Hujan turun hampir setiap malam selama dua minggu terakhir.
Rumah kecil milik Evelyn terasa semakin dingin ketika angin masuk melalui sela jendela kayu yang mulai rapuh. Aroma obat dan air hangat memenuhi ruangan sempit itu sejak pagi hingga malam.
Evelyn duduk di sisi ranjang sambil memeras kain kompres. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding biasanya. Lingkar hitam samar mulai muncul di bawah matanya karena kurang tidur.
“Ibu minum dulu,” ucap Evelyn pelan sambil membantu wanita paruh baya itu duduk.
Emma batuk beberapa kali sebelum akhirnya meminum obatnya perlahan. Tangannya semakin kurus dari hari ke hari.
“Maaf jadi merepotkanmu terus,” gumam Emma lirih.
Evelyn langsung menggeleng cepat.
“Ibu jangan bilang begitu.”
Emma tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya lagi.
“Sudah dua minggu kau tidak bekerja di kediaman Wilson.”
“Ev sudah izin pada Bibi Clara.”
“Kau nanti dimarahi.”
Evelyn hanya diam. Emma memandang putrinya cukup lama.
Evelyn yang biasanya gampang tersenyum kini terlihat lebih diam. Lebih sering melamun.
Terutama sejak kejadian malam itu.
Kejadian saat Leon Wilson melempar sepatu sekolahnya ke kolam. Sepatu gadis itu kotor, ia mencucinya di sungai esok harinya. Naasnya, barang itu terbawa arus saat Ev tak sengaja jatuh.
"Apa ada yang mengganggumu di sekolah atau pasar?"
Emma menyelipkan rambut panjang Evelyn yang warnanya berbeda dengannya. Emma memiliki rambut kuning keemasan yang mencolok dan cantik.
Evelyn menggelengkan kepalanya.
"Apa gara-gara sepatumu yang hanyut?"
Evelyn menggigit bibirnya.
"Bilang saja pada Ibu. Iyakan?"
Evelyn yang sedari menunduk sembari sibuk membasuh tangan Emma akhirnya mendongak. Matanya nanar, bibirnya bergetar kemudian ia meraung.
"Ev mengumpulkan uang hasil jual tas rajut. Ev hanya punya sepatu itu yang pantas dipakai ketika pergi ke perpustakaan kota. Sepatu itu mahal Ibu."
Bukannya sedih, Emma malah tersenyum kecil. Ia membiarkan Evelyn menangis sejadinya. Tangannya yang kecil menggenggam erat milik Evelyn, menyadarkan gadis itu bahwa ia akan tetap berada di sisinya.
****
Sementara itu, di rumah besar keluarga Wilson, semuanya berjalan seperti biasa.
Pelayan berlalu-lalang. Jamuan makan malam tetap mewah. Taman penuh bunga yang tertata sempurna dengan lampion yang terus menyala.
Namun Leon merasa ada sesuatu yang berbeda. Dan itu mengganggunya sedikit.
“Gadis tukang kebun itu belum datang lagi?” tanya Leon tiba-tiba saat sedang membaca koran di ruangan kerjanya.
Pelayan di sampingnya tampak terkejut.
“Evelyn? Belum, Tuan.”
Leon mendecih kecil.
“Suruh jangan datang lagi kalau dia tidak niat bekerja. Masih banyak orang yang mau menggantikannya.”
"Baik, Tuan." pelayan itu mengangguk.
Leon lalu melambai ke udara, menyuruh pelayan itu meninggalkannya sendiri.
Leon beberapa kali memikirkan kejadian di kolam itu.
Ekspresi Evelyn terus muncul di kepalanya.
Tatapan mata cokelatnya yang panik saat sepatu itu tenggelam.
Cara gadis itu langsung menceburkan diri tanpa berpikir panjang.
Cara ia berkata pelan—
“Itu satu-satunya sepatu saya untuk sekolah.”
Leon memutar gelas alkohol di tangannya pelan.
Ia tidak merasa bersalah.
Sama sekali tidak.
Hanya saja… ekspresi itu terlalu menyedihkan untuk dilupakan begitu saja.
“Kalau dia memang semiskin itu, kenapa masih memaksakan sekolah?” gumam Leon pelan.
Leon langsung meminum alkoholnya.
Baginya, rakyat biasa tetap rakyat biasa.
Mereka seharusnya tahu tempatnya.
Namun entah kenapa, gadis itu justru terlihat keras kepala dengan cara yang aneh.
Dan Leon cukup menikmati itu.
Sedikit hiburan kecil di tengah hidup bangsawan yang membosankan.
****
Dua hari kemudian, Leon akhirnya pergi ke kediaman Frank bersama beberapa temannya. Tentu saja sesama keluarga bangsawan.
Malam sudah cukup larut ketika mobil hitam milik keluarga Wilson melewati jalanan kota yang mulai sepi.
Leon duduk santai di kursi belakang sambil menatap keluar jendela dengan malas.
Percakapan tadi benar-benar membosankan.
Tentang bisnis.
Tentang keluarga bangsawan.
Tentang wanita mana yang cocok dinikahi.
Membuat Leon ingin merokok lebih banyak dari biasanya. Mobil mereka melambat saat melewati area pasar tua yang sebagian besar tokonya sudah tutup.
Dan di situlah Leon melihat sosok familiar.
Seorang gadis berjalan sendirian di trotoar yang remang-remang.
Midi dress lusuh berwarna merah muda. Rambut cokelat panjang yang sedikit berantakan. Dan sebuah boneka kelinci kecil yang dipeluk erat di dadanya.
Evelyn.
Leon sedikit mengernyit.
“Berhenti,” katanya tiba-tiba.
Supir langsung menepikan mobil.
Leon membuka pintu perlahan lalu turun.
Suara langkah sepatunya membuat Evelyn menoleh cepat.
Dan wajah gadis itu langsung berubah tegang.
“T-Tuan Leon…”
Leon melirik boneka kelinci di pelukan Evelyn.
“Kau ternyata masih hidup.”
Kalimat itu terdengar dingin seperti biasa.
Evelyn menunduk pelan.
"Maaf, Tuan. Saya sudah bilang pada Bibi Clara. Keadaan Ibu semakin parah, hanya saya yang merawatnya." jelas Evelyn.
"Benarkah? Bagaimana kalau kau menipuku?"
Evelyn dengan cepat menggeleng, "Saya bersumpah, Tuan." katanya cepat, seakan tak mau Leon salah paham lebih jauh.
Leon menatap Evelyn dari atas sampah bawah.
"Kau mau ke mana malam-malam begini?"
“Saya baru saja membeli obat untuk Ibu.”
“Dengan membawa boneka?”
Tatapan Leon turun menilai boneka usang berbentuk kelinci itu. Telinganya sedikit miring dan warnanya sudah memudar.
“Saya bisa memeluk boneka ini ketika takut melewati tempat gelap,” jawab Evelyn lirih."Ini juga hadiah dari Ibu saya." sambungnya seakan memberi tahu Leon bahwa itu adalah barang yang berharga baginya.
Leon tertawa kecil samar.
“Hadiah?” ulangnya pelan. “Kalian bahkan kesulitan membeli obat.”
Kalimat itu membuat Evelyn terdiam.
Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya.
“Aneh sekali.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Rakyat biasa selalu membeli hal yang tidak penting.”
Evelyn menggenggam boneka itu lebih erat. Namun kali ini ia tidak meminta maaf.Ia hanya diam sambil menatap ke bawah, menunduk adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Leon memperhatikannya beberapa detik.
Wajah gadis itu terlihat lebih pucat dibanding terakhir kali mereka bertemu. Matanya lelah.
Leon memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Melihat gadis di depannya tampak lelah, Leon malah berkata.
“Besok datanglah kalau masih ingin bekerja.” ucapnya dingin. “Atau jangan sekalian.”
Setelah mengatakan itu, Leon masuk kembali ke mobilnya.
Kendaraan hitam itu perlahan melaju meninggalkan Evelyn sendirian di pinggir jalan.
Gadis itu menatap mobil yang semakin jauh sambil menggenggam boneka kelincinya erat-erat.
Sementara di dalam mobil, Leon menyandarkan kepalanya sembari melirik Evelyn melalui spion tengah.
****
"Jadi, kau pernah masuk di kediaman Wilson, Ev?" seorang gadis dengan rambut sebahu menghampiri Evelyn yang sibuk merajut.
Ia sedang berada di pasar, duduk di bangku jongkok sembari menunggu tas dan buket bunga mawarnya terjual.
"Ya, hanya dua kali menggantikan Ibu." jelas Evelyn, "Kenapa, Josie?"
"Ibumu yang merawat mawar bukan?"
Evelyn mengangguk.
"Aku tadi dengar ada lowongan menjaga kebun mawar di kediaman Wilson. Apa Ibumu sudah tidak bekerja di sana?"
Evelyn terdiam beberapa detik, ia tidak tau secepat itu lowongan pekerjaan diumumkan.
"Ya, Ibu masih sakit. Aku bisa pulang menjenguk Ibuku sesekali sembari berjualan, kalau bekerja di kediaman Wilson aku harus menetap sampai sore dari sepulang sekolah. Aku takut Ibu butuh apa-apa." jelas Evelyn.
Josie mengangguk paham.
“Kalau begitu keputusanmu benar,” ujar Josie sambil duduk di samping Evelyn.
“Memangnya gajinya besar, tapi orang-orang di sana terkenal galak. Kakakku pernah jadi pelayan sementara di kediaman Wilson. Dia bilang keluarga itu dingin sekali.”
Evelyn tersenyum kecil, tetapi tidak benar-benar menanggapi.
Tangannya tetap sibuk merajut pita pada buket bunga mawar kecil buatannya.
Entah kenapa, bayangan Leon kembali muncul di kepalanya.
Tatapan dingin pria itu.
Nada suaranya yang selalu terdengar merendahkan.
Dan cara Leon menatap dirinya seolah Evelyn hanyalah hiburan kecil yang bisa dipermainkan kapan saja.
“Ev?” Josie melambaikan tangan di depan wajahnya. “Kau melamun lagi.”
Evelyn langsung tersadar.
“Ah, maaf.”
Josie menatapnya penasaran. “Apa putra keluarga Wilson itu benar-benar setampan yang orang-orang bilang?”
Pertanyaan itu membuat Evelyn terdiam sesaat.
Kemudian gadis itu menunduk pelan sambil merapikan bunga mawarnya.
“Dia menyeramkan,” jawab Evelyn lirih.
Josie langsung tertawa kecil.
“Kalau tampan dan menyeramkan biasanya justru makin disukai wanita.”
Namun Evelyn tidak ikut tertawa.
Karena setiap kali mengingat Leon Wilson, yang ia rasakan bukan kagum—
melainkan rasa kesal. Kesal karena barang berharga milik Evelyn selalu dinilai rendahan oleh Leon. Evelyn benci Tuan Muda itu.