Raa sudah berencana menjadikan pertemuannya dengan Galih menjadi lebih menyenangkan dengan mengajak beberapa teman. Ya, beberapa teman, dan yang ia maksud tentu saja adalah Siska dan Haris. Mereka setuju dengan ajakan Galih dan merasa tidak ada yang salah.
Namun, ketika Galih sampai di halaman depan kampus untuk menjemput Raa dan malah berhadapan dengan tiga orang yang menunggu-nunggu, ia begitu heran. Ia sampai turun dari mobil dan menghampiri ketiga orang itu kemudian berkata, "Yuk, Raa. Jadi, kan?"
"Jadi, dong. Yuk, Sis, Haris."
Mereka bertiga berdiri dan mengikuti Galih berjalan ke mobilnya. Galih masih bingung, namun tidak bisa menolak. Raa berjalan bersama dengan Siska di belakang, sementara Haris berjalan di sebelahnya sambil bermain HP. Ketika mereka sampai di mobil, seperti seorang yang sudah akrab mereka langsung saja masuk dan mengambil tempat masing-masing. Haris duduk di sebelah kursi pengemudi, sementara Raa dan Siska duduk di belakang.
Galih menjalankan mobilnya. Martabak Orion tidak terletak terlalu jauh dari kampus, sehingga mereka tidak perlu menghabiskan waktu lama.
"Lo udah pernah kesini, Lih?" Tanya Raa. Galih menggeleng. Ia masih diam di balik kemudinya, dan Raa menyadari ada yang salah.
"Ntar bensin patungan ya, Lih," ucap Raa Lagi. Galih sontak saja menggeleng dan memandang Raa dari kaca spion belakang. "Gak usah lah, Raa. Kayak sama siapa, aja."
"Lah, emang siapa?" Ucap Siska. Ia meledek Galih dan menyenggol Raa, namun keduanya hanya tertawa.
"Kok lo diem aja sih, Lih? Lagi banyak masalah?" Tanya Haris. Walau sedari tadi ia menatap ponsel, kini ia memperhatikan Galih dengan lebih lekat.
Ditatap begitu, tentu saja Galih salah tingkah. Ia berkata, "Enggak. Udah, udah, gak usah nanya-nanya, ah! Udah sampe, nih."
Benar saja, toko Martabak Orion itu sudah terlihat di depan sana. Galih menurunkan teman-temannya terlebih dulu di pintu masuk, kemudian pergi untuk memarkir mobilnya. Raa, Siska, dan Haris segera masuk untuk memilih meja.
"Eh, tapi, kenapa si Galih tadi diem aja ya, Raa?"
"Kayak orang ngambek, gitu. Lo lagi berantem?"
"Hehehehe," Raa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "gue belom bilang sama Galih kalo gue mau ngajak kalian."
Siska dan Haris bengong. Untuk sedetik, mereka terheran-heran dengan perbuatan Raa, namun pada detik selanjutnya, mereka sudah tertawa terbahak-bahak. "IH, pantes dia marah!" Seru Siska. "Lo tadinya mau ngedate berdua, ya? Parah!!!"
"Gapapa kan, Lih?" Raa bertanya, tepat sekali ketika Galih datang dan duduk di hadapannya.
"Gapapa kenapa?"
"Gapapa, kan, gue ngajak Siska sama Haris?" Tanya Raa sambil tersenyum. Galih menarik kursi di sebelah Raa dan menjawab, "Yaaa, masa gak boleh. Udah sampe di sini semua."
Siska dan Haris tertawa mendengar celetukan Galih. Terang sudah, laki-laki itu tadinya hendak datang untuk mengajak Raa makan berdua, namun Raa malah mengajak teman-temannya. Itu sebuah trik lama yang Raa gunakan untuk menghindar dari percakapan awkward dengan laki-laki.
Setelah semua sudah duduk, seorang pramusaji mendatangi meja mereka sambil membawakan menu. Haris memesan martabak coklat, sementara Siska dan Raa memesan satu martabak keju s**u untuk dimakan berdua. Galih? Ia memesan sebuah martabak red velvet kacang dan martabak keju s**u satu lagi (yang katanya untuk Raa kalau dia masih mau makan). Cie.
"Gimana kuliah lo, Raa?" Tanya Siska.
"Aman sih," Raa menjawab, "Gue lagi sibuk kerja nih belakangan, jadi tugas akhirnya ngadat. Suka gak sempet—"
"Bolos mulu dia!" Celetuk Galih.
"Enggak—" Raa hendak membalas, namun segera dipotong lagi oleh Galih.
"Dosen nyariin, tugas gak dikerjain...."
Raa merengut. "Lihat sisi bagusnya, dong! Kan gue kerja!"
Siska, melihat kedua temannya ini saling berinteraksi, jadi senyum-senyum sendiri. "Haris, Haris, lo mau pergi aja, gak? Katanya deket situ ada yang jualan es krim enak."
"Kan lo udah pesen martabak," jawab Haris datar, pandangannya tak lepas dari telepon genggam. Ah, Haris gak peka. Siska mendenguskan napas sebal sementara Raa meledek Siska yang tak berhasil menjebaknya dalam situasi berduaan dengan Galih.
"Tapi serius, Raa," Siska akhirnya bertanya. Mungkin ia lelah diledek terus oleh Raa, sehingga hendak membalas dengan sebuah pertanyaan jitu. "Lo kerja apa sih sebenernya? Gue bingung."
"Iya, gue gak pernah denger juga lo cerita," Galih menambahkan.
Raa, dipojokkan begitu, segera memutar otak. Tak mungkin ia menyatakan pekerjaan sesungguhnya, 'oh, kerjaku adalah menjadi mata-mata dan mencari buronan rahasia negara.' Tidak, tidak, kecuali ia rela dicincang oleh Ayahnya. Raa berpikir lagi, sementara keringat mengalir di dahinya karena Siska dan Galih masih memelototinya seperti dapat membaca pikirannya.
Kerjaan, kerjaan, kerjaan ... ah, bilang saja aku sales!
"Gue sales rumah!"
Siska dan Galih kini melotot semakin lebar. "Hah? Sales? Jadi kerjaan lo itu ... promosiin rumah?"
"Heehhh, jangan sembarangan! Sales kan kerjaannya gak cuma promosi. Gue 'kan baru mulai, nih, jadi gue harus listing alias bikin daftar rumah-rumah yang dijual dan disewakan, lalu gue hubungi pemiliknya buat nawarin jasa gue. Gue bikin data lengkap tentang spesifikasi setiap rumah lalu gue bikin materi promosinya. Kadang-kadang, gue harus nemenin calon customer untuk cek lokasi dan kondisi rumah, ketemu sama pemiliknya ... banyak, kan!"
"Kan lo jurusan psikologi Raa. Kenapa jadi sales rumah?" Tanya Siska lagi.
"Yaa, sambil-sambil aja, Sis. Bentar lagi kan gue lulus, nih, biar udah ada pengalaman kerjanya."
"Lagian bagus, kok, cewek yang mau kerja tuh," Galih menambahkan. "Keren menurut gue."
Siska menampilkan wajah seperti seorang cewek kebelet pipis, padahal ia hanya sedang menahan diri untuk tidak meledek Raa, dan perempuan yang dipuji sendiri malah tidak peduli. Ia mengangguk-angguk setuju tanpa memandang Galih.
"Gue emang keren."
Percakapan mereka disela oleh martabak-martabak yang datang, diantarkan oleh pramusaji restoran. Satu martabak keju s**u untuk Raa dan Siska, martabak coklat untuk Haris, dan dua martabak besar-besar untuk Galih yang sepertinya sudah tidak sabar. "Asikkk," begitu gumamnya. Para perempuan langsung melihatnya dengan dahi berkerut, bukan karena porsi makannya yang besar, namun juga karena harga dua buah martabak itu sepertinya dapat membuat kantong bolong selama satu bulan.
"Met makannn!" Gumam Galih lagi. Raa dan Siska mengangguk-angguk, memotong martabak keju s**u itu menjadi dua agar adil. Mereka kemudian menatap Haris yang sepertinya tidak sadar di hadapannya sudah ada martabak coklat yang sangat menggoda. Telepon genggam seakan menempel di telapak tangannya.
"Ris, makan dulu, Ris. Sibuk amat lo daritadi. Kerja juga, lo?" Galih menegur. Ia mendorong piring martabak Haris lebih dekat sampai menyundul tangan Haris yang memegang ponsel. Haris mendongak.
"Kan lagi ngumpul, Ris. Makan dulu aja," ucap Galih lagi.
"Eh, iya-iya," Haris akhirnya menyimpan ponselnya ke dalam tas. "Maaf ya, guys. Gue main HP mulu ya?"
Siska dan Raa menatap Haris dengan poker face andalan mereka, seakan-akan berkata, 'yaiyalah, Haris. Menurut lo sendiri gimana?'
"Hehehehe. Maap-maap, yah. Yuk, ah, makan!" Haris menyambut martabak coklatnya dengan tangan terbuka. Mereka semua mulai makan, melahap martabak-martabak gendut itu dengan penuh semangat.
Sambil makan, Galih masih berusaha menginterogasi Haris. Ternyata sejak tadi ia tidak memperhatikan satu percakapan pun yang terjadi di meja makan itu, seakan-akan ia tidak hadir di situ. Ia baru tahu Galih tidak berencana mereka makan, Raa sedang bekerja sambil kuliah, dan lain-lain, dan lain-lain ...
Ia berkata, "Oh, gituu... Yaudah gak papa, Lih, kalo gitu gue sama Siska cabut aja..."
"TELAT!" Bisik Siska galak di kupingnya. Ia sedang sibuk makan martabak keju tebal yang sangat enak dan tidak sudi pindah tempat.
Kemudian Haris berkata lagi, "Oh, gitu. Terus kuliah lo gimana, Raa? Bisa dikerjain sambil kuliah?"
Raa menyipitkan matanya lalu berucap s***s, "GAK TAU GUE, Ris. Udah lupa!"
Dipergoki begitu, Haris lantas salah tingkah. Ia berkata, "Duuuhhh, gue ketinggalan banyak banget, yak. Maaf, ya."
"Emang lo lagi ngapain 'sih, Ris?" Tanya Galih.
"Gue lagi pusing banget, nih," Haris memulai ceritanya. Dari sana, bergulirlah sebuah informasi yang teman-temannya baru ketahui: Haris punya seorang adik tiri yang tinggal di Yogya, dan ia tahun ini baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Berita baiknya, adik tiri Haris itu berhasil masuk ke Universitas Negeri Yogyakarta lewat jalur seleksi mandiri, namun berita buruknya, ia dituntut oleh keluarga besarnya untuk membantu pembayaran biaya kuliah adik tirinya ini.
"Berapa emang, Ris, biaya kuliahnya?"
"Gue belom tahu, dia baru bakalan ikut acara penerimaan mahasiswa baru dua hari lagi. Tapi, gue baca banyak banget artikel di Google dan katanya biaya kuliah tiap semesternya sekitar lima juta rupiah."
"Lumayan, ya," Raa menyahut. Lima juta rupiah itu standar, namun buat anak kuliahan seperti mereka, uang dua juta sebulan saja sudah cukup sulit disediakan.
"Belom lagi ada uang pangkal, nih. Sekitar lima juta juga. Gue harus kirim begitu ada info jelas dan gue pusing banget, dapet duit dari mana. Gue belakangan 'kan cuma kuliah. Belom kerja. Kenapa 'sih harus gue yang disuruh bayarin? Gue pusing banget, deh..."
Raa dan Siska bertatapan. Kini keadaan berubah, tidak ada lagi tatapan sinis kepada Haris, melainkan rasa iba dan kasihan karena tuntutan yang begitu besar ditimpakan kepadanya. Galih sendiri mengerti dilema posisi Haris. Ia dianggap sudah cukup dewasa untuk menanggung biaya kuliah adik tirinya, karena 'toh adik tiri itu bagian dari keluarga juga, namun Haris sendiri saja masih sulit memenuhi kebutuhan-kebutuhannya setiap hari.
"Gue mau cari kerja nih, Raa. Lo kalo ada info kabarin gue, ya."
Raa mengangguk. Siska di sebelahnya menatap Haris dengan berkaca-kaca, seakan hendak menangis. Di dalam benak Raa, ada sesuatu yang lebih daripada sekadar rasa kasihan. Ia memikirkan sesuatu yang lain.
"Dua hari lagi ya, Ris, penerimaan mahasiswa baru?" Tanya Raa.
Haris mengangguk. "Dua hari lagi, baru gue dapet info detailnya tentang pembayaran uang kuliah. Semoga gue dapet kerja secepatnya deh. Ibu gue ikut kepikiran kalau begini caranya."
Raa hanya mendengar Haris mengatakan, 'dua hari lagi'. Dua hari lagi ada acara penerimaan mahasiswa baru di Universitas Negeri Yogyakarta, dan bukan hanya adik tiri Haris saja yang diterima di sana. Anak Wira Nagara juga baru saja diterima di sana!
Mungkinkah Raa dapat menemukan anak itu di antara ribuan anak-anak lain? Mungkinkah ia mendapat informasi lebih lengkap, atau mendapat berita-berita rahasia, atau setidaknya, menjadikan anak itu jaminan untuk mengejar Wira Nagara? Mungkin anak itulah kuncinya. Ia bisa mengandalkan anak itu untuk menelusuri tempat persembunyian Wira Nagara sekarang. Sementara Haris bercerita, Raa terus membayangkan kesempatan besar yang baru saja ia pikirkan.
Ah, terima kasih Haris! Kini Raa tahu ia akan membolos lagi dua hari ke depan. Ia harus berangkat ke Yogyakarta dan mengejar anak Wira Nagara!
"Kalo bisa gue bantu, gue bantu yaa, Ris. You know you can count on me," Hibur Raa. Haris mengangguk-angguk, kemudian Raa berkata lagi. "Oh iya, BTW, gue boleh minta kontak adik tiri lo gak Ris?"
Tanpa curiga atau keheranan sedikitpun, Haris setuju. Ia mengirimkan sebuah kontak dengan nama dan nomor telepon ke ponsel Raa, yang langsung disimpan Raa ke daftar kontaknya. Kalau kau melongok sedikit ke ponsel Raa, kau akan melihat sebuah nama: Adik Tiri Haris, Mata-Mata Cabang Yogya.
Dua jam setelah itu, semua martabak sudah ludes. Galih ternyata menghabiskan kedua martabak itu sendiri dan Raa sama sekali tidak ditawari untuk memakan martabak keju lumer itu (yang tadinya akan Galih berikan). Mereka berempat diantarkan kembali ke rumah masing-masing oleh mobil Galih, dan Raa adalah yang terakhir turun. Perempuan itu tersenyum manis kepada Galih, yang tiba-tiba saja membeku, kemudian berkata, "Makasih ya, Lih. Seneng deh temenan sama lo."
Raa balik badan, masuk ke dalam rumah. Galih masih membeku. Setelah sadar, ternyata Raa sudah tidak ada di hadapannya dan ia ditinggalkan sendiri dengan mesin mobilnya yang menyala. Ia segera menjalankan mobilnya, kembali ke perjalanan menuju rumahnya sendiri.
Raa melihat dari balik jendela bahwa Galih sudah pergi, kemudian ia mengangkat teleponnya.
"Halo, Kefas. Siap-siap ya, kita akan ke Yogya dua hari lagi. Bawa semua yang kau bisa, termasuk mobil yang paling cepat. Ya, ya, ajak Pedro juga. Sampai ketemu."
Telepon dimatikan. Rencana dibuat. Sebuah perjalanan kembali akan dimulai.