(21) Di Tempat Lain, Fajar dan Keluarganya

1842 Words
Di tempat lain, Fajar dan keluarganya sedang menikmati makan malam bersama. Hari ini suami Widi tidak pulang lembur. Mereka akan bersama-sama menikmati makan malam dengan lauk ikan dan nasi. Fajar dan Ibunya datang ke rumah Widi dengan berjalan kaki. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bisa makan bersama, sehingga Ibu Fajar sangat antusias menunggu-nunggu waktunya. Sari mengenakan kaus berwarna cerah beserta dengan rok hitam satu-satunya yang ia miliki. Fajar, baru pulang mengamen, menemani Ibunya dengan kaus seadanya dan celana pendek. Begitu mereka berdua sampai ke depan pintu rumah Widi, perempuan itu terperangah. "Ibu, kau cantik sekali!" Sari tersenyum. Fajar protes, "Kakak tidak memujiku?" "Kau lusuh sekali!" Celetuk Widi. "Sana, mandi dulu! Sebentar lagi Mas-ku pulang." Fajar nyengir, menyadari keadaan dirinya yang memang tidak pantas menghadiri makan malam bersama keluarga. Ia segera angkat kaki dan pergi ke kamar mandi kecil di belakang rumah kakaknya untuk membersihkan diri di situ. Fajar memiliki beberapa kaus yang memang ditinggal di sini untuk menginap, sehingga ia akan mengenakan kaus itu untuk makan malma. "Mama sehat, kan?" Widi menyapa Ibunya. "Duduk di sini dulu ya, Ma. Biar aku siapkan mejanya." Sari mengangguk. Ia memperhatikan anak gadisnya itu yang kini sudah menjadi istri orang, lincah merapihkan meja makan dan meletakkan nasi beserta lauk pauk di atasnya. Widi adalah perempuan yang ayu, cantik. Kulitnya kuning langsat, selaras dengan rambutnya yang hitam pekat. Rambut itu dulu panjang tergerai. Sejak menikah, Widi memutuskan memotong pendek rambutnya agar lebih mudah untuk diatur. Meja makan sudah siap. Widi dan Sari duduk menunggu dengan manis di meja. Tidak ada televisi di rumah itu, sehingga hanya suara jangkrik dan tokek saja yang mewarnai malam mereka. Tak lama, Fajar datang dari belakang dengan pakaian yang lebih rapih. Rambutnya basah dan wajahnya sudah lebih segar. Ia tersenyum lebar mendapati kakak dan ibunya duduk di satu meja. "Senangnya," ujar Fajar, "Sudah lama kita tidak makan-makan seperti ini." "Kalau tidak salah, terakhir kali ya sewaktu merayakan kelulusanmu di universitas itu." Fajar mengangguk. "Kalau begitu, sekarang kita merayakan keberanianku menolak masuk ke universitas." "Hei," Widi menjawab adiknya, "Jangan bilang begitu." Fajar tertawa. Ia bergabung dengan kakak dan Ibunya duduk di meja. "Di mana suamimu, Kak?" Widi yang ditanya refleks menelengkan kepalanya. "Sebentar lagi pasti pulang. Ia tidak lembur hari ini." Sebetulnya malam sudah menjelang pukul delapan. Ikan yang sudah digoreng sejak tadi mulai dingin. Suami Widi baru muncul batang hidungnya setelah pukul delapan tiga puluh, lebih lambat daripada yang diperkirakan Widi. Ketika laki-laki itu masuk dan membuka pintu, Widi bersiap menerimanya dengan sambutan hangat. "Mas! Mas baru pulang?" Laki-laki itu menjawab dengan lesu. "Iya, capek banget hari ini. Eh, ada Ibu. Malam, Bu. Malam, Dek Fajar." Sari dan Fajar mengangguk dan tersenyum. "Malam, selamat malam." "Aku ganti baju sebentar, ya." Suami Widi itu pergi ke kamar dan keluar tak lama kemudian dengan mengenakan kaus rumahan. Ia sudah siap untuk makan bersama. Duduk di sebelah Widi, mereka berdua membagikan lauk dan nasi kepada setiap orang dengan sama rata. "Hari ini kita makan bersama-sama, dengan sehat semua, bersyukurlah," ucap Widi. "Dan untunglah aku pulang ke rumah dengan selamat. Tadi ada kecelakaan di jalan, makanya aku pulang terlambat," ujar Suami Widi. Widi membelalakkan matanya. Suaminya mengangguk. "Iya. Lumayan parah, di depan g**g kita itu." "Kecelakaan karena apa?" Tanya Sari. Suami Widi mengangkat bahu. "Aku tidak terlalu tahu. Katanya ada perampokan, lalu korbannya melawan sampai ke jalan. Banyak orang berkerumun." Sari cepat menoleh ke arah Fajar. Fajar menyadari tatapan kakaknya itu. Perampokan lagi! Peristiwa itu jadi marak belakangan ini. Untung saja waktu itu Fajar selamat dan berhasil melarikan diri. Secara refleks, ia meraba saku celananya yang berisi semprotan merica dan surat dari ayahnya. "Ya sudah," Sari menengahi. "Mari makan." Widi mengangguk. Mereka mulai melahap makanan di piring mereka masing-masing dengan khusyuk. Begitulah selalu keadaan makan bersama di keluarga ini: sederhana, tidak banyak suara, dan tenang. Namun masing-masing menikmati setiap suap dengan sungguh. Bagi mereka, momen-momen ini perlu dihayati seperti ritual yang berharga. "Gimana kerjamu, Fajar?" Tanya suami Widi. Fajar mengangguk. "Baik, Kak." "Kamu gak berminat cari kerja yang lain, tah?" "Mau, Kak," ucap Fajar lagi, "Tapi lulusan SMA susah. Sambil nunggu aku sambil ngamen saja." "Oh, begitu." "Iya, Kak." "Kamu suka nyanyi apa, Fajar?" "Kalau kesukaanku sih nyanyiin lagu Bapak, Kak." Sontak, suami Widi mengangkat wajahnya. Ia menatap ibu mertua dan istrinya bergantian. Eskpresi wajahnya tak dapat ditebak. "Serius?" Tanyanya. Fajar mengangguk ragu-ragu. "Lagu apa, Fajar?" Tanya Sari. Suaranya lembut dan tenang. "Umm, lagu Kebenaran akan Terus Hidup, Bu." Sari tersenyum. Ia bergumam pelan, menyenandungkan sepotong lirik lagu itu. "Karena kebenaran akan terus hidup, sekali pun kau lenyapkan," Fajar menyambung. "Kebenaran takkan mati~" "Sssh, sudah-sudah," suami Widi menyela. Matanya masih menatap Fajar dengan pandangan yang tak bisa djelaskan. Di dalamnya ada kekhawatiran, ada keraguan, dan mungkin saja ada ketakutan. "Kenapa, Kak?" "Kau harus berhati-hati, Fajar." Fajar terdiam mendengarkan. "Kau harus ingat terus kalau Bapakmu itu bukannya mati atau pergi, dia itu buronan yang sedang melarikan diri. Kita sudah berusaha menutupi sebanyak mungkin jejakmu, berusaha menjadi tidak mencolok, dan berusaha berbaur, tapi pasti masih banyak yang mencari-cari kita." "Sudahlah, Mas," Widi berusaha menghentikan ucapan suaminya, tapi laki-laki itu terus berbicara. "Tidak, Wid. Aku serius." "Gak papa, Mas. Lanjutkan saja," ucap Fajar. "Aku bukannya ingin menakut-nakutimu, Dek, Buk. Yang aku ucapkan ini benar. Aku sendiri pun merasakannya. Ada orang yang tiba-tiba bertanya mengenai keluargaku, ada yang mengikutiku di perjalanan pulang, ada yang mengambil tas kantorku." "Tas kantormu?" Tanya Widi. "Ya, lantas dia bilang tidak sengaja. Aku tahu tasku sudah dibuka-buka namun tidak ada barang yang hilang." Widi menggeleng-geleng, wajahnya kelihatan cemas. Cerita itu baru sekarang ia dengar dari mulut suaminya. Sari menatap anak mantunya itu dengan pandangan iba yang jelas. Kegiatan makan mereka menjadi kalut sementara. Fajar menunduk. Ia memperhatikan semua perkataan kakak iparnya itu dan mulai meresapi maknanya. Mungkin, mungkin saja, yang dikatakan teman ayahnya itu benar. Tidak ada yang kebetulan di dunia. Semua ada karena rencana rahasia yang tidak ia ketahui. Mungkin saja memang ada yang mengikutinya setiap malam ketika ia berjalan pulang ke rumah, mungkin saja ada yang hendak menyakitinya dengan mengirimkan perampok, dan mungkin, mungkin saja, kehadiran Raa juga bukan semata-mata kebetulan. Mungkin gadis itu memang berniat mendekatinya untuk mencuri-dengar informasi darinya. Jantung Fajar berdegub kencang. "Fajar, apa kamu pernah mengalami seperti yang dialami Mas?" Tanya Widi. Kakaknya itu terlihat amat khawatir. Ia memang lebih banyak berada di rumah atau di rumah Ibunya, sehingga mereka berdua jarang menghadapi penguntitan seperti suaminya. Ia tidak pernah menyangka kalau teror ayahnya suatu kali akan mengikuti keluarga mereka juga. Ditanya seperti itu, Fajar mengangguk. "Aku sering merasa diikuti dalam perjalanan, walau aku tidak tahu apakah itu benar atau hanya perasaanku saja." "Itu sebabnya kau sering pulang bersama Widi," tebak Ibunya. Fajar mengangguk lagi. "Kadang-kadang aku mampir ke sini dulu kalau sudah merasa takut. Kakak menemaniku ke rumah." "Apa barang-barangmu pernah hilang, Fajar? Buku, catatan, atau apa saja?" Kali ini, suami Widi yang bertanya. Fajar menggeleng. "Tidak, Kak. Aku tidak punya tas. Semua barangku ada di saku celana." "Tapi kau pernah hampir dirampok!" Widi menjawab. Ibu Fajar yang tidak mengetahui hal itu melotot. "Fajar, kau pernah dirampok?" "Hampir, tapi tidak jadi," ucap Fajar. "Aku berhasil lari. Mereka tidak mengejar." "Ya, mereka tidak mengejar," ucap suami Widi, "tapi mereka bisa mencoba lain kali." Fajar menghembuskan napas kasar. Kini meja makan dipenuhi pandangan-pandangan yang lesu. Suami Widi bicara lagi. "Kalau kau mengamen, sulit untuk menyembunyikan diri. 'Toh kau dilihat banyak orang dan berada di tempat terbuka. Namun keuntungannya, mereka tidak bisa sembarangan terhadapmu di tempat ramai." "Tapi kalau kau menyanyikan lagu Ayah," Ibunya bergumam. "Kau akan mudah sekali dikenali." Suami Widi mengangguk. "Ya, Fajar. Kalau boleh, lebih baik jangan kau nyanyikan lagu itu lagi." Fajar mengangguk patuh. Dalam hati, sebetulnya ia sebal. Sudah banyak yang tidak bisa ia lakukan karena terhalang biaya, dan kini, ia harus menghilangkan lagi salah satu kegiatan favoritnya karena ayahnya. Bukankah seorang ayah seharusnya mendukung putranya? Bagaimana ia dapat berkembang tanpa dukungan seorang ayah? Fajar hanya menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hatinya. Mereka melanjutkan makan dalam diam. Piring sudah mulai kosong. Nasi dan lauk hampir tandas, dan setiap orang merasa cukup kenyang. Suami Widi berkata lagi, "Fajar, maaf kalau aku terlalu lancang. Semoga kau menangkap kasih sayangku lewat semua perkataan tadi. Semoga juga tidak ada aksi lebih jauh dari orang-orang itu untuk mengusikmu." Ia tersenyum manis. Fajar sekarang tahu kenapa laki-laki itu sangat mengayomi kakaknya. Ia pintar, cerdas, namun rendah hati. Fajar ikut tersenyum. "Terima kasih, Kak." Acara makan malam itu selesai. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka akhirnya memutuskan pulang. Widi dan suaminya mengatar Sari dan Fajar sampai ke depan pintu. "Hati-hati Fajar, hati-hati Bu." Mereka berdua berjalan pulang dengan bergandengan. Malam sudah larut. Suara jangkrik terdengar begitu nyaring bersahut-sahutan. Fajar dan Ibunya tidak berbicara banyak. Pandangan mereka fokus kepada langkah kaki mereka. Namun, di tengah kesunyian itu, pikiran Fajar melalang buana kepada seseorang yang ia pikirkan belakangan ini: Raa. Gadis yang sangat tulus dan bersahabat itu mencari-cari dirinya. Ia mungkin salah satu orang yang hendak menangkap Ayahnya. Gadis itu tidak tahu kalau ia adalah Fajar, atau apakah ia tahu dan berpura-pura tidak mengetahuinya? Fajar sangat menyayangkan hal itu. Ia merasa sangat dekat dengan Raa saat ini, karena gadis itu pula yang menolongnya dari perampokan. Kalau perampok itu berniat jahat dan Raa menolongnya, tidak mungkin 'kan Raa berniat jahat padanya? Atau Raa hanya tidak mau buruannya diambil oleh orang lain? Tiba-tiba, ketika mereka sedang tidak waspada, terdengar suara nyaring dari belakang mereka. Refleks Fajar dan Ibunya menoleh. Suara itu terdengar seperti suara kaleng yang dilemparkan ke tanah, atau mangkuk beling yang jatuh. Mereka berdua terkejut, namun tidak ada siapapun di sana. Malam sepi dan sunyi. Rasanya hampir mustahil kalau setiap malam, selalu tidak pernah ada orang di jalan ketika Fajar mendengar sesuatu. Dengan instingnya, Fajar dan Ibunya kini berjalan lebih cepat. Mereka tidak berlari. Dengan jantung berdegup cepat, mereka terlalu takut untuk berlari. Untungnya, rumah mereka sudah terlihat di depan sana. Mereka berdua bergandengan erat, bergegas membuka pintu pagar rumah dan masuk ke dalam. Fajar menengok dan melihat wajah ibunya yang dipenuhi keringat. Ibunya pasti risau. Ia sangat jarang keluar rumah belakangan ini dan pengalaman tadi pasti membuatnya teringat pada masa lalu. Fajar mengajak Ibunya masuk, kemudian memastikan pagar dan pintu rumah sudah terkunci rapat. Mereka berdua terduduk di ruang tamu. Tidak ada siapapun di luar sana, namun Fajar masih merasa yakin kalau sesuatu yang buruk sedang mengejar mereka. Ibunya juga masih tidak dapat berkata apa-apa. Ketika perempuan itu akhirnya bicara, ia berkata, "Fajar..." "Ya, Bu." "Jangan pergi." Fajar mendekati Ibunya dan duduk di sebelahnya. "Aku di sini, Bu. Aku tidak kemana-mana lagi." "Jangan pergi," Sari mengulang, suaranya kering. "Jangan tinggalkan aku sendiri." Hati Fajar ngilu mendengar ucapan Ibunya. Ia tidak dapat membayangkan rasa sakit yang Ibunya rasakan ketika dipaksa untuk melihat Ayahnya pergi menjadi buronan. Ia tidak dapat membayangkan rasa takut yang Ibunya rasakan ketika mengurus dua anak sendirian di rumah. Fajar mengelus pundak Ibunya. "Aku di sini, Ibu. Mari kuantarkan tidur. Kita istirahat malam ini." Sari berdiri, dan ia bergerak ke kamar dituntun oleh Fajar. Dari kejauhan, Fajar dapat mendengar suara mangkuk pecah itu lagi, namun ia merasa mungkin itu hanya perasaannya saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD