(11) Siapa Namanya?

1289 Words
Hari ini, Raa bolos lagi. Galih sudah meneleponnya berkali-kali sejak pagi, bertingkah seperti laki-laki menyebalkan, dan menanyakan kabar Raa lewat belasan pesan yang masuk. Raa ogah membalas. Kadang-kadang, laki-laki yang kau biarkan terlalu ikut campur bisa jadi sok otoriter kalau mereka mau. Raa yakin, kalau ia mengangkat telepon Galih tadi pagi, pria itu akan memaksa Raa bangun dan berpakaian, berangkat ke kampus, dan lain-lain, dan lain-lain. Seperti ia tidak tahu saja! Sebenarnya hari ini Raa tidak akan pergi kemana-mana. Ia hanya sedang kelelahan setelah dua hari penuh bertualang di Yogyakarta. Selain menemani Nick, ia juga menghabiskan waktu di malam hari bersama Kefas dan Pedro mengunjungi beberapa tempat tertentu. Sebagian besar sih Mall, karena siapa 'sih yang tidak suka jalan-jalan, tetapi sebagian kecilnya adalah rumah-rumah tersangka yang dianggap punya hubungan dekat dengan Wira Nagara. Raa bahkan melihat rumah Wira Nagara. Rumahnya begitu kecil dan sederhana, bertempat di sebuah kompleks perumahan kelas bawah. Ia ingat, ketika ia datang ke sana, Kefas terpaksa memarkirkan mobil di pinggir jalan karena g a n g itu terlalu kecil untuk ukuran sebuah mobil. Mereka bertiga pun terpaksa berjalan kaki. Informasi dari Suarez tak terlalu jelas, hanya menyebutkan nomor rumahnya saja, sehingga Raa harus memastikan satu demi satu setiap rumah yang mereka lalui. Yang manakah tempat tinggal Wira Nagara? Karena hari mulai malam, Raa tidak terlalu peduli untuk bersikap formal. Ia tertawa kencang-kencang mendengar celetukan Pedro dan menoyor Kefas dengan kencang. Mereka bertiga terlihat seperti tiga anak muda yang sedang bercanda-canda, dan hendak bertandang ke rumah seorang kawan. Tepat ketika Raa hendak membaca sebuah nomor rumah, seseorang yang tampaknya ia kenal keluar dari rumah itu. Raa mendadak saja berhenti, dan sikapnya ini membuat Kefas dan Pedro waspada. Jadi, begitulah, ketiga orang ini bengong di depan rumah orang dan Fajar yang melihat mereka langsung mengerutkan alis. Duh, orang macam apa yang aku temui di depan rumah ini? Mungkin begitu pikirnya. Selama tiga detik, mereka hanya bertatap-tatapan, Raa menunggu Fajar bereaksi, Kefas menunggu Raa, Pedro menunggu Kefas, sementara Fajar menunggu Raa. Posisi mereka sangat aneh dan tidak wajar. Akhirnya, kebekuan itu dipecahkan oleh Raa. Ia berdehem. "Ehem." Fajar menaikkan alisnya. Ya? "Kau, eh, kau orang yang tadi, 'kan?" Fajar mengangguk. Kefas menyenggol tangan Pedro, bertanya dalam bahasa sandi siapakah 'orang yang tadi' yang Raa maksud. Apakah mereka ada bertemu seseorang tadi? Pedro menggeleng. Ia tidak merasa kenal dengan laki-laki ke-rem-peng ini. Raa bertanya lagi. "Oh, kalo begitu. Hai! Siapa namamu?" Fajar keluar, menutup pagar, dan sementara itu otaknya berpikir cepat. Apakah kebetulan gadis ini lewat di depan rumahku? Ia rasa tidak. Tadi pagi ia mencari seseorang dengan nama Fajar Nagara, jadi dia mungkin sedang menelusuri rumahnya juga. Fajar menjawab pertanyaaan Raa, "Masak belum ku kasih tahu? Namaku Jafra!" "Oh, Jafra. Perasaan belum, deh. Apa yang kau lakukan di sini, Jafra?" Jafra mengendikkan kepala ke dalam rumahnya. "Mampir untuk menjahit celanaku yang bolong. Di sini ada penjahit langganan keluarga." Mulut Raa membentuk huruf O besar, menyuarakan "Oooo...." Ketiga temannya ikut manggut-manggut. "Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan di sini?" "Kami sedang mencari rumah!" Sebut Pedro. Kefas segera menyikut perutnya, namun terlambat. Fajar sudah mendengar jawabannya dan menuntut lebih banyak. "Mencari rumah? Rumah siapa?" "Mencari rumah seorang teman!" Jawab Kefas. Ia merasa begitu keren, berhasil menyelamatkan keadaan, tapi Raa justru menepuk dahinya. Jawaban mereka terlalu eksplisit. Siapa saja tentu curiga dengan jawaban seperti itu. Maka Raa menambahkan, "Aku punya suadara di sekitar sini, kenalan Nick juga. Kami hendak mampir ke sana untuk makan malam." "Oh, yeah, makan malam," gumam Kefas, dan Pedro berceletuk, "Betulkah itu? Kita akan pergi makan malam?" Fajar menahan tawanya dan memutuskan pergi cepat-cepat sebelum kebohongannya terbongkar. "Aku pamit dulu, ya, dah." Ia balik badan lalu menghilang. Raa tidak sempat memperhatikan arah kepergiannya, karena perhatiannya telah teralihkan sepenuhnya pada nomor rumah yang tercantum di rumah penjahit itu. Itu adalah nomor rumah yang disebutkan Suarez kepadanya. Kefas tiba-tiba saja menunjuk nomor rumah itu dan berkata, "Hei, bukankah itu yang kita cari-cari?" Pedro mengangguk cepat, menoel-noel Raa. "Raa, ini 'kan rumah yang kita cari?" "Ssstt, diamlah," ujar Raa. Ia memperhatikan rumah itu. Tampaknya sederhana saja. Tak terdengar ada banyak orang di dalam, tapi menurut penuturan Jafra, seharusnya seseorang sedang menjahit. Mungkin Ibu Fajar yang menjahit, pikir Raa. Ia mengambil foto rumah itu, mencatat alamat rumahnya di buku kecil yang selalu ia bawa, lalu berjalan lagi. "Ayo, sudah, jangan lama-lama di sini." "Kenapa?" Tanya Pedro. "Apa benar kita akan makan malam?" "Enggak, lah," ujar Raa, "Aku tadi hanya mencari-cari alasan." Malam itu, ketika mereka akhirnya kembali ke hotel dan beristirahat di kamar masing-masing, Raa masih tidak bisa berhenti memikirkan Jafra. Ia malu mengakuinya, tentu saja, jadi ini hanya rahasia di dalam hatinya. Ia tidak mengerti mengapa Jafra membuatnya begitu penasaran setengah mati. Ketika tadi ia melihat Jafra, yang ia pikirkan adalah mengapa Tuhan tahu isi hatinya. Ia memang sedang memikir-mikirkan lelaki ini sambil berjalan. Ia bertanya-tanya mengapa ia begitu cerdik tadi saat membantunya, mengapa ia begitu ramah menjawab pertanyaan-pertanyaannya, dan betapa gagahnya ia walaupun masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Ketika ia melihat Jafra sekali lagi, ia tidak melihatnya dalam balutan seragam mahasiswa baru, melainkan sebagai seorang pria saja. Pakaiannya kaus dan celana rumahan, begitu ganteng dan menawan (hah? apa iya?) dan Raa terus-menerus membayangkan dirinya pergi sama Jafra tadi meninggalkan Kefas dan Pedro. Astaga, tidak mungkin 'kan ia melakukan itu! Keesokan harinya, ketika ia harus pulang ke Yogyakarta, Raa masih saja memikirkan Jafra. Ia sempat mampir ke UNY untuk mengantar Nick untuk kali terakhir, namun ia tidak melihat laki-laki itu dimanapun. Nick juga sama sekali tidak membantu. Adik tiri Haris itu hanya mengendikkan bahu dan berjalan pergi ketika Raa memohon bantuannya. Dengan putus harapan, Raa mengelilingi aula itu seorang diri, dan karena menyadari kekonyolan perilakunya, ia akhirnya langsung menyusul Kefas dan Pedro ke hotel. Kini ia merasa amat lelah. Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas siang, jadi Raa keluar dari kamar dan makan sendirian di ruang tengah. Ayahnya mungkin sedang bekerja di bawah sana. Kalau kau bertanya-tanya dimanakah ibu Raa berada, Raa sendiri pun tidak tahu. Ibunya sudah pergi sejak ia masih bayi, meninggalkannya dalam asuhan sang ayah yang begitu sibuk dan efisien. Mungkin alasan itu juga yang membuat Ibunya menyerah. Setelah makan, Raa kembali ke kamarnya. Ia sama sekali tidak berselera membalas pesan Galih, namun beberapa pesan lain di ponselnya perlu dibalas. Ia menggulirkan pesan, menanggapi obrolan Kefas dan Pedro di chat group, kemudian menjawab pesan dari Siska. Sekali lagi timbul rasa sesal di hatinya karena tidak pernah meminta nomor telepon Jafra. Seharusnya kan ia bisa saja menghampiri laki-laki itu saat sedang makan bubur dan bertanya, "ngomong-ngomong, boleh ku minta nomor teleponmu?" Atau saat sedang bertemu di rumah penjahit itu, Raa bisa berpura-pura tidak tahu jalan dan berkata, "Aku takut tersasar. Boleh ku minta nomor teleponmu untuk jaga-jaga?" Kemudian, Raa menyadari, ada belasan pesan dari Galih yang masuk ke ponselnya. Tadinya ia hendak mengabaikan semua itu dan mengutuk Galih karena telah menganggu waktu istirahatnya, namun ternyata tidak semudah itu. Raa membukanya. Galih: Raa Galih: Lo ditanyain sama dosen, dan kali ini serius Galih: Katanya kalo lo bolos sekali lagi, lo bisa di-skors Galih: Raa? Lo masih tidur? Galih: Raa Beberapa telpon masuk yang tidak diangkat. Kemudian, ada pesan lagi. Galih: Raa, gue ada catetan materi hari ini Galih: Lo mau? Galih: Bilang aja, ya, kalo mau. Ntar gue copy-in Galih: Raa? Lo sehat kan Galih: Dasar sok sibuk! Pesan-pesan itu membuat Raa tersentuh, sedikit. Galih sangat perhatian kepadanya. Kadang-kadang, rasa perhatian itu sampai ke tingkat yang menyebalkan, tapi tidak apa-apa, deh. Raa membalas pesan itu dengan permohonan maaf yang banyak dan meminta catatan Galih. Ia tidak mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia bolos kampus. Ia kemudian berbaring di kasurnya lagi dan tertidur. Segala tentang Galih termasuk ponsel dan pesan-pesannya begitu saja terlupa, dan Raa memimpikan Jafra dalam tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD