Alarm yang sejak tadi berbunyi, sama sekali tidak menganggu tidur nyenyak pria yang masih bergelung di dalam selimutnya dengan nyaman. Sementara di dapur rumahnya, sang ibu sudah merapalkan berbagai ocehan.
"Dian! Bangunkan kakakmu." Perintah sang ibu, membuat gadis yang akan berangkat ke kampusnya mencebik kesal. Padahal ia tinggal mengambil tasnya saja.
"Selalu saja seperti ini tiap pagi." Gerutunya.
Langsung saja Dian masuk tanpa permisi ke sebuah kamar yang didominasi warna biru tua, setua pemilik kama yang masih terdampar di alam mimpinya..
"Bangun!" Teriak Dian tepat di telinga kakaknya, namun tidak memberikan efek apapun. Pria itu sama sekali tidak terganggu, justru semakin merapatkan selimutnya.
"Astaga! Kakak!" Ucap Dian gusar.
Tanpa berkata-kata lagi, Dian menggulingkan kakak kandungnya itu dari ranjang yang berada ditengah ruangan hingga terjatuh di lantai. Dian tersenyum culas, usahanya tidak sia-sia.
Pria itu mendengus kesal sembari memegang pinggangnya yang terasa ngilu, ia meringis kesakitan.
"Rasakan!" Kata Dian bernada mengejek.
"Sakit." Ringis pria itu.
"Makanya kalau dibangunin jangan susah-susah! Aku berangkat kuliah dulu, ingat jangan tidur lagi!" Kata Dian, ia meluncur ke luar kamar sebelum kakaknya marah.
Rama, nama pria itu. Diusianya yang memasuki 29 tahun, kebiasaan begadangnya sama sekali tidak hilang. Game membuatnya sampai lupa waktu, tak ayal tiap pagi ia susah bangun.
"Rama, mbok ya kamu itu rubah perilaku burukmu biar kamu cepat dapat jodoh." Ucap Bu Dina kepada sang putra.
"Jodohnya lagi diusahakan Ma."
Selalu itu yang diucapkan setiap Dina membahas jodoh untuk Rama, diusahakan sampai kapan?
Dina jadi khawatir jika putranya itu mulai menyimpang, takut pergaulan saat ini menjadikan anaknya penyuka sesama jenis.
"Mama sampai kapan harus menunggu Rama?"
Rama hanya mengedikkan bahunya, ia sendiri tidak tahu sampai kapan penantiannya akan berbuah manis. Tapi yang pasti ia akan terus berusaha, meraih hati pujaannya.
"Mama tenang ya, sekarang aku lapar. Mau makan, Mama sudah masak?" Rama mencoba mengalihkan pembicaraan, daripada Dina tetap membahas itu sampai malam pun tidak akan berhenti.
"Mama masak oseng tempe dan buncis kesukaanmu, banyakin sarapan ya dari pada harapan." Dina terkikik geli, ia menepuk pundak putranya memberi semangat.
Rama hanya menggelengkan kepalanya, darimana juga ibunya tahu kata-kata itu.
Sarapan sudah tandas, Rama bergegas mandi. Hari ini banyak paket yang harus ia tangani, usaha merintis sebuah ekspedisi pengiriman mulai meningkat.
Maraknya jual-beli online tentu saja membuka lebar peluang bisnis jasa antar barang, tak luput juga dirasakan pria pemilik Rama ekspres itu.
"Tuhan jadikanlah dia jodohku.....Hanya dia yang membuat, aku terpikat..."
Suara Rama menggema saat pria itu sedang berada di kamar mandi, melantunkan sebuah lagu yang sejalan dengan kisah cintanya.
Rama keluar dari kamar mandi, rambutnya terlihat basah. Wajahnya sudah terlihat segar, dan tampan.
Sebuah Hem berwarna biru Dongker membalut tubuh Rama, dipadu padankan dengan jeans hitam kesayangannya. Segera Rama bersiap menuju tempat usahanya, menaiki skuter matik miliknya. Tidak lupa Rama memakai jaket beserta helm, ingat menjaga keselamatan itu penting apalagi ia belum menikah.
"Muter lewat sini ah." Lirih Rama.
Pria itu sengaja memilih jalan lain untuk ke tempat tujuannya, jalan yang melewati rumah pujaan hatinya. Berharap dapat melihat wajah yang selalu menghantui setiap malamnya, syukur-syukur bisa diajak sekalian berangkat kerja bersama. Meskipun tempat kerja mereka tidak searah, Rama rela menyisihkan sedikit waktunya untuk Juwita kesayangannya.
Senyum tersungging dibibir Rama, sesekali diganti dengan siulan. Tak lupa saling menyapa jika bertemu dengan warga sekitar, Rama tidaklah asing bagi mereka meskipun tinggal di kompleks perumahan Karena setiap hari Rama akan melewati jalan itu.
Wajah Rama pias saat mendapati sebuah mobil berhenti di depan rumah gadisnya, ada sesuatu yang retak disalah satu bagian tubuhnya. Rama meremas dadanya, agak kebawah sekidit tepat dihatinya.
"Huh.. Telat." Lirih Rama.
Dengan wajah lesu, ia kembali menjalankan skuter yang sempat berhenti tidak jauh dari rumah gadis itu.
"Lemas sekali, Pak?" tanya Ida, salah satu admin di Rama ekspres.
"Pagi-pagi aku sudah patah hati, Da." Keluh Rama, Ida sudah terbiasa menjadi tempat curhat bosnya itu.
"Mbak Diva lagi Pak?"
Rama mengangguk, siapa lagi kalau bukan Diva pujaan hatinya.
"Sabar dan tawakal Pak, insyaallah ada jalan." Ucap Ida menyemangati.
"Iya." Rama beranjak dari duduknya, menyalakan monitor untuk membuat resi pengiriman.
*****
"Terima kasih, Pak." Ucap Diva saat turun dari mobil atasannya, ada perasaan tidak enak karena tiap hari selalu mendapat tumpangan dari bosnya. Diva bekerja di salah satu pabrik sebagai staf marketing, sudah empat tahun ia kerja di sana. Tidak enak juga jika harus menolak, Diva serba bingung jadinya.
"Sama-sama." Ucap pria itu.
Keduanya berjalan bersisian masuk ke dalam pabrik, Diva melirik jam tangannya masih ada waktu untuk sarapan. Atasannya selalu menjemputnya terlalu pagi, hingga gadis itu selalu melewatkan sarapan di rumah.
"Enak sekali dapat tebengan dari bos setiap hari." Ucap Eni yang duduk di depan Diva yang membuka kotak bekalnya.
Tanpa menghiraukan Eni, dengan santai Diva mengunyah sarapan paginya.
"Kamu bisu ya!" Geram Eni yang tidak mendapat jawaban dari Diva.
"Maaf, aku lagi sarapan.Jangan membuat napsu makanku hilang, aku tidak ada waktu untuk membalas ocehanmu." Ucap Diva santai saja, karena sudah tiap pagi Eni menghampirinya yang selalu turun dari mobil Fahri.
"Jangan mentang-mentang kamu dekat dengan Mas Fahri ya, jadi ngelunjak!" Sungut Eni.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, kalau kamu berminat silahkan dekati dia. Karena aku sama sekali tidak ada niat untuk menjalin hubungan spesial dengannya." Ucap Diva akhirnya, lama-lama ia geram sendiri dengan Eni. Ditutupnya kotak bekal yang isinya masih separuh, napsu makan Diva sudah hilang entah kemana. Cepat Diva keluar dari kantin, jengah melihat Eni. Pakaiannya yang super ketat membuat Diva yang sama-sama perempuan merasa risih, bagaimana tidak gadis itu mengenakan rok span yang panjangnya hanya menutupi sejengkal pahanya.
"Hiihh... Dasar!" Ketus Eni, ia mengikuti Diva keluar dari kantin dan perki ke ruangan kerja mereka masing-masing.
Sesampainya Eni di meja kerjanya, ia mengibas-ngibaskan rabutnya saat Fahri akan memasuki ruangan. Ya, Eni adalah sekretaris Fahri yang selalu mencari perhatian namun lelaki itu sepertinya sangat acuh.
"Pagi, Pak." Kata Eni dengan gaya centilnya.
"Pagi." Balas Fahri datar saja, berbeda sikapnya ketika bertemu dengan Diva. Senyum manis akan selalu tersungging dibibir tipis nan seksi milik Fahri, membuat yang melihatnya ingin sekali menggigit bibir kecil itu. Jangan lupakan kumis tipis yang mengiasi wajah tampannya, menjadikan para gadis sangat mengidolakannya.
Sepulang kerjapun sama, Fahri dengan serta merta mengantar Diva sampai rumahnya kebetulan jalan rumah Diva dan rumahnya searah.
"Yah, aku sama sekali tidak ada harapan." Lirih pemuda yang nasibnya masih sama dengan tadi pagi.
Kemudian kepalanya nampak menggeleng beberapakali "Tidak, aku tidak boleh menyerah!" Ucapnya menyemangati diri sendiri.