Seorang wanita cantik bermata kecil dan rambut curly sebahu terlihat menunggu di depan agensi. Wanita itu mengenakan dress berwarna biru muda dengan corak lollipop. Dressnya terkihat lucu dan menggemaskan, tapi penampilan wanita cantik itu penuh dengan aura yang glamour dan fancy terlihat seperti ibu-ibu sosialita.
Aura yang ditampilkan begitu mahal dan dewasa dipadukan dengan dress lucu menggemaskan sepertinya agak tidak cocok, tapi jika dilihat secara langsung wanita ini benar-benar arti dari kata cantik. Sepertinya wanita itu tidak asing, tapi aku lupa dan sebenarnya tidak tahu dia siapa. Aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat.
Sambil berjalan mendekati wanita itu, aku mencoba mengingat-ingat siapa dia dan dimana sebelumnya aku pernah melihatnya. Wajahnya sedikit terlihat sombong dan cuek, jadi aku sedikit menarik diri untuk mulai menyapanya.
Tiba-tiba aku teringat bahwa aku pernah melihat wanita itu di venue konser S&T beberapa hari lalu. Ah ya, Ia seorang ketua fansite terkenal yang biasa mendapat foto-foto eksklusif dari kegiatan-kegiatan anggota S&T. Nama fansitenya Stay for S&T. Sebenarnya, wanita itu sendiri terkesan seperti artis tapi Ia mengabdikan dirinya mengikuti setiap kegiatan S&T dan membagikan foto-foto yang diabadikannya ke sosial media miliknya.
“Halo. Kamu ketua fansite Stay for S&T, benar?” Aku memberanikan diri menanyakan kepada wanita cantik yang menunggu di depan agensi.
“Ya, halo. Aku Haruna” jawabnya ramah.
Ah ternyata wanita ini cukup ramah, jauh dari ekspektasiku barusan.
“Wah, what a lucky bisa ketemu ketua fansite terkenal”
“Ah haha jangan seperti itu, fansite yang ku kelola tidak begitu terkenal kok” katanya merendah.
“Noo, fansite Stay for S&T udah terkenal banget tau. Oiya, kenalin aku Ravenna. By the way, kamu kesini ada apa? S&T bukannya udah gak ada kegiatan di luar setelah konser kemarin?”
“Ah iya, aku ada janji dengan seseorang” katanya singkat.
Haruna melihat ke pergelangan tangannya dimana ada sebuah jam tangan indah dan sepertinya amat mahal harganya. “Kamu, fansite juga atau-..”
“Oh engga, aku kerja di sini”
“Oh ya. Kerja? Di agensi?”
“Ya, aku produser disini. Masih baru hehe” jawabku malu-malu.
Chris yang berjalan memasuki agensi dengan menenteng ransel yang kuyakini isinya laptop dan peralatan produksi musik miliknya, kemudian Ia menyapaku. Tapi karena Ia melihat aku berbicara dengan seseorang sepertinya Ia mengurungkan niatnya untuk menyapaku pagi itu, jadi Ia hanya tersenyum dan berjalan memasuki gedung.
“Wah kamu produser? Keren dong”
“Ahahaha begitulah”
“Eum aku pergi duluan ya” Haruna tiba-tiba berdiri dari duduknya dan segera beranjak ke arah mobil yang Ia parkirkan tepat di depan agensi, di pinggir jalan lebih tepatnya.
Tak berselang lama dari pertemuanku dengan Haruna. Awan yaitu vokalis dan gitaris S&T tiba-tiba saja keluar dari agensi. Untuk apa Ia keluar sepagi ini. Ku lihat Awan menuju ke mobil yang berada di pinggir jalan tepat di depan agensi. Seketika aku teringat ke jaket yang permah diberikan kepadaku untuk menutupi rokku yang sobek. Dan saat itu juga aku teringat kembali dengan tragedi aku terjatuh karena lift.
Aku menuju lantai lima menggunakan lift. Di dalam lift aku mencoba mengingat-ingat dimana ku simpan jaket Awan yang kemarin. Di lantai tiga tiba-tiba pintu lift terbuka, tanda seseorang akan masuk. Meskipun aku sudah cukup lama bekerja di agensi, tapi tiap kali akan bertemu orang baru dari agensi ini masih terasa canggung karena belum seluruhnya aku mengenal para pekerja disini.
Chris masuk bersama dengan Jay dan El. Mereka sebelumnya terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang krusial. Ketiganya berbicara bergantian hingga tiba-tiba menghentikan pembicaraannya ketika melihat aku di dalam lift.
Ketiganya menatapku secara bersamaan. Jantungku hampir saja melompat dari tempatnya saat mereka bersama-sama menatap ke arahku. Kemudian, mereka bertatapan satu sama lain bergantian. Ku lihat Jay yang langsung memberikan senyuman menyapa setelah menatapku. Kemudian, aku juga melihat Chris yang masih dengan ranselnya di lengan kirinya memberikan senyuman menyapa ke arahku. Lalu, aku sadar satu pria lainnya ialah El, si pria dingin yang lebih terkesan aneh menurutku.
Beberapa tahun lalu, aku masih sangat mengidolakan El sama seperti anggota S&T lainnya. Tapi semenjak hari itu, aku berhenti mengidolakannya. Aku merasa tertolak dan dibenci, walaupun hanya dengan tatapan.
Semua bermula saat aku melakukan interview dadakan di agensi. Setelahnya ku kira Ia hanya mendalami perannya sebagai pria dingin, tapi ternyata Ia juga mendalami perannya dalam membenciku. Jelas di ingatanku saat lagu pertamaku dirilis dan dipilih langsung oleh penyanyi ternama untuk dijadikan lagu miliknya. Setelah Sam menyampaikan kabar gembira itu kepadaku, tiba-tiba El masuk ke studio Sam dan mulai marah-marah. Saat itu aku baru saja keluar dari studio Sam, aku penasaran mengenai permasalahan mereka dan ku putuskan untuk mendengarkan percakapan mereka dari luar studio.
Dan benar, alasan kemarahan El ialah diriku sendiri. Ia marah karena laguku yang diprioritaskan oleh Adrian untuk diberikan ke seorang penyanyi ternama. Karena itu, setiap kali kami berpapasan di agensi pasti Ia menunjukkan ekspresi kesal dan tidak ramah sama sekali.
“coba lo hubungi Awan. Tanya dia udah di agensi belum” El membuka suara dan memerintah Jay.
Yang diberi perintahpun langsung melakukan hal yang disuruh. Mengetik dengan cepat di smartphonenya kemudian melaporkan balasan dari Awan. Sepertinya ketiganya sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Awan dari tadi gak bales pesan gue, heran banget apa belom bangun tuh anak?” Chris bersuara.
“Tau tuh dari tadi pesan gue juga belom dibalas” Jay mengucapkan hal yang sama.
Awan bukannya sejak tadi sudah di agensi dan baru saja Ia meninggalkan agensi ini. Sebenarnya aku ingin sekali memberitahu mereka, tapi melihat gerak-gerik El yang dari tadi seperti orang emosi dan mulai menampilkan ekspresi kesalnya aku jadi menarik diri untuk mencampuri urusan mereka. Lagipula, aku tidak tahu dengan jelas Awan sedang akan pergi kemana dan berada dimana.
“Ra, prepare yourself! Kita mau adain festival SOS” Galang mengejutkan ku di studio.
Sejak pagi tadi aku memang belum melihat Galang. Dari berangkat kerja tadi sebenarnya Galang mengatakan tidak bisa pergi bersama karena Ia ada urusan lain. Mengurus sesuatu katanya.
“Kak, pake ngetok pintu dong. Aku kagetan anaknya” protesku ke Galang yang direspon dengan nafas ngos-ngosan. Sepertinya Galang baru saja selesai berlari entah dari mana.
Galang mendudukkan dirinya di sofa di studioku. “Oiya sorry banget aku lupa ngabarin ke kamu soal SoS Festive”
“SoS Festive? Oh yang konser seagensi itu bukan? Ih beneran mau ada SoS Festive?”
“Iya beneran. Kamu diminta Pak Adrian buat join, makanya tadi aku bilang prepare yourself”
“Wah berarti bakal ada project banyak dong, Kak” tanyaku memastikan ke Galang.
“Bener banget, kemungkinan kita gak bakal bisa balik ke apart. Karena biasanya buat nyiapin SoS Festive pasti para produser yang paling repotb dan penyanyinya juga sih”
“Aaa can’t wait” jawabku kegirangan sambil melompat-lompat kecil di sebelah Galang.
.
Sebagai produser tentunya aku memiliki kewajiban untuk menciptakan atau mengubah lagu-lagu. Kali ini, aku diamanahkan untuk mengaransemen lagu-lagu yang telah rilis. Lagu yang telah mendapat banyak cinta dan dukungan dari banyak fans penyanyi dari agensi SoS.
Penyanyi yang bernaung di agensi SoS bukan hanya grup band S&T saja, melainkan terdapat 10 orang penyanyi solo, 1 grup band, 5 aktor, 2 aktris, dan 10 produser termasuk aku. Festival yang diadakan saat ini atau biasa dikenal SoS Festive diadakan setiap tahunnya merupakan kegiatan konser bersama seluruh seniman musik yang bernaung di agensi ini.
Di festival nantinya akan menampilkan penampilan unik dari masing-masing individu dan grup para artist. Untuk itu, kami para produser akan bekerja lebih keras dari biasanya untuk membantu para artist menampilkan yang terbaru dan tentunya memberikan kesan talented dan fresh.
Sudah dua hari ini sejak dimulainya kegiatanku membantu penyanyi-penyanyi mengaransemen lagu-lagunya. Kegiatan mengaransemen lagu yang telah mendapat banyak cinta dari fans tentu bukan hal yang mudah bagi produser. Terlebih produser junior sepertiku. Pengalamanku yang terbilang belum cukup banyak memberikan tantangan tersendiri untuk bisa menciptakan kesan baru untuk acara ini.
Benar kata Galang, tidak ada kesempatan untuk pulang ke apartement. Sebenarnya ada, hanya saja jiwa workaholic setiap produser dan penyanyi disini sangat mendominasi, sehingga kami hampir seluruhnya memutuskan bekerja hingga larut di agensi ini.
Untung saja, Galang selalu mengingatkanku untuk makan dan bebersih diri. Kalau tidak, pasti keadaanku saat ini sudah persis seperti zombie. Lusuh dan kelaparan. Dan beruntungnya lagi, produser yang bekerja bersamaku merupakan orang baik. Jadi, lebih mudah menyatukan ide dalam pekerjaan ini.
Malam ini aku memutuskan untuk pulang ke apartemen. Beristirahat sejenak sekaligus melihat keadaan apartemenku. Produser yang satu tim denganku yaitu Sam, Jack dan Restu. Dua pria yang ku sebutkan itu sebelumnya tidak pernah berkenalan denganku. Jadi kami bertemu pertama kali saat project untuk festival ini.
“Ya, Ra. Gak apa-apa kamu balik aja duluan” Sam memberikanku izin untuk pulang sebentar.
Sebenarnya juga aku tidak membutuhkan izin siapapun untuk pulang, hanya saja ku dengar sore tadi tim ku memutuskan untuk lembur juga hari ini. Ah ya, El sehari yang lalu meminta sedikit bantuan kepada timku. Karena hal itu, El terlihat lebih sering ada di studio tempat kami bekerja.
“Lo kalo mau istirahat harusnya mikir lah. Orang-orang pada lembur, masa lo enak-enakan pulang” Tiba-tiba saja El mencampuri pembicaraanku dengan Sam.
“Ya gapapa lah, Bro” Restu bersuara.
“Lagian udah dua malam juga Ravenna disini bareng kita, istirahat sekali-kali boleh lah” Jack juga mengiyakan keinginanku untuk pulang.
“Ya gimanapun harusnya mikirin orang lah” El masih kekeh dengan protesnya kepadaku.
“yaudah sih gue gak usah jadi pulang juga ga apa-apa. Lagian gue mau pulang juga karna pengen mandi bersihin badan gue” Aku berusaha memberanikan diri menjawab protes dari seniorku itu.
“Mandi juga kan bisa disini. Alasan lo gak logis banget, bilang aja lo mau enak-enakan di rumah” katanya masih menatapku rendah.
Benar-benar ya, manusia kalau sudah benci pasti ada saja kesalahan yang dilihat dari ornag yang dibenci. Bisa-bisanya El menuduhku seperti itu. Tidak pernah ada sekalipun niatku untuk meninggalkan kewajibanku sebagai produser di agensi ini. Lagipula, pekerjaanku saat ini merupakan perintah langsung dari Adrian. Mana mungkin aku berani melepas tanggung jawab begitu saja.
“Ya coba deh lo dua hari mandi pake peralatan seadanya, perasaan udah bersih belum? Udah nyaman belum?” kataku masih melawan El.
Sejujurnya emosiku saat ini sudah memuncak. Keadaan capek dan hanya membutuhkan waktu untuk membersihkan diri dengan baik saja masih dituduh-tuduh seperti itu. Hal kecil ini tidak akan jadi masalah jika dua menit yang lalu El tidak bergabung di studio tempat kami berkumpul.
“Belagu banget gitu doang” El menutup perdebatan dengan meninggalkan ruangan kami.
Jika memukul seseorang tidak akan mendapat hukuman dan dosa, sudah ku lakukan tepat di atas kepala pria aneh ini.
Seperginya El dari ruangan kami, anggota tim ku tiba-tiba saja tertawa bersautan sambil menutup pintu studio rapat-rapat.
“Ra, ternyata kamu bisa marah juga” Sam menertawaiku dan disambut juga dengan tertawa dari Restu dan Jack.
“Gila gila. Padahal sebelumnya dia gak pernah ngomong pake lo gue” Restu melanjutkan.
“Bener-bener ternyata cewe selembut apapun kalo marah tetep bisa serem ya” Jack juga mengikuti kedua anggota tim untuk menertawaiku.
Sebenarnya aku tidak masalah untuk ditertawakan seperti ini. Karena kami bertiga cukup memahami satu sama lain. Selain itu juga, kami bertiga selalu menomorsatukan respect atas satu sama lainnya. Berbeda dengan El, pria dingin yang lebih mirip seperti orang tidak punya hati.
“Kesel banget tau liatnya” kataku kemudian duduk di kursi sebelah Sam sambil mengelus dadaku sendiri.
“Udah. Gak usah dipikirkan. Emang gitu anaknya” Sam berusaha menenangkanku.
Galang tiba-tiba bergabung bersama kami di studio. “Ra, jadi balik?”
“Yaudah, Ra. Balik aja, kita oke-oke aja kok. Gak usah mikirin apa yang El bilang tadi” kata Restu yang diangguki Jack.
Ketiga anggota tim ku telah mengizinkanku untuk pulang ke rumah malam ini. Sebenarya juga sejak tadi kan memang sudah tidak ada masalah. Tapi kedatangan si dingin aneh itu yang membuat suasana jadi tidak enak.
“Hah ada apa emang? Ra? Kenapa?” Galang menghujani ku dengan penuh pertanyaan.
“Kok tiba-tiba kalian nyebut El? Ada apa, Ra?”
“Ntar di mobil aku ceritain deh. Bentar aku ambil tas dulu”
Di perjalanan pulang, aku menceritakan kejadian yang baru saja ku alami. Galang tampaknya tidak terkejut lagi dengan ceritaku. Sepertinya, El memang dikenal kurang ramah ke beberapa karyawan di agensi.
“Halo, Nay? Ada apa?” Nay menelfonku tiba-tiba saat perjalanan pulang.
“Hah yang bener lo? gue gak denger apa-apa, Nay. Jangan ngaco dong, gak lucu”
“Nay ya ampun. Bentar-bentar aku cek berita dulu” Lalu ku matikan telefon dari Nay.
Galang yang sedang fokus menyetir, keheranan dan bertanya. “Kenapa, Ra?”
Aku dengan cepat membuka situs berita online dari smartphoneku. Ku gulir hingga menemukan berita yang sesuai dengan kabar dari Nay tadi.
Ternyata, apa yang dibilang oleh Nay barusan adalah benar. Aku terdiam di mobil, bahkan Galang keheranan dan memecah fokusnya dari jalanan yang padat malam itu.
Bagaimana mungkin...