Dina menatap aneh ke arah putra sulungnya, tangannya ia letakkan dikening pria itu.
"Tidak panas." Gumam Dina, lalu menatap jam dinding yang menempel di ruang makan memastikan batrei jam itu tidak habis.
"Masih pagi sekali, tumben kamu sudah bangun?" tanya Dina yang keheranan, ini masih setengah tujuh dan Rama sudah siap dengan dandanan yang sudah rapi.
Rama hanya tersenyum, tangannya sibuk menyendokkan makanan ke dalam mulutnya menikmati sarapan yang sudah Dina siapkan. Ia sengaja bangun pagi, supaya tidak menikmati pemandangan yang menyesakkan hatinya dimana Diva dijemput oleh atasannya. Rama semalam tidak begadang, karena hatinya sedang tidak senang jadi ia memilih tidur awal.
Hal yang dilakukan Dina, kembali dilakukan Dian. Gadis itu baru saja selesai mandi di kamarnya, dahinya mengkerut menatap sang kakak sudah siap berangkat kerja.
Rama menyingkirkan tangan Dian ketika akan melayang ke dahinya, Rama takut Dian merusak tatanan rambutnya yang sudah klimis dioles pomade.
"Kesambet Kak?" ucap Dian keheranan, ia ikut duduk di samping Rama.
"Kesambet setan Dian!" Rama berdecak kesal, bangun siang salah bangun pagi juga salah.
Setelah menyeselesaikan sarapan, Rama membersihkan piring bekas tempat makannya. Hal itu sudah Dina terapkan sejak kecil, sehingga Rama disiplin sampai sekarang.
Rama mengambil tas kerja yang tergeletak di sampingnya, bersiap berangkat. Tak ketinggalan ia berpamitan dengan Dina, ridho ibu melancarkan rezeki bukan?
Masih dengan motor matiknya yang menemani Rama berangkat kerja, sebenarnya ada mobil miliknya yang menganggur tapi Rama lebih memilih naik motor. Alasannya kalau naik mobil ia tidak leluasa, apalagi ia harus melewati gerbang kecil untuk lewat jalan depan rumah Diva tentu saja menyulitkan Rama jika harus naik mobil.
Rama mengendarai motornya pelan saja, karena ini juga masih terlalu pagi untuk jam buka tempat usahanya. Mata Rama membulat lebar, Diva tengah berdiri di depan rumah dengan pakaian rapi siap bekerja.
"Mau ku antar?" tanya Rama, ia menghentikan motornya tepat di depan Diva.
Sama seperti Rama, Diva sengaja berangkat lebih pagi hari ini untuk menghindari Fahri.
"Boleh?" Diva memastikan dengan tawaran Rama, tempat kerja Rama lumayan jauh dengan tempat kerjanya.
"Boleh, 'kan aku yang menawari. Ayo naik," kata Rama, terlebih dahulu membuka joknya menambil helm.
Ia pasangkan helm itu. Helm sudah terpasang dikepala Diva, Rama membantu memasang tali pengaman saembari curi-curi pandang ke arah Diva.
Senyum puas terlihat diwajah Rama, wajahnya berseri-seri dengan Diva berada di boncengan motornya. Bangun pagi benar-benar membawa berkah, setelah ini sepertinya Rama akan selalu bangun pagi untuk menikmati momen seperti ini.
Diva melingkarkan tangannya ke pinggang Rama, saat Rama sengaja menambah kecepatan motornya.
"Pelan-pelan Rama!" teriak Diva sambil memegangi helm yang seakan tertiup angin.
"Kenapa? Takut ya?" kekeh Rama, ia memelankan laju motornya. Takut besok-besok Diva tidak mau menerima boncengannya lagi setelah kejadian ini.
"Maaf."
Diva mencubit pinggang Rama, motor sedikit oleng Diva memekik ketakutan semakin mengeratkan pelukannya.
Bonus pagi. Batin Rama, ia tersenyum kecil.
"Hati-hati dong." Ketus Diva.
"Iya, kamu sih buat aku tidak fokus."
Rama melirik jam yang ada di lengannya, masih ada waktu cukup untuk mengobrol sebentar dengan Diva jadi ia mengendarai motornya pelan saja.
"Tumben kamu berangkat pagi?" tanya Rama.
"Pengen saja, kamu juga tumben berangkat sepagi ini?"
"Aku juga pengen saja, kamu tidak takut nanti atasanmu marah karena kamu berangkat duluan?" tanya Rama, ia menekan perasaan cemburunya jika membahas lelaki itu.
"Sengaja biar tidak bertemu dia juga sih." Ucap Diva jujur.
"Kalau begitu, mau aku antar tiap pagi?"
Diva menggeleng cepat "Jangan, aku tidak mau merepotkanmu."
"Aku tidak merasa direpotkan, aku justru senang bisa mengantarmu tiap hari. Apa sih yang tidak untuk Diva ku." Ucap Rama menggoda Diva.
Diva tertawa saja, Rama memang senang sekali menggodanya.
"Tidak ah, nanti ada yang marah."
"Mana ada, siapa juga yang bakal marah."
"Pacarmu."
"Pacarku kan kamu." Ucap Rama saat turun dari motor, setelah memarkirkan motornya di depan pabrik Diva bekerja. Ia menatap wajah Diva, mereka duduk di bangku depan pabrik.
Diva tersenyum, selalu saja Rama melontarkan kata-kata itu. Diva menganggap hanya gurauan Rama, Diva belum siap membuka hatinya untuk siapapun.
"Ah, aku ke dalam dulu ya." Pamit Diva tanpa berniat membalas ucapan Rama.
"Iya, semangat ya kerjanya."
Diva mengangguk kecil, lalu berjalan masuk ke dalam pabrik. Rama masih bertahan di sana, memandangi Diva yang melangkah pergi.
Tak jauh dari mereka, Fahri mengamati dari dalam mobil yang sengaja ia parkir ketika melihat Rama dan Diva duduk berdua. Ia mencengkram stir mobilnya, hatinya terasa panas. Fahri bertekad, besok tak boleh terlambat. Ia melajukan mobilnya saat melihat Rama akan pergi juga.
Rama menaiki motornya setelah Diva tidak terlihat lagi dalam pandangannya, meskipun tidak mendapat jawaban Rama sudah senang bisa mengantar Diva.
****
"Waah, ceria amat Pak." Goda Ida melihat Rama yang baru saja tiba dengan wajah berseri-seri, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Perhatian banget kamu sama aku, Da." Ucap Rama, ia melepas outer yang ia kenakan. Rama berusaha menutupi rasa malunya yang digoda Ida, padahal ia juga suka sekali menggoda orang lain.
"Kapal mulai berlayar ya?" tanya Ida, alisnya ia naik turunkan semakin menggoda lelaki itu.
"Doakan saja, Da." Ucap Rama, ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Ida melihat binar bahagia di mata Rama, ia yakin ada perkembangan hubungan Rama dan Diva. Ida adalah tempat Rama mencurahkan isi hatinya tentang sang gadis pujaan, entah kenapa Rama merasa nyaman bercerita dengan Ida. Satu yang Rama yakini, Ida bukan tipe orang yang suka membocorkan rahasia.
"Ida, tolong ambilkan saya berkas lamaran yang sudah masuk." Kata Rama, ia butuh beberapa karyawan lagi untuk membantunya. Apalagi semakin hari, semakin bertambah yang menggunakan layanan jasa pengiriman miliknya. Rama yakin usaha yang dirintis olehnya ini akan bertambah besar.
Rama memeriksa berkas yang baru saja Ida berikan, ada 15 pelamar. Cukup banyak memang, karena Rama sengaja memasang iklan lowongan pekerjaan dimedia sosial. Rama akan menyeleksi mereka, hingga nanti tersisa tiga orang saja yang menurutnya sesuai kriteria.
Rama kembali merapikan berkas-berkas itu, ia bersiap berkutat dengan pekerjaannya. Tak lupa Rama mengambil sesuatu dalam laci meja kerjanya, ia pandangi sebuah foto seorang gadis dalam bingkai kecil. Ia usap foto itu dengan jemarinya, berharap kasih yang selama ini terpendam akan mendapat balasan. Itu yang Rama harapkan.
"Diva, harus dengan cara apa aku menyatakan rasaku? Aku takut justru saat aku benar-benar mengatakannya, lalu kau akan menjauh dariku." Gumam Rama, masih ia pandangi foto itu.
"Hah, bingung." Keluh Rama. Rasa bahagia tadi, kini justru menjadi dilema. Ia harap, semua bisa berjalan sesuai keinginannya.
Rama kembali memasukkan bingkai foto itu ke dalam laci meja kerjanya, ia mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya.