"Ada sebuah lagu," seorang laki-laki bersuara berat berkata, "berjudul Bunga dan Tembok."
Beberapa laki-laki lain yang ada di ruangan itu tidak bereaksi. Mereka semua sudah dengar beritanya. Lagu baru dari seniman jalanan yang membuat onar belakangan semakin marak saja, dan semua itu adalah pekerjaan mereka untuk diselesaikan.
"Seberapa berpengaruhkan itu, terhadap—?" Tanya laki-laki lain.
Laki-laki yang pertama bicara menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak sampai selesai, tapi semua orang mengerti arahnya. "Ya, lagu itu sangat provokatif. Tidak bisa dibiarkan terus beredar."
"Memang awalnya hanya lagu," laki-laki lain menyahut, "tetapi polanya selalu sama. Lagu itu menyulut semangat, seperti korek api yang disulut gesekan kecil menjadi kobaran mematikan. Lama-kelamaan akan terbentuk keraguan, kecemasan, bahkan kecurigaan tak perlu dari orang-orang yang telah tercuci pikirannya."
"Tak bisa dibiarkan, tak bisa dibiarkan."
"Mari kita dengarkan dulu lagunya," ucap seorang pria. Sebuah remot kontrol ditekan dan televisi besar di tengah ruangan menyala. Beberapa detik kemudian, suara petikan gitar terdengar. Intro dimulai.
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki adanya
"Maksudnya apa, sih?" Tanya seorang laki-laki.
Sebuah suara menjawab. "Provokatif!"
Lagu masih diputar.
Kau lebih suka membangun rumah
Merampas tanah
Kau lebih suka membangun jalan raya
Membangun pagar besi
"Astaga!"
"Menggiring opini."
"Tidak bisa dibiarkan, tidak bisa dibiarkan."
"Matikan saja lagunya."
Klik. Remot kontrol kembali ditekan, dan layar televisi meredup. Suara petik gitar berhenti. Sekumpulan laki-laki itu memandang wajah satu sama lain.
"Kita harus hentikan penyebaran lagu ini." Mereka semua mengangguk-angguk. Perkumpulan ini bukanlah perkumpulan resmi, dan daftar anggota maupun namanya tidak ada tercatat dimanapun jua. Mereka berkumpul atas dasar sebuah amanat dari atas, amanat yang tak bisa salah dilaksanakan. Ketika semua sudah bersepakat, maka keputusan diambil.
"Siapa pembuat lagu ini?"
"Wira Nagara."
Raa sedang mengerjakan laporan akhir di kamarnya ketika Sang Ayah memanggil lewat telepon. Hal itu sebetulnya sangat jarang terjadi, sehingga Raa tidak hendak berlama-lama. Ia segera mengganti baju tidurnya dengan baju yang lebih pantas kemudian turun ke lantai lima bawah tanah.
"Ya, Ayah?"
"Duduk dulu, Raa."
Raa duduk. Ia memperhatikan mata ayahnya yang dihiasi kantung mata hitam tebal. Ayahnya sering tak tidur. Pendingin udara menyala kencang membuat bulu kuduk Raa merinding dan matanya memberat. Udara dingin selalu mengundang kantuk.
"Bagaimana kuliahmu, Raa?" Tanya Ayah Raa.
Raa merasa, mungkin ini adalah percakapan antara ayah-anak yang sudah lama dinanti-nantikannya. Raa menjawab, "Baik, Ayah. Aku sedang berusaha menyelesaikan laporan tugas akhir."
"Kapan deadline-nya?"
"Umm, tidak ada tanggal pasti," ucap Raa, "Tapi aku mau menyelesaikan semuanya dalam tiga bulan ini agar bisa ikut wisuda awal tahun depan."
"Wisuda, ya? Hmmm."
"Ya, Ayah. Aku sudah semester tujuh."
"Semester tujuh yaa, Hmmm."
"Kenapa Ayah?" Raa bertanya heran. Ayahnya terus-menerus bergumam sejak tadi.
"Ayah hanya terkejut," ucap Ayahnya, "Cepat sekali waktu berlalu."
Raa mengulum senyumnya. Apa yang ayahnya katakan itu benar. Ia sendiri merasa waktu berlalu begitu cepat tanpa ia sadari kepergiannya. Apalagi, Ayahnya sangat sibuk. Ia seperti tenggelam dalam pekerjaannya setiap hari.
"Ayah mau menunjukkan sesuatu padamu," ucap Ayah Raa. Raa mendekatkan duduknya. Mereka berdua kini menatap layar ponsel ayah Raa yang memutar sebuah video tak bergambar, hanya memperdengarkan suara petikan gitar yang disusul nyanyian.
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki adanya
Kau lebih suka membangun rumah
Merampas tanah
Kau lebih suka membangun jalan raya
Membangun pagar besi
Klik. Ayah Raa mematikan video itu. "Itu adalah lagu baru Wira Nagara."
Raa mengangguk-angguk. Ia pernah mendengar lagu seperti itu sebelumnya, mirip dengan lagu ini. Dalam hati Raa membatin, mengagumi kemampuan seseorang menciptakan lagu dengan sebuah ciri khas.
"Dari mana Ayah mendapatkannya?"
"Seorang teman," Ayah Raa menjawab. Ia menunjukkan beberapa foto lain yang terlihat diambil diam-diam, menunjukkan penampakan Wira Nagara sedang mendendangkan lagu itu di hadapan banyak orang.
Ia masih terlihat sama seperti dulu ketika Raa pertama kali menangkapnya di kafe. Sepertinya, waktu itu sudah lama sekali berlalu. Tubuhnya yang kurus dan kering dibalut pakaian-pakaian polos yang lusuh. Dalam pikirannya, Raa masih bisa membayangkan nada suaranya yang lemah dan gaya bicaranya yang pelo—alias tidak bisa mengucapkan huruf R.
"Apa yang Ayah mau aku lakukan, dengan semua ini?" Tanya Raa. Ia menunjuk klip video dan foto-foto yang tadi telah ditunjukkan oleh Ayahnya dengan pandangan heran.
"Kau ingat apa yang kita bicarakan terakhir kali?" Tanya Ayah Raa. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Raa.
Raa berpikir sebentar. Setelah banyak berkutat dengan tugas akhir, ia sering lupa dengan pembicaraannya dengan orang lain. Apalagi dengan Ayahnya! Ia tahu sesuatu mengenai tugas rahasia—Oh, ya. Raa sudah ingat. "Ayah memberikanku kesempatan terakhir untuk mengejar Wira Nagara."
Ayah Raa mengangguk-angguk senang. "Yaaa... Sudah sejauh mana penelusuranmu, Raa?"
"Aku belum melangkah kemana-mana, Ayah. Saat ini aku sedang memusatkan fokus pada laporan akhirku."
"Kemudian?" Ayah Raa mengejar.
"Aku hendak membuat persiapan yang matang sebelum melangkah lagi. Mungkin nanti aku akan meminta lebih banyak informasi pada Suarez. Lagipula, aku sedang berusaha mengejar keberadaan Fajar."
"Fajar?" Tanya Ayah Raa. "Siapa Fajar?"
""Fajar Nagara, Ayah, anak dari Wira Nagara."
"Kemana kau melacaknya?"
"Aku sempat pergi ke UNY, tapi tidak berhasil menemukannya di sana. Aku menelusuri alamatnya sesuai yang diberikan Suarez tapi belum juga berhasil. Aku masih akan berusaha, Ayah."
Ayah Raa mengangguk. Meskipun prosesnya lama, Ayah Raa kembali menaruh harapan pada anak gadisnya ini. Ia berkata, "Lakukan sebaik mungkin, Raa. Wira Nagara semakin meresahkan. Ia harus segera ditangkap."
"Baik, Ayah."
"Kalau kau perlu bantuan, apa saja, silakan hubungi Suarez. Ia akan membantumu dengan baik."
Kalau kau perlu bantuan, silakan hubungi Suarez. Mengapa tidak menghubungi Ayahnya saja? Raa berpikir. Mungkin Ayahnya sangat sibuk. Raa berusaha mengerti.
"Ya, Ayah."
"Dan satu lagi, Raa," Ayah Raa menambahkan, "Aku harap kau tidak membuang-buang waktu. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengejar Wira Nagara. Ia telah menunjukkan dirinya dengan membuat lagu baru yang menggemparkan, seakan-akan mengira kita akan tinggal diam. Semakin cepat semakin baik."
Raa mengangguk. Ia mencatat semua perkataan Ayahnya dalam hati, mengingat jelas setiap kata dan informasi, kemudian kembali pergi ke kamarnya di atas.
Sebetulnya, kadang-kadang Raa penasaran mengapa Ayahnya begitu keras kepala ingin menangkap Wira Nagara. Apa kesalahan laki-laki itu? Apa yang membuatnya tidak disukai? Ia hanya membuat lagu, dan jujur saja, lagu itu membuat Raa mengantuk. Ia tidak akan mendengarkannya sampai habis kalau ia jadi orang lain. Mengapa begitu merisaukan dirinya?
Namun kegiatan seperti ini menyenangkan hati Raa juga. Ia dapat melakukan tugas yang menyenangkan bersama dengan Kefas, Pedro, dan Suarez. Ia dapat memanfaatkan kemampuannya. Ia dapat bertingkah seperti seorang mata-mata keren dari film-film ternama.
Raa masuk ke dalam kamar sembari membayangkan dirinya berhasil menangkap Wira Nagara. Mungkin laki-laki itu tidak akan melawan. Nanti, Ayahnya akan sangat bangga dengannya sampai hendak menginterogasi Raa berjam-jam lamanya. Ayahnya pasti akan bertanya begitu banyak hal pada Raa.
Ketika Raa masuk ke dalam kamar, ia membuka mesin pencarian di komputernya dan mengetik: Wira Nagara. Fajar Nagara. Bunga dan Tembok. Ada banyak informasi baru yang harus ia telusuri. Internet menunjukkan padanya beberapa laman berita penting yang kemudian menarik minatnya.
Raa membuka salah satu laman itu.
Judulnya adalah, "Rakyat Mengajukan Protes lewat Lagu." Di dalamnya tergambar sekumpulan orang sedang bernyanyi bersama dan mendendangkan beberapa lagu dengan iringan gitar. Raa memperhatikan raut wajah mereka. Ada senyum yang terukir di sana, walau keriput di sana-sini tetap terlihat. Pakaian mereka hampir mirip satu dengan yang lain, begitu polos dan sederhana.
Raa tidak melihat Wira Nagara sama sekali di antara liputan foto-foto itu. Ia juga tidak pernah mendengar lagu-lagu yang tercatat di sana. Raa memutuskan untuk mencari laman lain.
Ada sebuah situs lain yang menarik perhatian Raa. Judulnya adalah "Lagu Baru Wira Nagara dan Perjuangan Rakyat Kecil." Perjuangan rakyat kecil? Raa tidak mengerti apa maksudnya. Ia meng-klik laman itu.
Kali ini, informasi yang ditampilkan cukup berbeda. Ada gambar orang-orang di stasiun yang tinggal beserta anak-anak mereka, makan dengan makanan apa saja yang bisa mereka dapat dengan uang hasil mengemis hari itu. Raa sudah sering melalui stasiun, namun ia jarang memperhatikan orang-orang ini. Di situs itu tertulis informasi lengkap mengenai bagaimana mereka mendapatkan penghasilan setiap hari, kemelaratan hidup mereka, dan kurangnya fasilitas mereka. Raa terkejut mendapat bahwa kebanyakan orang tinggal di sana secara turun-temurun. Tidak ada jaminan pasti kapan rantai itu akan berakhir, karena orang-orang ini akan memperanakkan anak-anak yang miskin juga dan tidak dapat sekolah. Mereka hanya bekerja dengan mengamen dan mengemis.
Raa terus menggulir ke bawah. Ada liputan mengenai anak-anak kecil yang dipaksa orang tuanya bekerja mencari nafkah di jalan. Mereka melakukan apa saja, seperti membersihkan kaca mobil, menjual kacang-kacangan, bahkan menjadi badut demi mendapatkan uang receh. Semua uang itu nantinya akan diserahkan kepada orang tua mereka. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah atau menabung dengan uang yang mereka kumpulkan.
Hati Raa terenyuh mendapati berita itu. Ia sering melihat mereka, namun hampir tidak pernah memikirkan bagaimana kelangsungan nasib mereka. Ia kemudian membaca bahwa kemiskinan yang mencekik itu seringkali mereka utarakan dengan lagu-lagu ketika sedang mengamen. Salah satu lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu pengamen jalanan, misalnya Wira Nagara.
Sebuah lagu barunya yang menarik hati kaum papa, dan langsung saja menjadi favorit banyak orang, berjudul Bunga dan Tembok.
Lagu yang tadi Ayah Raa tampilkan.
Pikiran Raa rasanya pusing. Terlalu banyak informasi yang beredar dalam satu hari. Ia memutuskan untuk memikirkan semuanya nanti. Raa mematikan komputernya.
Ia berbaring di kasur.
Esok hari, ia harus menyelesaikan tugas-tugas laporan akhirnya. Ia juga akan melakukan penyelidikan lebih jauh mengenai Fajar Nagara dan Wira Nagara, serta lagu barunya. Ia harus mencari Wira Nagara entah kemana, di antara orang-orang yang cocok dengannya.
Raa mencatat dalam hati. Banyak sekali yang harus ia lakukan besok. Sementara ia berpikir, matanya pelan-pelan terpejam. Raa tertidur. Dalam tidurnya, Raa bermimpi ia berhasil menangkap Wira Nagara.