"buk..ibuk,..."!teriak laras dengan suara kencang ketika masuk ke dalam rumah,
"nduk...kok ya teriak-teriak, mbok salam dulu kalau mau masuk rumah itu". sahut perempuan paruh baya yang dipanggil ibu oleh laras,ia keluar setelah mendengar anak gadisnya ini memanggilnya.
"ibu tidak apa-apa?" tanya laras sambil berhambur memeluk erat ibunya.
"lah..memangnya ibu kenapa?" ibunya balik bertanya.
"ibu enggak sakit kan?"
"kata siapa ibu sakit,orang sehat begini kok".
"terus kalau enggak sakit kenapa ibu nyuruh aku cepet-cepet pulang?" tanya laras lagi
"jadi kalau ibu ndak sakit kamu ndak mau pulang,begitu?"
"ya,...bukan begitu buk,hanya saja kan tidak biasanya ibuk nyuruh aku pulang mendadak begini".
"ya sudah kamu taruh barang-barang kamu dulu di dalam kamar,makan dulu biar ibu siapin,kamu pasti belum makan bukan? nanti ibu akan jelaskan kenapa ibu menyuruh kamu pulang". kata ibu menjelaskan
"kok feeling aku nggak enak ya buk,.. jangan-jangan...hmmmm". ucap laras dengan penuh rasa penasaran di setiap kalimatnya.
"jangan-jangan kenapa?jangan ngawur, sudah sana beresin dulu barang-barang kamu,nduk". kata ibu sambil melangkahkan kakinya dari hadapan laras.
laras membawa tas dan beberapa barang yang dibawanya masuk ke dalam kamar,dia terus berfikir ada apa sebenarnya,sikap ibu terlihat mencurigakan,jangan-jangan apa yang difikirkan laras benar,mungkin ibu ingin menjodohkannya..lagi,seperti yang sudah-sudah,ibu dan semua anggota keluarganya rajin sekali mencarikannya jodoh, entah itu anak temannya,anak pak lurah,anak pak RT juga,bahkan anak tetangga, semua dikenalkan kepada laras dengan harapan laras segera menemukan jodohnya.
di umur yang terbilang sudah cukup dewasa nyatanya laras belum juga memikirkan untuk menikah bahkan pacar saja dia tidak punya.dan itu cukup membuat ibunya merasa resah, pasalnya ibunya laras meyakini semisal seorang perempuan sudah berumur lebih dari 20 tahun dan belum menikah akan sulit mendapatkan jodoh nantinya, ibunya takut laras akan menjadi perawan tua, maklum saja karena ibunya dibesarkan di lingkungan yang seperti itu juga,jadi pola pikirnya seperti sudah disetting seperti itu pula dari dulu, anak gadis harus dinikahkan sesegera mungkin, biar tidak menjadi perawan tua katanya, berkaca dari cerita hidup ibu sendiri yang mana di umur 18 tahun ibu laras sudah menikah dan di umur 20 tahun dia sudah memiliki anak pertamanya yaitu laras,dari situlah ibunya merasa cemas sebab saat ini laras telah berusia 25 tahun tapi dia belum menunjukkan tanda-tanda ingin menikah sama sekali,dan itu menjadi alasan juga mengapa ibunya selalu saja mempromosikan laras di antara teman-temannya,baik itu teman-teman arisannya bahkan siapapun yang dikenalnya dengan harapan bisa menemukan jodoh untuk anak gadisnya ini, dan satu lagi yang membuat cemas,laras sekali pun belum pernah mengenalkan teman laki-lakinya kepada keluarga,jadi ibunya berfikir laras kelewat santai dengan masa depan dirinya dan sepertinya jika orang tuanya tidak ikut bertindak pasti laras akan sulit menemukan pendamping hidupnya kelak.
selesai membereskan barang-barangnya laras bergegas menemui ibunya,dia sudah tidak sabar ingin segera membuktikan akan kecurigaannya tadi.
tanpa basa-basi laras pun langsung mengatakan.
"kalau ibu mau ngomongin soal perjodohan,aku tetap seperti yang sudah-sudah,tidak mau dan tidak tertarik". ucap laras kepada ibunya dengan yakin.
"tapi yang kali ini beda ras,ibu sudah beberapa kali ketemu dengan samudra, anaknya baik sekali,rajin dan sholeh".
"tuh...kan bener,lagi-lagi ibu mau jodohin aku,pokoknya tidak mau,lagian aku seperti tidak laku saja sampai harus dijodoh-jodohin segala". kata laras kesal
"memang begitu kok,buktinya sampai sekarang kamu belum juga punya pacar, ibu kan jadi kuatir takut kamu susah dapet jodoh kalau lama-lama seperti ini, mana adik kamu inggar sudah ada keinginan untuk menikah juga". jelas ibunya laras dengan panjang lebar
"ya sudah biar saja kalau inggar mau menikah lebih dulu,aku tidak keberatan kok bu". jawab laras
"ehh...mana boleh seperti itu,pamali, ibu tidak mau sampai kamu dilangkahi sama adikmu".
"memangnya kenapa bu?"
"pokoknya tidak boleh,kamu harus menikah dulu baru inggar boleh menikah,titik". kata ibu dengan tegas
"iya bu,aku mau menikah tapi tidak sekarang,aku belum siap,aku bahkan belum kepikiran untuk menikah untuk saat ini." jelas laras kepada ibunya
"ibu mohon setidaknya kamu bersedia bertemu dengan samudra terlebih dahulu,kamu berusaha mengenalnya lebih dekat siapa tahu yang ini cocok untuk kamu ras". kata ibu mencoba meyakinkan
"ibu yakin sama si...siapa tadi?". tanya laras sambil mengernyitkan dahinya
"samudra..". jawab ibu
"iya, itu samudra, ibu yakin kalau dia baik untuk aku?" tanya laras dengan perasaan ragu.
"inshaAllah ras,ibu ada keyakinan kalau samudra ini baik untuk kamu,makanya ibu ingin kamu mengenalnya terlebih dahulu karena entah bagaimana menjelaskannya tapi ibu seperti sudah sreg sekali dengan anak ini,mau ya ras?" kata ibu dengan nada yang sedikit memohon.
"bagaimana kalau aku tidak suka nantinya bu?" tanya laras mencoba mencari-cari alasan
"dicoba saja dulu ras,mau ya ketemu dengan samudra?" tanya ibu lagi, kali ini laras cuma mengangguk mengiyakan permintaan ibunya. laras berfikir percuma saja membantah pasti ibu akan tetap memaksa jadi dengan berat hati laras mengiyakan permintaan ibunya tersebut.
mendapat persetujuan dari laras tentu saja ini membuat ibunya laras bahagia setidaknya dia sudah berhasil membujuk laras untuk bertemu samudra, itu yang terpenting untuk sekarang,sebab ibu yakin sekali setelah mereka saling bertemu kemungkinan besar laras akan setuju untuk dijodohkan dengan samudra.
melihat laras yang diam tanpa kata dan tanpa ekspresi,ibu tahu laras tengah memikirkan banyak hal,ibu meraih tangan laras dan menggenggamnya, kemudian dia mengatakan.
"ras,menikah itu tidak semata-mata untuk mencari kebahagiaan,tapi lebih dari itu menikah itu adalah ladang pahala untuk seorang istri dan tentu saja untuk mencari ketenangan lahir dan batin juga, ibu yakin setelah menikah kamu akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan itu sekaligus,kamu harus yakin".
"bagaimana kalau tidak bu?" tanya laras datar
ibu hanya tersenyum mendengar ucapan laras,kemudian berkata
"bismillah ras,diniati dengan baik Insyaallah semua akan berjalan dengan baik".
sementara itu di tempat lain
seorang laki-laki berusia sekitar 27 tahun tengah berbincang serius dengan perempuan yang dia panggil dengan sebutan bunda.
"gimana sam,kamu bersedia kan bertemu dengan anak gadisnya teman bunda,namanya laras kalau tidak salah, memang sih bunda belum mengenal laras dengan baik tapi kalau melihat orang tuanya laras,bunda yakin sekali laras ini anaknya baik,karena dia lahir dari kedua orang tua yang sebaik itu". jelasnya kepada putra satu-satunya ini
"iya,bun..kalau bunda merasa itu baik untukku aku tidak akan menolaknya". jawab laki-laki yang bernama samudra tersebut dengan ekspresi yang begitu tenang.
"bunda tidak akan memaksamu kalau kamu tidak suka nanti,bunda hanya sekedar ingin mengenalkan saja, kebetulan kemarin pas bunda ketemu sama teman bunda ini dia menceritakan soal anak gadisnya yang tidak pernah pacaran sampai sekarang sementara usianya juga sudah cukup matang untuk berumah tangga,jadi ya kita sepakat untuk mengenalkan kalian berdua, siapa tahu nanti berjodoh,lagi pula kamu sudah lama juga kan setelah putus dari pacar kamu yang waktu itu kamu belum memiliki pacar lagi,jadi maaf ya sam kalau bunda bersikap seperti ini, selain ingin membantu teman,bunda juga ingin kamu segera menemukan pengganti sarah,bunda ingin kamu bahagia". jelas bunda dengan lembut kepada putra satu-satunya ini
"iya,bun aku ngerti,tapi bunda harus tahu,aku belum pacaran lagi bukan berarti aku belum move on dari sarah bun,aku sudah melupakan dan mengikhlaskan semuanya,hanya saja untuk saat ini aku ingin lebih berhati-hati dalam memutuskan,apalagi soal pendamping hidup,jadi bunda tidak perlu cemas". jelas samudra dengan senyum di bibirnya,dia ingin meyakinkan bundanya bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan oleh bundanya akan dirinya.
*dua hari kemudian di kediaman laras.
ibu sudah bersemangat dari pagi mengerjakan pekerjaan rumah, menyapu,mengepel dan sebagainya pokoknya ibu tidak ada diamnya sedari tadi,tapi anehnya ibu melakukannya dengan bahagia dan bersemangat sekali,ibu bahkan sudah menyiapkan macam-macam menu masakan yang kelihatan sangat enak sekali dan menatanya berjejer rapi di atas meja. ibu sangat bahagia hari ini, tentu saja karena hari ini rumah mereka akan kedatangan tamu istimewa, siapa lagi kalau bukan samudera dan bundanya
"ibu tidak capek?" tanya laras yang sedari tadi hanya melihat saja tanpa ada keinginan untuk membantu
"ibu malah senang sekali,kamu bantu ibu beres-beres kenapa dari pada cuma melihat saja". kata ibu dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya
"ingin bantu,tapi males..hehe,ibu kan tahu kalau aku paling males mengerjakan pekerjaan rumah". kata laras
"tapi kamu tetap harus belajar ras, bagaimanapun juga setelah menikah kamu harus bisa mengerjakan semua sendiri". kata ibunya
"enggak ah bu,suka begini kalau tidak suka ya sudah,seperti yang sudah-sudah setiap laki-laki yang ibu kenalkan semua sama saja,nuntut ini itu, harus pinter masak lah pinter ngurus rumah lah..males ahh,dikira aku pembantu apa,belum apa-apa sudah nuntut macam-macam". keluh laras, mengingat kembali pengalamannya yang lalu.
"namanya juga perempuan ras,ya harus begitu,harus pinter ngurus suami,ya sudah kalau tidak mau bantu ibu, mandi saja sana terus dandan yang cantik, sebentar lagi teman ibu datang,oh ya suruh ayah kamu bersiap-siap juga,dari tadi sibuk ngurusi burung sampai lupa waktu".
"iya,bu..aku mandi,ayah biarin saja toh kalau lagi sama burungnya juga ga nyahut kalau diajak bicara". kata laras sambil jalan menuju kamar kemudian menyiapkan diri sebagaimana yang ibunya inginkan.
"hmms...cantik"
ucap laras sembari tersenyum ketika menatap dirinya sendiri di depan cermin.
*
tak lama kemudian suara pintu kamar terdengar ada yang mengetuk,itu pasti ibu,dan benar saja ibu yang tengah berada di luar kamar tengah memanggil laras dan menanyakan apakah dia sudah selesai bersiap-siap apa belum sebab tamu yang ditunggu-tunggu sudah datang.
jantung laras berdebar,padahal ini sudah yang kesekian kalinya dia mengikuti skenario perjodohan yang dibuat oleh keluarganya,tapi entahlah untuk kali ini terasa begitu berbeda.
berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya,antara cemas dan gugup bahkan takut.
gugup karena ini kali pertama dia akan bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama samudra,laki-laki yang bahkan wajahnya saja belum pernah dilihatnya,
dan rasa takut sebab ia tahu ibu sangat berharap banyak pada pertemuan kali ini, laras takut kalau dia akan membuat ibu dan seluruh keluarganya kecewa untuk yang kesekian kalinya.
laras memantapkan hatinya,dia berdoa semoga diberi kelancaran dan kemudahan untuk semuanya.
sungguh dia tidak ingin mempersulit keadaan,tapi baginya ini lumayan sulit untuk dilakukan,secara selama ini belum pernah ada satu laki-laki pun yang mampu mencuri hatinya,laras memang tipe perempuan yang sulit sekali didekati,tidak mudah baginya menaruh hati pada lawan jenis dan tidak mudah juga membuat hati seorang laras terkesan.
*
akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, laras dengan wajah cantiknya mengurai senyum ketika menemui samudra dan bundanya.
laras mengucapkan salam pada keduanya,dan mereka menyambutnya dengan raut muka yang bahagia pula, laras duduk di samping ibunya,sesekali dia melirik ke arah samudra,laki-laki yang akhir-akhir ini disebut-sebut terus oleh ibunya.
"hmmss..cakep,kayaknya ga mungkin laki-laki dengan ketampanan di atas rata-rata ini masih jomblo,atau setidaknya pasti banyak perempuan yang menyukainya"
gumam laras dalam hati.
ibu menyenggol laras yang sepertinya tengah melamun.
"gimana ras?" tanya ibu
"aku ikut ibu saja".
jawab laras spontan.
sungguh dia sangat menyesali jawaban yang baru saja dia ucapkan,dia bilang apa? ikut ibu saja? itu artinya...?
"ya Tuhan,kenapa jadi begini", laras menyesali ucapannya sendiri yang meluncur begitu saja dari mulutnya.
sementara laki-laki yang ada di hadapannya ini cuma tersenyum melihat tingkah laras yang kebingungan.
laras bahkan tidak tahu apa yang tengah dibicarakan karena dia terlalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri.
"ibu tadi bicara apa?" bisik laras kepada ibunya
ibu juga hanya tersenyum menanggapinya,membuat laras menjadi semakin bingung.
kemudian ibu bertanya kepada samudra
"bagaimana dengan nak samudra?"
"inshaAllah..bu, saya juga ikut saja,yang penting bunda setuju,selama bunda merestui,saya tidak keberatan".
jawab samudra dengan begitu yakin.
tunggu,..tunggu..dia bilang apa?
setuju? mudah dan ringan sekali dia menjawabnya, apa dia tidak bisa berfikir terlebih dulu,main setuju-setuju saja, sementara aku sendiri juga tidak tahu apa yang tengah terjadi saat ini,ini terlalu cepat ya Tuhan.
*laras pov
"dan setelah pertemuan itu,seketika semua berubah. ibu begitu bahagia sebab akhirnya aku akan menikah.
aku sendiri masih kaget setengah mati, merasa ini hanya mimpi, baru kemarin aku bilang tidak ingin menikah eh tiba-tiba hari berikutnya aku dilamar, dan anehnya aku iya-iya saja tanpa berfikir panjang.
apa waktu itu aku terhipnotis karena ketampanannya ya?
whatt.?sepertinya otakku ini sedang bermasalah,aku bahkan mengakui tanpa sadar kalau dia begitu tampan"
*
"dan hari ini samudra datang ke rumah, dia ingin mengajakku pergi, aku masih sangat canggung dengannya, tapi berbeda dengan ibu,dia bahkan lebih antusias dariku seolah-olah ibulah yang mau pergi bersama pujaan hatinya.
bagaimanapun juga aku sudah menyetujui perjodohan ini,jadi akupun harus berusaha menerima apapun yang sudah menjadi keputusan yang telah kubuat kemarin"
"samudra mengajakku pergi ke suatu tempat, sekedar ingin berbincang-bincang denganku, katanya dia ingin lebih mengenalku, aku mengerti diapun pasti ingin tahu seperti apa aku yang sebenarnya,sekalipun waktu itu dia mengatakan akan menurut apa kata bundanya,tapi rasanya tidak mungkin dia tidak akan menyeleksi terlebih dulu seseorang yang akan menjadi isterinya nanti,jadi menurut kesimpulanku semua laki-laki adalah sama,menginginkan yang sempurna sebagai pendampingnya.
kita lihat apakah samudra akan mundur setelah tahu seperti apa diriku ini yang sebenarnya"
*
"mas samudra yakin sama aku,apa tidak akan menyesal nantinya,mas kan belum mengenalku dengan baik,bagaimana kalau nanti aku tidak seperti yang mas harapkan?" tanyaku tanpa basa-basi, sementara samudra hanya tersenyum mendengar kata-kataku,kenapa dia bisa sesantai itu,pikirku.
"Insyaallah,aku tidak akan menyesal, aku yakin dengan ketetapan Allah ras, Allah telah memudahkan segala urusan, lantas untuk apa lagi aku ragu". jelasnya dengan bijak dan yakin sekali dengan apa yang ia ucapkan.
aku yang tengah berusaha membuatnya berubah fikiran,kenapa dia tidak terhasut sama sekali dengan semua ucapanku, jelas sekali kelihatan kadar kedewasaannya, tidak seperti laki-laki yang selama ini telah kutemui,samudra memang beda,mungkin benar aku harus seyakin itu juga terhadapnya.
"terima kasih mas,aku juga akan berusaha,tapi mas sam benar tidak keberatan dengan perjodohan kita ini, kalau mas tidak suka aku bisa bilang kok sama ibu,mas tidak usah memaksakan diri".kataku,lagi-lagi aku masih berusaha meyakinkan
"insyaAllah aku yakin ras,bismillah saja semoga memang inilah yang Allah takdirkan untuk kita,hmms..atau jangan-jangan kamu sendiri yang keberatan dengan perjodohan ini?"tanya samudra kepadaku,
aku hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya yang barusan, seketika samudra pun bertanya lagi
"maksudnya kamu keberatan,ras?"
"enggak kok,maksudku tidak seperti itu, aku hanya,..entahlah mas,kita kan baru kenal rasanya aku masih sedikit bingung,aku sedikit kaget,itu saja".jelasku
"ya sudah kalau begitu,aku anggap kamu setuju,yang penting kita jalani saja dulu,kalau kamu masih belum yakin juga,tanyakan pada Allah ras,sholat istikharah semoga nanti Allah akan memberi petunjuk,akupun juga begitu ras selalu melibatkan Allah dalam setiap keputusanku".jelasnya dengan penuh arti,sungguh aku takjub mendengar kata-katanya,samudra memang baik sekali dan begitu istimewa dan aku bisa melihatnya dengan begitu jelas.
.
dua bulan kemudian
akhirnya setelah menjalani perkenalan yang sangat singkat aku pun dengan penuh keyakinan menerima perjodohan yang telah direncanakan oleh kedua orang tua kami,dan tepat setelah 2 bulan dari awal pertemuanku dengan samudra,akhirnya aku melangsungkan pernikahanku dengan samudra, pernikahan yang sangat didambakan oleh ibu selama ini,aku menangis haru melihat kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah kedua orang tuaku, setidaknya aku bisa membuat orang tuaku bahagia dengan pernikahanku ini.
resepsi pernikahan pun dirayakan dengan sederhana,hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat saja, aku tidak mempermasalahkan itu sebab aku sendiri juga tidak terlalu suka dengan yang berlebihan,bagiku semua ini sudah lebih dari cukup.
seperti biasa samudra selalu tersenyum, entah itu karena dia benar-benar bahagia atau karena samudra memang orangnya seperti itu,selalu murah senyum,ramah dan bersahaja,entahlah aku tidak tahu dan aku tidak peduli akan hal itu,setidaknya untuk saat ini,yang terpenting adalah aku sudah bisa memenuhi keinginan terbesar kedua orang tuaku yaitu menikah.
akhirnya selesai juga resepsi yang melelahkan ini,tidak terbayangkan bagaimana pasangan-pasangan yang merayakan pernikahannya dengan begitu meriah bahkan sampai berpesta berhari-hari, pasti seribu kali lebih melelahkan dari ini,aku saja baru seperti ini sudah sangat kelelahan.
selesai resepsi aku pulang ke rumahku, rencananya baru besok aku akan dibawa pulang oleh samudra,karena aku belum menyiapkan apapun.
dan ini adalah malam pertama aku akan tidur bersama seorang laki-laki,Ya Tuhan.. tiba-tiba jantungku berdebar tidak karuan,menyadari kalau saat ini aku telah berstatus sebagai seorang istri dan itu artinya.
"arrrgghhh..." gerutuku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku sendiri
"kamu kenapa,ras?" tanya samudra yang tanpa kusadari sudah ada di sebelahku, membuatku sangat terkejut
"tidak apa-apa mas,aku cuma kecapean saja,sepertinya aku mau mandi saja dulu".kataku berusaha menyembunyikan ketakutanku sendiri.
aku langsung ke kamar mandi,melepas pakaian dan langsung menyiram tubuhku dengan air dingin,fikiranku tetap saja tidak menentu,aku sudah membayangkan yang tidak-tidak, entahlah bagaimana aku harus bersikap,aku bahkan tidak berpengalaman sama sekali,aku telah menjadi istri tapi begitu tidak mengerti tentang apapun atau lebih tepatnya belum siap sepenuhnya mendalami peran baruku ini.
aku memasuki kamarku,lagi-lagi aku dibuat terkejut karena mendapati samudra tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku,aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya dan bodohnya lagi aku masih belum sadar jika samudra telah menjadi suamiku.
aku mendekatinya tapi tidak tahu harus berkata apa,akhirnya aku hanya memandanginya saja, samudra menyadari kehadiranku diapun kemudian duduk dan mengajakku duduk di sampingnya.
ya Tuhan jantungku serasa mau melompat dari tempatnya ketika samudra meraih tanganku dan menggenggamnya.
"jangan sekarang,aku belum siap". spontan kata-kata itu meluncur dari mulutku,samudra malah terkekeh mendengar ucapanku,aku jadi malu sekali dibuatnya.
"apanya yang jangan sekarang,ras?" tanyanya menggodaku,sementara aku semakin tersipu saja mendengar ucapannya,demi Tuhan aku belum pernah sedekat ini dengan seorang laki-laki sebelumnya,apa lagi disentuh, sungguh hal ini membuatku merasa sangat ketakutan dan cemas.
"maaf mas,aku merasa masih asing dengan semua ini,beri aku waktu". kataku dengan nada datar dan gemetar
"tidak apa-apa,aku ngerti,aku juga tidak akan meminta kalau kamu tidak menginginkan,aku cuma mau mengajakmu duduk di sini sambil bicara itu saja,tidak usah kuatir".jelasnya mencoba menenangkanku dari kecemasan yang sebenarnya tidak beralasan sama sekali.
aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.
"makasih ya mas". ucapku
"aku lihat kamu belum makan dari tadi, makan dulu gih,setelah itu istirahat pasti kamu lelah sekali". kata samudra penuh dengan perhatian
"iya mas,kamu belum makan juga kan mas?"
"iya,kita makan bareng ya". katanya sambil meraih tanganku lagi dan mengajakku keluar,aku pun mengikutinya tanpa banyak bicara.
*
setelah menikah samudra mengajakku tinggal bersamanya,tentu saja aku harus menurutinya,karena sekarang aku adalah isterinya,dan kami pun tinggal hanya berdua saja di rumah kontrakan untuk sementara ini sebab samudra dipindah kerjakan dari tempatnya semula bekerja, untungnya tempat kerja samudra lumayan dekat dari tempat kerjaku yang dulu,jadi aku masih tetap bisa menjalankan aktifitasku seperti semula, seperti sebelum menikah dengannya.
samudra memang sangat sabar sekali menghadapiku,buktinya dia selalu mengiyakan apapun yang aku lakukan tanpa banyak berkomentar.
tapi sungguh meskipun kami telah hidup bersama tetap saja aku masih merasa terlalu asing dengan kehadiran samudra di sampingku, rasanya aku masih belum terbiasa berbagi apapun dengannya, untungnya dia sangat baik dan memaklumi serta menerima semua kebiasaan-kebiasaanku,semoga dia tidak terpaksa melakukannya dan benar-benar tulus menerima aku apa adanya.
seperti malam ini aku pulang agak larut dari bekerja,aku sudah bilang lewat pesan yang kukirimkan kalau aku akan pulang sedikit terlambat malam ini,dan diapun mengijinkan tanpa banyak tanya, baik sekali kan dia?dan itu belum seberapa,setelah aku pulang dari kesibukanku dia bahkan sudah menyiapkan semua keperluanku di rumah,samudra menyiapkan air hangat untukku mandi dan juga menyiapkan makan malam untukku,dan semua hal dia kerjakan sendiri tanpa mengeluh sedikitpun.
selesai makan aku merasa sangat kelelahan,tapi kulihat samudra masih duduk di depan tv,aku menghampirinya dan ikut nonton tv di sampingnya, lucu sekali meskipun sudah menjadi suami istri tapi aku masih merasa sangat canggung berada dekat dengannya.
samudra tersenyum melihatku,dan hatiku dibuat berdebar kencang karenanya.
sebenarnya aku sudah merasa mengantuk tapi film yang diputar lumayan bagus jadi sayang buat dilewatkan,samudra pun juga sama sepertiku,begitu fokus menonton film yang tengah diputar,dia hanya sesekali menatapku dan mengajakku berbicara hal-hal yang tidak begitu penting.
hingga malam mulai larut rasa kantuk pun tidak lagi dapat kutahan,akhirnya tanpa sadar aku telah tertidur pulas di samping samudra,dan ini adalah pertama kali aku sedekat itu dengan samudra sebab setelah menikah aku masih belum membiarkan samudra menyentuhku,aku tahu aku kejam tapi aku merasa benar-benar belum siap melakukannya,dan samudra sepertinya tidak merasa keberatan,atau mungkin sebenarnya dia hanya terpaksa menurutiku,entahlah.
pagi harinya aku terbangun dengan sangat terkejut,aku tersadar dengan perasaan tidak karuan ketika mendapati aku terbangun tengah berada dalam pelukan samudra,spontan aku langsung mendorong tubuhnya dan seketika juga samudrapun terkejut dengan sikapku.
"kamu kenapa ras?" dia terheran-heran melihat reaksiku ini
"mas.samudra kok di sini,kita ngapain semalem?". tanyaku menyelidik
"kamu ingat tidak?".kata samudra balik menanyaiku
"tidak ingat".jawabku seraya menggelengkan kepalaku
"ya sudah kalau tidak ingat". katanya lagi dengan senyum yang mencurigakan
"awas ya kalau mas sam macem-macemin aku". kataku dengan sedikit membelakkan mataku
"memangnya aku kenapa?"
"aku enggak tahu,tapi biar Tuhan saja yang membalasnya kalo sampai mas apa-apain aku". kataku spontan tanpa memikirkan kata-kata konyol yang meluncur dari mulutku
"eehhh...memangnya aku apain kamu ras, sampai Tuhan harus ikut turun tangan segala,dasar bocah,lagian aku ini suami kamu kan,sah-sah saja kan kalau aku meminta jatahku". kata samudra meledekku sambil menyentil kepalaku.
aku hanya cemberut melihatnya yang seolah menertawakan kebodohanku ini, dalam hati aku sebenarnya membenarkan ucapan samudra, aku sudah tidak adil padanya,hampir berjalan sebulan lebih tapi aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri,dan samudra sesabar itu menghadapiku.
*
hari ini aku dan samudra kembali ke rumah samudra,aku mengambil cuti beberapa hari dari kerja karena harus menemani suamiku pulang,tentu saja aku sangat senang karena aku juga akan bertemu dengan keluargaku juga, rasanya aku sudah kangen sekali dengan ibu dan lainnya.
selain karena ingin menjenguk keluarga kepulangan kami juga karena samudra ingin menghadiri undangan pernikahan salah satu temannya,dan tentu saja samudra ingin aku menemaninya.
kami berangkat dari kontrakan pagi-pagi, sengaja untuk menghindari kemacetan karena hari ini adalah hari libur yang mana pasti jalanan akan sangat ramai sekali.
akhirnya tak sampai 2 jam kami berdua pun sampai di kediaman samudra.
kelihatan sekali samudra sangat bahagia, terlihat jelas dari raut wajahnya, pasti dia sangat merindukan bundanya ini.
kami pun memasuki halaman rumah, lalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk sembari mengucapkan salam.
"assalamualaikum".
tak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam rumah
"Alaikum salam". berbarengan dengan pintu yang dibukakan dari dalam.
terlihat perempuan paruh baya yang kelihatan begitu ramah keluar dari dalam, dia tersenyum sumringah melihat kedatangan kami,begitu keluar samudra langsung meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
"bunda senang sekali melihat kalian berdua,akhirnya kamu pulang sam"
"iya bun,maaf aku ingin sekali sering-sering pulang tapi mau bagaimana lagi,pekerjaan sangat sibuk,tidak bisa ditinggalkan untuk saat ini".
"owalah..pantas saja kamu jadi sedikit kurus sam,makanya jangan terlalu sibuk ya,..kamu harus ingat dengan kesehatan kamu".
mendengar kata-kata bunda aku seperti tertohok,aku menatap samudra,aku baru menyadari mungkin yang dikatakan bunda memang benar,samudra memang sedikit lebih kurus dari sebelumnya, dan yang lebih kelewatan aku bahkan tidak menyadarinya,ya..Tuhan itu artinya aku tidak bisa merawat samudra,suamiku sendiri dengan baik,ahh.. tunggu bukankah selama ini aku memang tidak pernah merawatnya dan malah sebaliknya samudralah yang telah merawat dan menjagaku dengan baik,ada rasa nyeri di dadaku menyadari kenyataan itu.
kemudian di sela-sela lamunanku,bunda menegurku
"ras,kok diem"kata bunda dengan senyum ramahnya, menyadari itu aku buru-buru menstabilkan otakku yang mulai tidak karuan,bergegas aku meraih tangan mama dan menciumnya sambil mengucap salam.
setelah itu kami pun masuk ke dalam rumah,bunda langsung mengajak kami untuk sarapan,karena bunda pasti tahu kalau kami tadi belum sempat untuk sarapan.
kami bertiga duduk di ruang makan bersama,terlihat ada beberapa masakan yang menggugah selera terhidang di atas meja,aku melirik ke arah samudra, nampak raut senang terpancar jelas dari wajahnya.
"wahh..kelihatan enak sekali bun,tidak sabar mau menghabiskannya". kata samudra dengan senyum di bibirnya
"iya,habiskan ndak apa-apa,bunda sengaja masak banyak kok untuk kalian berdua,ayo ras jangan dilihatin saja, dimakan dong sayang,atau kamu ndak suka ya,maaf ya ras bunda ndak tahu kesukaan kamu apa,jadi bunda cuma masak ini,kesukaan sam".kata bunda masih dengan senyumnya yang ramah
"iya ras,aku suka sekali dengan ikan yang disambelin seperti ini,enak deh.. cobain,kamu pasti akan suka juga". kata samudra menimpali perkataan bunda,seperti biasa dia selalu tersenyum.
ya Tuhan lagi-lagi aku merutuki diriku sendiri,istri macam apa aku ini yang bahkan tidak tahu makanan kesukaan suami sendiri,memasak untuknya saja hampir tidak pernah.
"malah bengong,tuh dingin nasinya kalo tidak segera dimakan".tegur samudra sambil mengusap rambutku.
"iya mas,aku makan, masakan bunda kelihatan enak sekali,aku sepertinya harus belajar masak sama bunda,mau kan bun ajarin aku masak".kataku dengan bersungguh-sungguh.
"iya,ras nanti kita masak bareng ya".
samudra kembali menatapku sambil mengulaskan senyumnya yang menenangkan,dan aku semakin merasa bersalah karenanya,aku merasa tidak cukup baik untuknya tapi samudra tanpa banyak mengeluh menerimaku apa adanya.
*keesokan harinya*
hari ini samudra mengajakku menghadiri resepsi pernikahan temannya yang diadakan di sebuah hotel yang tak begitu jauh jaraknya dari rumah ini.
aku sudah berdandan dari tadi,meski tidak berdandan berlebihan tetap saja ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, aku mengenakan dress selutut berwarna peach,dengan rambut panjangku yang sengaja kugerai tanpa menggunakan assesoris yang mencolok serta sapuan make up yang simpel saja, sebab aku memang tidak terlalu suka bermake up yang berlebihan.
setelah selesai aku bersiap-siap aku menghampiri samudra dan mengajaknya berangkat.
setelah 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai di tempat resepsi pernikahan tersebut, sangat mewah menurutku pesta pernikahan kali ini,jauh lebih mewah jika dibandingkan dengan resepsi pernikahanku waktu itu,tapi tidak masalah buatku sebab aku sendiri memang tidak terlalu suka yang berlebihan,aku sekedar mengagumi megahnya tempat ini dengan ornamen-ornamen khas pesta pernikahan dan banyak sekali bunga lili di sini,bunga putih yang katanya melambangkan sebuah kesetiaan.
"indah sekali" gumamku
samudra menggandeng tanganku dan mengajakku menghampiri kedua mempelai pengantin untuk mengucapkan selamat kepada mereka, setelah itu kami pun bergabung dengan para tamu yang kebanyakan memang teman samudra.
samudra mengenalkanku kepada teman-temannya karena memang ada beberapa teman samudra yang tidak mengetahui perihal pernikahan kami yang waktu itu terkesan begitu mendadak.
dan di antara teman-teman samudra aku mendadak merasa tidak enak ketika mendapati ada sesosok perempuan cantik yang berhijab memandang samudra dengan tatapan yang sulit kuartikan,sungguh aku tidak ingin berfikiran buruk tapi aku yakin itu adalah tatapan suka atau bahkan lebih dari sekedar suka.
hingga sesaat kemudian ada beberapa teman samudra yang entah bercanda atau sungguhan, mereka mengatakan di hadapanku.
"cieee...ketemu mantan"
degg....jantungku mendadak bergetar hebat mendengarnya,apa mungkin perempuan yang sejak tadi memperhatikan samudra adalah mantan kekasih samudra dulu,ahhh...kenapa hatiku seolah berdenyut hanya karena memikirkannya saja.
sementara samudra hanya tersenyum menanggapi candaan teman-temannya, aku semakin yakin kalau mereka berdua memang dulunya mempunyai hubungan.
"oh ya,ras kenalin ini sarah temanku" kata samudra mengenalkanku pada wanita cantik di hadapanku ini,aku pun mengulurkan tanganku dan tersenyum ramah padanya sambil menyebutkan namaku.
"hai,namaku sarah,aku dan samudra sudah lama saling mengenal loh". kata perempuan bernama sarah itu kepadaku
"oh,ya..". sahutku,mencoba bersikap biasa saja di hadapannya
"ehmm,..sam kok sekarang kamu kurusan ya,agak berubah sih menurutku" kata perempuan itu sekali lagi sambil mengulaskan senyum penuh arti kepada samudra
"aku memang sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan jadi aku sering lupa memperhatikan pola makanku". jawab samudra mencoba menjelaskan kepada sarah,ya...samudra memang sebaik itu bukan? dia begitu pandai menyembunyikan kebenarannya,dan sungguh aku merasa ada yang menghantam dadaku saat ini,lagi-lagi secara tidak sengaja aku diingatkan betapa tidak becusnya aku sebagai seorang istri yang merawat suami saja tidak bisa.
"sam,aku boleh tidak bicara berdua saja denganmu". tiba-tiba saja sarah mengatakan itu,hai tunggu apa dia tidak peduli dengan keberadaanku, bisa-bisanya dia mengatakan itu di depanku,istrinya samudra
"maaf sarah aku tidak bisa, aku tidak mau menimbulkan fitnah apapun,kalau ada yang ingin kamu katakan,katakan saja di sini,di hadapan istriku juga". jawab samudra dengan begitu yakin yang sedikit membuat perempuan yang bernama sarah itu sedikit terkejut dengan sikap samudra yang terkesan dingin, setelah beberapa saat terdiam sarah pun akhirnya berkata.
"aku mau minta maaf sama kamu sam, maaf karena telah meninggalkanmu waktu itu tanpa penjelasan" ucap sarah dengan begitu beraninya menatap samudra dengan tatapan yang menurutku sangat menjengkelkan.
apa aku cemburu? entahlah aku juga tidak tahu hanya saja dadaku terasa sesak saat ini,ternyata benar mereka berdua dulunya sepasang kekasih dan kupikir samudra pastilah masih memiliki perasaan juga kepada perempuan bernama sarah ini.
aku membatu di hadapan mereka berdua, aku bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi sesekali samudra menatapku,dan aku hanya menunduk sambil berusaha menata hatiku yang semakin tidak karuan, kupikir samudra juga mengerti perasaanku saat ini karena pada saat itu juga dengan erat dia menggenggam jemari tanganku yang mendadak menjadi dingin.
"aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi sarah,insyaallah aku sudah ikhlas terlebih lagi sekarang ini aku sudah menikah dengan laras dan itu yang menjadi prioritasku sekarang".
ucapan samudra tersebut demi Tuhan mampu meremas dadaku sekali lagi hingga mampu membuat mataku menjadi basah,melihatku yang bereaksi seperti ini membuat samudra langsung mengeratkan genggaman tangannya, kemudian dia berbisik di telingaku
"kalau kamu merasa tidak nyaman kita bisa pulang sekarang.
aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya
"ya sudah aku permisi dulu,sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi". ucap samudra kepada sarah kemudian membawaku pergi dari sana
"tunggu".. ucap sarah ketika kami ingin pergi
"sam,apa kamu bahagia?" tanya sarah tiba-tiba seolah memaksa menuntut penjelasan dari samudra
"iya,aku bahagia tidak ada alasan untukku tidak bahagia dengan hidupku" jawab samudra dengan yakin sambil tetap menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan untuk pulang
"bohong,..kamu tidak bisa membohongiku sam,lihatlah kamu yang sekarang kamu berbeda sekali dengan samudra yang kukenal dulu" ucap sarah yang merasa begitu yakin dengan kesimpulannya sendiri, tapi samudra tak lagi menanggapinya dan memilih untuk segera mengajakku pergi dari tempat ini, aku masih mendengar lamat-lamat sarah terus berbicara meskipun kami sudah menjauhinya.
sementara di sepanjang perjalanan pulang kami masih saling diam,samudra tidak mengatakan apapun demikian pula denganku yang memilih bungkam meski sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kuutarakan kepada samudra saat ini.
hingga kami tiba di rumah,kami masih sama-sama terdiam,kejadian tadi cukup bisa mempengaruhiku, buktinya hingga malam larut aku masih belum bisa memejamkan mataku, kulihat samudra juga tidak ingin menjelaskan apapun padaku membuatku merasa semakin tidak enak hati, dalam diam aku tergugu dalam tangis,aku merasa aku bukanlah istri yang layak untuk samudra, meski sakit sekali tapi aku membenarkan ucapan sarah tadi yang nyatanya masing terngiang-ngiang di telingaku, apa benar samudra hanya berpura-pura bahagia bersamaku? sungguh memikirkannya membuatku semakin terisak dalam tangisanku hingga suara berisikku mampu mengusik samudra yang kuyakini sudah tertidur dari tadi.
aku merasakan ada yang menyentuh pundakku dari belakang,aku merasakan hembusan nafas itu begitu dekat di tubuhku kemudian aku pun merasakan samudra mengecup rambutku dari belakang,aku masih terisak dan tidur membelakangi samudra.
"kenapa menangis?" tanya samudra dengan suara yang begitu dekat berbisik di telingaku
aku kemudian membalikkan tubuhku menghadap samudra yang tengah merebahkan tubuhnya di hadapanku, samudra mengusap air mata yang masih mengalir di pipiku
"jangan menangis,aku tidak mau melihatmu menangis apalagi menjadi penyebab kamu menangis".ucapnya dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan
"mas,..aku minta maaf". ucapku seketika, aku memberanikan diri menatap matanya dengan sungguh-sungguh
"mas,kalau kamu tidak bahagia bersamaku,katakan saja aku pasti akan menerimanya"ucapku lagi,kali ini air mataku semakin deras mengalir di kedua pipiku,aku sungguh takut membayangkan hal buruk yang mungkin akan di katakan oleh samudra kepadaku
"apa yang membuatmu berfikir aku tidak bahagia ras?"tanya samudra dengan tatapan tajam yang langsung menembus ke dalam mataku yang masih berair
"aku bukan istri yang baik,benar kata bunda dan sarah sejak bersamaku kamu berubah mas,kamu tidak terawat baik seperti dulu,dan itu artinya aku sudah gagal menjadi istri untukmu".ucapku dengan suara yang bergetar,sungguh sakit sekali saat mengatakan kebenaran ini.
samudra menarikku dalam pelukannya dan sesekali mengecup pucuk kepalaku yang bersembunyi di dadanya,untuk sesaat samudra hanya terdiam dan tetap memelukku.
"terima kasih kamu telah hadir di hidupku ras,kamu berharga dan demi Allah aku bahagia dan bersyukur memiliki kamu". ucap samudra yang otomatis membuatku membeku dengan kata-katanya, benarkah yang dia ucapkan?
to be continue;_