Laki-laki itu membawa Fajar ke sebuah tempat makan yang sepi. Tidak seperti warteg kebanyakan, di tempat makan itu setiap meja dengan meja lain dibatasi dengan penyekat plastik tak berwarna yang membuat privasi pengunjung terjaga. Kelihatan sempit memang, namun begitu kau masuk ke dalam, ruangannya terasa segar berkat pendingin ruangan yang terus menyala.
Fajar dan laki-laki itu duduk di sebuah meja. Ia memesan makan siang untuk dua orang, kemudian kembali memperhatikan Fajar.
"Jadi kau, Fajar?" Tanyanya.
Fajar mengangguk. Ia sedikit tersinggung ketika tadi laki-laki itu tidak mengenali dirinya, padahal mereka pernah bertemu, namun ia sedikit maklum sekarang. Ia sudah bertambah tinggi, kulitnya bertambah coklat, perawakannya begitu lusuh dan kering terpanggang panas matahari.
Laki-laki itu mengambil sebuah tusuk gigi dan menggigitnya. Ia bertanya, "Siapa nama ayahmu?"
"Wira Nagara."
"Dimana kau melihatku pertama kali?"
"Ketika kau datang ke rumahku."
"Apakah itu malam atau siang?"
"Malam, tengah malam buta."
"Bagus."
Fajar menengok ke kanan dan ke kiri. "Tidak ada yang mendengarkan kita, bukan?"
Laki-laki itu mengangguk. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas, surat lusuh yang tadi Fajar tunjukkan kepadanya. "Surat ini, adalah isi surat yang pernah kuserahkan padamu malam itu?"
"Ya, Pak."
"Akhirnya aku mengerti kenapa kau mengejar-ngejarku seperti tadi."
"Boleh aku minta kembali surat itu, Pak?"
"Ah, ya, ya. Silakan."
Fajar melipat surat yang dikembalikan laki-laki itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Diam-diam, ia memperhatikan apa yang laki-laki itu lakukan. Ia kelihatan waspada. Ia memperhatikan orang yang masuk dan keluar pintu karena meja mereka berseberangan dengan pintu masuk. Pilihan meja yang bagus. Tak lama, seorang pelayan menghampiri meja mereka dan meletakkan minuman di sana.
Sebuah air mineral dan es teh manis.
Laki-laki itu mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan air mineral itu kepada Fajar. Makanan mereka belum selesai dimasak.
"Apa aku boleh bertanya, Pak?" Tanya Fajar.
Awalnya, laki-laki itu diam saja. Suasana seperti ini membuat Fajar resah. Ia akhirnya menjawab setelah beberapa lama menunggu, "Tunggu dulu."
Fajar menurut.
Pelayan datang lagi, mengantarkan dua piring nasi beserta lauk capcay. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih, lalu menyodorkan satu piring nasi untuk Fajar.
"Nah, setelah perut kenyang, baru kita bicarakan urusan kita."
Fajar mengangguk. Ia makan dengan lahap. Saat ini tepat tengah hari, dan makan siang enak di restoran yang dingin bukanlah kesempatan baik yang bisa ia dapatkan setiap hari. Suap demi suap, Fajar dan laki-laki itu makan dalam diam. Mereka hanya menoleh ketika ada tamu yang datang atau pergi dan memperhatikan setiap pengunjung lewat pintu.
Akhirnya, mereka berdua selesai makan. Fajar bertanya, "Apa aku sudah boleh bertanya?"
Laki-laki itu mengangguk. "Ah, ya. Silakan Fajar. Apa yang bisa ku bantu?"
"Umm, aku mau tanya. Kenapa kau terus memperhatikan pintu itu?"
Laki-laki itu tertawa. "Kau memperhatikan, ya? Bagus Fajar, bagus."
"Maaf kalau itu menganggu. Aku hanya penasaran."
"Tidak sama sekali, Fajar!" Ucap laki-laki itu. "Pengamatan itu hal yang bagus. Tenteramlah orang yang dikaruniai mata setajam elang, yang mampu melihat banyak dari ketinggian beribu-ribu kilo meter sekalipun."
Fajar terdiam. Ia mengerti apa yang laki-laki ini sampaikan. Walau begitu, rasanya begitu naif kalau ia harus mencurigai segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
"Nah, coba. Aku tanya padamu. Ketika kita masuk ke pintu tadi, apa yang kau lihat?"
"Meja-meja yang disekat. Bahannya plastik, mampu memberi privasi namun tidak meredam suara. Ada pendingin ruangan."
"Ah, ya. Kau pasti senang ada pendingin ruangan setelah berjam-jam berada di jalanan yang panas. Baik sekali penilaianmu. Selain itu, kau seharusnya juga bisa memetakan berapa banyak orang yang berada di dalam restoran dengan menghitung rata-rata pengunjung yang duduk di setiap meja: hanya dua sampai tiga. Aku juga mencari meja yang paling strategis untuk memperhatikan tamu-tamu lewat pintu."
"Siapa yang kau tunggu?"
"Ah, bukan siapa-siapa. Hanya seandainya. Aku ingin berwaspada bila ada seseorang yang ku kenal, atau ada orang yang masuk dengan pandangan menelusuri."
"Mungkin ... kebetulan?" Tanya Fajar ragu-ragu.
"Nah, nah, nah. Nak, ku beri tahu kau satu rahasia. Jangan percaya pada kebetulan. Di dunia ini, ada banyak saluran-saluran rahasia yang bekerja tanpa pernah diketahui masyarakat awam. Tidak ada yang kebetulan. Semuanya hanya rencana yang dibuat dengan teliti dan dikerjakan oleh tim operasi yang mumpuni."
Fajar mengangguk. Baiklah. Sudah cukup ceramahnya. "Apa aku boleh bertanya satu lagi? Ini pertanyaan yang sudah ku simpan sejak lama, ketika kau memberikanku surat itu."
"Silakan, Nak."
"Kau tahu dimana ayahku berada?"
"Hei, hei, hei," Laki-laki itu tiba-tiba saja bergerak gelisah. Ia merubah posisi duduknya menjadi semakin dekat dengan Fajar. Ia berbisik. "Kau tahu apa yang kau tanyakan?"
"Ya, Pak."
"Nak, ku harap kau berhati-hati dengan ini. Kau harus tahu apa yang kau tanyakan."
"Ya, aku tahu," Fajar menjawab tegas. Ia sudah mempertimbangkan setiap aspek, berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan mengerti dengan sungguh posisi Ayahnya sebagai buron. Namun ia betul-betul perlu menemui Ayahnya, demi kesejahteraan hatinya. "Aku tahu apa yang aku tanyakan. Apa kau tahu dimana ayahku berada?"
"Sayang sekali, Fajar, aku tidak tahu."
Fajar menghembuskan napas. Ia tidak terima. Setelah pengejaran dan penantian yang cukup memakan waktu ini, ia tidak terima kalau usahanya sia-sia. "Kau betul-betul tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, Fajar. Maafkan aku."
"Kau seharusnya tahu!"
"Hei, hei, Nak. Tenangkan dirimu. Jangan gunakan suara kerasmu itu di hadapanku," Laki-laki itu memperingatkan. Ia tidak marah, namun suaranya tegas. Fajar terdiam. "Kau tahu, Nak, kau seharusnya dihukum karena membentakku seperti itu."
"Maaf, Pak."
"Nyatanya aku memang tidak tahu. Mengapa kau bertanya padaku?"
"Bapak yang memberikanku surat itu."
"Kau tahu siapa aku?"
Fajar hendak membuka mulutnya. Ia hendak berkata, ia tahu, namun sesungguhnya ia tidak tahu. Ibunya berkata ia adalah teman ayahnya, namun Ibunya tidak sungguh-sungguh yakin dengan hal itu. Ibunya bahkan tidak percaya dengan laki-laki ini. Apakah Fajar mengenalnya? Dalam kebimbangan, Fajar menjawab. "Ya. Kau teman Ayahku."
"Bagaimana kalau bukan?" Tanya laki-laki itu. "Kau tidak bisa sembarangan membeberkan informasi mengenai orang-orang di sekitarmu, Fajar. Itu mencelakakan. Kau beruntung kau bertemu denganku."
"Siapa kau?" Tanya Fajar.
