(15) Raa Menyesali Kebodohannya

1983 Words
Ya. Raa menyesali kebodohannya. Ia baru saja kembali dari Yogya, dijemput oleh Kefas dan Pedro yang begitu emosi sampai tak dapat berkata apa-apa. Di dalam mobil ketegangan terasa sangat mencekik karena tidak ada yang bersuara. Perjalanan mereka pun berlalu begitu saja, tak seperti biasanya yang dipenuhi dengan canda dan ceritera. Begitu sampai di Jakarta, Raa tidak pergi ke kamarnya. Itu adalah tujuan terakhir. Ia langsung turun dari mobil dan berjalan menuju lift, kemudian turun dan menghampiri kantor ayahnya langsung di lantai lima bawah tanah. Kefas dan Pedro mengikutinya di lift berikutnya. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Waktu yang sangat dini. Namun mereka semua segar dan terjaga. Ayahnya duduk di meja kerja dengan sweater biru muda bermerek dan celana panjang, didampingi oleh Suarez yang sibuk dengan komputer di sebelahnya. Raa berdiri diam. Kefas dan Pedro, berdiri di belakang Raa, juga diam. Sayup-sayup angin dari pendingin udara mendirikan bulu kuduk. Ayah Raa memandang anak gadisnya itu dengan mata yang terlihat sangat lelah. Semua orang bisa melihat lipatan di bawah matanya yang menebal dan kerut-kerut yang semakin dalam di wajahnya. Ia sudah semakin tua. "Raa, duduk," ucapnya lembut. Raa duduk dengan tegang dan terbata-bata. "Sudah makan?" Tanya ayah Raa. "Sudah, Ayah." "Pergi istirahat sana." Raa menunduk. Ayah Raa tidak berkata apa-apa lagi, hanya diam menanti respon Raa. Semua perkataannya diucapkan dengan lembut, memang, namun ada kegetiran yang terasa. Raa tahu ini adalah salahnya, dan ia semakin merasa menyesal ketika tahu ayahnya tidak sedikitpun menyinggung pekerjaan di pertemuan pertama mereka. Ia memutuskan untuk bicara. "Ayah, maaf." Ayah Raa diam. Ia tidak menanggapi perkataan putrinya. Raa mencoba sekali lagi. "Ayah, maafin Raa." Memang naluri seorang Ayah tidak dapat mengalahkan emosinya. Ayah Raa kembali memandang Raa dan mengangguk-angguk pelan. "Raa, pergilah ke kamarmu. Tidur, sana." Gadis itu salah tingkah. Ia hendak masuk ke kamarnya dan beristirahat, namun di sisi lain, ia ingin memperbaiki semua kesalahannya kepada ayahnya. Raa menatap ayahnya lama. Laki-laki itu tetap tenang dan menjaga pandangan matanya untuk meyakinkan Raa. "Istirahatlah, Raa. Nanti kita bicara." Akhirnya Raa mengangguk. Ia beranjak pergi ke kamarnya, menaiki lift sekali lagi dan langsung rebah begitu bertemu dengan kasur. Tubuhnya memang terasa sangat lelah dan sakit, mengingat ia telah berlari beberapa kilometer jauhnya. Raa tidak sadar matahari mulai meninggi dan siang telah muncul, sampai ia mendengar suara-suara ribut yang mengganggu tidurnya. Ia mulai membuka mata sedikit demi sedikit. Tidak ada orang di kamarnya. Ia mempertajam pendengarannya dan masih tidak bisa menangkap lebih banyak kata selain bisik-bisik belaka, namun ia tahu sesuatu: ada yang sedang mengobrol di depan pintu kamarnya. Raa berjalan mendekati pintu. "Sssttt, diem, dodol!" "Aduh! Jangan injek kaki gue!" Kini ia bisa mendengar bisik-bisik itu dengan lebih jelas. Dengan sekali hentak, Raa membuka pintu kamarnya dan mendapati Kefas dan Pedro sedang bergulat. Kefas menarik kemeja Pedro sedangkan Pedro menjambak rambutnya. Raa sontak tertawa. Mereka berdua bergegas kembali ke posisi mereka masing-masing. "Eh, hai, Raa," "LO NGAPAIN?" Raa masih tertawa terbahak-bahak. Ia mengingat jelas kondisi kedua temannya tadi. "Umm, kita bawa ini," jawab Kefas. Ia menyodorkan sebuah kresek belanja bertuliskan salah satu minimarket yang lumayan besar. Raa mengintip. Di dalamnya, ada sekotak s**u, beberapa biskuit, coklat, serta keripik. "Buat apa nih?" Tanya Raa. "Buat lo." "Kenapa gitu?" "Biar happy, Raa." Mata Raa menyipit. "Kalian mau bikin gue sakit gigi?" "Enggak, lah!" Kali ini Pedro menjawab, tegas. "Kok lo gitu, sih, kan kita niatnya baik." "Tapi kok tumben? Emangnya ada apa?" Raa terus memberondong mereka dengan pertanyaan. Ini adalah peristiwa sekali seumur hidup bagi Raa, karena jarang sekali ada seseorang yang memberinya hadiah secara tiba-tiba seperti ini. Kefaslah yang menjawab pertanyaannya. "Abis gue kasian sama lo, pergi subuh pulang subuh, kena omel segala lagi!" Pedro mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Kefas. Mendengar jawaban teman-temannya, sontak saja hati Raa terenyuh. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana teman-temannya itu melihat dirinya, namun perkataan mereka barusan seakan-akan keluar dari hati seorang sahabat yang tulus. Raa akhirnya tersenyum, sebuah senyum kecil yang tidak dipaksakan, dan ia berkata, "Masuk dulu, yuk." Kefas dan Pedro menurut. Mereka duduk di couch (dalam bahasa Indonesia: sofa, atau kursi malas) yang ada di kamar Raa, kemudian mengambil kresek belanja yang Raa letakkan di meja. Kefas membuka sebuah coklat dan membaginya dengan Pedro. "Loh," Raa menyahut, "Katanya buat gue?" "Pajak," Ucap Kefas sambil mengunyah batangan coklat itu di mulutnya. Pedro mengangguk-angguk. Mereka bertiga duduk di ruangan Raa yang cukup besar dan membuka beberapa biskuit dan keripik. Sambil makan, mengalirlah obrolan yang sedikit absurd namun menyenangkan ini. "Gue mau nanya, deh," ucap Raa, "Tadi kalian bilang kalian kasian sama gue. Maksudnya apa?" "Soalnya lo suka pulang malem—" "—dan pergi subuh-subuh—" "—Padahal lo juga harus kuliah—" "—dan sering dimarahin lagi sama bokap lo!" Kefas dan Pedro berebutan menjawab. Raa menggeleng. "Gue gak pernah dimarahin, kok. Dia selalu ngomong baik-baik sama gue," Raa meringis, "tapi emang agak serem sih, mukanya." Kefas dan Pedro mengangguk-angguk. "Tapi tadi kita kira lo bakal diamuk," ucap Kefas. "Hah? Diamuk?" Pedro menyenggol Kefas keras. Kefas mengaduh. Raa menyadari maksud mereka. "Hayooo, nyembunyiin apa? Gue mau diamuk?" Pedro akhirnya menjawab. "Yah, tadinya bokap lo marah besar banget di kantor. Padahal gue sama Kefas lagi tidur. Katanya, kita kehilangan jejak Wira Nagara yang udah jelas banget kelihatan di tanah. Kita berdua disuruh bawa lo kesini cepet-cepet, dan kita takut lo bakal dimarahin besar-besaran. Di-amuk." Raa baru mengetahui hal itu. Ia menyimpannya dalam hati, kemudian mengangguk-angguk. "Oh, gitu." "Lagian Raa, lo tuh kemana 'sih kemarin?" Tanya Kefas. "Kok bisa gak berhasil nangkep Wira Nagara?" Pedro menyenggol Kefas lagi, tapi kali ini ia sudah siap. Ia menahan Pedro dan mendorongnya balik, menyebabkan laki-laki itu terjerambab jatuh ke lantai. Pedro mengaduh. Raa nyengir melihat kelakuan unik teman-temannya. Setelah jeda sejenak, ia menjawab. "Gue terlambat, coy. Waktu sampe ke alamat yang dikasih Suarez, rumahnya kosong. Gue tahu itu baru aja ditinggal beberapa jam yang lalu, karena aspalnya masih panas bekas mobil dan pintu di dalam belum tertutup rapat." "Terus lo ngapain?" "Gue tadinya mau masuk, tapi pagernya digembok. Akhirnya gue manjat." Kefas dan Pedro mengangguk-angguk seru. "Terus, terus?" "Terus gue ketauan." "Hah?" "Gue ketauan sama seseorang di dalam. Gue gak ngerti, ternyata ada yang masih di sana, tapi yang pasti dia sendirian. Perempuan. Dia berteriak, maling, maling, sampai banyak tetangga dateng dan gue diringkus satpam." "Itu di perumahan?" "Iya, di perumahan besar, sekitar jam 12 malem." "Lo gak salah alamat, kan?" Raa mengerling. "Ya, nggak dong. Gue udah cek. Mungkin orang itu emang disuruh tinggal di sana sebagai kamuflase." "Terus, gimana dong? Lo ditangkep?" "Iyaa, gue dibawa ke pos satpam. Perempuan itu tetap gak keluar, jadi gue gak bisa lihat mukanya dengan jelas. Lagian gue juga panik. Di sana gue ditanya-tanya, tapi gue diem aja." "Yaiyalah—" "—masa lo ngaku—" "—kalo lo lagi mata-mata." Raa mengangguk. "Akhirnya, karena gue gak mau jawab, satu orang satpam minta gue ketik nomor telpon orang tua gue. Gue kasih nomor Ayah. Akhirnya ditelpon sama dia dan disuruh jemput gue di sana." "Oh, pantesan dia marah-marah." "Rencananya hampir kebongkar." "Yah, gitu deh," jelas Raa. "Gue juga gak nyangka sih bakal jadi kayak gini." "Tapi, Raa," Pedro berkata lagi, "gue mau nanya deh. Lo kan berangkat dari sini siang, harusnya sampai sana sore gitu kan, ya? Kok bisa udah tengah malem lo baru ke sana? Emangnya jauh?" "Kalo jauh, kan kita bisa nganterin," tambah Kefas. "Biar lebih cepet." Raa menggeleng. "Kalo ini, emang salah gue. Pas di jalan, ada orang yang kena copet, jadi gue bantu dia dulu. Terus ngobrol deh." Alis Pedro terangkat satu ketika bicara kepada Raa. "Ngobrol?" Kini, ganti Raa yang tersenyum misterius. "Iya. Ngobrol." Kefas dan Pedro menatap teman mereka ini. Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam semalam, dan tidak semuanya mereka pahami. Yang mereka tahu, Raa pasti lelah. Raa pasti letih. Mereka bahkan mengira Raa begitu sedihnya sampai tak mau keluar kamar dan menangis sendirian! "Yaudah, kalo gitu, gue mau ke Ayah," ucap Raa. Kefas dan Pedro mengangguk. Sebentar lagi jam makan siang dan Ayah Raa pasti hendak membicarakan banyak hal dengan putrinya. Mereka berdua keluar kamar. Raa beranjak ke kamar mandi dan memperbaiki penampilannya. Saat ia keluar, seluruh air mata dan keluh kesah yang tadi tampak di situ telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh semangat dan keteguhan hati yang terpancar dari wajahnya. Raa keluar kamar dan berjalan menuju lift. Ia menekan angka lima. Lift bergerak ke bawah, menuju kantor Ayahnya. Ketika pintu terbuka, Raa dapat melihat ayahnya yang sedang duduk membaca buku. Ayahnya adalah seorang yang pintar, dan itulah alasan kenapa ia berhasil mendapat tugas ini. Raa berjalan menghampiri Ayahnya dengan langkah-langkah mantap, lalu duduk di kursi di hadapannya. Ayah Raa mendongak. "Hai, Raa," ia berkata, "Sudah makan?" Raa menggeleng. "Ayo makan, Ayah." Ayah Raa mengangguk. Ia mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa hal di sana. Raa tahu, ayahnya sudah sangat jarang keluar dari kantor dan kamarnya, sehingga setiap kali ia membutuhkan sesuatu, ia selalu mengontak seorang pelayan untuk membawa barang kebutuhan ke bawah. Khusus untuk hari ini, makan siang akan disajikan di bawah tanah. Tak sampai lima menit, seluruh hidangan sudah