatan dan juga waktu istirahat yang benar-benar cukup untuk Jay.
Keadaan yang dialami Jay memang tidak begitu parah, namun waktu yang dibutuhkan untuk sembuh terbilang cukup lama. Sementara, festival akan diadakan dalam satu bulan ke depan. Dan saat ini, sangat tidak mungkin mengharapkan kehadiran Jay di festival melihat keadaan Jay. Anggota S&T dan beberapa staff agensi berfikir keras bahkan saat di rumah sakit. Hal itu yang membuat Chris emosi.
Keadaan orang-orang yang panik akan keadaan dan kesehatan Jay bercampur dengan profesionalitas dari orang-orang yang sama. Anggota S&T bahkan terbagi menjadi dua kubu. Satu kubu yaitu orang-orang yang hanya memedulikan keadaan Jay dan apapun demi keselamatan dan kesehatan Jay saat ini, satu kubu lainnya yaitu orang yang berusaha profesional di saat seperti ini dan secara tidak langaung menyalahkan keadaan ini.
“Bang, untuk sementara mending stop dulu ngekhawatirin festive deh” Haris bersuara mencoba memberi peringatan kepada El.
“Gila, lo? Festive tinggal hitungan hari, Ris. Lagian Jay ngapain sih pake kecelakaan begini nyusahin kan jadinya” El bersuara menyampaikan protesnya kepada Haris.
Keduanya bersitegang di rumah sakit dan menimbulkan suara cukup berisik. Haris hingga saat ini mengkhawatirkan keadaan temannya, sedangkan El bersikeras untuk tetap membahas mengenai festival. Beberapa reporter mencoba mencari celah untuk bisa mendapatkan berita terkini mengenai keadaan Jay. Rumah sakit terlihat sangat ramai malam ini.
Ketegangan antara Haris dan El masih berlanjut bahkan setelah dilerai oleh Awan. Keduanya masih berdebat yang dalam hitungan menit dikhawatirkan salah satunya akan melayangkan pukulan ke lawan bicaranya. Beberapa staff mulai melerai keduanya, karena khawatir akan tertangkap oleh media peliput berita yang berada di rumah sakit saat ini.
Galang yang sedari tadi bersama Chris dan manager S&T mendengarkan penjelasan dokter dan mengurus segala keperluan administrasi pun juga turut melerai Haris dan El yang menunjukkan sikap tidak profesionalnya.
Aku berusaha menenangkan Haris agar tidak semakin emosi dalam menghadapi El, namun sia-ia hingga akhirnya Haris menangis dan keluar dari rumah sakit. Sedangkan El hanya terdiam di kursi tunggu. Chris terlihat seperti kesabarannya telah habis dan akan segera menerkam dua orang yang membuat suasana jadi ribut.
Reporter yang hendak segera meliput kabar terkini mengenai Jay tampaknya semakin banyak memenuhi rumah sakit hingga satpam turun tangan berusaha membubarkan kerumunan para reporter. Melihat rumah sakit semakin tidak kondusif, Chris meminta seluruh anggota S&T dan staff yang ada di rumah sakit untuk keluar dari rumah sakit. Chris menawarkan diri untuk tinggal di rumah sakit menjaga Jay malam ini.
Syukurnya, keadaan sudah kembali kondusif seperti semula. Reporter sudah tidak diizinkan masuk, staff dan anggota S&T juga sudah pulang ke agensi. Chris tertunduk di kursi tunggu. Wajahnya tertutup kedua tangannya. Sepertinya Ia merasa khawatir akan keadaan Jay juga memikirkan festival nantinya.
Aku berusaha menenangkan Chris, meskipun aku tahu hal itu tidak dibutuhkan. “Chris...”
Ku panggil Chris dengan nada selembut mungkin agar Ia tidak meninggikan emosinya saat ku ajak berbicara. Ku usap bahu kirinya untuk meredakan panas di hati dan kepala yang dirasakan saat ini.
“Ravenna. Tolong lihat keadaan Haris ya. Aku tau anak itu pasti lagi panik banget saat ini” pinta Chris kepadaku.
“O-oh ... iya- aku- eum aku duluan ya. Kamu sendirian di....”
Belum sempat ku selesaikan bicaraku, Chris berbicara lagi. “I’ll be okay. Kamu duluan aja”
Aku paham keadaan Chris saat ini tidak ingin diganggu siapapun. Tapi meskipun begitu, aku merasa tertolak dan sedikit sakit di hatiku. Ya, aku tahu saat ini yang dibutuhkan Chris hanya waktu untuk berpikir tanpa campur tangan orang lain.
Posisi leader yang selama ini diemban Chris bukan merupakan tugas yang mudah. Dan dalam keadaan ini, Chris dituntut untuk meningkatkan potensinya dalam memimpin anggotanya.
.
Akhir pekan kali ini rasanya seperti hari kerja lainnya. Pekerjaan dan tangfung jawab memaksaku utnuk terus produktif bahkan di kesempatan beristirahat seperti ini. Agensi tampak sangat ramai di dalamnya. Seluruh produser memutuskan untuk tetap bekerja meskipun hari ini hari Sabtu. Para artist juga terlihat memenuhi agensi untuk latihan.
Di lobby agensi, terlihat televisi yang menampilkan kabar terkini mengenai keadaan Jay. Berita tersebut tentu memberikan rasa syok bagi beberapa orang yang berhubungan baik dengan Jay, termasuk aku.
Aku berjalan menuju lift untuk bisa sampai di studioku. Saat ini aku berangkat kerja sendiri karena Galang sepertinya sibuk membantu Jay di apartemennya. Di lift aku bertemu Awan dan beberapa staff lainnya. Aku teringat bahwa jaket Awan belum ku kembalikan. Ku pinta awan untuk menunggu agar aku bisa mengembalikan jaketnya. Dan syukurlah Awan ternyata pria yang cukup ramah tidak seperti El.
Di studio aku masih bersama tim melanjutkan pekerjaan kami. Tiba-tiba saja manager dari S&T datang dan bergabung bersama kami. Kami menghentikan pekerjaan sejenak untuk berbicara mengenai keadaan Jay. Restu dan Jack juga semat menanyakan mengenai kelanjutan penampilan dari S&T untuk festival nanti.
Jay juga termasuk salah satu artis yang menciptakan musiknya sendiri. Tak jarang Ia ikut dalam proses pembuatan lagu-lagu grup band S&T bersama dengan Chris dan El. Sebenarnya seluruh anggota S&T mampu menciptakan lagu sendiri. Jay juga merupakan orang yang menanggungjawabi posisi penting di S&T. Makanya, para staff sangat khawatir karena keadaan Jay yang menghalangi dirinya bisa mengikuti festival.
“Jadi kita sebenarnya udah ngobrol sama Pak Adrian mengenai ini” Manager melanjutkan berbciara mengenai kelanjutan performance S&T di festival ini.
Ia menambahkan. “Pak Adrian minta kita buat cari pengganti Jay sementara untuk festival ini, nah itu makanya aku dateng ke studio ini”
“Udah dapet penggantinya?” tanya Jack
“Nah itu point yang mau aku sampein disini”
Manager S&T membetulkan posisi duduknya dan mulai menatap ke arah ku. “Pak Adrian minta kamu buat gantiin Jay di festival ini”
“Aku?” Aku membulatkan mataku dan menunjuk ke arah diriku sendiri.
“Ya, kamu. Tadi juga aku udah diskusiin ke Chris, tapi belum ke anak-anak sih. Maksudnya aku mau nanyain kesediaan kamu dulu, lagipula ini permintaan Pak Adrian” jawab Manager.
“Wah, keren tuh, Ra.” Jack terlihat mendukung permintaan manager S&T.
“Kenapa bisa Ravenna yang dipilih?” tanya Sam kepada Manager.
“Gak tau, kita juga bingung awalnya. Tapi, Chris udah cerita sih ke aku soal karya-karya Ravenna dan ya cukup bagus menurut aku. Sebenarnya aku disini juga gak ada hak buat nentuin, jadi aku Cuma nyampein ke Ravenna aja” jelasnya.
“Ah begitu...” jawabku masih syok dipilih tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Ah begitu” ledek Restu dan menimbulkan tawa dari yang lainnya.
“Syok banget dia guys” Jack juga turut meledekku.
“Coba aja, Ra. Ntar aku ajarin deh main gitar free no fee” Sam menawarkan bantuan.
Aku mencoba memberitahu Galang mengenai kabar yang disampaikan oleh manager S&T tadi. Galang tampak menyetujui dan mendorong ku untuk menyetujui keinginan Adrian. Sebenarnya aku tidak mahir memainkan alat musik. Bisa bermain gitar juga karena dulu sering diajarkan oleh mantan pacarku, dan itu juga sudah beberapa tahun yang lalu.
Mendengar kabar itu sebenarnya memberikan suasana hati yang teramat bahagia bagi diriku sendiri. Tapi, aku khawatir jika anggota S&T kurang setuju atau bahkan terpaksa setuju dengan ide Adrian. Aku juga khawatir jika fans merasa aku tidak pantas menggantikan posisi Jay walau hanya sementara.
Jika menurutkan ego, pasti sudah aku terima tawaran itu sejak manager menyampaikannya kepadaku tadi. Tapi, lagi-lagi fikiranku terlalu takut dan muncullah fikiran negatif. Hal itu yang mengelilingi fikiranku saat ini.
Waktu makan siang kali ini ku habiskan sendirian di kantin agensi. Aku memilih waktu untuk sendiri untuk memikirkan tawaran tadi. Sudah setengah jam sejak ku ambil makananku di piring dan ku letakkan di atas meja makan di kantin, tapi belum setengahnya tersentuh.
“Daydreaming, huh?” Chris datang ke meja tempat ku makan.
“Hah? Oh ah no i’m-...” kataku terbata.
Chris tertawa dan meletakkan piringnya di meja dan mendudukkan dirinya di kursi depan kursiku. Sudah entah ke berapa kalinya, Chris memilih tempat makan tepat di hadapanku. Oh, please pria ini tahu cara membuatku gila.
“Kenapa? Mind to talk? I’m ready kok” katanya sambil menyendok makanannya.
“Ready? Ready what?” jawabku sedikit tertawa karena keheranan maksud dari bicaranya.
Kami menghabiskan waktu makan siang di kantin berdua, hanya kami berdua. Aku dan Chris. Sepanjang waktu aku dibuat memerah dan salah tingkah. Di tengah salah tingkahku, aku dan Chris dengan serius membahas mengenai Jay dan festival.
Chris juga mengajakku membahas mengenai kegiatan dan pekerjaanku. Ternyata Ia pendengar yang baik. Dan tiba-tiba saja aku teringat mengenai wanita cantik seperti Cleopatra yang ku temui bersama Chris saat itu. Ingin rasanya hati ku menanyakannya namun aku sadar aku hanya seorang fans yang menyamar menjadi junior di agensi ini. Haha menyamar. Ya, tujuan utamaku dulu saat belum gabung di agensi ialah agar bisa bertemu dengan Chris.
“Kamu coba pertimbangin lagi aja, tapi jangan lama-lama supaya kalo setuju bisa langsung latihan. Ntar aku ajarin” Chris juga menawarkan bantuan untuk mengajariku bermain gitar.
Wah semakin dilema saja. Dua pria bertalenta dan tampan menawariku bantuan di waktu bersamaan. Aku harus memilih siapa. Dua-duanya kompeten dalam bermain gitar. Oh Tuhan...