Raa sedang berbaring dengan tenang di kamarnya ketika suara bel nyaring terdengar dari pintu masuk. Ia baru saja menyelesaikan tugas-tugasnya dan tidak berminat turun ke bawah untuk membukakan pintu. Namun, suara bel terdengar lagi untuk yang kedua kalinya.
Raa memejamkan mata, berpura-pura tertidur.
Suara bel itu terdengar lagi, untuk kesekian kalinya, dan ternyata tidak ada seorang pun di luar sana yang hendak membukakan pintu untuk sang tamu istimewa. Tamu itu pun tak mengerti penolakan. Ia terus membunyikan bel sampai Raa jengah, dan ia mau tak mau keluar untuk membukakan pintu.
Mungkin teman ayahku, pikir Raa.
Kalau ingin bicara jujur, sesungguhnya rumah Raa sangat jarang menerima tamu. Hampir semua teman Raa tidak mengetahui tempat tinggalnya dan Raa sangat jarang mengajak mereka bertamu ke rumah. Hanya teman Ayahnya yang mengetahui lokasi ini, dan mereka pun sangat jarang berkunjung. Ada beberapa di antara mereka yang bahkan sudah meninggal sehingga teman Ayahnya sudah semakin sedikit.
Rumah itu terlalu berbahaya untuk dijadikan tempat berkumpul banyak orang. Di dalamnya ada rahasia-rahasia yang tak boleh diungkapkan.
Raa sudah menuruni tangga dan bel pintu terdengar lagi. Raa menghembuskan napas kasar, kesal dengan tamunya hari itu yang sangat tidak sabaran.
Begitu sampai di depan pintu, Raa berhenti sejenak untuk memasang wajah tersenyum terbaiknya. Semenyebalkan apapun tamunya, Raa harus menjadi tuan rumah yang baik. Ia memperbaiki pakaiannya agar terlihat lebih rapih, kemudian membuka pintu rumah.
"Selamat sore, selamat datang— Lah, Galih?!"
"EH, Halo, Raa..."
Raa terdiam di sana agak lama, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sepotong hatinya senang, 'akhirnya ada seorang teman yang mengunjungi rumahku, laki-laki pula! Apakah ia akan membawaku jalan-jalan ... ke Martabak Orion lagi?' Sementara bagian hati Raa yang lain mengeluh, 'aduh, gue belom mandi! Kenapa dia dateng gak bilang-bilang?'. Pikiran rasional Raa ikut berpacu mengalahkan perasaan hatinya, bertanya-tanya darimana Fajar mengetahui alamat rumah Raa. Apakah laki-laki itu menguntitnya? Apakah laki-laki itu mencuri identitasnya?
"Umm, Raa?" Galih berusaha menyadarkan gadis yang sekarang terbengong di hadapannya. Ia sudah menahan rasa kikuknya sejak tadi, dan begitu Raa membukakan pintu, rasa kikuk itu semakin menjadi-jadi.
"Eh, Galih. Kenapa kenapa?"
"Umm, sorry kalau ganggu yaa, Raa."
"Eh, gak apa-apa. Kenapa?" Tanya Raa lagi.
Galih mengerling pada gestur tubuh gadis itu yang menghalangi pintu masuk. "Mmm, gue boleh masuk?"
Raa terdiam sejenak. Ia tidak bermaksud mengajak Galih masuk ke dalam, karena ia hadir di depan pintunya saja sudah menjadi sebuah kejutan, namun permintaan seperti itu tidak mungkin ditolak. "Umm, oke. Silakan..."
Galih mengikuti Raa berjalan masuk ke dalam rumah. Rumah itu cukup besar, dan jika dilihat dari letaknya yang tepat di tengah perkotaan, Galih dapat menaksir harganya tak main-main. Ada tangga yang menuju ke lantai dua, dan Galih diajak Raa untuk duduk di sebuah sofa di bawah tangga.
"Duduk dulu ya, Lih, gue ambilin minum," ucap Raa.
Galih mengangguk patuh. Ia dapat melihat keheranan Raa dari sikapnya yang canggung. Toh, ia sendiri juga merasa sangat kikuk. Gadis itu pasti tidak nyaman karena mereka hanya berdua saja saat ini, atau mungkin ia sedang menerka-nerka alasan Galih datang. Bagaimanapun, Galih tetap senang karena berhasil menyambangi rumah Raa yang misterius.
Untuk sampai ke sini bukanlah perjuangan mudah.
Galih sudah bertanya pada Siska dan Haris, namun mereka berdua mengaku sama sekali tidak pernah diberitahu Raa mengenai tempat tinggalnya. Yang pasti, ia selalu pulang naik bus kota. Bus kota itu bisa berhenti di mana saja, dan kadang-kadang Raa juga bisa berganti jurusan di tengah jalan, jadi mereka tidak bisa mengira-ngira. Siska yakin Raa tinggal di pusat Jakarta, di suatu tempat yang tidak jauh dari kampus mereka. Ketika Galih bertanya kepada orang-orang lain yang mungkin punya hubungan dekat dengan Raa —Ibu kantin, teman sekelas, ketua angkatan, dan lain-lain, mereka semua mengaku bertemu Raa di tempat-tempat yang berbeda. Ada yang bertemu Raa di Cakung, Ciracas, Karawang .... Tidak ada yang tahu dimana Raa sebetulnya tinggal.
"Nih, Lih," ucap Raa yang baru kembali dari dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. "Maaf ya cuma ada air putih sama teh, soalnya lo mendadak, sih."
"Eh, iya, gak apa-apa. Makasih yaa Raa."
Raa mengangguk, lalu duduk di hadapan Galih. Mereka berdua terdiam dengan canggung sampai akhirnya Raa membuka suara. "Eh, Galih, lo kenapa repot-repot kesini?"
"Oh, iya, hehehe," Galih menjawab kikuk. "Gue mau ... mau minta catatan gue yang kemarin, Raa!"
"Catatan?"
"Iyaaa, yang itu loh, yang lo ninggalin gue di Martabak Orion..."
"OH IYA! Yaampun Galih, maaf banget, gue lupa yaaa," Raa menepuk jidatnya sendiri. "Gue ambil dulu ya!"
"Eh, enggak apa-apa Raa, gak usah ngerepotin."
"Apanya yang ngerepotin," ujar Raa. Gadis itu kini sudah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Sekali lagi, Galih ditinggalkan sendiri di bawah. Ia sedikit heran dengan rumah yang sangat sunyi itu. Dengan rumah sebesar ini, apakah mungkin Raa tinggal sendiri? Kemana orang tuanya? Siapa yang membersihkan rumah? Lagipula, apabila ia berasal dari keluarga berada, seharusnya Raa tidak pulang dengan bus kota.
Ketika sedang melamun sendirian, tiba-tiba Galih mendengar suara seorang pria dari belakangnya. "Maaf, siapa ya?"
Galih menoleh. Dengan segera ia merasa bersalah, walau ia tidak melakukan apapun sejak tadi. Pria yang memanggilnya adalah seorang bapak yang sudah tua, terlihat dari kerutan di dahinya dan rambutnya yang sudah memutih. Ia mengenakan setelan kemeja formal beserta jas dan celana bahan sehingga Galih merasa begitu kecil dan tak berdaya. Pandangan matanya tajam, dan gestur tubuhnya tegas.
"Maaf, maaf Pak. Nama saya Galih, saya teman Raa."
Bapak itu masih menyipit. "Teman Raa darimana ya?"
"Saya teman kuliahnya, Pak."
"Tahu rumah ini darimana? Diundang Raa?"
Galih tertohok. Itu pertanyaan yang cukup menyakitkan. Tepat ketika ia membuka mulut hendak menjawab, Raa turun dari tangga. Gadis itu melihat Ayahnya berada di belakang sofa tempat Galih duduk dan mengerti apa yang terjadi.
"Ayah, perkenalkan, ini Galih. Galih, ini bokap gue."
Kedua laki-laki itu mengangguk. Ayah Raa maju lebih dekat menghampiri putrinya, kemudian bertanya, "Kau mengundangnya ke sini?"
"Tidak," ucap Raa, "ia datang sendiri karena ingin meminjam bukuku. Kalau boleh tahu, darimana kau dapat alamatku, Galih?"
Garis wajah Galih sangat tegang saat ini. Ia merasa sedang disidang di hadapan dua orang yang tiba-tiba saja tampak sangat mengintimidasi. Ayah Raa menyilangkan tangan di depan d a d a nya, dan Raa berdiri begitu saja di belakang ayahnya.
"Kau mengikutiku pulang?" Tanya Raa, sebagai sebuah bantuan karena Galih tak kunjung menjawab.
"Tidak," Galih menggeleng. "Kata teman-teman, kau pulang naik bus kota dan rutenya selalu berbeda. Tidak banyak yang tahu dimana rumahmu sebenarnya."
"Lalu darimana kau tahu rumah kami, Galih?" Tanya Ayah Raa.
Galih menelan ludah. "Aku mencuri-lihat data mahasiswa yang ada di perpustakaan kampus. Karena sangat penasaran, akhirnya aku menemukan data diri Raa, berikut alamat rumahnya, di sana."
"Kau bisa bebas mengakses database mahasiswa?" Tanya Ayah Raa.
Galih mengangguk. "Sebetulnya tidak bebas banget, sih. Kalau pustakawan tahu pasti ditegur. Tapi data itu berada satu komputer dengan komputer katalog buku yang bisa diakses semua mahasiswa."
Ayah Raa mengangguk-angguk. "Jadi, kau tahu nama lengkapku?" Tanya Raa. Nada suaranya sudah berubah, dari yang tadinya serius menjadi lebih ramah.
"Ya. Aku baru tahu kau bernama Raquelle, karena semua orang memanggilmu Raa."
Raa mengangguk. "Tapi aku lebih suka dipanggil Raa."
Galih merasa diperhatikan oleh Ayah Raa sehingga ia menoleh, dan benar saja, laki-laki itu sedang memperhatikan dirinya. "Maaf karena sudah mengganggu ya, Om," ucap Galih.
Ayah Raa mengangguk. "Ya, tidak apa-apa. Saya turun dulu, ya." Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Galih berdua dengan Raa di ruang tamu.
"Ke bawah?" Tanya Galih.
Raa juga sempat terkejut mendengar perkataan ayahnya tadi, sehingga kemudian menjawab, "Mmm, tadi maksudnya ke belakang, mau ke toilet."
Galih mengangguk. Ia dan Raa kembali duduk berhadapan di sofa itu, dengan suasana yang sunyi, sementara Galih hendak mengulur waktu sebelum pulang kembali.
Raa menyerahkan buku catatannya. "Nih, Lih, buku lo. Makasih ya."
"Sama-sama, Raa. Kalo lo mau pinjem lagi bilang ajaa yaaa, gue selalu nyatet kok setiap kuliah."
"Wah, si anak rajin," ledek Raa. "Mau ngambil buku aja sampai ke perpustakaan kampus. Rajin banget dah!"
"Abis ada yang gak bales chat berhari-hari," gumam Galih.
Raa nyengir. "Eh, gue belom bales chat lo, ya? Duh, maaf ya... Lagi ngebut ngerjain laporan tugas akhir nih supaya bisa lulus tahun depan."
"Wah, gue aminin, deh."
Mereka berdua terdiam lagi. Galih tidak tahan menahan pertanyaan di kepalanya, sehingga akhirnya bertanya pada Raa. "Raa, ini lo bener-bener sendiri?"
"Iya."
"Nyokap lo?"
"Udah gak ada, Lih."
"Oh, sorry, Raa."
Raa mengangguk. Sebetulnya ia sendiri tidak benar-benar tahu apa kabar Ibunya, namun lebih mudah mengatakan kalau ia sudah tiada agar tidak mengundang banyak tanya.
"Gak ada mbak?"
"Mbak? Maksud lo, kakak gue, gitu ya?"
"Bukan, bukan," Galih merevisi pertanyaannya, "Maksud gue, pembantu rumah tangga. Biasanya rumah-rumah besar begini banyak pembantunya."
"Oh, ART. Ada kok, cuma gak banyak. Mungkin mereka lagi ke pasar atau ada urusan."
"Oh, gitu."
Galih kembali berdiam diri. Raa merasa sangat canggung dan tidak kerasan dengan kehadiran Galih. Menyadari gerak-gerik Raa, Galih akhirnya berdiri.
"Raa, gue pamit ya."
"Iya, Lih," ucap Raa. Mereka berdua berdiri dan Raa mengantarkan Galih ke pintu.
"Gak usah pamit ke bokap?"
"Gak usah, Lih, dia udah di bawah."
Galih mengerutkan kening, namun Raa tidak menyadari kesalahannya. Akhirnya Galih mengangguk saja. "Oke, deh, kalau gitu. Gue pulang dulu ya. Salam sama yang lain."
"Naik apa, Lih, pulangnya?"
"Gue bawa mobil."
"Oke deh, hati-hati yaa."
Galih mengangguk dan berjalan pergi menuju mobilnya yang diparkir di luar halaman.
Saat ini, Raa sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan. Sekali lagi ia merasakan rasa tidak nyaman ketika berada bersama dengan temna-temannya, namun ia juga merasa sedih dengan kecanggungan mereka. Ia berbalik dan kembali ke dalam kamarnya, berbaring memandangi langit-langit.
Kata orang, ada tiga hal yang menjadi dambaan banyak orang di dunia. Kehidupan sosial yang tinggi, pendidikan yang lancar, dan jam tidur yang cukup. Kau hanya bisa mendapatkan dua di antara tiga pilihan itu. Kalau kau ingin memiliki banyak teman dan nilai tinggi, maka jangan berharap kau akan mendapat jam tidur cukup. Kalau kau ingin memiliki nilai tinggi dan jam tidur yang cukup, maka kau tidak akan banyak berteman. Kalau kau ingin memiliki banyak teman dan tidur yang cukup, berarti nilai tidak bisa berjanji banyak padamu.
Selama ini, Raa telah memiliki jam tidur yang cukup serta teman-teman yang baik, sebagai sebuah upaya rahasia untuk mempermudahnya menjalankan tugas rahasia. Hal itu berimbas pada kehidupan kampusnya. Namun saat ini, ketika ia hendak menyelesaikan semester akhir, tentu ia harus memilih.
Ia tidak mungkin berhenti menjalankan tugas. Itu adalah bagian dari kehidupannya. Namun, untuk terus bersosialisasi dan berteman dengan banyak orang? Raa menghela napas berat. Kemungkinan besar ia harus mengurangi hal itu beberapa bulan ini. Ia butuh jam tidur yang baik dan pengaturan waktu untuk mengerjakan tugas. Raa harus bergegas, melakukan banyak hal dalam satu langkah tepat sekaligus.
Ia memandang pesan dari Galih dan Siska di telepon genggamnya yang belum ia balas dari kemarin. Jemarinya bergerak menyentuh layar ponsel, secara bersamaan menghapus kedua pesan itu.
Raa sudah mengambil keputusan. Berat, memang, tapi itu adalah harga yang harus dibayar. Setelah merasa cukup beristirahat, Raa bangun dan kembali menghampiri komputernya. Ia membuka laman pencarian dan mengetikkan nama "Fajar Nagara" di sana.
Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa persiapan yang baik tidak akan mengkhianati hasil.