"sebab,..hati yang memilihmu".

4221 Words
Mengapa harus seperti ini,..lagi ! butiran-butiran air mata begitu saja meluncur dengan deras di kedua pipiku tanpa bisa kutahan lagi. rasanya sesak sekali di dalam dadaku saat ini, sakit...?tentu saja! iya ini sakit bahkan teramat sakit untuk kurasakan. berkali-kali aku merutuki diriku sendiri, kenapa seperti ini? apa salahku? apa aku pantas mendapatkan semua ini? aku memeluk diriku sendiri,merasakan sesak yang memenuhi d**a ini. aku meremas undangan pernikahan yang sejak tadi kugenggam dengan kedua tanganku, iya..ini adalah undangan pernikahan yang dikirimkan oleh seseorang yang pernah kucintai, "Fabian". hampir satu tahun aku menjalin hubungan dengan laki-laki tersebut, dan selama itu aku merasa hubunganku dengannya baik-baik saja, setidaknya itulah yang ada di fikiranku ketika itu, hingga pada satu waktu aku mengetahui kenyataan yang begitu pahit, ternyata tanpa sepengetahuanku fabian telah menjalin hubungan dengan perempuan lain,dan yang lebih menyakitkan lagi perempuan itu adalah raisya sahabatku sendiri, entahlah apakah dia pantas disebut sahabat sementara yang dilakukannya tak ubahnya seperti orang yang tidak punya hati, aku masih tidak habis fikir bisa-bisanya mereka berdua melakukan itu kepadaku,kekasihku dan sahabatku, kejam sekali bukan? dan lihatlah bukti kekejaman mereka, tanpa rasa bersalah mereka berdua bahkan secara langsung memberiku sebuah undangan pernikahan dengan tanpa ada rasa simpati sedikitpun. mungkin aku yang terlalu bodoh atau apa,hingga tidak bisa melihat semua itu terjadi di hadapanku,atau mungkin lebih tepatnya aku memang sengaja menutup mata,sebab tidak ingin mempercayai penghianatan yang mereka lakukan terhadapku, mereka adalah orang-orang terdekatku, bagaimana mungkin aku bisa berfikiran buruk terhadap mereka? aku sadar aku bukan siapa-siapa, hanya perempuan biasa yang mungkin kalah jauh jika harus dibandingkan dengan raisya yang punya segalanya.Ya..Tuhan mengapa aku menjadi begini, menjadi kufur, membanding-bandingkan diri dengan orang lain seolah-olah tidak bersyukur atas semua AnugerahMU kepadaku. aku mengerti jika sebagai laki-laki fabian mungkin sulit untuk menolak godaan seseorang seperti raisya,yang cantik,menarik dan juga berasal dari keluarga yang cukup berada. sementara aku.. ah sudahlah,tidak perlu dijelaskan lagi, aku tidak ingin menyalahkan diriku atas semua ini, dan menjadikan kekuranganku sebagai pembenaran atas perbuatan mereka yang kejam terhadapku. aku mengusap perlahan air mataku, aku harus kuat,aku harus bisa melewati semua ini meskipun dengan langkah kaki yang berat. minggu 12 juni ini adalah hari pernikahan fabian dan raisya, aku sudah tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya, haruskah aku datang ke resepsi pernikahan mereka? ekspresi seperti apa yang mesti kupasang jika aku harus hadir dan berhadapan dengan mereka? bukankah ini terlalu kejam? akhirnya dengan sekuat tenaga aku memantapkan hati, aku memutuskan datang ke resepsi pernikahan fabian dan raisya. aku mengenakan dress panjang warna biru,tapi aku bingung harus memakai kerudung warna apa agar kelihatan cocok dengan dress yang kupakai, aku tersenyum kecut menyadari betapa konyolnya fikiranku sendiri, apakah penting aku harus memakai baju seperti apa? memang siapa yang peduli? untuk siapa lagi aku tampil cantik?sementara secantik apapun aku berdandan,toh nantinya aku hanya akan dipandang sebagai orang yang kalah di hadapan mereka. akhirnya aku mengambil asal kerudung pasmina yang tersusun rapi di lemari. aku menatap diriku sendiri di cermin, "lihatlah,..aku memang seperti ini, perempuan sederhana yang bahkan berdandan saja tidak pintar. tapi aku mencintai diriku sendiri dengan segala kesederhanaanku, dan bukan salahku jika fabian tidak bisa menerimaku sebagaimana adanya diriku". aku menarik nafas panjang "huufft...ini akan menjadi hari yang berat untukmu nayma,kuatlah" ucapku pada diri sendiri, aku membayangkan bagaimana pandangan orang-orang di sana kepadaku nanti, sementara telah banyak dari mereka yang mengetahui tentang hubunganku dengan fabian selama ini. tiba-tiba layar ponselku menyala,sesaat ketika aku ingin melangkahkan kakiku. aku membuka ponselku dan berhenti sejenak, benar saja ada pesan masuk dari temanku Rama. "nay..kamu lagi ngapain,enggak kepikiran yang aneh-aneh kan?aku kuatir banget takut kamu kenapa-napa". begitulah pesan dari rama yang mampu membuatku mengerutkan keningku seketika. "emang aku kenapa?" balasku "fabian kan nikah hari ini,aku takut kamu ngelakuin hal-hal aneh karena gak kuat nahan sakit hati". balasnya lagi dengan emot ketawa, bahkan di saat seperti ini pun dia masih saja meledekku,dasar rama. "pa'an si,aku masih punya iman kali, masih takut dosa" balasku "syukurlah,ya udah kita jalan yuk nay,dari pada kamu nangis brutal di kamar sendirian" katanya dengan emot nangis di akhir kalimatnya "enggaklah,..orang ini aku mau jalan ke resepsi pernikahan mereka". balasku lagi "serius,nay..emang kuat liat mereka berdua?". "ya..dikuat-kuatin,Rama" jawabku singkat "ya udah kita ketemu di sana,kali aja kamu entar pingsan, kan ada aku yang sudah siaga ha..ha.." "ngawur". balasku mengakhiri chat dengan rama. aku memang sedekat itu dengan rama bahkan saking dekatnya urusan serius pun bisa-bisanya dibuat becanda sama dia,seperti chat barusan, aku yakin kalau rama sebetulnya tahu pasti sehancur apa hatiku saat ini,sebab dialah satu-satunya orang yang mengetahui sedetail-detailnya perihal kehidupan pribadiku, dia tahu segala hal tentangku,aku mempercayai dia,karena dia adalah teman dekatku dari dulu, meskipun dia suka becanda tapi aku tahu dia peduli sekali padaku,aku dapat merasakan ketulusannya di balik sikapnya yang kadang suka asal-asalan itu. * Dan akhirnya, di sinilah aku. kakiku gemetar menapaki gedung yang tengah kumasuki ini,gedung dengan ornamen-ornamen yang telah didesain sedemikian rupa dengan begitu indahnya dengan segala pernak-pernik pernikahan. "kumohon jangan dulu menangis nay" ucapku pada hatiku. aku masuk ke ruangan tempat di mana resepsi pernikahan fabian digelar dengan begitu mewahnya. lagi-lagi aku mendengus lesu,rasa sesak mulai memenuhi dadaku ketika kusaksikan dengan langsung kebahagiaan terpancar dari wajah mereka berdua, bahkan wajah semua orang yang berada di sini begitu nampak bahagia,kecuali aku tentunya. dengan langkah berat kulangkahkan kaki menghampiri mereka berdua,meski sakit akan kutunjukkan kebesaran hatiku kepada mereka berdua dengan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. dan benar saja tak sedikitpun kutemui raut penyesalan atau rasa bersalah di wajah fabian dan raisya, sementara aku begitu sulit untuk sebentar saja berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. aku menyalami mereka dengan senyum yang setengah kupaksakan. dan entah apa yang diucapkan fabian kepadaku saat itu,telingaku seolah menolak mendengar semua kata dan keriuhan yang melintas di telingaku saat itu.yang kuinginkan saat ini hanyalah sesegera mungkin pergi dari sini,sebab nafasku hampir habis karena menahan sesak di dalam d**a. setelah menyalami mereka berdua, aku langsung pergi, aku berlari sekuat kakiku melangkah, aku ingin segera menjauh dari tempat yang membuatku tidak bisa bernafas ini. aku menerjang hujan yang tengah deras-derasnya mengguyur seluruh kota, aku berlari tanpa peduli dengan apapun,dan tanpa melihat sekelilingku. akhirnya dengan nafas yang masih memburu, aku berhenti sejenak, sepertinya aku sudah cukup jauh berlari,kakiku sakit karena berlari menggunakan sepatu yang berhak tinggi,tapi sungguh Tuhan hatiku jauh lebih sakit lagi. "Tuhan,salahkah aku jika aku cemburu melihat kebahagiaan mereka". aku menangis sejadi-jadinya, tidak peduli jika ada yang melihatku seperti ini. toh guyuran air dari langit akan menyamarkan air mataku yang meluncur tak kalah derasnya dari hujan kali ini. aku masih mematung di bawah guyuran hujan yang tidak ada sedikitpun pertanda akan segera reda,seolah langit pun tahu apa yang tengah kurasakan saat ini. atau barangkali langit juga tengah ingin meluapkan sesak yang telah ditahannya selama ini.entahlah.. "nay,cepet banget sih larinya" suara yang tiba-tiba terdengar dari belakangku. aku menoleh dan melihat laki-laki yang masih terengah-engah menata nafasnya yang tak beraturan. "Rama" kataku,yang tak kalah terkejutnya karena tiba-tiba mendapati dia telah berdiri di sampingku "kan tadi aku sudah bilang buat nungguin aku di sana,kenapa malah pergi sendiri,mana dipanggil-panggil dari tadi gak denger lagi" kata rama sambil menarik tanganku, mengajakku berteduh "jadi dari tadi kamu mengikutiku?" tanyaku dengan suara datar,sebisa mungkin mencoba menyembunyikan isak tangisku "iya,dari kamu keluar gedung resepsi tadi" kata rama "liat dari tadi kok aku dibiarin hujan-hujanan kayak gini,ngasih payung kek setidaknya" jawabku,seolah ingin mengalihkan perhatian rama terhadap keadaanku yang mengenaskan ini. "yee..dasar kamu nay,aku mana sempet nyari payung orang dipanggil aja kamu gak denger main ngebut aja,sok-sok'an nyalahin aku segala" katanya sambil menyentil kepalaku yang basah kuyup. "maaf,jadi ngerepotin kamu lagi" ucapku sambil menundukkan wajahku, aku tidak ingin rama melihatku seperti ini. "udah puas nangisnya?" tanya rama tanpa melihat ke arahku "aku gak nangis" kataku singkat "enggak nangis apaan,orang jalanan dipenuhi air mata kamu ini kok,tuh sampai banjir kemana-mana" katanya,lagi-lagi mengajakku bercanda atau lebih tepatnya menertawakan kemalanganku ini. "emangnya aku gak boleh nangis ya?" kataku,dengan sedikit terisak, sungguh air mata ini tidak bisa kubendung lagi "boleh nay,siapa bilang enggak,tapi kan ada aku,kamu bisa nangis di sini, aku sediain bahu ini buat nampung tangisan kamu,sepuasnya...aku janji" ucapnya penuh arti,tapi saat ini aku terlalu sibuk meratapi nasibku,hingga kata-katanya yang begitu manis menjadi tak berarti apapun di telingaku. "dasar,gombal" ucapku menanggapi perkataannya, sambil menahan tawa,padahal sedang sehancur ini tapi tetap saja rama selalu berhasil membuatku tersenyum. "nah..kan senyum,gitu dong,..aku gak suka liat kamu nangis soalnya" "kenapa emang?" "karena...ehmmm..kamu jadi jelek kalau nangis" katanya dengan raut muka meledek "enggak ah,cantik gini kok dibilang jelek" jawabku,tak terima dibilang jelek oleh rama. "ya udah,yuk..aku antar pulang,kamu basah gini,entar sakit" "hayuk..tapi gimana pulangnya?" tanyaku "astagfirullah..aku lupa bawa motor, motorku masih ada di gedung tadi". katanya,sambil menepuk dahinya sendiri "kalau bawa motor,terus kenapa tadi malah ikutan lari kenapa gak bawa motor ngejarnya?" tanyaku polos "astaga..Tuhan,jadi pikun gini sih, gara-gara kamu sih nay,saking takutnya kamu kenapa-napa aku sampai lupa berfikir waras." katanya lagi kita pun tertawa bersamaan, menertawakan kekonyolan yang tidak disengaja ini. aku harus berterima kasih pada rama, berkat dia semua kekecewaan bisa kulewati dengan sedikit lega. "nay,kamu mau nunggu di sini,atau ikut aku kembali ke gedung ambil motor?" tanya rama. "ogah ah,gak mau balik lagi ke sana, aku tunggu di sini aja" jawabku tiba-tiba dengan raut muka cemberut. "cieee..yang masih baper" ledek rama "udah ah sana,..dingin tau". kataku "salah sendiri ujan-ujanan..hehe..". kata rama sambil berjalan menjauhiku. aku tersenyum lagi,aku berfikir entah bagaimana keadaanku saat ini jika rama tidak ada bersamaku,pasti aku masih nangis sambil hujan-hujanan.ahh.. bodohnya aku, menangisi sesuatu yang tidak pantas kutangisi,sesadar itu aku sebenarnya, tapi tetap saja air mataku tidak juga mau berhenti. aku memang terluka,tapi cukup sudah, sudah cukup aku menyiksa diri dan mengasihani diri sendiri,mungkin ini memang takdir terbaik yang Tuhan gariskan untukku,aku justru harus banyak-banyak bersyukur,sebab Tuhan telah menunjukkan kebenarannya meskipun dengan cara yang menyakitkan. * sore ini begitu muram,sesuai sekali dengan gambaran hatiku. rama mengantarkanku pulang dengan sepeda motornya, aku duduk di belakang,menyandarkan kepalaku pada bahu yang rama janjikan untuk selalu menampung segala keluh gundahku. di bawah hujan yang tak sungguh-sungguh reda ini rama membawaku pulang menyusuri jalanan yang sedikit sepi dari biasanya, sepanjang jalan aku lebih banyak diam,rasanya semua kata-kata tertahan di tenggorokan. aku mengeratkan peganganku pada rama,rasanya nyaman sekali ada rama di dekatku,aku berterima kasih pada Tuhan untuk yang satu ini. memiliki sahabat seperti rama adalah salah satu anugerah yang tak ternilai buatku. "nay,dah sampai..betah banget kayaknya, mau dibonceng terus ya atau mau meluk terus nih ceritanya" kata rama seketika membuyarkan lamunanku "apaan sih,orang ini juga mau turun kok" kataku,dengan sedikit nada kesal "udah ah cemberutnya,gih masuk terus mandi,minum yang anget-anget, entar kamu sakit lagi". katanya penuh perhatian "iya..iya,kamu juga". jawabku sambil mengangguk. rama mengangguk dan tersenyum tanpa menjawab kata-kataku kemudian diapun menstater motornya,dan berlalu dari hadapanku. aku masuk ke rumah dengan lesu,masih terbayang-bayang yang terjadi padaku barusan,rasanya seperti mimpi tapi sakitnya terasa nyata sekali. * hari-hari kulalui dengan biasa setelah itu, aku memang masih terluka tapi setidaknya aku sudah mulai menerima, dan waktu telah menjadikanku terbiasa dengan perasaan yang terluka ini. * 6 bulan berlalu,aku masih menikmati kesendirianku,aku belum bisa membuka hati untuk siapapun,bahkan aku tidak memberi ruang untuk lelaki manapun untuk mendekatiku,kecuali rama tentunya,dia tetap menjadi sahabat terbaikku seperti biasa,hanya dia laki-laki yang kupercayai saat ini. aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk bekerja,sedikit banyak kesibukanku ini mampu membuatku lupa akan masalah-masalah yang menimpaku. seperti saat ini ketika kebanyakan orang berlibur di hari minggu aku lebih memilih bekerja lembur,toh di rumah aku juga tidak ada kerjaan,dari pada galau di rumah mending aku mencari kesibukan. jam istirahat aku keluar mencari makan siang,tentu saja aku sendiri seperti biasa,aku ke cafe dekat tempatku bekerja,biasanya aku ke sini kalau ingin mencari makan atau sekedar mau duduk-duduk sambil ngopi. aku biasanya duduk sendiri di meja dekat jendela, sengaja aku memilih tempat ini,tempat favoritku dimana aku bisa melihat pemandangan di luar sana,atau sekedar melihat orang-orang berlalu lalang sembari menerka-nerka apa yang tengah mereka fikirkan.aneh kan? memang aneh tapi itu cukup membuatku terhibur. "nay" sapa seseorang,aku sungguh mengenali suara itu. "Degg",...seketika jantungku berdegup kencang. "mas,fabian". kataku,dengan raut muka kaget sungguh pertemuan yang tak kuharapkan sama sekali. "sendiri?". tanya fabian "he,em". jawabku singkat tanpa meminta ijinku terlebih dahulu fabian langsung saja duduk di kursi hadapanku,aku pikir dia mau apa lagi sekarang? "kamu baik nay?. tanyanya memulai percakapan "alhamdulillah,aku baik mas". jawabku "syukurlah,aku senang mendengarnya". katanya dengan senyum manis di bibirnya. "mas fabian di sini?" tanyaku "tadi habis ketemu sama temen,urusan kerjaan terus gak sengaja lihat kamu,jadi aku samperin" jelasnya "oh" jawabku singkat "gimana kamu sekarang?" tanyanya "seperti kubilang tadi,aku baik banget kok" jawabku,tanpa berani melihat ke arahnya Ya Tuhan apa-apan dia,dikiranya aku akan mati apa tanpa dia,atau jangan-jangan memang itu yang dia harapkan,aku menderita karena penghianatan dia, tapi tidak, lihatlah aku sekarang,aku tetap bisa menjalani hidupku dengan baik meskipun tanpa dia. aku terdiam,sengaja seperti itu sebab aku tidak ingin terlibat percakapan yang tidak penting dan lebih jauh lagi dengan dia. "aku minta maaf nay" ucapnya dengan tatapan yang dalam "apa?" aku seperti tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. "aku serius,nay" katanya lagi,tanpa melepaskan pandangannya kepadaku. aku tersenyum,ada rasa lega di dadaku mendengar ucapannya,dapat k****a raut penyesalan terlukis di wajahnya, tapi aku tidak ingin memperpanjang masalah atau lebih tepatnya tidak mau memulai masalah yang baru lagi,jadi aku tidak ingin menanggapi berlebihan apa yang dia ucapkan padaku,bagiku fabian sudah menjadi masa lalu, dan tidak lebih hanya sekedar menjadi pelajaran yang tidak mungkin kulupakan sampai kapanpun. "insyaAllah aku sudah ikhlas mas, aku sudah memaafkan kalian berdua,mas fabian dan raisya,tapi cukup segitu saja, maaf aku tidak ingin membahasnya lagi". kataku,mencoba mengakhiri percakapan "iya nay aku ngerti,sekali lagi maafin aku ya". katanya "iya mas,oh..ya aku pamit dulu,jam istirahat udah hampir selesai". kataku,memohon diri pamit dari hadapannya,dan fabian hanya melihatku saja,aku tahu dia ingin menahanku,tapi sesegera mungkin aku beranjak dari hadapannya sebenarnya fabian masih ingin bicara padaku,tapi sudah cukup semua bagiku, tidak perlu lagi ada pembicaraan tentang kami,bagiku semua sudah selesai, aku tidak ingin membuka lagi luka yang sudah dengan susah payah aku coba sembuhkan selama ini. aku berlalu dari hadapannya tanpa menoleh lagi,aku tidak ingin melihatnya untuk saat ini. aku berjalan cukup kencang tanpa melihat sekitar,tiba-tiba aku dikejutkan dengan tangan yang menarikku tanpa aba-aba. "rama,apa-apan sih ngagetin aja" ternyata rama yang menarikku tadi "ciee..yang habis bernostalgia" katanya,meledekku "enggak" kataku sambil membelalakkan mataku "itu tadi di cafe" katanya "tadi gak sengaja ketemu di sana, eh..tapi kamu kok tahu,hayo ngintip ya?". tanyaku penasaran "tadi aku ke tempat kerja kamu, rencananya mau ngajak kamu makan siang bareng, terus kata mbaknya yang di depan itu, kamu lagi ke cafe,ya udah aku susulin,eh taunya malah lagi sama fabian" jelasnya,dengan tatapan mata yang menyelidik,membuatku salah tingkah "terus,kenapa gak disamperin aja aku tadi?" "takut ganggu lah" katanya sambil menyentil keningku "yuk makan,laper nih belum makan, katanya tadi mau ngajak makan siang kan?". kataku,sambil meraba perutku yang memang sudah lapar dari tadi. "udah kan tadi sama fabian". katanya "tadinya gitu mau makan,tapi belum juga makan dah disamperin fabian, jadi ga jadi makan". keluhku "nih,buat kamu" katanya,sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan padaku "ini apa?" tanyaku "tadi pas ke sini liat ada yang jual gado-gado,jadi aku sengaja beliin buat kamu" "makasih banget,rama memang paling ngerti,baik banget sih,jadi terharu". kataku sambil tersenyum "baru tahu ya atau baru nyadar? ,kemana aja kamu nay". ucapnya "hehe..,makasih ya". "ya udah makan dulu gih,aku juga mau balik,kerjaan masih banyak soalnya, entar pulangnya aku jemput,aku mau ngajak kamu pergi nyari something". "kemana?" "nyari kado,bantuin ya". kata rama "buat siapa?" tanyaku penasaran "ada deh,entar juga tahu sendiri" katanya,membuatku penasaran "buat cewek ya?" tanyaku,ingin sekali tahu "iya" jawabnya singkat "oh" reaksiku sedikit merasa tidak senang mendengarnya. "malah bengong,dah ya aku balik, jangan lupa nanti aku jemput,jam 2 oke?". aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya,rama pun pergi dari hadapanku,sementara aku masih mematung di sini di tempatku berdiri, aku berfikir,sejak kapan rama dekat dengan seorang cewek,dia tidak pernah cerita kepadaku, yah..gimana dia mau cerita orang setiap saat selalu saja aku yang menjejalinya dengan segala keluh kesahku. kalau rama sudah ada cewek yang disukai,terus mereka pacaran,pasti dia tidak akan ada waktu lagi untukku,atau mungkin malah dia akan lebih dulu nikah dariku. hufftt...kok rasanya ngeselin banget sih. * jam 2 aku keluar dari tempatku bekerja, aku melihat rama sudah berada di depan duduk di atas motornya,dia pun tersenyum ketika melihatku menghampirinya. "yuk,jalan". katanya sambil menyodorkan helm kepadaku. "kita kemana?" tanyaku "aku antar kamu pulang dulu ya". katanya lagi "kok pulang,katanya tadi kan mau ngajak nyari kado buat ceweknya". "iya,tapi aku antar pulang dulu,kamu mandi dulu,biar wangi, ya kali akunya dah ganteng gini kamunya bau acem". ucapnya,sambil menutup hidungnya, sengaja menggodaku "apaan sih," gerutuku,seraya memukul pelan bahu rama. "sekalian aku mau minta ijin ibu kamu buat ngajak kamu jalan". jelasnya "tumben?" sahutku,sedikit heran,karena biasanya jalan ya jalan saja,toh ibu juga sudah mengenal rama dengan baik,dan biasanya ibu juga tidak pernah keberatan. * akhirnya rama mengantarku pulang dulu untuk sekedar mandi,kesel juga sih sebenarnya sama rama,tapi aku iyain aja dari pada debat panjang sama dia. aku mengajak rama masuk rumah, biar dia menunggu di dalam saja,sengaja aku berlama-lama bersiap-siap di dalam kamar, siapa suruh nyebelin,kukerjain aja sekalian. akhirnya setelah kurasa sudah cukup lama akupun keluar kamar dengan keadaan rapi dan wangi. aku lihat rama sedang berbicara dengan ibuku di ruang tamu,entah apa yang mereka bicarakan,aku tidak mau tahu, paling-paling obrolan yang tidak penting seperti biasa. aku dan rama berpamitan pada ibu, rama meminta ijin pada ibu karena mungkin dia akan mengantarku pulang agak malam dan seperti biasa ibu hanya bilang iya-iya saja saking percayanya ibu kepada rama. * rama mengajakku pergi ke sebuah toko perhiasan,perasaanku langsung saja tidak enak, jangan-jangan rama ingin membeli cincin atau barang berharga lainnya untuk cewek yang tengah dekat dengannya saat ini,itu artinya hubungan mereka pasti sangat serius,pasti cewek itu sangat spesial buat rama,aneh,..jadi tidak suka gini sih,seperti perasaan cemburu, hahh..apa?ah tidak mungkin, aku tidak mungkin cemburu,ya kan? aku cemberut, membayangkannya saja sudah membuatku kesal sekali rasanya. dan benar saja rama mengajakku untuk memilih cincin. "mana yang kamu suka nay?" tanyanya dengan senyum yang dari tadi tak lepas dari bibirnya "bagus semua" jawabku asal,kelihatan sekali aku tidak antusias menjawab "ya emang bagus semua,tapi aku nanya mana yang kamu suka". "kok aku,bisa jadi kan selera aku sama cewek kamu itu beda". jawabku,terselip nada kesal di sana "aku yakin 100% pasti sama,mana nay.. plisss..lihat dong satu-satu jangan setengah hati gitu,tadi kan udah janji mau bantuin" katanya,dengan nada memohon "iya..iya". kataku akhirnya aku menurut saja,tidak tega sama rama sebab dia sudah terlalu baik padaku,tidak adil rasanya jika aku bersikap kesal seperti ini. dan mataku menangkap satu cincin yang menurutku sangat bagus, sederhana sekali bentuknya,hanya lingkaran polos dengan satu batu permata kecil di tengahnya. "ini bagus,ram..simpel aku suka" kataku,dengan mengurai senyuman, aku harus sadar diri rama tidak akan selamanya hanya bersamaku,dia juga berhak juga kan untuk bahagia,dan sebagai teman sebisa mungkin aku akan turut bahagia untuk apapun yang menjadi pilihannya. "yakin?" tanyanya,mencoba memastikan "sini,coba dipake". katanya sambil meraih tanganku dan memasang cincin itu di jari manisku, darahku tiba-tiba berdesir,ada apa ini? perasaan seperti apa ini?tidak biasanya seperti ini. aku pun hanya terdiam dan mengikuti saja apa yang dilakukan rama. "iya,bagus nay..cantik,ya sudah ini saja". katanya lagi. * setelah mendapatkan cincin yang dicari, akhirnya rama mengajakku makan, tahu saja dia kalau perutku sudah lapar. selesai makan rama mengajakku jalan-jalan menyusuri taman dekat kita makan tadi. "nay,keadaan hati kamu gimana sekarang?" tanyanya,memulai pembicaraan "kenapa emangnya?" tanyaku "tadi kamu ketemu fabian,seperti apa rasanya?" "ehmmm,..entahlah,aneh sekali,rasanya perasaanku jauh lebih baik sekarang, kupikir tadinya aku tidak akan sanggup melihat wajahnya,tapi nyatanya aku juga heran,aku bahkan sudah merasa tidak masalah lagi,dan aku sudah memaafkan dia". kataku,sambil tersenyum lega "kamu sudah lupain dia?" tanyanya lagi "ya mana mungkin lupa ram,tapi aku sudah ikhlas kok,mungkin rasa sakitku waktu itu karena apa ya..?emmm.. kamu tahu sendiri kan, dulu sebelum rama aku juga pernah merasakan dikhianati kan , rasanya ketika fabian melakukan itu, seperti dejavu, sakit itu terulang lagi." jelasku panjang lebar "terus sekarang apa kamu sudah bisa nerima orang lain lagi?" tanyanya serius "enggak tahu ram,capek banget rasanya, aku merasa,aku sudah kehabisan stok laki-laki yang baik,enggak yakin lagi kalau aku masih disisain lelaki yang baik di dunia ini". kataku,dengan nada pesimis "ehh..masih ada kok lelaki baik-baik di dunia ini". katanya "mana?" "aku,apa kamu pikir aku ini bukan lelaki baik-baik?" "kamu beda ram,gak masuk hitungan". kataku "lah..terus,kamu anggap aku apa?" tanyanya,seketika dia menghentikan langkah dan menahanku dengan menarik kedua bahuku di hadapannya. "kamu kan temenku,jadi tidak masuk hitungan". kataku aku tertawa melihat raut wajah serius rama,dia terus menatapku dan tanpa aku duga sebelumnya tiba-tiba saja rama menarikku lebih dekat dan, "cupp" satu kecupan manis mendarat di bibirku . aku terpaku tidak bisa berkata-kata, ini apa? benarkah rama barusan menciumku?aku hampir kehilangan kesadaranku karenanya. "nay" ucapnya lirih,sambil mengusap bibirku yang masih terasa hangat dan basah karena kecupannya tadi. "rama,kamu barusan ngapain?" tanyaku,mencoba mendapatkan penjelasan darinya "aku tidak tahu lagi nay,bagaimana caranya membuat kamu sadar akan perasaanku ke kamu". jelasnya "kamu gak salah kan,bukannya kita memang dekat,dan aku tahu kamu memang sebaik itu sama aku". kataku "nay,kalau selama ini aku perhatian,aku peduli sama kamu itu berarti kamu tu penting buat aku". katanya lagi,seraya memegang kedua pipiku "tapi kupikir kita..." aku tidak bisa lagi melanjutkan kata-kataku "kamu terlalu sibuk dengan yang lain nay,sama orang-orang yang sudah nyakitin kamu,sampai kamu tidak menyadari kalau orang yang paling peduli,paling sayang sama kamu tu adalah aku,orang terdekat kamu". "sejak kapan ram?" tanyaku,aku benar-benar ingin tahu sejak kapan rama memiliki perasaan ini terhadapku "jauh lebih lama dari yang kamu kira". "kenapa aku?" tanyaku,masih begitu penasaran,sebab aku tidak pernah menyangka akan semua ini. "aku tidak butuh alasan nay untuk itu, tapi kalau kamu meminta alasan, aku akan katakan, kalau aku mencintai semua hal yang ada di diri kamu, sederhananya kamu,cerianya kamu,baiknya kamu bahkan cengengnya kamu,aku mencintai semuanya". "aku gak cengeng". sanggahku "gak cengeng apaan,dikit-dikit nangis gitu kok". katanya,tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dariku sungguh ucapannya membuatku meneteskan air mata,bisa-bisanya aku sebuta ini hingga tidak dapat melihat cinta yang begitu besar yang rama berikan padaku. "terus tadi cincinnya,kata kamu itu buat cewek yang kamu suka?". tanyaku polos "gak ngerti juga sih ni anak,heran.. kalau aku bilang aku cintanya sama kamu itu berarti cincin ini buat kamu, jangan bilang kamu tidak suka, awas..tadi kamu sendiri kan yang milih?" katanya,lagi-lagi dia menyentil keningku. air mataku menetes seketika,tapi kali ini air mata bahagia,sungguh aku tidak mengira semua ini,tapi hati ini benar-benar dipenuhi rasa bahagia, tanpa berfikir panjang aku langsung memeluk rama,pelukan yang erat sekali. air mataku tumpah di dadanya saat ini, aku tidak peduli jika bajunya basah karena terkena air mataku yang tidak mau berhenti ini. rama semakin mengeratkan pelukannya kepadaku, aku bahkan bisa mendengar degup jantungnya dengan jelas. perlahan akupun melepaskan pelukan,dan kemudian rama mengusap pipiku dengan jemarinya. "rama apa kamu yakin" tanyaku memastikan "aku tidak pernah seyakin ini" katanya dengan pasti "kenapa bisa begitu yakin?" tanyaku lagi "sebab hatiku yang memilih kamu, dan aku yakin hati tidak pernah salah" ucapnya,kemudian tanpa basa-basi lagi dia mengecup keningku,seolah aku ini sudah resmi menjadi miliknya. "tapi aku tidak mau lagi pacaran,capek hati". kataku "ya udah kita nikah,besok juga tidak masalah aku juga sudah siap semua, eh tapi tunggu,...apa ini berarti kamu menerimaku,ya kan nay". tanyanya,sekali lagi ingin memastikan aku menggangguk,mengiyakan pertanyaannya yang barusan. "ya sudah,besok kita nikah". ucapnya bersemangat. "apaan sih,minta ijin dulu sama ibu ram, main asal nikah aja". "sudah" jawabnya singkat,sambil tersenyum "kapan,kok aku gak tahu?". tanyaku "tadi,pas di rumah,aku sudah minta ijin ibu kamu untuk melamar anak gadisnya ini". jelasnya lagi "terus ibu jawab apa". tanyaku penasaran "kalau ibu kamu ga ngijinin aku, mana mungkin aku berani menyatakan perasaanku ke kamu saat ini". "jadi?".... "iya,..ibu kamu merestui,tinggal kamunya mau apa enggak?". tanya rama sambil meraih tanganku. akupun hanya terdiam,entah apa yang berkecamuk di kepalaku saat ini,rasanya ramai sekali,tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "nah..kan malah bengong,jadi gimana ini,mau gak cincin ini aku pakein di jari kamu?". tanya rama dengan serius aku tersenyum dan menjawab dengan anggukan,yang berarti aku menerima rama menjadi bagian dari hidupku. aku tidak tahu akan seperti apa,tapi di hatiku seolah ada keyakinan bahwa rama memang yang terbaik yang Tuhan kirimkan untukku, semoga ini benar Ya Allah,aku ingin bahagia,semoga rama adalah jawabannya. * aku mengalami malam yang luar biasa, sungguh ini sangat membahagiakan untukku, dan sungguh perasaan lega memenuhi dadaku saat ini. setelah selesai semua dan juga sudah cukup larut akhirnya rama mengantarku pulang,dan karena sudah malam jadi rama langsung pamit sesaat setelah ia mengantarku sampai rumah. aku mengucap salam,dan kemudian langsung masuk ke dalam rumah yang tidak dikunci, kulihat ibu tengah duduk sendiri di ruang tamu, sepertinya beliau memang sengaja menungguku. aku menghampiri ibu,tanpa mengatakan apapun aku tahu ibu telah menantikan sesuatu pernyataan dariku,dan aku tahu apa itu, aku pun langsung menunjukkan cincin yang tersemat manis di jariku, ibu tersenyum penuh arti, kulihat mata ibu berkaca-kaca,aku tahu perasaan dan kecemasan-kecemasan beliau terhadapku,dan cincin ini seolah menjadi pengobat segala kecemasannya terhadap semua yang telah kulalui selama ini. untuk pertama kalinya malamku tidak diliputi lagi oleh kecemasan,aku tidak pernah mengira kisahku akan berakhir seperti ini,rama adalah sahabatku dan bodohnya aku tidak menyadari ini sedari dulu,aku tidak peka dengan semua perhatiannya kepadaku,karena kupikir itu sesuatu yang wajar. dan sekarang aku begitu bahagia, bagaimana mungkin aku akan melewatkan kesempatan ini, menolak seseorang yang di setiap pandangan matanya hanya ada aku,di setiap yang ia lakukan hanya untuk kebahagiaanku. "Rama,terima kasih telah mencintaiku sebesar ini". * sebulan setelahnya rama resmi melamarku,dan kamipun melangsungkan pernikahan yang sudah kami rencanakan. memang bukan pernikahan yang mewah,bahkan jauh dari kata mewah, ini adalah pernikahan yang begitu sederhana,tapi dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa besar. "Tuhan,terima kasih untuk cinta yang KAU anugerahkan kepada kami... sungguh satu kesabaran yang berbuah manis" end... * (asyiella)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD