Mariana akhirnya memberanikan diri keluar dari dalam kamarnya setelah selesai membersihkan tubuhnya. Dia tidak ingin memberi kesan yang tidak enak di pertemuan pertamanya dengan Rafa, anak atasannya yang akan menjadi temannya mulai hari ini.
“Non Mariana, ditunggu Tuan Nicho di ruang depan,” ucap Rita yang kebetulan lewat saat Mariana baru saja keluar dari dalam kamarnya.
“Rafa mana, Bik?” tanya Mariana sambil menutup pintu kamarnya.
“Den Rafa sedang tidur, Non. Tadi Tuan Adi yang menidurkan.”
“Tuan Adi?” Mariana mengernyitkan keningnya.
“Tuan Adhitama, adik kandungnya Tuan Nicholas. Tadi beliau datang ke sini. Setelah selesai menidurkan Rafa, Tuan Adi pergi lagi,” jelas Rita.
“Jadi laki-laki yang tadi ribut dengan Pak Nicho itu adiknya,” gumam Mariana dalam hati.
“Saya permisi dulu, Non,” pamit Rita sambil menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, silahkan, Bik.”
Rita berjalan menuju ke arah dapur melanjutkan pekerjaannya sementara Mariana berjalan menuju ke ruang depan untuk menemui Nicholas.
“Selamat sore, Pak Nicho,” sapa Mariana pada Nicholas yang sedang duduk terdiam sambil melihat ke arah luar. Pandangannya terasa begitu jauh.
“Yoana!” ucap Nicholas terkejut melihat Mariana telah berdiri di dekatnya.
Mariana terdiam mendengar Nicholas kembali salah dalam memanggil namanya.
“Maaf, maksud saya Mariana.” Nicholas langsung memperbaiki kesalahannya begitu tersadar, “Silahkan duduk, Mariana.”
“Baik, Pak.”
Mariana berjalan menuju ke sebuah sofa yang berhadapan dengan Nicholas.
“Saat ini Rafa masih tidur di kamarnya. Setelah dia bangun nanti, saya akan memperkenalkan kamu dengannya.” Nicholas memulai pembicaraan mereka.
Nicholas mengambil dompetnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
“Ini mamanya Rafa.” Nicholas memberikan selembar foto ke depan Mariana.
Mariana mengambil foto itu dan melihatnya. Kedua matanya sontak membesar begitu melihat gambar wanita yang sedang menggendong seorang anak di dalam foto itu. Wajah wanita itu begitu mirip dengannya.
“I-ini istri Bapak?” tanya Mariana dengan wajah yang masih menegang.
Nicholas menganggukkan kepalanya, “Namanya Yoana. Dia dikabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal. Mobilnya jatuh ke dalam jurang namun sampai sekarang pihak polisi belum dapat menemukan jasadnya. Setelah berbulan-bulan melakukan pencarian, polisi membuat keputusan untuk menutup kasusnya dan menyatakan Yoana meninggal dunia,” jelas Nicholas.
Mariana terhenyak mendengar cerita Nicholas. Pantas saja sebelumnya Nicholas dan wanita yang bertemu dengannya di kantor Nicholas kemarin begitu histeris melihat wajahnya seakan mereka sedang melihat sosok makhluk halus.
“Tapi kenapa wajah Yoana bisa begitu mirip denganku? Ini benar-benar luar biasa. Akhirnya aku bisa menemukan satu orang yang mirip denganku,” batin Mariana sambil terus melihat foto yang ada di tangannya.
“Saya minta kamu melakukan pendekatan perlahan pada Raka. Dia begitu terpukul karena kehilangan ibunya,” lanjut Nicholas.
“Baik, Pak. Saya mengerti.” Mariana menganggukkan kepalanya.
“Papa!” panggil seorang anak yang berjalan mendekati ruang depan.
Nicholas dan Mariana tersentak dan spontan berdiri melihat ke arah sumber suara.