dipindahkan dari meja makan di atas sana oleh beberapa orang pelayan. Raa dan Ayahnya mendapat piring dan peralatan makan masing-masing. Setelah beres, mereka berdua segera mulai makan dan mengambil lauk yang mereka ingini. Ayah Raa tidak banyak bicara, maka Raa menunggu-nunggu dalam hati. Mendengar cerita Kefas dan Pedro tadi, ia tahu sebetulnya Ayahnya punya segudang amuk bagi dirinya. Raa makan dengan tenang dan diam. Akhirnya, waktu yang ia tunggu-tunggu tiba juga. Di tengah-tengah makan, Ayah Raa berkata, "Raa, apa yang menyebabkanmu ditangkap satpam seperti itu?" Mau tak mau, Raa harus mengatakan yang sebenarnya, sehingga ia sudah menyiapkan jawaban yang baik. Ia menjawab, "Ayah, maaf. Aku mengira rumah itu sudah kosong, namun pintu depan terbuka, sehingga aku memanjat pagar untuk masuk dan malah diteriaki pencuri." "Kalau pintu depan terbuka, jelas tidak mungkin rumah itu kosong." "Tapi, ayah—" "Ya, ya, sudahlah," Ayah Raa menghentikan ucapan Raa. "Tidakkah kau memata-matai lebih dulu beberapa jam sebelum itu, setidak-tidaknya untuk mengetahui ada berapa orang di dalam?" "Maafkan aku, Ayah," ucap Raa, "Aku baru sampai di sana mendekati tengah malam, dan waktuku tidak banyak. Aku mengambil keputusan spontan saat itu." "Tapi kenapa, Raa?" Ayah Raa kembali bertanya, nadanya mulai meninggi. "Kenapa kau terlambat, kenapa kau gagal? Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk memergoki Wira Nagara. Setidak-tidaknya, kau bisa mendapat informasi dari sana. Dengan perlakuanmu ini, bukan saja kita sudah kehilangan jejak, melainkan mereka juga tahu kalau mereka sudah terendus. Mereka akan segera menghilangkan jejak. Mereka akan mengosongkan rumah dan pergi tanpa identitas. Mereka akan mengingat dirimu, mencatat dan menyebarkannya agar banyak orang tahu kalau kau sedang melakukan kegiatan mata-mata." "Tapi bisa saja mereka menganggap aku hanya seorang pencuri," Raa membela dirinya. "Seorang perempuan berniat mencuri di tengah malam dengan pakaian seadanya, sambil memanjat pagar dengan terang-terangan? Tidak, tidak. Aku rasa mereka tidak sebodoh itu!" "Ayah, maafkan aku," ucap Raa. "Kau bisa saja disergap di jalan dan dibawa pergi, Raa. Mereka akan semakin curiga dan ganti mengejarmu. Kau bisa dimata-matai, kau bisa diselidiki, dan lebih parahnya lagi, kau bisa dikejar. Ini bukan urusan main-main. Kau harus serius menghadapinya." "Ya, ayah, aku akan berhati-hati." Jeda sejenak. Ayah Raa mengatur emosinya. Ia memperhatikan anaknya yang menunduk dengan makanan di hadapannya. "Kau yakin tidak mau berhenti saja, Raa?" "Tidak!" Raa menjawab tegas. "Tidak mau, Ayah. Aku mau lakukan tugas ini sampai tuntas." "Kau bisa beristirahat kapanpun engkau mau." "Ya, Ayah, tapi aku tidak mau." Raa bertekad kuat. Ayah Raa tidak dapat mengatakan banyak hal untuk menghentikannya. Sebagai gantinya, ia memberikan penawaran. "Ini kesempatan terakhir, Raa." "Maksudnya, Ayah?" "Ini kesempatan terakhirmu. Aku tidak mau mengambil resiko, mempertaruhkan semuanya lagi. Kalau kau gagal lagi, aku putuskan kau harus berhenti, tidak ada penolakan." Raa awalnya ragu. Ia diam selama beberapa saat, mempertimbangkan penawaran yang Ayahnya berikan. "Hanya itu, atau berhenti sekarang Raa. Aku memberi dua pilihan." "Baiklah, Ayah," Raa menarik napas, "Aku mengambil kesempatan terakhirku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD