Kembali ke realita.
Ya, Raa akhirnya kembali ke realita. Perjalanan ke Yogya kemarin adalah short escape, alias pelarian sejenak dari padatnya jadwal yang sudah menunggu di Jakarta. Raa merasa, setelah keputusan ayahnya yang memberatkan hati, ia perlu mendamaikan diri terlebih dahulu sebelum dapat kembali melakukan tugasnya.
Ia harus memastikan kali ini tidak ada yang salah.
Raa berangkat ke Yogya pagi hari dan pulang keesokan sorenya, mengatakan kepada Ayahnya bahwa ia pergi menginap ke rumah seorang teman. Ia juga tidak memberitahu Kefas dan Pedro mengenai kepergiannya, karena ia takut mereka berdua akan menjadi khawatir dan memaksa ikut. Raa sebetulnya butuh sendiri.
Pagi ini, Raa sudah kembali segar. Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian kebangsaannya untuk berangkat ke kampus: kemeja kotak-kotak, celana lepis, dan sepatu kets. Mode pakaian itu sajalah yang membuatnya nyaman. Ia juga mengikat rambutnya menjadi satu ke dalam kuncir kuda, kemudian turun ke bawah untuk sarapan.
Makan pagi sudah tersedia di meja, walaupun meja itu tak berpenghuni barang seorang. Raa mengambil setangkup roti daging dan keju untuk dimakan, sementara tangannya sibuk menggulir media sosial di ponselnya.
Sebuah chat masuk.
Galih: Raa, hari ini masuk?
Raa mengabaikan notifikasi itu. Kemudian, ketika rotinya sudah hampir habis, chat lain masuk.
Dosen Pembimbing: Raa, bisa datang hari ini? Saya mau update tugas laporan akhir kamu.
Untuk yang ini, Raa tidak mungkin mengabaikannya. Ia segera membuka aplikasi perpesanan dan mengetikkan balasan: "Baik, Pak!"
Sarapan selesai. Raa segera mengenakan sepatunya, kemudian berjalan sendiri keluar gerbang untuk berangkat ke kampus. Ia tidak perlu pamit kepada siapa-siapa. Toh, tak ada siapa pun di rumah. Hanya satpam gerbang yang tersenyum padanya, mengucapkan selamat jalan dan hati-hati di bus kota. Raa balas mengucapkan salam.
Bus kota hari ini sangat padat, lebih padat daripada biasanya. Raa yang tidak mendapat tempat duduk terpaksa berdiri sambil terhimpit puluhan orang. Dalam hati, Raa mengeluh. Ia sebetulnya bisa saja meminta ayahnya membeli motor, atau meminta Kefas mengantarkannya dengan mobil, namun menurutnya cara-cara itu tidak seasyik berpetualang sendiri di bus kota. Lagipula, seringkali ia berhasil mengikuti beberapa target dan mendekati orang-orang tertentu dengan pendekatan di bus kota.
Bagi Raa yang tidak ingin terlihat mencolok, bus kota adalah salah satu penyamaran terbaik.
Sampai di kampus, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pelataran sudah ramai sekali dengan mahasiswa yang berseliweran memenuhi tugasnya masing-masing. Raa berhenti di sebuah pojok dan membuka notifikasi yang muncul di ponselnya.
Dosen Pembimbing: Saya tunggu di ruangan saya ya, Raa
Dosen Pembimbing: Setelah pukul 11.00, karena saya ada rapat sampai jam sebelas siang
Dosen Pembimbing: Terima kasih
Galih: Raaaaa, sarapan bareng yuk...
Ia membuka aplikasi perpesanannya, kemudian mulai membalas satu per satu. Kepada dosen pembimbingnya Raa membalas: "Baik pak, saya akan ke sana pukul 11.00. Terima kasih." Dan kepada Galih, Raa membalas: "Sorry, Lih, gue udah makan."
Masih ada waktu satu jam lagi sebelum bimbingannya dengan dosen. Raa memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kampus dan melanjutkan pengerjaan laporannya.
Perpustakaan itu terlihat begitu modern. Ada katalog yang telah tersistem di dalam komputer, pendingin ruangan, meja-meja untuk mengerjakan tugas sembari membaca buku, dan colokan listrik. Raa sudah lama tidak mengunjungi perpustakaan ini, walaupun sejujurnya ia adalah penggemar baca. Tugas rahasia dan kegiatan sosialisasinya lumayan menyita waktu.
Gadis itu duduk di sebuah meja dan mengeluarkan laptopnya. Ia mulai mengerjakan tugasnya. Tangannya lincah menari di keyboard, mengetik berbagai macam kata dan menelurkan hasil pikirannya. Ia senang sekali dengan topik penelitiannya hari ini, namun pengerjaan tugas laporan akhir ini memang lumayan membosankan bagi Raa. Sulit baginya untuk bertahan di hadapan laptop selama berjam-jam dan berkutat dengan huruf-huruf.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Raa melihat jarum jam di perpustakaan menunjuk pukul 10.50, maka ia mulai membereskan barang-barangnya dan memasukkan semua ke dalam tas. Ia harus segera berangkat ke ruangan dosen pembimbingnya.
"Duluan, Mbak," ucap Raa ke pustakawan yang sejak tadi memperhatikannya. Pustakawan itu tersenyum manis dan membalas sapaan Raa.
Ketika sedang berjalan ke ruangan dosen PA, Raa mendengar suara seseorang di belakangnya memanggil namanya. Ia menoleh sembari berjalan. Ternyata di belakang sana ada Siska berusaha mengejar.
"Sis, ntar dulu ya. Gue mau bimbingan lima menit lagi!"
"Gue mau ngajak makan!"
"Hah, apa? Gue gak denger! Lo chat gue aja ya!"
Dengan ucapan itu, Raa berjalan semakin cepat. Siska tertinggal di belakang. Raa tidak berminat menanggapi temannya itu dulu karena ia harus menyiapkan dirinya untuk bimbingan.
Sampai di ruangan dosen, Raa mengetuk pintu. Dosennya mempersilakannya masuk.
"Raa, perkembangan laporanmu sudah memuaskan," ucap beliau. "Tinggal beberapa bulan lagi yang harus kita kejar agar kelulusanmu bisa dirayakan awal tahun depan!"
Raa sumringah mendengar kabar itu. Kelulusan! Hal itu sudah sangat lama ia nanti-nantikan. Mereka membahas setiap detail dari laporan yang Raa tulis, mencatat perkembangan Raa, serta mengusahakan pembaharuan yang harus Raa selesaikan di pertemuan selanjutnya.
Bincang-bincang itu memakan waktu sampai sekitar satu jam. Selain membicarakan mengenai rencana penulisan ke depannya, sang dosen juga mengoreksi beberapa tulisan dalam laporan Raa yang tidak sesuai kaidah. Raa bisa mengingat jelas setiap kesalahan itu dibuat saat apa—ketika ia ketakutan bertemu ayahnya, ketika ia curiga ada pengkhianat dalam timnya, dan ketika Raa sedang sibuk-sibuknya pulang-pergi ke Yogyakarta. Sejujurnya, Raa sangat menikmati suasana pembelajaran yang intensional dengan dosennya ini. Kalau tidak ada tugas rahasia, Raa pasti sudah menjadi seorang mahasiswi yang ambisius dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan kampus. Ia sudah membayangkan menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, atau bahkan menjadi ketuanya, kemudian bergabung di organisasi debat dan jajak pendapat. Ia tertarik pada dunia politik dan bisnis. Namun, untuk saat ini semua itu terpaksa ditunda demi tugas yang lebih penting.
Tugas yang mempertaruhkan harga dirinya di hadapan ayahnya.
Setelah satu jam berlalu, dosen Raa akhirnya selesai memberikan petuah-petuah. Perut Raa keroncongan begitu kencangnya sampai dosen itu mengerti untuk menyudahi sesi hari itu.
"Jangan lupa kerjakan laporan sesuai timeline yang sudah kita sepakati ya, Raa," beliau berpesan, "dan tolong komunikasikan setiap permasalahan yang kau temui."
Raa mengangguk takzim. Ia kemudian membereskan laptop serta buku-bukunya ke dalam tas, pamit, dan segera berjalan menuju kantin untuk meredam kelaparannya. Rasa-rasanya, seperti ada tiga naga yang berebut ingin makan di dalam dirinya saat ini.
Raa segera menghampiri seorang Ibu penjual soto yang tokonya tidak terlalu ramai.
"Ibu, saya pesan satu mangkok ya, Bu."
"Siap, Neng."
"Kalo boleh, jangan pake lama ya Bu. Saya udah laper banget ini, baru selesai bimbingan—"
"Jangan pake apa?"
"Jangan pake lama, Bu."
"Enggak kok, mana ada soto yang pakai lada."
Raa menghembuskan napasnya sebal. "Iya, pokoknya gitu deh, Bu. Saya udah laper banget."
"Gorengan nih, Neng, pengganjal lapar."
"Ah maunya soto, Bu. Gak papa saya tungguin ini. Semoga gak pingsan aja."
Ibu penjual soto itu mengangguk-angguk, mungkin takut Raa pingsan, sehingga bergerak lebih fokus untuk meracik semangkok soto pesanan Raa. Perutnya berbunyi lagi. Raa berusaha berkata dalam hati untuk menahan laparnya, ketika ia mendengar sebuah suara.
"RAAA! Buset, ni orang dipanggil gak denger-denger!"
Raa menoleh dengan panik. Ternyata di sana sudah ada Siska, Haris, Galih, dan beberapa teman mereka yang lain duduk di satu meja. Raa balas berteriak, "SIS BENTAR, gue pesen soto dulu!"
Ia tidak menghiraukan jawaban teman-temannya. Ibu penjual soto mengerti kalau Raa semakin tidak sabar menunggu pesanannya kini sedang memeras jeruk nipis ke mangkuk soto milik Raa. Ia kemudian meletakkan mangkuk itu beserta saus dan alat makannya ke atas sebuah nampan.
"Nih, Neng, sotonya. Cepet dimakan biar gak dingin."
"Iya, Bu," ucap Raa, sambil buru-buru menyodorkan uang pas. Ia kemudian berjalan ke meja teman-temannya dan mengambil sebuah tempat duduk di sebelah Siska.
Siska sudah menunggu Raa, dan begitu gadis itu sampai disana, ia langsung menepuk pundak temannya itu dengan keras. "LO YA, gue panggil-panggil di lorong, di kantin, gak jawab-jawab!"
"Aduh, maaf maaf, Sis..."
"Sebel deh gueee!"
"Duh, Sis, maaf banget," ucap Raa, "gue laper banget, udah kayak mau pingsan. Kuping udah tidak berfungsi sebagaimana mestinya!"
Ucapan Raa membuat beberapa orang di meja itu tertawa. Siska masih merengut. Tawa itu kemudian ditengahi oleh Galih yang berkata, "Udah Raa, lo makan dulu. Itu sotonya ntar keburu dingin."
Raa mengangguk. Ia tida menyia-nyiakan kesempatan itu. Dalam sekali lahap, soto yang masih panas mengepul itu masuk ke dalam mulut Raa. Ia sangat menikmati setiap suapannya. Siska mulai melembut, dan ia bicara kepada beberapa teman lain mengenai gosip-gosip terbaru. Artis yang sedang naik daun, perceraian selebriti, pernikahan pejabat, dan lain sebagainya.
Raa memasang telinga dan mendengarkan sembari makan.
"Nih ya," Siska berapi-api menjelaskan seraya menunjukkan ponselnya, "Dia kemarin upload begini di i********:. Kontroversial banget, gak, sih?"
"Apa tuh, Sis?"
"Ini loh, si artis PIIIPPP yang lagi rame diomongin gara-gara dia ngepost lagi nginep bareng cowoknya—"
"Duh, gue gak kenal artisnya."
Siska menatap Raa dengan alis berkerut. "Masa gak tahu? Ya pokoknya gitu, deh, Raa. Selain itu, cowoknya juga baru aja digosipin selingkuh sama pemain sinetron PIIIPPPP. Lo tau gak?"
"Gue gak nonton sinetron..."
Kerutan di alis Raa semakin bertambah. "Gak nonton sinetron? Ngapain aja dong, lu?"
Raa mengendikkan bahu, tidak tahu harus menjawab apa. Ia lebih memilih kembali melahap sotonya yang nikmat dan meredam keganasan naga-naga di perutnya daripada berdebat dengan Siska mengenai gosip-gosip ini.
Ketika para perempuan sedang asyik bercengkerama, Galih menoel tangan Raa dari seberang meja.
Raa mengangkat kepalanya memandang Galih.
"Cepetan makannya," ucap Galih pelan.
"Kenapa?"
"Biar bisa ngobrol!"
Raa berkata dalam hati, aku ingin makan pelan-pelan saja! Aku capek habis bimbingan, soto ini enak banget, dan aku mau menikmati setiap suapannya dengan kesungguhan hati sebagai bayaran karena sudah bekerja keras menyelesaikan laporanku hari ini.... Namun ia tidak mengatakannya. Hal itu bisa menyakiti hati Galih. Ia sangat menghindari permusuhan di dunia kampus. Selain menyebalkan dan membuang waktu, Raa tahu sekali-sekali ia mungkin butuh bantuan teman-temannya mengenai tugas rahasianya.
Akhirnya, yang gadis itu lakukan hanya tersenyum. "Bantuin dong, kalo mau cepet!" Ucap Raa usil.
Tak disangka-sangka, Galih menganggap serius tantangan Raa. Laki-laki itu mengambil sendok yang ada di meja kemudian menarik semangkok soto Raa itu ke tengah meja. Ia mengambil sesendok.
Suit-suit mulai terdengar dari mulut teman-temannya. Mereka menggoda Galih sebagai laki-laki gentleman yang membantu perempuannya menghabiskan makanan, kemudian menggoda Raa yang terlihat sangat romantis karena makan semangkok berdua. Padahal, di dalam hati, Raa ingin berkata: Aduh, itu kan makananku! Aku yang pesan, aku yang bayar, aku yang lapar! Aku belum puas makan huhuhu masih mau nambah, perut masih belum kenyang, kenapa malah dimakan.... Tapi Raa tidak bisa mengatakan semua itu.
Galih sangat bangga dengan perlakuannya dan menatap Raa dengan pandangan bangga. Sepertinya, kalau diterjemahkan, pandangan itu akan berarti "Bagaimana menurutmu, Raa? Aku baik sekali, bukan?"
Raa menahan-nahan rasa sebalnya dan memilih tertawa. Semua teman-temannya ikut meledek. "Ah, bisa aja lo, Galih. Buat lo aja deh!"
Galih membentuk gestur jempol dengan jarinya, kemudian menarik seluruh mangkok soto itu ke dekatnya. Kalau di kira-kira, di dalam mangkuk itu masih ada setengah porsi soto yang belum Raa makan. Ia berusaha mengikhlaskan soto itu untuk Galih agar semua teman-temannya senang.
Saat itu sebuah kesadaran memasuki benak Raa. Ia sangat lelah hari ini, dan sangat lapar, namun kadang-kadang kepentingan dirinya sendiri harus ia korbankan demi pekerjaannya yang menuntut hubungan sosial yang erat dan baik. Ia sangat sebal dengan Galih, ia ingin menjauhi Siska, namun hal itu tidak mungkin dilakukan. Ia ingin protes, ia ingin marah, namun hal itu adalah larangan. Ia harus tersenyum ketika lelah, tertawa ketika marah .... Berbeda sekali dengan ketika ia sedang bersama dengan Jafra. Raa mengingat-ingat perasaannya ketika ia bercerita dengan Jafra kemarin di Yogya. Ia bisa sejujur-jujurnya menangis ketika sedang tertekan. Ia bisa tersenyum simpul tanpa paksaan. Bahkan mungkin di Yogya itulah kali pertama Raa bisa bercerita dengan lepas.
Rasanya seperti memiliki seorang teman.
Ketika Galih sudah selesai makan, Raa berdiri untuk mengantarkan mangkok soto itu kembali kepada sang penjual. Sempat terpikirkan olehnya untuk memesan satu mangkuk lagi, namun pasti kelihatannya aneh di mata teman-temannya. Karena itu, ketika Raa kembali ke meja mereka, ia mengangkat ponselnya dan berkata.
"Halo, Ayah? Aku masih di kantin nih, baru selesai makan. Apa? Oh, gitu. Oke deh kalau begitu. Aku ke depan sebentar lagi..."
Ucapannya menarik perhatian Siska. "Siapa yang nelpon Raa? Ayah lo?"
"Iya, nih, gue disuruh ke depan. Katanya mau dijemput karena ada acara keluarga."
"Oh gitu. Yaudah gak apa-apa Raa. Mau ditemenin?"
"Huhuhu, sedih banget deh, padahal masih mau nongkrong sambil makan sama kalian-kalian. Sorry banget, ya. Kapan-kapan kita harus catch up lagi, OK?" Raa tersenyum, mengambil tasnya, dan melambaikan tangan. "Dadah, gue ke depan yaa. Gak usah ditemenin!"
Siska, Galih, dan beberapa orang sibuk berdadah-dadah. Setelah menjauh beberapa langkah, Raa memasukkan kembali ponselnya yang sejak tadi mati itu ke dalam tas, kemudian mendekati kedai Ibu penjual soto.
"BU, Bu," Raa berbisik. "Saya pesen satu porsi lagi, tapi dibungkus, ya. Buat makan di jalan!"