“Rafa sudah bangun, Sayang?” tanya Nicholas sambil berjalan mendekati anaknya itu.
Rafa menganggukkan kepalanya sambil mengucek salah satu matanya yang masih terasa perih. Wajahnya berubah menegang begitu melihat sosok wanita yang ada di depannya.
“Mama!” ucapnya setengah berbisik, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tangannya kembali mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa sosok wanita yang dilihatnya bukanlah hanya sebuah halusinasinya seperti biasa dialaminya.
“Rafa, kenalkan ini Tante Mariana,” Nicholas memperkenalkan Mariana pada Rafa.
Mariana berjalan mendekati Rafa dan mengulurkan tangannya.
“Hai Rafa. Panggil saja Tante dengan panggilan Tante Mar. Salam kenal.” Mariana tersenyum sambil menunggu balasan jabatan tangan dari Rafa.
Dengan perlahan Rafa mengulurkan tangannya membalas jabatan tangan Mariana. Begitu tangan mereka saling bertaut, Rafa langsung menyunggingkan senyumnya ke arah Mariana.
Nicholas tertegun begitu melihat senyum di wajah Rafa. Sudah lama Rafa tidak tersenyum seperti itu sejak Ibunya pergi. Rafa hanya akan tersenyum saat berbicara dan bertemu dengan Adhitama, pamannya. Dan sekarang senyum Rafa bisa lebih sering terlihat dengan hadirnya Mariana di rumah itu.
“Tante Mariana akan tinggal di sini bersama kita. Rafa akan dijaga oleh Tante Mariana mulai saat ini,” ucap Nicholas sambil mengelus lembut rambut anaknya.
Mariana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum membenarkan apa yang dikatakan oleh Nicholas.
“Boleh Rafa memanggilnya dengan panggilan Mama, Pa?” tanya Rafa meminta persetujuan ayahnya.
Nicholas dan Mariana serentak saling bertatapan. Wajah mereka menegang mendengar permintaan Rafa barusan.
“Boleh kan, Pa? Please,” mohon Rafa.
“Rafa izin juga dong ke Tante Mariana. Tante Mariana keberatan nggak di panggil Mama sama Rafa?” Nicholas melirik sekilas ke arah Mariana. Dia tidak enak jika harus memutuskan sepihak mengenai panggilan spesial itu.
“Tante, boleh nggak Rafa memanggil Tante dengan panggilan Mama?” tanya Rafa pada Mariana.
Nicholas menatap Mariana, menantikan jawaban dari wanita yang memiliki wajah sama persis dengan mendiang istrinya dulu itu.
“Boleh kok. Rafa bebas manggil Tante apa selama itu membuat Rafa senang,” jawab Mariana sambil tersenyum.
“Asyik, sekarang Rafa punya Mama lagi!” sorak Rafa begitu senang.
Nicholas menatap takjub ekspresi bahagia di wajah anaknya. Dia begitu rindu dengan senyum bahkan sorak bahagia anaknya yang sempat hilang.
“Terima kasih ya, Mariana,” ucap Nicholas sambil tersenyum.
“Sama-sama, Pak,” jawab Mariana, “Sekarang Rafa mandi dulu ya.”
Rafa menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Dengan Mama kan?”
“Iya, dengan Mama,” jawab Mariana tersenyum pada Raka.
“Yes!”
“Saya permisi dulu, Pak Nicho,” pamit Mariana sambil menggandeng tangan Rafa.
“Silahkan, Mar.”
Nicholas terus melihat ke arah Mariana dan Rafa yang berjalan meninggalkannya. Sebuah helaan napas lega terdengar begitu suara tawa lepas Rafa menggaung di ruangan itu.
“Mama akan mengantar dan menjemput Rafa besok ke sekolah kan?” tanya Rafa sambil memainkan busa mandinya.
“Iya dong. Mulai besok Mama akan bersama Rafa. Mengantar jemput Rafa, menemani Rafa bermain, makan dan belajar,” jawab Mariana sambil menggosok pelan tubuh Rafa.
“Rafa senang ada Mama di sini. Rafa nggak mau Tante Lora datang lagi ke rumah ini.”
“Tante Lora? Siapa itu?” tanya Marina.
“Tante Lora itu temannya Papa yang sering datang ke sini dan ke kantor Papa. Rafa nggak suka dengan dia.”
“Kenapa Rafa nggak suka dengan Tante Lora?”
“Tante Lora itu jahat. Rafa nggak suka.” Rafa tampak membuang wajahnya. Ekspresi tidak senang sangat jelas terlihat di wajahnya saat menceritakan hal itu.
“Wanita itu terlihat baik dan lembut, tapi kenapa Rafa tidak suka dan malah mengatakannya sebagai orang jahat ya?” batin Mariana sembari mengingat kembali sosok wanita yang diketahuinya bernama Lora itu. Dia sempat mendengar Nicholas memanggil nama wanita itu di kantornya kemarin.
“Nah, mandinya udahan ya. Kita bilas dulu badannya Rafa.” Mariana berdiri berniat mengambil shower untuk membilas tubuh Rafa yang masih berlumuran busa sabun.
“Mama sudah menikah kan dengan Papa?” tanya Rafa tiba-tiba.
Tangan Mariana tanpa sengaja menekan tombol pada shower karena begitu terkejut mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Rafa. Shower itu menyemburkan air tepat mengenai wajah Mariana dan membuatnya spontan mundur.
Nahasnya, Mariana malah menginjak lantai yang ada sabunnya dan terpeleset. Seluruh bajunya basah kuyup.
“AAAKK!” teriak Mariana diikuti suara jatuh. Mariana meringis sambil memegangi tubuhnya yang terasa sakit.
“Mariana!” teriak seseorang dari arah pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Rafa.
Nicholas berlari masuk ke dalam kamar mandi dan membantu Mariana untuk bangkit.
“Kamu tidak apa-apa, Mar? Kita ke rumah sakit sekarang ya,” ucap Nicholas dengan wajah panik.
“Tidak perlu, Pak. Ini cuma jatuh biasa. Saya sudah terbiasa jatuh begini. Sebelum ke siniaja saya udah dua kali jatuh di kamar mandi,” jawab Mariana tanpa sadar curhat sambil meringis memegangi tangannya yang terasa sakit akibat terhempas.
“Jangan diremehin begitu, Mar. Kalau ada apa-apa gimana? Pokokmya saya antar kamu sekarang ke rumah sakit. Rafa biar dengan Bik Rita dulu.”
Mariana terdiam begitu menyadari sesuatu, “Pak Nicho kok bisa ada di sini? Perasaan tadi kamar Rafa saya tutup deh. Memangnya suara jatuh saya tadi sampai ke ruang depan ya, Pak?” tanya Mariana.
Nicholas terlihat kikuk mendengar pertanyaan dari Mariana. Dia memang tadi sengaja masuk ke dalam kamar Rafa dan diam-diam mendengarkan semua percakapan Mariana dan Rafa.
“Saya tadi tidak sengaja lewat kamar Rafa dan ingin mengambil sesuatu di dalam. Kebetulan saya mendengar suara kamu teriak kesakitan tadi,” jawab Nicholas berusaha mengarang alasan.
“Papa bohong!” ucap Rafa sambil tersenyum.
Mariana melihat ke arah Rafa kemudian beralih kembali pada Nicholas.
“Rafa tunggu di sini sebentar ya. Papa panggilkan Bik Rita dulu,” jawab Nicholas sambil bergegas pergi dari dalam kamar mandi itu.
Wajah Nicholas memerah. Dia benar-benar lupa kalau tidak akan ada satupun orang yang bisa berbohong di di depan anaknya itu.