Bab 5. Sebuah Pelukan Dadakan

1220 Words
“Tidak ada yag perlu dikhawatirkan. Pasien hanya mengalami memar biasa akibat benturan. Tidak ada retak atau pergeseran pada tulang panggul dan tangannya. Pasien sudah diperbolehkan pulang,” ucap Dokter yang memeriksa Mariana. “Syukurlah,” ucap Nicholas sambil menghelakan napas lega. “Suaminya silahkan mengurus administrasinya dulu ya,” ucap seorang suster pada Nicholas. “Su-suami?” Mariana menegang mendengar panggilan suster itu pada Nicholas. “Baik, Suster.” Nicholas menganggukkan kepalanya seolah tidak terganggu dengan panggilan suster tadi padanya. “Saya ke ruang administrasi dulu,” ucap Nicholas pada Mariana sebelum pergi. “Baik, Pak,” jawab Mariana sambil menganggukkan kepalanya dengan kikuk. Nicholas berjalan meninggalkan Mariana menuju ke ruang administrasi untuk membayar semua biaya pengobatan Mariana. “Kami kira tadi ada artis yang masuk ke sini, Bu. Rupanya bukan. Hampir saja heboh satu rumah sakit,” ucap seorang suster sambil mengoleskan obat di tangan Mariana yang terlihan mulai lebam akibat terjatuh di kamar mandi tadi. “Artis?” tanya Mariana bingung. “Iya, Bu. Tadi kan waktu teman saya menganamnesa, suami ibu mengatakan nama ibu Mariana. R. dan Nama suami ibu Nicholas. S. Waktu berkas anamnesis itu sampai di stasi dan teman perawat lain membaca, mereka mengira ibu dan bapak pasangan artis papan atas itu. Yang cakepnya menusuk sampai ke tulang sumsum,” jelas Suster itu. Mariana mengernyitkan keningnya, mengingat nama artis yang tadi disinggung oleh suster itu. “Itu loh bu. Nicholas yang main film Ada Apa dengan Cincai. Kalau Mariananya yang main dengan Nicholas juga di film Janji Dony,” jelas suster itu lagi karena melihat raut kebingungan di wajah Mariana. “Oh, yang itu.” mulut Mariana membulat sempurna begitu mengingat dua artis papan atas yang dikatakan oleh suster itu, “Nama saya Mariana Renita, Sus.” “Wah, hampir mendekati. Terus nama suami ibu siapa?” “Nicholas Suhendra. Tapi dia bukan suami saya. Dia-“ kalimat Mariana terputus begitu melihat kedatangan Nicholas. “Ayo kita pulang sekarang,” ucap Nicholas. “Baik, Pak.” Mariana berusaha turun dari atas tempat tidur dibantu oleh suster yang sedang berdiri di dekatnya. Mariana dan Nicholas berjalan menuju ke lobi rumah sakit. “Kamu tunggu di sini. Saya ambil mobil dulu,” ucap Nicholas begitu mereka tiba di depan lobi. “Baik, Pak.” Mariana menganggukkan kepalanya. Mariana berdiri menunggu Nicholas di depan lobi. Tak lama kemudian mobil Nichola datang dan berhenti tepat di depan Mariana. Setelah Mariana masuk ke dalam mobilnya, Nicholas segera melajukan mobilnya pergi menuju kembali ke rumahnya. “Besok kalau nggak bisa masuk kerja, kamu di rumah saja nggak apa-apa,” ucap Nicholas sambil mengemudikan mobilnya. “Bisa kok, Pak. Cuma memar sedikit aja kok.” “Ya udah kalau begitu.” Begitu mobil Nicholas berhenti di halaman rumahnya, Rafa langsung keluar dan berlari mendekati mobil ayahnya itu. “Mama!” Mariana bergegas keluar dari dalam mobil. “Hai, Rafa!” Mariana langsung menyambut Rafa dengan memeluknya. “Mama nggak apa-apa kan?” tanya Rafa dengan penuh antusias. “Mama nggak apa-apa, Sayang. Ini tangannya sudah enakan.” Mariana menggendong Rafa. Nicholas tersenyum melihat kedekatan Rafa dengan Mariana. Mereka benar-benar telihat seperti ibu dan anak. Selama ini Rafa tidak pernah mau dekat dengan siapapun selain ibunya. Bahkan Lora yang telah lama mencoba mendekati Rafa selalu mendapatkan penolakan dari anak kecil itu. “Ayo kita masuk. sudah waktunya makan malam,” ucap Nicholas. “Let’s go, Ma!” teriak Rafa senang dalam gendongan Mariana. “Ayo!” balas Mariana semangat. Mariana berjalan masuk ke dalam rumah sambil bersenda gurau dengan Rafa. Nicholas mengikuti mereka dari belakang. *** Keesokan paginya, Mariana bangun lebih pagi karena harus membantu Rafa bersiap ke sekolah. Ternyata Rafa adalah anak yang tidak begitu sulit diatur. Dia sepertinya telah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri meski ada orang yang ditugaskan untuk mengurusnya. “Rafa sudah bangun?” tanya Mariana begitu masuk ke dalam kamar Rafa. Rafa yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kita mandi dulu ya baru nanti sarapan bersama di ruang makan,” ucap Mariana yang sudah duduk di samping Rafa. Rafa menganggukkan kepalanya dengan semangat. Mariana bergegas membantu Rafa mandi dan memakaikan seragam sekolahnya. Setelah Rafa rapi, mereka bergegas menuju ke ruang makan. “Rafa di sini sebentar ya. Mama ganti pakaian dulu sebentar,” ucap Mariana pada Rafa yang baru saja duduk di kursi ruang makan. “Oke, Ma.” Rafa menganggukkan kepalanya. Mariana bergegas berjalan menuju ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian kerja karena dia juga harus pergi ke kantor Nicholas setelah mengantarkan Rafa sekolah nanti. “Selamat pagi, Sayang. Ganteng banget deh pagi ini,” puji Nicholas yang datang ke ruangan makan, “Mama Mariana mana?” tanya Nicholas yang tidak menemukan Mariana di dekat Rafa. “Mama lagi berganti pakaian, Pa,” jawab Rafa. Nicholas menganggukkan kepalanya kemudian menarik sebuah kursi dan duduk. Tak lama kemudian Mariana datang terburu-buru dan segera duduk menyuapi Rafa sarapan pagi. “Pagi ini kalian akan diantarkan supir. Setelah mengantarkan Rafa ke sekolah, supir akan mengantarkan kamu ke kantor, Mariana,” ucap Nicholas ambil menyelesaikan sarapannya. “Baik, Pak,” jawab Mariana. “Katanya kemarin Om Adi yang akan mengantarkan Rafa ke sekolah,” protes Rafa dengan wajah kecewa. “Tuan Adi sudah tiba di depan, Den. Baru saja datang,” ucap Rita yang baru saja datang dari arah depan. “Yes! Ada Om Adi!” sorak Rafa sambil turun dari atas kursinya dan berlari menuju ke teras rumahnya menemui Oom kesayangannya. “Rafa, tunggu Mama!” teriak Mariana. Mariana dengan cepat memasukkan bekal Rafa ke dalam tas dan menenteng tasnya. “Saya ke depan dulu Pak,” izin Mariana pamit. Nicholas menganggukkan kepalanya. Kedua matanya terus mengikuti gerakan Mariana hingga menghilang di ujung lorong ruangan makan itu. “Rafa, tasnya ketinggalan, Sayang,” ucap Mariana melihat Rafa yang sedang memeluk laki-laki di teras rumah. “Iya, Ma!” jawab Rafa sambil mengurai pelukannya dari tubuh pamannya dan mengambil tas yang ada di tangan Mariana. “Yoana!” ucap Adi histeris begitu melihat Mariana di depannya. Wajah Adi begitu menegang. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Aku sangat yakin kamu memang masih hidup, Yoana!” lanjut Adi sambil memeluk Mariana dengan cepat. Adi begitu bahagia dengan apa yang dilihatnya saat ini meski logikanya masih belum bisa mencernanya dengan baik. “Ma-maaf, Pak. Saya bukan Bu Yoana. Saya Mariana,” jelas Mariana mencoba memperkenalkan dirinya. “Lepaskan pelukanmu itu, Adi! Dia bukan Yoana.” Suara Nicholas tiba-tiba terdengar. Mariana dan Adi spontan melihat ke arah Nicholas. Adi yang bingung kemudian melepaskan pelukannya dari Mariana. “Dia Mariana. Pengasuh Rafa sekaligus sekretarisku di kantor.” Nicholas memperkenalkan Mariana pada adiknya itu. “Mariana? Bagaimana bisa wajahnya begitu mirip dengan Yoana?” Adi menatap Mariana dengan bingung. “Hanya kebetulan,” jawab Nicholas dengan cepat, “Setelah mengantarkan Rafa ke sekolah, tolong antarkan Mariana ke kantorku.” “Mariana, bawa Rafa masuk ke dalam mobil Adi,” perintah Nicholas pada Mariana. “Baik, Pak,” jawab Mariana, “Ayo Rafa!” Mariana menggandeng tangan Rafa dan masuk ke dalam mobil Adi. “Jaga sikapmu pada Mariana, Adi. Dia bukan Yoana. Satu lagi, meskipun Yoana adalah sahabat dekatmu, kamu tidak pantas memeluknya seperti tadi. Kamu tidak lupa kan kalau dia adalah kakak iparmu?” ucap Nicholas sambil menatap tajam adiknya kemudian berjalan menuju ke mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD