(29) Menangkap Wira Nagara

1758 Words
"Jafra?" Raa bertanya, terkejut. Keno, Pedro, Kefas, dan orang-orang lain yang berada di situ ikut menoleh. Fajar yang baru saja datang dengan membawa gitarnya terkejut karena melihat Raa di situ. "Eh? Raa?" "Kalian udah saling kenal?" Keno tersenyum senang. "Bagus kalo gitu. Yuk, masuk ke dalem. Kita ngobrol-ngobrol." Raa, Kefas, dan Pedro mengikuti Keno masuk ke halaman dalam. Seperti biasa, kebanyakan orang lebih memilih duduk di luar dengan banyak orang lain, sehingga halaman dalam lebih sepi daripada biasanya. Fajar juga mengikuti Keno masuk ke dalam karena ia memiliki 'urusan khusus'. "Gue seneng banget denger kalian nyanyi lagu tadi dengan semangat," Keno mengawali ceritanya setelah mereka semua duduk. "Terutama lo. Nama lo siapa?" "Gue Pedro." "Nyanyi lo bagus!" Pedro berbinar-binar. "Terima kasih banyak! Mau dengar kami nyanyi sekali lagi?" "Tidak, nanti saja," ujar Keno. "Ini ada Fajar, dia juga adalah salah seorang gitaris ternama di sini." Fajar ketar-ketir memperhatikan reaksi Raa. Ia semakin yakin kalau semua yang terjadi bukanlah kebetulan. Bagaimana bisa ia hadir di sini, tepat ketika Keno hendak menunjukkan padanya dimana ayahnya berada? Hatinya berdegub kencang. Ia sudah mempertimbangkan untuk kembali pulang saja, dan rasa penasaran mengalahkan pikirannya. Kalau ia dijebak, setidaknya hari ini ia membawa semprotan merica. "Kayaknya kita pernah ketemu .... ?" Kefas bertanya ketika melihat Fajar meletakkan gitarnya. Fajar mengangguk. "Ya, di sebuah perumahan di dekat sini." "Namamu bukannya ... Jafra?" Tanya Raa lagi. Tangannya sendiri sudah berkeringat. Karena kecerdasannya, ia sedikit banyak dapat menerka semua yang terjadi saat ini. Kalau ini adalah Fajar, berarti selama ini ia sudah menemukan siapa yang ia cari. Tapi, apa betul ia adalah Fajar yang itu? Lagipula, kenapa laki-laki itu membohonginya? "Umm, Jafra juga boleh," ucap Fajar lagi. Keno menengahi kecanggungan itu dengan berkata, "Jafra itu lebih seperti nama panggilan, nama panggung. Kau tahu, kan, banyak musisi ternama suka mengubah nama mereka yang pasaran menjadi nama panggung yang keren agar mereka diingat penonton? Pertama kali datang, ia juga memperkenalkan diri sebagai Jafra." Raa mengangguk-angguk. Perlahan-lahan, Raa mengeluarkan ponselnya. "Tadi mereka membawakan lagu apa?" Fajar bertanya. "Kau sampai terpesona dan membawa mereka ke sini!" "Coba tebak," Keno tersenyum. Pedro tidak sabar menunggu Fajar menebak. Ia sudah sangat ingin memamerkan kemampuannya. Ia langsung saja menjawab. "Judulnya Bunga dan Tembok, diciptakan oleh seorang luar biasa bernama Wira Nagara! Ayo, Kefas, mainkan gitarnya. Aku tunjukkan pada kalian!" Kefas mengangguk. Langsung saja ia memetik gitar yang sejak tadi ada di tangannya, kemudian memberikan Pedro kesempatan untuk bernyanyi. "Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh. Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau hendaki adanya~" Fajar berceletuk. "Keren, tahu lagu ini dari mana?" "Kami pernah dengar di jalan dan kami suka sekali! Kami datang ke sini untuk mengikuti jejaknya," Pedro berkomentar. Dalam hati, Kefas dan Raa memberi jempol pada kelancaran bicara kawan mereka itu hari ini. "Jadi kalian kemari untuk mencari Wira Nagara?" Keno bertanya. "Ya, ya," Raa menjawab. "Dalam artian yang baik, tentu saja. Kami nge-fans padanya!" "Oh, astaga," Keno menjawab. "Kalian orang yang tepat! Gue sangat terinspirasi pada Wira Nagara karena dia banyak membuat lagu yang menggelorakan semangat anak-anak muda. Gue seneng banget bisa ketemu kalian hari ini." "Kau juga suka padanya?" Ujar Pedro. Fajar mengangguk-angguk pelan. Ia masih berusaha mencerna. Sebetulnya, baik Raa maupun Fajar masih saling menata pikiran masing-masing. Pertemuan ini adalah pertemuan yang di luar dugaan. Raa tidak tahu kalau Jafra bernama Fajar, dan Fajar tidak tahu apakah Raa betul-betul sedang mencari ayahnya karena ia nge-fans padanya. Di tempat lain, Suarez yang sudah bangun tidur siang menerima sinyal Raa. Ia mengaktifkan berbagai gawai dan perangkat canggih yang sudah diatur sejak semalam untuk merekam dan mengawasi gerak-gerik mereka. Begitu Raa menyalakan ponselnya, itu berarti mereka sudah berhasil mendapat keterangan. Suarez mengaktifkan microphone dan mulai mendengarkan rekaman pembicaraan. "Ini ada Fajar, dia juga adalah salah seorang gitaris ternama di sini." "Gue sangat terinspirasi pada Wira Nagara karena dia banyak membuat lagu yang menggelorakan semangat anak-anak muda." Positif! Suarez menyalakan suar satelit dan melacak lokasi telepon genggam Raa. Selama beberapa detik, mesin itu menunjukkan proses di layarnya, dan ketika ia berhenti, Suarez dapat tahu titik koordinat Raa berada sekarang dengan tepat. Ia dan Kefas serta Pedro berada di sebuah perumahan menengah ke atas yang lokasinya dekat dengan Stasiun. Suarez mengatur agar wilayah itu menjadi titik fokus pencarian. Beberapa orang segera diutus ke sana untuk memata-matai dalam kegelapan. Sebuah suara terdengar lagi. "Kebetulan, malam ini aku dan Fajar juga hendak bertemu dengan Wira Nagara. Apa kalian mau ikut?" Suarez berdebar. Ya, ya! Inilah yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Jalan menuju pertemuan dengan Wira Nagara. Dalam hati, ia berpikir cepat. Kemudian ia mengangkat telpon genggamnya dan menelpon sebuah nomor. "Pak, silakan kemari. Raa sudah membuat kemajuan." Suarez memperhitungkan ada dua orang lain yang bersama-sama dengan Raa di sana, terdengar dari suara yang dihasilkan. Yang pertama adalah Fajar, yang kemungkinan besar adalah Fajar Nagara, dan yang kedua adalah orang lain yang mengajak Raa datang ke sana. Totalnya ada lima orang yang pergi menemui Wira Nagara. Itu berarti mereka jumlahnya seri! Raa pasti tidak memikirkan soal penangkapan, tetapi itulah gunanya Suarez berada di balik gadis ini. Ia adalah otak yang akan menggerakkan semua potongan cerita menjadi satu kejadian utuh. Ayah Raa datang dari lift yang ada di belakang. Ia menghampiri Suarez yang sedang sibuk mengetik berbagai macam perintah kepada komputernya. Ayah Raa menepuk pundak bawahannya itu dan berkata dengan suaranya yang berat, "Bagaimana kabarmu?" Suarez segera memberikan laporan. Suaranya bersemangat. "Raa berhasil menemukan tempat persembunyian Wira Nagara dengan menyamar sebagai pengikut berat lagu-lagunya. Kini, mereka bertiga serta dua orang lain sedang menuju tempat tinggalnya." "Bagus. Kau bisa melacak mereka?" "Ya, Raa sedang berada di Yogyakarta. Telpon genggamnya sudah kuatur agar dapat memberikan sinyal satelit sesuai kebutuhan kita. Ia sedang dalam perjalanan." "Kirimkan tiga orang kepercayaan kita ke sana, dan cegat mereka tepat ketika Wira Nagara sudah ditunjukkan. Tiga orang itulah yang akan menghabisinya. Jangan lupa berikan pesan, semua itu harus terlihat sebagai kecelakaan." Suarez mengangguk. Ia menghubungi tiga orang 'kepercayaan' yang Ayah Raa sebut. Mereka ini sebetulnya bukan mata-mata seperti Raa, namun lebih kepada eksekutor cepat yang terlatih. Pekerjaan mereka adalah menghabisi orang-orang yang tidak diinginkan oleh atasan mereka. Kali ini, mereka segera berangkat dengan akses nomor satu ke titik koordinat yang terus di-update oleh Suarez. "Mereka sudah berangkat, Pak." Ayah Raa mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di belakang Suarez, memperhatikan bawahannya itu bekerja dengan keras, dan membuka buku. Ia akan membaca sambil menunggu informasi selanjutnya. Raa, Kefas, dan Pedro berjalan kaki di sebuah jalan yang gelap dan sepi ditemani Fajar dan Keno yang menjadi penunjuk arah. Hati Raa berdebar-debar. Ia masih tidak bisa banyak bicara pada Fajar, karena ia tidak menyangka kalau orang yang selama ini ia ajak bicara adalah anak dari Wira Nagara sendiri. Ia sudah mendapat jawaban di depan mata dan tidak menyadarinya! Raa berharap, Fajar tidak menyadari rencana aslinya dan percaya bahwa Raa serta teman-temannya hendak bertemu Wira Nagara karena rasa kagum pada lagu-lagunya. Laki-laki itu sejak tadi diam dan tidak menunjukkan gestur apa-apa yang mungkin dapat menghambat geraknya. Raa juga telah menyalakan ponselnya tepat seperti yang dipesankan Suarez, tanpa memberi tahu Kefas dan Pedro. Setelah Wira Nagara ditemukan, ia hanya perlu pulang dan kembali seperti biasa. Tangannya bersih. Suarez-lah yang akan menyelesaikan pekerjaan ini. Mereka berjalan kaki cukup jauh dan rutenya berputar-putar, namun tidak ada yang protes. Mereka semua begitu serius. Sampai akhirnya, mereka berhenti di sebuah rumah. Tidak ada yang aneh dengan rumah itu. Letaknya berada dekat jalan raya, namun di belakangnya ada sawah dan kebun yang luas. Keno melirik teman-temannya dan tersenyum. "Jangan lupa tersenyum. Ia sedikit lelah terkurung di sini untuk waktu yang lama." Raa mengangguk. Keno mengetuk pintu. Raa tidak menyangka, ia akhirnya berhasil. Rencana yang ia buat berjalan dengan baik! Kini, di depan matanya, tak lebih dari beberapa meter, berdiri Wira Nagara yang tua dan kurus. Bajunya lusuh dan rambutnya begitu tipis. Raa ingat dulu saat ia bertemu Wira Nagara untuk kali pertama di tempat makan, di Kafe Bunga. Berapa lama waktu telah berlalu? "Hai, Keno. Siapa yang kau ajak di sini?" Keno tersenyum. Ia memperkenalkan satu per satu tamunya. "Ada Raa, Kefas, dan Pedro, yang datang ke sini untuk mengikuti jejakmu. Mereka menyukai lagu-lagumu dan menampilkannya di tempat-tempat makan. Kemudian ada Fajar ...." Keno merasa tidak perlu memperkenalkan Fajar lagi. Anak itu memelototkan matanya dan langsung berlari mendekati ayahnya. "Ayah?!" "Ah, Fajar. Kita akhirnya bertemu." Hati Raa berdebar kencang. Ia memperhatikan saat Wira Nagara memeluk Fajar dan berbisik kepada anaknya. Fajar terlihat begitu rapuh. Ia tampak ingin sekali bicara banyak dengan ayahnya. Namun, ayahnya mengalihkan pandangannya sejenak. "Dan ... kalian?" "Saya Raa," ucapnya lantang. "Senang bertemu denganmu, Pak—" Belum sempat Raa menyelesaikan ucapannya, angin kencang muncul dengan tiba-tiba. Bersamaan dengan angin kencang itu, terdengar suara tembakan. Kefas bergerak cepat. Nalurinya mengatakan ada yang salah. Ia bergerak menghampiri Wira Nagara, namun bunyi tembakan terdengar lagi. Raa dan Pedro segera berbaring di tanah untuk menyelamatkan diri. Keno terbaring di tanah. Ia tidak meninggal, namun peluru bersarang di lambung kirinya. Fajar di sebelahnya juga terjatuh karena ada peluru yang menyasar kakinya. Untung saja, Wira Nagara sempat terlindungi oleh badan Kefas yang menghampirinya terlebih dahulu. Kefas-lah yang terkenal peluru di tangan kanannya. Situasi mencekam. Bunyi tembakan itu tidak disusul oleh orang-orang karena rumah itu tidak memiliki tetangga. Selama beberapa saat, mereka semua terdiam dan berusaha mencerna yang terjadi. Saat mereka berdiam diri itu, tiga orang muncul dengan mobil besar. Mobil itu berhenti. Orang-orang yang berpakaian hitam-hitam keluar bagai bayangan dan mengangkat Kefas ke dalam mobil. Mereka juga menahan dan menggotong Wira Nagara bersama-sama, meletakkannya di bangku belakang. Entah apa yang mereka lakukan, mereka bertiga melakukannya dengan cepat. Seseorang menoel bahu Raa, dan ia merasa tangannya ditarik untuk masuk ke dalam mobil. Dalam lima menit, semua keributan itu berhenti. Raa, Kefas, dan Pedro dimasukkan ke dalam mobil yang sudah berjalan dengan kecepatan tinggi, dan Wira Nagara yang diikat dan dibekap terduduk di bangku belakang. Tidak ada yang berbicara. Mereka semua dikuasai shock. "Pak, izinkan aku memberikanmu vitamin," ucap seorang laki-laki bertopeng dengan suara berbisik. Mobil itu gelap dan lampunya dimatikan, sehingga Raa tidak bisa melihat apa yang terjadi. Namun, ia menaydari sebuah jarum telah ditusukkan ke lengan atas Wira Nagara, dan laki-laki itu terkulai lemas di kursinya. "Bawa anak yang tertembak itu ke UGD," ucap seseorang. Mobil dilajukan dengan cepat. Keno dan Fajar, di sisi lain, kehilangan banyak darah ketika berusaha untuk bangkit. Mereka butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Wira Nagara telah dibawa pergi. Rasa sakit membuat mereka tak mampu berkata banyak. Mereka berdua, dengan saling menyemangati lewat pandangan mata, merayap ke jalan raya dan berharap seseorang menemukan mereka keesokan paginya. Beberapa menit kemudian, mereka pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD