(16) Mencari Ayah

1897 Words
Rumah Widi. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Jangkrik sibuk mendendangkan suaranya. Udara dingin terasa menusuk tulang. Rumah itu terlihat begitu kecil dan rapuh, dengan dinding-dinding dari kayu dan triplek. Fajar mengetuk pintu rumah itu dari luar dengan tiga kali ketukan. Tok. Tok. Tok. Ia menunggu kakaknya membuka pintu dengan bersimpah keringat. Perjalanan dari rumahnya ke sini lumayan menghabiskan tenaga, ditambah ia harus berlari demi menghangatkan diri. Ketika akhirnya Widi membukakan pintu, Fajar segera masuk. "Kenapa buru-buru begitu?" "Supaya gak kemaleman." Widi menyipitkan matanya. "Ah, boong." "Bener! Supaya cepet, soalnya di jalan dingin." "Kamu takut hantu, ya?" Ucap Widi. "Enggaklah, enak aja!" "Terus, kenapa lari-lari? Aneh banget." Fajar nyengir. "Rasanya kayak ada yang ngejer." "Ahhh," Widi menggoda adiknya. "Bener kan, kamu takut hantu!" Fajar tertawa. Ia tidak benar-benar takut pada hantu, namun imajinasinya sangat liar. Kadang-kadang ia merasa ada yang memperhatikannya pada ujung jalan, padahal di sana gelap dan sepi. "Kak, habis ini temenin aku pulang ke rumah, ya?" Ucap Fajar. Widi tersenyum usil. "Huuuu, ada hantuuu~" "Aku gak takut hantu!" "Terus takut apa, dong?" "Kakak gak tau, sih, aku tadi dirampok," Fajar mengadu. "Hah? Dirampok?" "Iyaaa, di perjalanan pulang." "Lalu gimana? Kamu gak apa-apa, kan?" "Gapapa, Kak," Fajar menjawab. "Ada yang nolongin aku." "Syukurlah." "Lalu aku langsung ke rumah temen, minjem buku sambil makan di sana. Terus langsung ke sini." "Jadi Ibu belum tahu, ya, kamu dirampok?" "Belum," Fajar memandang kakaknya, "Kalau Ibu tahu, dia bisa menyuruhku berhenti mengamen." "Aku juga sudah hampir menyuruhmu berhenti." "Tapi itu hal biasa yang terjadi di jalan, Kak," ucap Fajar. "Aku tidak kehilangan apa-apa tadi." "Bagaimana dengan lain kali? Bisa saja mereka kembali lagi dengan s*****a tajam dan persiapan yang lebih oke. Bisa-bisa kamu terluka." "Aku gak apa-apa, Kak. Aku hari ini dapet beberapa puluh ribu, lumayan buat nabung." Widi mengangguk. Ia sendiri sebetulnya senang melihat adiknya punya kegiatan. "Yah, aku sih tidak masalah. Yaudah, yuk, kita pulang." "Eh, sebentar, Kak." "Kenapa?" Fajar menarik Widi duduk kembali. Ia berbisik, "Aku mau mencari Ayah." Widi mengerutkan kening. Berita itu bukan berita yang biasa ia terima setiap hari, maka ia butuh beberapa menit untik memprosesnya. "Mencari Ayah?" "Iya. Aku yakin dia tidak jauh dari sini. Aku mau bertemu dengannya." "Untuk apa?" Widi bertanya. Suaranya tegang. "Kamu tidak perlu merecokinya dengan urusan kuliah lagi, Fajar." Fajar mengangkat bahunya. "Aku tidak merecoki Ayah. Ia sudah seharusnya memikirkanku." "Sudahlah," Widi menghembuskan napas. "Tidak usah mempersulit keadaan." "Aku hanya ingin mendengarkan Ayah bercerita mengenai alasan-alasannya melakukan ini semua." Widi terdiam. Ia pernah memikirkan hal yang sama, bertahun-tahun yang lalu, namun semua itu hanya berakhir sebagai angan-angan yang tak pernah terwujud. Widi harus bekerja. Widi harus mengurus adiknya. Ia kemudian menikah. Fajar? Ia punya banyak waktu untuk melakukannya sembari mengamen di jalanan. Ia punya otak yang cerdas dan kaki yang kuat melangkah. Widi tak tahu apakah menghalangi Fajar merupakan respon yang tepat. "Sebaiknya kita tanya Ibu." "Itulah kenapa aku bicara denganmu," Fajar melanjutkan omongannya. "Aku sepertinya tidak mau memberi tahu Ibu." "Kenapa?" "Ia akan khawatir. Ia sering begitu, menatapku dengan sedih dan memintaku agar tidak pergi kemana-mana." "Ibu takut," Widi menyimpulkan, "Ia tak mau kau hilang juga, seperti Ayah." "Tapi aku tidak kemana-mana!" "Ayah juga tidak, Fajar, pada awalnya," Widi menyahut. "Ia hanya membuat puisi, dan kini ia bahkan tidak bisa menampakkan wajahnya tanpa disergap polisi." Fajar menerima fakta itu dengan sedih. Ia hanya ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan Ayahnya, mungkin sedikit bernyanyi dan bermain gitar, dan mendengar bahwa Ayahnya bangga. Itu cukup. Menemukan Ayahnya di tempat persembunyiannya juga akan membuktikan kecerdasan Fajar. Ia begitu ingin melakukannya. "Yah, kalau begitu, Kakak sepakat kan kalau kita tidak usah memberi tahu Ibu?" Widi mengangguk. "Yaudah. Ayo kita pulang, Ibu pasti nungguin." Fajar mengikuti Widi yang berjalan keluar rumah. Ia menenteng gitarnya, dan Widi menggandeng tangan Fajar. Mereka melalui g**g-g**g kecil menuju rumah Ibunya. Lampu-lampu jalanan memancar redup, mengiringi perjalanan kedua kakak-adik ini. Di tengah jalan, mereka mendengar bunyi botol terjatuh. Jalanan sepi. Tidak ada orang. Fajar mulai menggenggam tangan kakaknya lebih erat dan berkata, "rasa-rasanya ada yang mengikuti kita." Widi tidak menjawab. Ia terus berjalan dengan langkah konstan, berusaha tidak panik. Tidak ada apa-apa lagi setelah itu. Mereka berdua terus berjalan. Begitu mendekati rumah, Fajar dan Widi melihat Ibu mereka berdiri di depan pagar. Ia menatap ke kiri dan ke kanan. Fajar berlari mendekati Ibunya, kemudian berkata, "Ibu! Aku pulang." "Ah! Fajar. Akhirnya kamu pulang juga." "Dia ke rumahku dulu, Bu. Kangen, katanya." Fajar memonyongkan bibirnya untuk meledek Widi, membuat Ibunya tertawa. "Ya sudah. Masuk dulu, Widi?" "Ya, Bu." Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Fajar ingat waktu ketika ia bertemu dengan Raa di depan rumah ini, dan ia mengaku kalau ia hanya datang untuk mengantarkan jahitan. Hari itu ia merasa janggal, mengapa Raa bisa kebetulan berada di depan rumahnya setelah tadi pagi ia juga kebetulan berada di kampusnya? Ia awalnya tidak mau betul-betul memikirkannya. Namun, ia kembali merasa janggal ketika tadi Raa kebetulan ada ketika ia sedang dirampok. Apa yang sedang perempuan itu lakukan? "Fajar, ayo makan." "Iya, Bu." Fajar berusaha mengingat-ingat kembali momen ketika ia melihat ayahnya dulu. Semua begitu tiba-tiba dan tidak terencana. Ia bahkan terkejut mendapati seorang asing masuk ke rumahnya dan memeluk Ibunya. Bagaimana ia bisa kembali berhubungan dengan ayahnya? Mereka bertiga makan dalam diam. Fajar tiba-tiba tersentak. Ia ingat seorang teman lama ayahnya yang datang menyerahkan surat untuk dirinya. Ibunya bilang, laki-laki itu tidak dapat dipercaya, namun Fajar merasa seharusnya ada alasan mengapa orang itu datang. Apakah pengalih perhatian? Apakah hanya untuk mengecoh mata-mata? Suara hati kecil dalam dirinya berkata, justru orang itulah mata-matanya. Ia sedang mengendap masuk ke rumah bagai seorang kawan dekat, namun matanya jeli menatap setiap sudut dan menunggu suatu tanda. Ia sedang mencari dan hendak melapor. Ia bukannya orang baik. Namun Fajar tidak mau menyerah. Masih ada kemungkinan yang sama besarnya kalau suara hatinya salah. Fajar ingin mencari ayahnya, dan pertama-tama, ia harus mencari orang itu! "Fajar, ayo dimakan. Kenapa diam saja?" "Eh, iya Bu," Fajar menyahut. Ia tersadar dari lamunannya dan kembali menyuap nasi ke dalam mulutnya. "Bu, ingat malam ketika Ayah pulang ke rumah?" Sari mengangguk. Pandangannya masih tetap tertuju pada makanan yang ada di piringnya. "Apa Ibu ingat, sebelum Ayah datang, ada seorang laki-laki yang terlebih dahulu mengetuk pintu dan mengaku sebagai teman Ayah?" "Ya, ya. Ada. Kenapa?" "Ibu tahu siapa namanya?" "Tidak, Ibu tidak tahu. Dulu ia memang teman ayahmu." "Apa Ibu tahu dimana ia tinggal?" "Fajar—" "—Hei, kamu mau ngapain?" Sari menyela Widi yang baru saja hendak menegur. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Fajar menggeleng. Ia meneruskan makannya dalam diam, menunggu Sari berhenti memberondongnya dengan pertanyaan. "Fajar?" "Ya, Bu." "Apa yang hendak kau lakukan?" "Aku hanya ingin pergi ke rumahnya, itu saja. Barangkali laki-laki itu menyimpan sebuah informasi mengenai Ayah." Sari menggeleng tegas. "Tidak usah." "Kita tidak tahu apakah ia baik atau jahat, Fajar." "Aku hanya penasaran, kau tahu, mengenai surat yang pernah ia sampaikan kepadaku." "Surat apa?" Tanya Sari. "Kan, waktu itu dia memberikan surat, Bu. Katanya titipan dari Ayah yang harus diserahkan pada saat darurat." "Kau belum cerita," tuduh Widi. "Kau sudah membukanya?" "Sudah." "Boleh aku melihatnya?" Tanya Sari. Fajar mengangguk. Ia belum sempat bicara pada Ibunya mengenai surat ini. Ia mengeluarkan surat itu yang selalu ia bawa-bawa di dalam kantung celananya. Surat itu sudah sangat kusut, kertasnya begitu lecek akibat terlipat terus-menerus. Fajar menyerahkan selembar kertas itu kepada Ibunya. Sari dan Widi melongok ke kertas yang Fajar buka. Disitu tertulis: Fajar, jangan kuliah. Aku mau bertemu denganmu. "Fajar, jangan kuliah. Aku mau bertemu denganmu." Widi dan Ibunya bertatap-tatapan. Hanya ada satu kalimat tertulis di sana, namun kalimat itu sungguh membingungkan. "Itulah," Fajar bicara, "Yang membuatku ingin menemukan orang itu. Mungkin ia mengenal Ayah. Mungkin Ayah benar-benar hendak menemuiku." Widi dan Sari masih terkejut, dan mereka berdua tidak tahu harus mengatakan apa. Udara terasa semakin dingin. Setelah senyap yang cukup lama, akhirnya Sari berkata, "Berhati-hatilah, Fajar." Fajar berjalan menyusuri sepanjang deretan rumah di sekitar rumahnya. Ia sudah melakukan ini selama beberapa hari sambil memasang mata dengan penuh perhatian. Ibunya tidak tahu sama sekali dimana teman ayahnya itu tinggal, namun Ibunya cukup yakin orang itu tinggal di sekitar rumahnya. Apabila Fajar terus berkeliling di sana, ia yakin ia dapat bertemu dengan orang itu suatu kali. Tidak mungkin ia terus mengurung diri di dalam rumah, kan? Setelah beberapa putaran, Fajar menyerah. Ia memutuskan untuk pergi mengamen saja ke tempat ramai, seperti di dekat minimarket dan stasiun. Fajar pergi ke sana dengan berjalan kaki dan menenteng gitar di punggungnya. Kali ini, Fajar sudah membawa semprotan merica yang diberikan oleh Widi, kakaknya, sebagai perlindungan tambahan apabila kawanan perampok kemarin menghampirinya lagi. Ia mengantongi semprotan merica itu di saku celana kanan agar mudah diambil, dan dekat dengan surat lecek dari Ayahnya. Di dekat stasiun, Fajar membuka gitar dan memakainya di bahu, kemudian mulai bernyanyi. Kali ini seorang pejalan kaki memintanya bermain sebuah lagu romansa, mengenai cinta masa muda yang layu termakan usia. Fajar bernyanyi dan memetik gitar, membuat beberapa orang berhenti dan memperhatikan. Nada-nada lagu itu menyayat hati. Liriknya apalagi. Sembari bernyanyi, mata Fajar beralih fokus antara petikan gitar dengan orang-orang di sekitarnya. Beberapa dari mereka menaruh uang kecil di topi yang ia letakkan. Beberapa dari mereka hanya lewat begitu saja. Dari ujung matanya, tiba-tiba Fajar melihat seorang pria berjalan lewat dari stasiun. Ia tidak menoleh kepada Fajar, namun rasanya ia mengenali pria itu. Kesadaran merasuki benaknya dalam sepersekian detik. Laki-laki itu adalah teman ayahnya yang ia cari-cari selama ini! Mereka bukannya bertemu di dekat rumah, malah di persimpangan stasiun. Begitu saja Fajar menghentikan permainan gitarnya, menarik topinya yang berisi uang receh, kemudian berlari kencang mengejar orang itu. Beberapa penontonnya protes, namun mereka tidak bisa bilang apa-apa. Fajar cepat sekali menghilang. Mereka hanya melanjutkan perjalanan ke Stasiun. Fajar, di lain pihak, masih berlari dengan kepayahan sambil berteriak-teriak. "BAPAK! PAK!" Orang itu mungkin tidak punya anak, jadi ia tidak menoleh, atau ia sedang memikirkan hal lain sehingga tidak mendengarkan suara Fajar yang nyaring memanggil-manggi. Fajar sama sekali tidak tahu nama orang ini sehingga tidak bisa berteriak dengan lebih spesifik. Beberapa orang di jalan ikut-ikutan berlari dan mengejar laki-laki itu, membantu Fajar. Mereka berteriak bersama-sama, "PAK! BAPAK!" Fajar sendiri tertinggal agak belakang, karena gitar di punggungnya menyulitkan gerak dan memperlambat larinya. Beruntung, dengan bantuan orang-orang di jalan itu, laki-laki yang ia kejar berhenti dengan terheran-heran. Orang-orang di jalan itu hanya menahannya dengan tangan, bingung apa yang harus dilakukan dengan orang ini, karena mereka juga tidak tahu mengapa ia dipanggil. Apakah ia pencuri? Apakah ia pencopet? Atau apakah mereka salah mengejar orang? Fajar terengah-engah menghampiri laki-laki itu. Ia menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di jalan yang segera bubar begitu mengetahui kejar-kejaran itu hanya urusan pribadi saja. Fajar menoleh, memandangi laki-laki itu. Wajahnya masih terheran-heran. "Ada apa ya, Mas, rame-rame begini?" "Bapak inget saya?" Laki-laki itu memandang Fajar dari atas ke bawah. Seorang pria tanggung, tampaknya pengamen, dengan wajah berminyak dan rambut lepek? Hmm. Gitar tersandang di punggungnya yang kurus. "Siapa ya?" Tanyanya. Fajar mengerti. Ia terlihat jauh berbeda dengan tampilannya ketika segar di rumah. Dengan tenang, ia mengeluarkan sebuah surat dari saku celananya. Surat yang kemarin malam ia tunjukkan kepada Ibu dan kakaknya. Mata laki-laki itu melebar ketika melihat surat yang ditunjukkan oleh Fajar. Ia mengenali surat itu. Fajar berkata, "Ini, Bapak. Saya adalah orang yang dititipi surat ini." Laki-laki itu menjawab dengan bisikan kecil. "Fajar?" Fajar mengangguk. Ia melihat laki-laki itu mengangguk kecil, kemudian tangannya menarik lengan Fajar ke suatu tempat. "Bapak?" "Ikuti saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD