"Kesempatan tidak akan datang dua kali, kesempatan tidak datang dua kali..."
Fajar mengucapkan kata-kata di atas di dalam hati, sebagai mantra agar dia tidak tiba-tiba saja berhenti dan berbalik pulang ke rumah. Kata-kata itu adalah kata-kata yang diucapkan Ibunya ketika dua malam lalu ia menyampaikan niatnya, dan kata-kata itu juga Ibunya katakan lagi ketika ia hendak pamit pergi tadi pagi.
Kesempatan tidak akan datang dua kali!
Ia sedang berjalan kaki dari rumahnya ke Universitas Negeri Yogyakarta yang letaknya tak terlalu dekat. Kakinya terasa pegal dan keringat seperti tak henti-hentinya mengalir di dahi, padahal ia belum mencapai bahkan setengah perjalanan. Namun setidak-tidaknya, Fajar tidak harus mengeluarkan uang untuk ongkos. Ia merasa sedang berhemat.
Acara penyambutan mahasiswa dimulai pukul delapan pagi, dan saat ini mungkin sudah jam tujuh. Matahari mulai naik. Kemeja putih yang ia kenakan mulai basah di punggung dan ketiak, maka Fajar merapalkan mantra itu semakin kencang. Ia sudah bertekad hendak hadir, walau dengan sedikit pengorbanan. Ia akan hadir dan menjadi salah satu calon mahasiswa baru di Universitas Negeri Yogyakarta.
Fajar tahu ia sudah semakin dekat ketika jalanan mulai ramai dengan anak-anak tanggung seusia dirinya yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Bedanya, kebanyakan dari mereka berlalu-lalang dengan sepeda motor dan mobil-mobil keren. Ia tidak malu, sungguh, karena situasi semacam itu sudah cukup sering ia alami. Ia hanya sebal dengan kerumunan kendaraan itu yang membuat macet dan menyulitkan pejalan kaki seperti dirinya. Beberapa kali ia harus berjalan di pinggir sekali hanya karena mereka memaksakan kendaraannya saling menyalip.
Akhirnya, ia sampai ke gedung kampus. Beberapa senior sudah mengarahkan mereka untuk masuk ke aula dan Fajar mengikuti arahan itu dengan patuh. Sepertinya sudah hampir jam delapan. Acara hampir dimulai. Di dalam ruangan itu, tempat-tempat duduk yang ditata rapih sudah hampir terisi penuh, dan Fajar mengambil sebuah tempat di dekat pintu keluar. Ia tidak tertarik untuk berbaur dan mencari tempat, karena belum tentu ia akan ada di sini selamanya. Mungkin ini adalah kesempatan pertama dan terakhirnya menginjakkan kaki di kampus ini.
Setelah semua lengkap, dan jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima, acara dimulai. Seperti biasa, ada doa-doa yang dipanjatkan, nyanyian hymne, beberapa penampilan dari unit kegiatan mahasiswa dan kata sambutan dari orang-orang penting. Fajar berusaha menikmati semua dengan penuh perhatian, membuka telinganya lebar-lebar dan mendengarkan setiap ucapan dengan nikmat. Mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan ini lagi. Mungkin ia tidak akan bisa mendengarkan pidato ini lagi.
Acara penyambutan mahasiswa baru itu berlangsung megah, mewah, namun sejujurnya membosankan. Jam menunjukkan pukul dua belas ketika semua acara dihentikan sementara untuk istirahat makan, dan Fajar tidak sabar hendak pergi ke luar dan memperhatikan orang-orang lagi. Setelah jam makan siang, mereka dipinta untuk kembali ke ruangan itu kembali, dan Fajar mengira-ngira sepertinya itu adalah kesempatan yang baik untuk membicarakan mengenai biaya kuliah.
Yah, kau tahulah. Dengan perut kenyang dan mata setengah mengantuk, kau tidak akan bisa banyak protes selain menyetujui saja apapun yang dikatakan.
Sementara Fajar berjalan ke depan, ia melihat seorang gadis yang menengok kesana-kemari dengan kebingungan. Biasanya, ia akan menghindari tipe gadis-gadis seperti ini. Mereka suka berpura-pura ceroboh, sok kehilangan barang, atau betul-betul d***u. Kadang-kadang ada gadis yang melakukan hal itu untuk menarik perhatian laki-laki. Kadang ada yang dengan sengaja bertingkah begitu agar diperhatikan. Fajar tidak tahu, ia tidak pernah mau berurusan dengan mereka sebelumnya. Namun kali ini, entah karena dorongan apa, Fajar menghampiri gadis itu dan bertanya, "Halo, ada yang bisa dibantu?"
Gadis itu beralih menatap Fajar. Tadinya, ia sedang kelabakan seperti seorang cacing kepanasan mencari seseorang di tengah ribuan mahasiswa baru. Namun kini ia menatap tanpa berkedip. Fajar risih. Dia ini kenapa sih, begitu pikirnya. Fajar bertanya sekali lagi karena gadis itu tidak langsung menjawab, "Halo, Mbak, ada yang bisa dibantu?"
"Eh, iya. Maaf. Saya lagi nyari adik temen saya karena kita udah janjian makan habis ini. Tapi ini orangnya banyak banget, saya jadi bingung."
"Orangnya gimana?"
"Dia tadi pakai kemeja putih, celana bahan hitam. Rambutnya rapih."
Fajar memutar mata. Betul, kan, kadang-kadang mereka bisa bertingkah menyebalkan seperti ini. Semua orang, termasuk dirinya saat ini, mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam. Ia kembali bertanya, "Apa ada ciri-ciri spesifik? Misalnya seperti, umm, nama?"
"Namanya Nicholas!" Raa berseru tertahan. "Ya, aku hampir saja lupa memberitahumu. Namanya Nicholas Tan, adik tiri dari Haris Tan."
Fajar mengangguk-angguk. Ia tidak berkenalan dengan siapapun seharian ini, tapi mungkin nama itu bisa membantu. Setelah menarik napas lumayan banyak, ia kemudian berteriak dengan volume penuh. "Nicholas! Nicholas Tan!"
Beberapa orang menoleh, namun sepertinya mereka bukan Nicholas Tan karena mereka begitu saja melengos pergi lagi. Sekali lagi Fajar berteriak, "Nicholas! Nicholas Tan!"
Kemudian datanglah seseorang yang dicari-cari itu, Nicholas Tan, dengan kemeja penuh keringat seperti Fajar tadi pagi. "Ya? Saya? Oh, halo, Kak Raa."
"YA AMPUN! Nick, kamu kemana aja? Kakak nyariin kamu!"
"Aku juga nyariin kakak daritadi," jawab Nicholas, "aku muter-muter gedung sampai keringetan gini, tapi tetep gak ketemu. Kok bisa gak keliatan, ya?"
"Lain kali cobalah berteriak," gumam Fajar.
"Apa?" Tanya Nick.
"Eh, tidak."
"Karena aku sudah menemukan Nick dan kami akan makan bersama, maukah kau ikut denganku? Aku yang traktir, deh, sebagai ucapan terima kasih. Mau, gak?" Ajak Raa. Ia menggandeng Nick dengan tangan kirinya seperti seorang Ibu yang tak hendak kehilangan anaknya lagi.
Mendengar tawaran itu, lekas-lekas Fajar mengangguk. Ia sebetulnya tidak mau terlihat terlalu kepingin, tapi mau bagaimana lagi, ia memang lapar. Ia juga tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli makan siang kalau tidak kepepet. Tawaran gadis ini sepertinya baik juga, karena 'toh Fajar tidak akan bertemu dengannya lagi lain kali. Maka, seperti anak bebek, Nick dan Fajar mengekori Raa yang berjalan ke luar kampus menuju pedagang pinggir jalan terdekat.
Fajar diam saja, tidak berencana bicara dengan Nick. Nick juga sepertinya masih berusaha mengatur napasnya yang satu-satu setelah berlari mengelilingi gedung, jadi ia juga tidak berselera mengobrol. Setelah sampai, Raa memesan tiga mangkuk bubur untuk mereka bertiga dan membayar seluruh pesanan itu.
Fajar bersyukur dalam hati. Ia bisa makan gratis siang ini.
Sambil makan, gadis yang tadi dibantu oleh Fajar menanyakan beberapa pertanyaan kepada Nick.
"Bagaimana tadi?" Katanya, yang dijawab Nick dengan, "Oke-oke saja."
"Seru gak?"
"Seru."
"Udah dapet temen?"
"Belom."
Raa mendengus frustasi. Anak ini sama sekali tidak membantu! Ia menoleh sedikit dan aha, ternyata ada anak laki-laki lain yang bisa diganggu. Raa kemudian memandang Fajar lalu bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa acara tadi menyenangkan?"
"He-em."
"Kau dapat teman di sana?"
"Tidak juga."
"ASTAGA!" Raa mengeluh. "Kalian ini kenapa, sih. Tidak ada yang serius menjawab pertanyaanku. Aku 'kan hanya mau berteman."
"Aku lapar, Kak Raa. Masih lama, ya?" Tanya Nick. Raa kemudian memberi kode pada penjual agar lebih cepat sedikit memasak buburnya, entah bagaimana caranya, sehingga kemudian penjual itu langsung mengirimkan tiga mangkok bubur kepada kami.
"Nah, nah," Raa kembali berkata. "Kalian kan sudah dapat buburnya. Sekarang bantu aku sedikit, dong."
Nick mengangkat wajah, mulutnya penuh dengan bubur. Fajar juga sedang sibuk menyendok buburnya yang panas namun nikmat itu. Raa tidak memperhatikan mereka karena ia sekarang bertanya, "Kalian kenal seseorang yang bernama Fajar?"
Nick senang. Ternyata bantuan yang Raa minta bukan apapun selain mendengarkannya berbicara macam-macam lagi, dan ia segera saja menggeleng. "Uh-huh. Aku tidak mengenal siapa-siapa di dalam sana."
Sementara Fajar, ia ingin juga menggeleng seperti Nick dan melanjutkan makan, namun sepertinya ia kenal seseorang yang bernama itu. Hei, itu kan dirinya sendiri! Untuk apa perempuan ini mencari dirinya, secara spesifik pula menyebut namanya?
"Eh, umm, Fajar siapa yang kau maksud?" Akhirnya Fajar bertanya.
Raa senang dengan pertanyaan itu, sehingga menjawab lagi dengan semangat. "Fajar Nagara! Kau tahu? Nagara, ya, dengan huruf 'a', bukan 'e'. Ku dengar ia diterima di universitas ini. Kau kenal dia?"
Fajar menggeleng kalem. Oh, Nagara. Tidak, tentu saja dia tidak mengenalnya. "Aku tidak mengenal seseorang dengan nama seperti itu."
"Yeah, namanya aneh sekali," Raa mengakui, "tapi aku ada perlu dengannya. Apa tadi kau mengingat seseorang dengan nama Fajar?"
"Tidak tahu," Fajar menjawab, "dan menurutku nama Fajar itu tidak aneh."
Raa mengendikkan bahunya. Fajar bersiap-siap angkat kaki. Ia sadar sekarang, gadis yang ia hadapi ini bukan seperti gadis kebanyakan, walau harus diakui ia sedikit d***u. Karena ayah Fajar adalah seorang buron yang entah berada di mana, wajar saja kalau ia sekarang mulai dicari-cari. Tapi mereka tidak tahu seperti apa wajahnya, atau ciri-ciri pribadinya. Yah, itu salah satu keuntungannya. Ia memutuskan untuk berbohong dan mencari alasan kalau-kalau gadis itu bertanya lagi, tetapi ternyata ia fokus saja memakan buburnya.
"Aku sudah selesai," ucap Nick. "Aku mau kembali ke dalam."
"Aku juga," Fajar mengaku. "Tidak boleh sampai terlambat. Da-dah."
Mereka berdua berjalan ke dalam gedung, tidak saling bicara, dan meninggalkan Raa di belakang dengan buburnya yang belum habis. Raa memperhatikan kedua laki-laki itu dengan erat dan menaydari kalau ia belum bertanya siapa nama laki-laki yang tadi menolongnya. Sepertinya ia tidak kenal dengan Nick.
Kemarin, Raa menghubungi Nicholas dan memperkenalkan diri sebagai teman Haris. Ia akan berada di Yogya pada saat acara penerimaan mahasiswa baru, karena kebetulan ia punya saudara di sana, dan ia menawarkan diri untuk mengantar Nicholas ke sana. Adik tiri Haris itu sedikit bingung, karena apa gunanya ditemani ke acara penerimaan mahasiswa baru, tapi ia mengiyakan juga. Keputusan yang lumayan, karena ternyata Raa muncul dengan sebuah mobil sport keren dan supir yang lucu.
Raa juga sudah bilang kepada Haris, yang hanya mengiyakan saja, tentang recananya ini. Setelah semuanya beres, Raa mengatakan kepada Kefas dan Pedro kalau ia harus hadir sebagai seorang wali siswa yang supel agar bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya.
Ketika acara dimulai lagi, Raa menyelinap masuk ke dalam gedung aula. Seorang dosen di depan sana sedang menjelaskan tentang alur pendaftaran ulang yang harus ditempuh mahasiswa baru. Raa melirik-lirik meja penerimaan tamu dan bertanya kepada seorang panitia, "Apa ada seorang anak bernama Fajar Nagara di sini?"
Panitia itu balik bertanya. "Apa anak ibu diterima di UNY?"
"Ya, ya, diterima. Apa dia hadir?"
"Apa Ibu mengantarkannya tadi pagi?"
"Duh, kalau saya tahu saya tidak bertanya. Apa kau tahu seseorang bernama Fajar Nagara?"
"Apa dia mahasiswa baru?"
Ck. Raa mendecak. Ia membuang-buang waktu saja. Ia kemudian pergi ke meja administrasi lain dan menghampiri panitia yang bergerombol di sana. Belajar dari kesalahan, ia menanyakan pertanyaan yang berbeda. "Halo, selamat siang. Apa saya bisa melihat daftar hadirnya, ya?"
"Mohon maaf, untuk keperluan apa ya, Ibu?"
"Saya mau cek kehadiran untuk konsumsi. Saya dari bagian katering."
Beberapa dari mereka tampak saling pandang, kemudian seorang laki-laki menjawab. "Maaf Ibu, sepertinya kami tidak menyediakan konsumsi untuk pertemuan ini. Kami juga tidak ada daftar hadir bu, karena mahasiswa baru mendapat undangan pribadi yang dikirim ke alamat rumah mereka."
"Oh," Raa menyadari kesalahannya, "Terima kasih."
Raa berkeliling sekali lagi, namun ia masih tidak dapat menemukan informasi yang mendukung dari para panitia. Ia sudah bertanya kepada Suarez semalam, namun laki-laki itu memang tidak punya potret apapun yang tersimpan. Data dirinya tidak mudah ditemukan, teman-temannya tidak banyak, dan tidak ada informasi apapun yang bisa membantu Raa. Suarez bahkan tidak tahu apakah Fajar Nagara itu pelo (tidak bisa mengucapkan huruf R) seperti ayahnya atau tidak.
Ketika sedang mengelilingi aula, Raa menyadari acara sudah berganti. Pembicara kedua tampil di panggung dengan layar presentasi besar di belakangnya, menjelaskan biaya pendaftaran dan cara-cara pembayaran yang diterima. Raa melihat ia berbicara mengenai perbedaan uang pangkal dan uang semester. Seisi ruangan sepertinya membeku, entah terkejut dengan biaya, atau malah berpura-pura tidak mendengar. Pembicara itu terus bicara mengenai kesempatan besar yang bisa mahasiswa baru itu dapatkan bila melanjutkan perkuliahan, namun seisi ruangan sepertinya tidak mendapat pandangan yang sama. Mereka semua nyaris ketakutan, dipenuhi bayangan akan bagaimana mendapat uang sebanyak itu.
Tepat seperti dugaan Raa, begitulah yang dirasakan Fajar saat ini. Mereka berdua memang tidak bertatap muka, namun Fajar sedang pucat pasi melihat semua biaya yang dijelaskan. Kata-kata uang pangkal dan uang semesteran mulai menyakiti benaknya. Rasanya banyak sekali ... Ibunya tak akan mampu. Apalagi ia tidak punya ayah. Secara teknis, tidak ada yang bisa menjadi tulang punggung keluarga kecuali dirinya, dan tidak mungkin ia meminta uang dari orang lain.
Fajar menarik napas berat. Nyatalah begitu keadaannya. Setelah semua presentasi memuakkan ini, ia akan pulang ke rumah dan melupakan cita-citanya.