“Skandal : Salah satu pimpinan agensi yang baru saja dicerai istri, kini terlihat berduaan dengan gadis muda”
Berita tersebut ada dimana-mana. Baik di platform berita online, media cetak, maupun televisi dan radio.
Saat ini sedang ramai dibicarakan skandal dari seorang pimpinan agensi, katanya.
Pagi ini, suasana cukup riuh di agensi. Orang berlalu sambil membicarakan berita yang baru saja diterbitkan oleh salah satu stasiun televisi.
Entah apa sebenarnya yang dimaksud dari berita tersebut. Aku jujur tidak mengerti, untuk apa hal itu diberitakan. Aku berpikir bahwa itu seperti kehidupan pribadi seseorang dan tentu bersifat privasi. Lagipula, apa salahnya seorang duda menjalin hubungan dengan seorang gadis. Dan lagi, berita tersebut masih belum terbukti benar.
Di beberapa berita yang telah ditayangkan hanya menampilkan ilustrasi dan bentuk siluet dari orang yang diberitakan. Bahkan media pun masih menyimpan siapa nama dari orang yang tengah ramai dibicarakan saat ini.
Tanpa memedulikan keadaan sekitar agensi yang sibuk berbicara mengenai skandal tersebut, aku berjalaj menuju studio ku. Tiada hari tanpa bekerja di studio yang saat ini sudah menjadi home sweet home bagi ku.
“Eh... Haruna?” sapaku pada wanita cantik yang saat ini sedang di dalam lift bersama ku.
“Eh iya, siapa nama kamu kemarin? Aku rada lupa”
“Ravenna”
“Ah, iya. Halob kita ketemu di sini lagi ternyata”
“Hehe iya. Emangnya S&T ada akti-...”
Haruna memotong bicaraku. “Oh engga. Aku cuma mau ketemu pacarku”
Siapa pacarnya kira-kira. Ah, Ravenna! Untuk apa memikirkan yang bukan urusan mu.
“Oh, iya. Mau ke lantai berapa?”
“Aku? Eum tiga”
Aku langsung menekan tombol sesuai dengan lantai tujuan kami masing-masing. Haruna pun meninggalkan ku dan keluar dari lift saat sudah di lantai tiga.
Aku masuk ke studio ku dan melanjutkan pekerjaan ku. Sebenarnya hari ini tidak begitu banyak pekerjaan, jadi aku punya waktu bersantai lebih banyak.
Galang masuk ke studio ku dengan tergesa-gesa. Nafasnya terengah seperti baru saja berlari.
“Ra, kamu udah liat di trending twitter belom?”
Aku yang masih menatap layar komputer ku pun enggan rasanya menoleh meladeni Galang. Sepertinya, Ia akan mengajakku bergosip mengenai berita yang sedang ramai.
“Liat dulu napa. Udah deket jam makan siang, nih. Udahan dulu kamu kerjanya” Galang sepertinya kesal melihat tanggapanku yang hanya menggeleng.
Aku menoleh. “Apaan sih, Kak? Kamu mau ngajak aku ngegosip kan?”
“Hehe iya. Seru tau, Ra” Galang menampilkan wajah nyengir sambil menyodorkan smartphone nya ke depan wajahku.
“Nih, liat. Itu pimpinan agensi menurut kamu siapa?”
“Ya mana aku tau”
Galang semakin kesal sepertinya. “Is, tebak kek. Gak seru banget kamu”
“Ya beneran aku gak tau ih, Kak”
“Gini deh. Kamu tau kan Pak Adrian tuh berapa bulan lalu digosipin mau pisah sama istrinya?”
“Hmm terus?”
“Ya, gitu. Aku kepikiran aja sih”
“Kalo pun Pak Adrian ya terus kenapa loh, Kak? Beliau kan juga gak salah ngedeketin perempuan lagi? Toh udah pisah jug-..”
“Udah ah, Ra. Kamu ga asik. Udah cepetan beresin kerjaanmu, biar makan siang”
Galang langsung bangkit dan keluar dari studio ku. Lucu sekali, datang-datang langsung ngajak menggosip itu gimana ceritanya sih.
Aku membereskan pekerjaanku. Seperti yang ku bilang tadi, pekerjaan ku sedang tidak banyak, jadi aku bisa punya waktu bersantai lebih lama dan lebih awal.
Ku coba menghubungi Galang yang entah dimana tidak kelihatan di lantai lima. Biasanya, Ia hanya berkeliaran di lantai lima saja.
“Aww!” Aku berhenti berjalan di tengak-tengah koridor lantai lima.
Rasa sakit yang menyerang kaki ku tiba-tiba membuat aku harus menghentikan pergerakan ku. Rasanya tidak seperti biasanya, padahal aku tidak sedang terjatuh.
Aku mencoba memijat perlahan kaki yang terasa sakit. Setelahnya, aku mencoba berjalan dan ternyata masih terasa sakit.
Ting!
“Aku di kantin, Ra” Galang mengirimiku pesan.
Aku mencoba berjalan dengan pelan menuju kantin. Di kantin, aku melihat Chris sudah bergabung di meja Galang. Oh s*hit!
Mereka menoleh melihat ku. Aku berjalan cukup pelan, sepertinya mereka menyadari cara jalanku yang cukup pelan.
“Kamu kenapa? Sakit lagi kakinya?” Chris berdiri dan mulai menanyaiku.
Aku menggeleng dan mencoba menjauhkan tangan Chris dari kaki ku. Ya, Chris terlihat seperti akan memegang kaki mu, berusaha mencari tahu dimana sakitnya.
“Sakit lagi? Kapan kamu sakit, Ra?” Galang terlihat keheranan dan juga ikut berdiri dari duduknya.
“Engga, kemarin aku-..”
Chris langsung memotong bicaraku. “Kemarin Ravenna kesakitan kakinya”
“Kaki kamu? Yang gara-gara jatuh?”
“Jatuh? Kamu sebelum itu pernah jatuh juga?”
Oh Tuhan..
Ingin rasanya aku menutup mulut Galang dengan selotip. Setengah mati aku menyembunyikan cerita terjatuh di depan lift dulu, tapi dengan gampangnya Ia malah bertanya bahkan di depan Chris.
“Kan aku udah bilang. Kalau masih sakit, mending kamu pakai sepatu yang flat aja, gitu tinggi-..”
“Iya, Kak. Udah dulu ceramahnya, aku laper” Aku langsung berjalan menuju prasmanan. Bersiap untuk mengisi perut lapar ku. Sebenarnya sih karena ingin menhindari celotehan Galang.
Aku sengaja memilih tempat duduk tepat di samping Galang. Karena aku tidak mau, lebih tepatnya sedang tidak ingin makan di depan Chris.
“Lo ngapain?” Galang tiba-tiba bersuara.
Ternyata Ia menanyai Chris.
Chris berpindah tepat di depan tempat ku duduk. Benar-benar pria ini, kenapa hobi sekali duduk di hadapanku ketika aku sedang makan.
Aku tentu saja salah tingkah. Ah, tidak. Aku tidak akan lagi jatuh ke perangkap Chris yang nakal ini.
Saat aku sedang makan, tiba-tiba saja sudut mata ku menangkap seseorang. Rasanya seperti ada yang memerhatikanku dari meja lain.
Jaraknya sekitar lima meja dari tempatku duduk. Aku mencoba melihat ke arah sumber yang ku rasa mencurigakan.
Ternyata itu Haruna. Aku memberikan senyuman menyapa Haruna yang sedang duduk sendirian.
Sepertinya Ia sudah bertemu kekasihnya, pikirku.
“Guys, kalian udah denger gosip belom” Suara Haris menggema menghiasi kantin yang cukup ramai hari ini.
Galang yang sejak tadi memiliki ketertarikan luar biasa dengan gosip itu pun menyahuti. Berbeda dengan Chris yang hanya terdiam melihat ke arah Haris.
“Sumpah ini kek ga asing banget, liat coba” Haris tanpa basa-basi langsung menunjukkan smartphone nya, meletakkannya di atas meja dan mulai berbicara dengan antusias.
“Kan, gak cuma gue yang kepikiran” Galang menyahuti.
Aku yang sama sekali tidak tertarik dengan gosip itu, memilih untuk menyelesaikan makanku dan membuang sampahnya ke tempat sampah di dekat wastafel.
Sakit di kaki ku datang lagi. Aku bahkan berhenti sejenak untuk mencoba menetralkan rasa sakitnya.
“Kita ke rumah sakit ya?” Chris berbicara tepat di belakangku. Saat ini aku sedang mencuci tangan di wastafel kantin.
Agak sedikit terkejut aku menyahuti Chris. “Gak apa-apa kok”
“Kamu jalannya udah pincang gitu, pasti sakit banget”
Aku hanya memberikan gelengan. Dan segera berjalan ke meja tadi, diikuti dengan Chris.
“Sumpah, bang! Ini sih Adrian” Haris kembali bersuara, kali ini cukup pelan.
“Gue bilang juga apa, dari tadi nethink mulu gue”
“Guys, ini kan belom tentu bener, udah ah jangan giring opini” Awan mencoba menghentikan mereka berpikiran negative tentang pimpinan agensi kami.
“Eh, bang. Kalo misalnya bener nih, cewenya kira-kira siapa ya? Apa dari agensi kita jug-..”
“Hus heh, Ris! Udah deh lo gausah aneh-aneh, ntar didenger orang” Chris berusaha menghentikan biang gosip ini berbicara.