Laki-laki itu tersenyum. "Ada baiknya kita berkenalan. Kau tidak perlu tahu namaku, karena aku khawatir kau akan ceroboh dengannya. Yang pasti, aku adalah teman lama Ayahmu. Kami pernah sekelas ketika sekolah dulu, dan ia adalah salah satu murid berandalan favoritku. Hahaha. Kau harus tahu itu, Fajar, ayahmu adalah berandalan."
"Bagaimana kau mengenalnya?" Tanya Fajar lagi.
"Yah, aku tidak terlalu dekat dengannya. Ia nakal, sedangkan aku terlalu takut dengan resiko. Suatu kali ia bermain gitar di jam pelajaran kosong dan aku merasa kasihan, sehingga aku menasehatinya untuk berhenti bermain dan belajar saja. Ayahmu bilang, bermain gitar adalah caranya belajar. Ia menjelaskan kepadaku semua materi yang hari itu kami pelajari dalam sebuah lagu yang ceriwis, padahal ia tidak mencatat satu kalimatpun di buku. Sejak itu, aku berhenti menasehatinya dan berbalik mengaguminya. Aku rasa ia sangat cerdas. Ia tahu aku tertarik pada kepribadiannya, namun ia tetap melakukan apa yang biasanya ia lakukan. Aku tidak berani berkenalan lebih jauh. Begitulah kami akhirnya, teman sekelas, tidak begitu dekat namun penuh rasa kekaguman."
Fajar sangat tertarik mendengar cerita mengenai ayahnya, karena ia sendiri tidak pernah mengenal ayahnya. Ibunya sangat jarang bercerita. Ia baru tahu kalau Ayahnya juga suka bernyanyi selain berpuisi. "Ayah itu cerdas, ya?"
"Ya. Ayahmu ternyata sangat cerdas. Lulus sekolah, ia mendapat nilai yang sangat bagus untuk maju ke perguruan tinggi, namun mungkin ia terlalu malas atau apa. Ia tidak melanjutkan pendidikan. Ia malah bergabung ke kelompok-kelompok musik dan teater jalanan. Ia mendapat uang dari sana."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku melanjutkan kuliahku. Selama beberapa waktu aku tidak bertemu Ayahmu lagi, dan kami tidak saling berhubungan. Aku tahu belakangan kalau ia sedikit beken (terkenal) akibat tulisan-tulisannya dan tak lama kemudian ia menikahi ibumu, Sari."
"Apa Ayah mengundangmu saat itu?"
"Aku tidak menghadiri pernikahan itu karena aku sedang berada di luar kota. Namun Fajar mengirimkan undangan kepadaku. Alamat rumahku ia hapal karena memang terletak dekat dengan rumahnya, dan tidak pernah berpindah. Aku hanya tahu pernikahan itu dari para tetangga. Katanya mereka sederhana, namun cantik."
Sederhana, namun cantik. Itu memang frasa yang tepat untuk menggambarkan pernikahan ayah dan ibunya.
"Terhitung sejak saat itu, beberapa kali Wira datang ke tempatku untuk makan. Ia bercerita sedikit-sedikit tentang pelariannya, namun tidak pernah berani untuk bercerita banyak karena tahu aku terlalu takut pada resiko."
"Malam itu ... ia datang padamu?"
"Lebih tepatnya, malam sebelumnya. Ia mampir ke tempatku tengah malam dan menulis surat, menitipkannya untukmu. Kemudian ia tertidur sebentar di kursi depan. Begitu aku bangun, ia sudah pergi. Aku tidak sempat bertanya banyak hal padanya."
Fajar terdiam. Cerita itu masuk akal. Memang mungkin sekali Ayahnya membuat sebuah surat sebagai jaga-jaga, apabila ia tidak dapat menemui keluarganya, kemudian ternyata hari itu ia berhasil mengelabui pengejarnya dan mampir ke rumah untuk satu malam.
Ternyata, jawaban ini bukannya meredakan rasa penasaran Fajar. Di kepalanya justru berkecamuk semakin banyak pertanyaan mengenai tempat ayahnya berada dan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Ia heran, mengapa Ayahnya tidak mengatakan apa-apa ketika bertemu dengannya malam itu, dan malah berkuliah. Ia tidak mengerti mengapa Ayahnya tidak berhenti saja melakukan hal yang membuatnya dicari-cari pemerintah.
"Fajar."
"Ya, Pak."
"Kenapa kau mau tahu?"
"Maksudnya, Pak?"
"Kenapa kau mau tahu mengenai semua ini? Apa yang sedang kau lakukan?"
Fajar merendahkan suaranya. "Aku ingin mencari Ayah. Aku ingin bertemu dengannya."
"Itu bukan hal yang mudah. Kau mungkin hanya bisa menunggu ia datang menjengukmu di suatu malam yang tak terduga."
"Hal seperti itu tidak pernah terjadi!" Fajar protes. "Ia tidak pernah datang. Ia tidak pernah berkunjung. Aku kebingungan dengan surat yang ia berikan, entah apa maksudnya. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain menemuinya. Aku bahkan tidak melanjutkan kuliah!"
"Ah, kau tak berkuliah," laki-laki itu bergumam, "lagaknya persis Ayahmu."
"Ia yang menyuruhku, selain itu kami tidak punya biaya. Ia yang seharusnya bertanggung-jawab untukku!"
"Jadi apa yang kau lakukan saat ini, Fajar? Kau mengamen, hmm?"
"Ya, Pak. Aku mengamen untuk mencari tambahan uang."
"Begitu, ya." Laki-laki itu terdiam sejenak, kemudian menambahkan. "Kau sebaiknya berhati-hati. Ingat pesanku. Berkeliaran di jalan tidak selalu menyenangkan, Fajar."
"Ya, Pak."
"Kalau seandainya kau ingin bertemu Ayahmu—"
Ucapan laki-laki itu dipotong oleh suara penggorengan yang jatuh. Suaranya sangat nyaring berdenting-denting, membuat seisi restoran senyap seketika. Laki-laki itu sigap. Ia berdiri dengan tidak mencolok, namun tangannya berada di dalam saku celana. Fajar yang masih duduk berasa begitu bodoh dan kecil, karena di saku celananya hanya ada semprotan merica untuk perampok yang berbadan besar.
Bukankah seharusnya ia yang bersikap sigap dan waspada?
Setelah keheningan yang tiba-tiba itu, seorang pelayan muncul ke luar dan meminta maaf. Penggorengan jatuh di dapur, hanya itu. Tamu-tamu kembali tenang dan melanjutkan obrolan mereka sambil makan. Laki-laki itu berdiri untuk sejenak, kemudian duduk kembali ketika ruangan sudah ramai.
Ia terdiam sebentar menatap Fajar. Gestur tubuhnya mendekat.
"Kalau seandainya kau ingin bertemu Ayahmu," ia berbisik, "kau bisa mulai dengan mencari tahu di kelompok-kelompok musik dan teater. Ayahmu senang berada di antara teman-teman yang sefrekuensi dengannya."
Fajar mengangguk pelan. "Akan aku coba."
"Tapi ingat pesanku, Fajar," laki-laki itu bicara lagi, "Kau sebaiknya berhati-hati, sangat berhati-hati."
"Ya, Pak. Terima kasih."
Pembicaraan mereka selesai. Makanan sudah habis. Laki-laki itu berdiri dan menghampiri meja kasir untuk membayar, sementara Fajar mengikuti di belakangnya. Setelah semua beres, mereka berdua keluar restoran.
"Kau tahu, Fajar, saat aku seusiamu, aku selalu menunggu-nunggu keajaiban. Kini, aku bangga padamu, karena selain menunggu, kau juga bergerak terus mendekati Ayahmu. Kau menciptakan keajaibanmu sendiri. Semoga usahamu berhasil, Nak. Berhati-hatilah selalu. Aku menunggu kabarmu."
Fajar mengangguk. Laki-laki itu pergi menumpang sebuah mikrolet yang sedang lewat, meninggalkan Fajar yang berjalan kaki sendiri sembari merenungkan semua pembicaraan mereka. Ayahnya adalah seorang berandalan. Ayahnya juga tidak kuliah. Ayahnya suka mampir makan dan menulis surat itu untuknya. Ayahnya bisa dicari di kelompok-kelompok musik dan teater. Ayahnya sedang bersembunyi. Ayahnya ... Fajar semakin merindukan Ayahnya.
Di persimpangan, Fajar berhenti. Ia hendak menurunkan gitarnya untuk mengamen sekali lagi sebelum pulang dan mencari informasi lebih banyak, namun seseorang menepuk pundaknya halus.
"Hai, Jafra. Kita ketemu lagi."