Gadis dengan midi dress putih dengan corak bunga biru berjalan sembari menggendong keranjang anyaman di punggungnya. Ini adalah kali keduanya datang ke tempat itu.
Evelyn menggigit bibirnya saat melangkah masuk ke area perkebunan Wilson. Gerbang besi besar itu seperti selalu mengingatkannya bahwa dunia di dalamnya berbeda dengan dunia yang ia jalani.
Di sini semuanya tertata. Indah. Mewah.
Bahkan Evelyn merasa minder untuk menapakkan sepatu murahannya ke tanah.
“Cepat, Evelyn!” suara seorang wanita dari kejauhan berteriak. “Akan ada tamu, cepat rapikan bagianmu.”
“Iya Bibi, saya segera ke sana!” jawabnya cepat.
Ia mempererat tali keranjang di punggungnya, lalu bergegas menuju area penyimpanan peralatan. Tangannya yang kecil mulai bekerja tanpa ragu, mengambil ember-ember air dan menata perlengkapan seperti yang sudah ia hafal di luar kepala.
Namun tanpa ia sadari, dari lantai dua bangunan utama, sepasang mata biru sedang mengamatinya.
Leon Wilson berdiri diam di balik jendela kaca besar.
Tangannya terselip di saku mantel gelapnya, ekspresinya datar seperti biasa. Tapi matanya tidak benar-benar setenang itu.
“Dia datang lagi,” gumam seorang pelayan di belakangnya.
Leon tidak menjawab.
Evelyn terlihat seperti kemarin—sederhana, tanpa perhiasan, tanpa upaya untuk terlihat lebih dari dirinya sendiri. Bahkan saat bekerja, ia tidak pernah ikut bergabung dengan obrolan pekerja lain. Ia hanya fokus pada urusannya sendiri.
Matanya kembali mengikuti Evelyn yang hampir tersandung karena beban ember terlalu berat. Beberapa tetes air tumpah ke tanah.
Leon mengernyit.
“Bahkan kerja sederhana saja tidak bisa dilakukan dengan benar,” gumamnya pelan.
"Apa perlu saya suruh dia berhenti datang?" tanya pelayan di belakangnya.
"Dia hanya tinggal dengan Ibunya?"
"Benar, Tuan. Ibunya memang punya penyakit dari dulu, tapi keadaannya semakin memburuk akhir-akhir ini." jelas pelayan.
"Ke mana Ayahnya?"
"Tidak ada yang tahu di mana Ayahnya. Sedari dulu mereka hanya berdua. Apa Anda mau saya carikan informasinya?"
Leon menggeleng, "Tidak penting." katanya.
"Keluarga Nyonya Rebecca akan segera tiba, Tuan."
Leon mengangguk. Pria itu lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Di bawah, Evelyn sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sedang dinilai sedingin itu.
Ia hanya fokus bekerja.
Sampai suara langkah sepatu mendekat dari belakangnya.
Evelyn menoleh perlahan.
Leon Wilson berdiri tidak jauh darinya.
Untuk sesaat, Evelyn langsung menunduk refleks.
“Tuan…” sapanya pelan.
“Jangan berhenti kerja hanya karena aku lewat,” potong Leon cepat, nadanya dingin dan datar.
“Maaf, Tuan.”
Evelyn langsung kembali melanjutkan pekerjaannya, memotong daun dan tangkai mawar yang sudah layu dan menguning.
Leon berdiri beberapa detik, menatap cara Evelyn bekerja seperti menilai sesuatu yang tidak penting.
“Kerja lambat,” lanjut Leon. “Dan tidak rapi.”
Jari Evelyn mengencang di pegangan gunting potong.
Tapi ia tetap diam.
Leon mendekat sedikit, menatap tanaman mawar yang sedang Evelyn rapikan.
“Karena kau kemarin muncul di hutan, burung buruanku kabur,” katanya tiba-tiba, nadanya tetap datar, tapi jelas menyimpan kekesalan.
“S-saya minta maaf, Tuan,” jawab Evelyn cepat, suaranya mengecil.
“Awas saja kau datang mengganggu perburuanku lagi.”
Kalimat itu jatuh seperti peringatan dingin, membuat Evelyn langsung menunduk lebih dalam.
“Saya benar-benar tidak sengaja, Tuan.”
Leon mendecih kecil.
“Semua orang selalu bilang begitu.”
Ia memalingkan wajah, seperti sudah tidak tertarik lagi pada percakapan itu.
“Kalau tidak bisa bekerja dengan benar, bilang pada pengawas. Jangan memaksakan diri di tempat ini hanya karena merasa harus menggantikan orang lain.”
Salah satu pengawas kebun mendekat cepat. “Awasi dia. Jangan sampai kebun favorit Mama rusak.”
“Baik, Tuan,” jawab wanita paruh baya itu patuh.
Evelyn menggigit bibirnya. Tangannya tak berhenti bergetar, gunting potong yang ia genggam terasa semakin berat.
“Kau dengar itu, Ev? Bekerja yang benar. Gaji dari sini lebih besar daripada kau berjualan di pasar,” ujar pengawas itu setelah Leon pergi menjauh.
“Ya, Bibi. Saya minta maaf,” jawab Evelyn pelan.
Ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya tanpa berani mengeluh.
***
Langit sudah berubah warna jingga saat Evelyn keluar dari gerbang rumah mewah keluarga Wilson. Wajahnya sayu, berjam-jam mengurusi tanaman yang luas membuat energinya terkuras habis.
Ia baru pulang dari sekolah tadi dan langsung bergegas ganti pakaian. Ia belum sempat makan siang. Untungnya dia selalu menyimpan permen di tas rajut mungil yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Evelyn menatap flatshoes-nya kemudian bergegas melepaskannya seraya panik.
"Aku lupa ganti sepatu tadi...sepatu sekolahku." katanya melas, barang itu menjadi kotor karena terkena percikan air dan tanah saat menyiram mawar.
Evelyn menghela napas, kemudian ia memasukkan sepatu itu ke dalam keranjang anyaman di punggungnya. Gadis itu memilih berjalan tanpa alas kaki meninggalkan kediaman Leon.
"Siapa dia?"
Leon yang sedari tadi berdiri dari lantai dua sembari menggenggam satu gelas alkohol menoleh, mendapati wanita cantik dengan gaun biru sudah berdiri di sampingnya.
"Hanya anak sekolah." balas Leon singkat.
"Aku dengar kau akan pergi ke kediaman Frank. Apa aku boleh ikut?" tanya Rebecca, nadanya sangat lembut, sangat feminim dan enak didengar.
"Kau bisa pakai mobil sendiri jika mau ikut." kata Leon membuat Rebecca tertawa kecil.
"Leluconmu jadul sekali."
"Aku serius." Leon menatap Rebecca datar, "Jangan ikut mobilku." sambungnya.
****
Leon tengah berjalan santai dengan kemeja putihnya. Sebuah rokok terhimpit di antara telunjuk dan jari tengahnya.
Leon memiliki kebiasaan sulit tidur. Jadi, ia akan menghirup udara segar di sekitar rumah sebelum akhirnya terlelap.
Langkahnya pelan, tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti jalan setapak di sisi kolam ikan yang diterangi lampu taman redup. Airnya tenang, memantulkan cahaya seperti kaca yang tak terusik.
Leon mengernyitkan dahi saat melihat sebuah flatshoes dengan pita merah muda tergeletak di tepi jalan. Ia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan mengambil barang itu.
“Murahan,” gumamnya pelan, nyaris seperti ejekan.
Baru saja ia hendak melangkah pergi, suara langkah tergesa terdengar dari belakangnya.
“Tuan!”
Leon mengalihkan pandangannya.
Evelyn.
Gadis itu datang dengan peluh di pelipisnya. Rambutnya berantakan, kaki kotor karena berlari tanpa alas kaki. Napasnya tersengal, tapi ia tetap berusaha berdiri tegak di hadapan Leon.
“Tuan, maaf. Sepatu itu milik saya yang terjatuh,” kata Evelyn cepat.
Leon tidak langsung menjawab. Matanya turun ke flatshoes itu, lalu kembali ke wajah Evelyn. Seolah menilai sesuatu yang tidak penting.
“Jadi ini punyamu?”
Evelyn mengangguk kecil. “Iya, Tuan.”
Leon mengembuskan napas pendek, seperti bosan.
“Pantas saja terlihat murahan.”
Ucapan itu jatuh tanpa emosi, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.
Evelyn terdiam. Tangannya sedikit mengepal di sisi tubuhnya, tapi ia tidak berani membantah.
Leon mengangkat sepatu itu sedikit, lalu menatapnya lagi.
“Barang seperti ini masih kau pakai di area Wilson?”
“Maaf, Tuan… saya tidak sempat—”
“Tidak sempat atau tidak mampu?” potong Leon cepat.
Evelyn langsung menunduk.
Leon menatapnya beberapa detik, lalu tanpa ekspresi ia melemparkan sepatu itu ke arah kolam ikan di samping mereka.
Byur.
Air kolam langsung memercik. Sepatu itu tenggelam perlahan di antara riak kecil.
Hening.
Evelyn membeku satu detik.
Lalu—
“Tuan…!”
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari ke tepi kolam. Roknya basah saat ia berlutut, lalu dengan panik ia menceburkan diri ke dalam air dingin itu.
“Evelyn,” suara Leon datar dari atas.
Tapi gadis itu tidak mendengar apa pun. Tangannya meraba dasar kolam, mencari-cari dengan tergesa. Air membuat pandangannya buram, rambutnya menempel di wajah, tapi ia tetap terus mencari sepatu itu seperti itu adalah satu-satunya hal yang penting.
Leon hanya berdiri di tepi kolam.
Rokoknya sudah mati.
Ia menatap Evelyn seperti menatap sesuatu yang tidak masuk akal.
“Cuma sepatu,” katanya pelan, hampir mengejek.
Evelyn akhirnya berhasil meraih flatshoes itu. Ia memeluknya di d**a, napasnya terengah-engah.
Air menetes dari rambut dan bajunya.
Ia menatap Leon dengan mata yang basah—bukan hanya karena air kolam.
“Tuan… itu satu-satunya sepatu saya untuk sekolah.”
Leon diam.
Sesaat.
Lalu ia tertawa kecil. Bukan tawa hangat. Lebih seperti reaksi sinis yang tidak peduli.
“Kalau begitu, kau seharusnya lebih hati-hati.”
Evelyn menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar kecil karena dingin.
Leon berbalik, seperti kejadian itu sudah selesai.
“Keluar dari kolam sebelum kau jatuh sakit. Aku tidak mau ada masalah di area rumahku hanya karena pekerja kebun ceroboh.”
Langkahnya menjauh tanpa menunggu jawaban.
Evelyn masih berdiri di dalam air, memegang sepatu itu erat-erat di dadanya.
Di atas sana, lampu taman tetap menyala tenang.
Seolah tidak ada yang baru saja dihancurkan harga dirinya.