“Ra, ini Pak Adrian mau kesini” Galang memasuki studio ku dan langsung duduk di sofa.
“Oh iya. Oke bentar deh, aku selesaiin ini dulu. Biar enak ngobrolnya ntar”
Aku segera menyelesaikan pekerjaan di studio dan juga sedikit membereskan studio ku agar terlihat rapi saat Adrian datang berkunjung. Sejujurnya aku tidak mengerti maksud kunjungannya, mungkin sekedar menyapa.
Tok... tokk... tok...
Pintu terbuka dan menampilkan Adrian dari balik pintu. Pria paruh baya itu masuk dengan tersenyum penuh wibawa.
“Silahkan masuk, Pak” ucapku mempersilahkan Adrian masuk dan duduk.
Galang yang tadinya duduk di sofa dengan posisi ternyaman pun langsung bangkit dan mempersilahkan Adrian untuk duduk.
“Saya kesini mau ngobrol santai aja, kok. Gimana pengalaman kamu di festival kemarin?”
Aku mengambil posisi tepat di sebelah kanan Adrian. Aku duduk di kursi kerja ku menghadap ke dirinya, karena ku rasa sedikit segan untuk duduk di satu sofa dengannya. Lagipula, Galang juga duduk di sofa.
“Luar biasa banget, Pak. Makasih banyak untuk pengalaman ini, Pak. Ini bener-bener pengalaman pertama saya di acara festival, udah gitu antusias fans nya S&T juga luar biasa, jadi ngurangin nerveous saya” jelasku kepada Adrian.
“Syukurlah. Menurut saya sudah pasti fans S&T antusias penuh menyambut kamu, meskipun mereka pasti kangen sama Jay haha”
Adrian dan aku melanjutkan berbincang santai dan sedikit diselipkan candaan. Beliau menyempatkan untuk berterima kasih karena telah bersedia menggantikan posisi Jay di festival kemarin.
“Jadi, sebagai bentuk terima kasih saya, saya mau mengundang kamu dinner di xx cafe. Nanti di sana ada beberapa produser dan direktur agensi juga, sekalian untuk berkenalan juga sama kamu” jelas Adrian.
“Wah. It’s a big honor. Saya benar-benar terima kasih pak atas undangan ini. Saya gak ngerti mau jawab gimana, yang pasti saya akan datang” jawabku cukup kaku karena sejujurnya aku terkejut diundang langsung oleh pimpinan agensi.
.
Aku tiba di sebuah cafe dan restoran elite di pusat kota. Bangunannya terlihat amat sangat megah, padahal aku baru melihat dari luarnya saja.
“Gilaa. Menunya pasti mahal-mahal ya, Kak” ucapku pada Galang di dalam mobil, bersiap untuk keluar.
“Pasti lah, Ra. Ini ppn nya tinggi kayanya sih”
“Duh. Kalo aku disuruh bayar sendiri sih kayaknya aku kerja rodi aja deh disini, Kak. Mahal banget pasti”
Galang tertawa kecil sambil membuka seatbeltnya. Aku juga menyusul Galang.
Kami pun keluar dari mobil dan segera memasuki tempat yang sudah direservasi.
Ku lihat beberapa orang yang ku kenal dari agensi. Sosok produser muda dan terkenal dan sudah pasti memiliki royalti besar. Mereka Sam dan Chris.
Sam dan Chris mengenakan baju cukup formal. Kemeja berwarna gelap dengan celana bahan berwarna gelap senada. Keduanya terlihat tampan dan mirip hahaha.
Beberapa orang di dalam ruangan ini belum ku kenal. Dari kelihatannya terlihat seperti orang sukses dan tentu sibuk.
Aku mengenakan dress selutut berwarna biru muda bergaya ruffled. Ku padukan dress polos berwarna ku dengan ankle strap heels berwarna peach setinggi 5 centimeter. Sepertinya, konsep outfit ku cukup berbanding terbalik dari outfit para undangan di sini.
Hampir seluruhnya mereka menggunakan outfit dengan warna gelap, sedangkan aku menggunakan outfit yang cukup feminin dan berwarna soft dan cerah.
Tempat yang direservasi sepertinya merupakan aula dari cafe & resto ini. Mengingat ukurannya cukup besar untuk menampung beberapa tamu. Meskipun, saat ini hanya ada kurang dari sepuluh tamu.
Acara dimulai cukup santai sebenarnya. Hanya berbincang dan makan bersama.
Aku duduk tepat di depan Chris. Posisi meja makannya berbentuk persegi panjang dengan banyak makanan dan minuman yang beragam disajikan di atasnya.
Chris menatap ku dan mencoba untuk tersenyum. Setiap kali melihat ke arah Chris, aku teringat kejadian malam kemarin.
Ingin rasanya aku keluar dari ruangan ini dan tidak kembali ke sini lagi. Namun, karena Adrian yang sebeluknya mengundangku dengan datang langsung ke studio, aku tentu tidak ingin mengecewakan Adrian hanya karena rasa malu bercampur kesal kepada Chris.
Sebenarnya, setelah kejadian malam kemarin saat Chris mencuri kecupan di bibirku, Ia terus-terusan mengirimiku pesan. Rata-rata isinya permintaan maaf. Tapi, aku tidak sekalipun membalas karena terlalu malu dan kesal.
Kaki Chris menyenggol kaki milikku. Ku lihat ke arah wajahnya dan menampilkan senyum tertahan. Jika tidak ada pimpinan dan produser senior, sepertinya aku siap memukul tepat di bibir Chris yang hingga saat ini masih terasa di bibirku.