(28) Pengejaran Ketiga

1702 Words
Raa, Kefas, dan Pedro kembali ke Jakarta dengan kereta sambil membawa gitar mereka yang baru ditemukan itu. Setelah susah payah dibawakan oleh Suarez, gitar itu pada akhirnya tidak dipergunakan sama sekali di Cijantung. "Kita malah makan-makan seharian," keluh Pedro. "Buat apa capek-capek ke sana kalau cuma buat makan aja!" "Tapi kita 'kan dapet informasi," Kefas berusaha menjelaskan. "Gak sia-sia, kok." "Tapi gue udah latihan nyanyiiii!" "Nah, nah. Nyanyian lo kan tadi berhasil bikin penjaga warung itu terenyuh," Raa menjawab sambil tertawa. "Tenang aja, kita bakal nyanyi lagi dalam perjalanan ke Yogya. Kali ini, gitarnya gak boleh ketinggalan!" Setelah menginjakkan kaki di Jakarta, handphone Raa langsung mendapatkan sinyal. Notifikasi bertubi-tubi masuk, berikut juga panggilan telepon yang tak terjawab dari rekannya, Suarez. Raa memutuskan untuk memberikan penjelasan di rumah, karena mengobrol lewat telpon kelewat berisiko. Mereka bertiga berjalan kaki, kini sedikit-banyak mensyukuri udara yang tak sepanas Cijantung, dan sampai di depan rumah Raa ketika hari beranjak gelap. "Waaaahhh, akhirnya!" Kefas berseru. "Sampe juga!' "Kayaknya betis gue udah kayak ubi cilembu, nih," keluh Pedro. Raa lekas masuk dan menemui Suarez yang memang sudah menunggu mereka di ruang tamu. Ia tampak cemas. Banyak peralatan elektronik berikut kabel-kabelnya berserakan di meja tengah. Malam itu, mereka beristirahat. Raa sudah menjelaskan kepada Suarez mengenai semua kendala mereka di Cijantung: gitar yang raib, udara yang panas, serta sinyal yang entah kemana. Rencana baru disusun dalam hitungan menit. Raa tidak mau ambil resiko, namun juga ia tidak ingin teman-temannya kehabisan tenaga dalam perjalanan ke Yogya. "Besok, kita kumpul di sini pukul sepuluh dan naik kereta ke Yogya. Beristirahatlah malam ini dan pastikan dirimu berbaring di kasur, bukannya bekerja atau berjalan-jalan," Raa menegaskan. Kefas dan Pedro mengangguk. Untuk Suarez, karena pekerjaannya yang berat itu tidak mengharuskan perpindahan lokasi sama sekali, dia diamanatkan oleh Raa untuk mempersiapkan segala kebutuhan mereka untuk perjalanan besok. Suarez menyanggupi dengan senang hati. Malam itu, ia bergadang memesankan tiket, mengatur akomodasi, membuat rencana cadangan, serta mempelajari setiap kemungkinan yang terjadi untuk diantisipasi. "Oh ya, Suarez," ucap Raa, "tolong berikan daftar komunitas seni, teater, musik, maupun fotografi yang ada di Yogya beserta lokasi kumpulnya. Aku akan menghampiri mulai dari yang paling dekat dengan stasiun." Suarez mengangguk lagi. Itu berarti, ia akan terus bekerja sampai pagi tanpa tidur, dan baru akan beristirahat kalau tida sejoli itu sudah berada di kereta. Tidak apa-apa. Suarez mencintai pekerjaannya. Keesokan harinya, Pedro dan Kefas mengetuk pintu rumah Raa pada pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Pakaian mereka necis dan gaul, dengan sepatu kets keren dan kemeja kotak-kotak yang sedang tren. Raa yang keluar membukakan pintu. Ketika melihat kostum teman-temannya, sontak saja ia membelalakkan matanya. "Oi! Kok kalian pake baju begini?" Kefas dan Pedro saling bertatapan. "Lah, Raa? Lo belom mandi?" Raa menepuk jidatnya, menyadari kesalahan pertama yang dibuat teman-temannya hari ini. "Heeiii, kita ke Yogya ini mau menyamar, mau mengamen... bukan jalan-jalan. Jangan pakai baju keren dong! Nanti yang lain jadi jiper sama kita!" "Yah, padahal udah keren banget ini." "Ganti dulu, gih. Gue tungguin!" Walau wajahnya masam, Kefas dan Pedro akhirnya menurut. Rencana tetap rencana. Walau mereka berharap kunjungan ke Yogyakarta ini bisa terasa lebih menyenangkan, tetap saja kunjungan penyamaran harus dilakukan dengan perfeksionis bagi Raa. Mereka berdua mengganti kostumnya dengan kaus oblong dan celana santai serta sendal gunung. Dalam waktu lima belas menit, mereka sudah kembali ke rumah Raa. Hal ini membuat Raa tersenyum. "Bagus! Mantap! Gokil kalian! Yuk, kalau gitu, kita berangkat!" "Naik apa, Raa?" Pedro bertanya. "Kereta." Pedro dan Kefas sudah memonyongkan mulutnya hendak mengeluh, namun Suarez menambahkan. "Tenang, gue udah pesen kereta kelas bisnis buat kalian selama perjalanan ke sana. Gitar boleh dibawa. Ada tempat duduk dan makan siang juga. Cuma, kalian harus jalan kaki dari sini ke Stasiun, dan begitu turun di Yogya, kalian gak boleh lupa sama penyamarannya." "Jangan mentang-mentang kelas bisnis jadi pengamen elit!" Celetuk Raa. Celetukan itu membuat mereka tertawa. Setelah bersiap-siap dan membawa semua yang mereka butuhkan, akhirnya mereka berangkat. Kefas, Pedro, dan Raa kembali berjalan kaki menuju stasiun. Suarez melepas keberangkatan mereka dari pintu. "Semoga berhasil!" Perjalanan ke Yogyakarta itu jauh lebih nyaman daripada perjalanan mereka sebelumnya —tentu saja, karena mereka naik kereta kelas bisnis sekarang— namun juga karena Suarez sudah memberikan persiapan yang sangat matang. Semua barang yang mereka bawa lebih dari cukup dan diperhitungkan dengan tepat sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, Suarez sudah memesankan makan siang kepada mereka sesuai porsi yang dibutuhkan, agar begitu sampai mereka bisa langsung menjalankan misi. Ia juga membekali Raa dengan dokumen lengkap mengenai daftar komunitas seni di Yogyakarta yang bisa mereka pelajari selama perjalanan. Berangkat dengan kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta memakan waktu lima jam. Waktu yang cukup untuk khatam seluruh isi dokumen itu. "Jadi, pertama-tama kita akan menghampiri komunitas fotografi ini terlebih dahulu. Tempat mereka nongkrong ada di dekat stasiun, dan jadwalnya adalah malam hari." "Cocok dengan waktu sampainya kita," ujar Kefas. "Tapi, komunitas fotografi? Bukankah ktia hendak bernyanyi?" Pedro bertanya dengan heran. Raa mengendikkan bahunya. "Entahlah. Kita coba saja dulu. Nanti kita datang ke sana sambil bernyanyi, dan kalau mereka tahu lagunya, kita bisa menyelidiki lewat itu." "Kalau tidak ada, kita tinggal move on ke komunitas lain," tambah Kefas. Pedro mengangguk-angguk. Selama dua jam berikutnya, Pedro dan Kefas tertidur. Kereta kelas bisnis ini terasa lebih nyaman karena kursinya yang lengkap dan pendingin udaranya. Lagipula, Yogyakarta juga adalah kota yang adem. Raa membatin, 'kalau lain kali aku pergi ke Yogyakarta, aku akan membuat perayaan penting di sana.' Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Tau-tau Stasiun Yogyakarta sudah sampai di depan mata. Raa, Kefas, dan Pedro bersiap-siap turun. Raa mengingatkan teman-temannya. "Ingat ya, kita sedang menyamar sebagai pengamen." "Pedro, jangan banyak tanya pada orang baru," Kefas menambahkan. Pedro yang diberi perintah mengangguk. "Tenang! Aku sudah belajar lagu barunya. Bunga dan Tembok, kan? Gampang!" Sambil menyandang tas masing-masing serta gitar, mereka turun dari kereta dan berbaur dengan ribuan manusia lain yang memadati stasiun kota Yogyakarta. Stasiun itu ramai sekali. Raa, Kefas, dan Pedro berjalan keluar peron. "Yuk, kita cari tempat makan," ujar Raa. Ia memimpin teman-temannya dan berjalan di depan, menyusuri jalan sepanjang stasiun dengan mata membuka untuk mencari tempat makan yang 'pas'. Seperti biasa, Raa punya rencananya sendiri. Sebelum mulai bergerak ke komunitas-komunitas, Raa mau membuat persiapan bagi teman-temannya. Ia menemukan sebuah tempat makan sederhana yang dibangun sembarangan saja di atas trotar jalan raya. Tempat makan itu kecil dari luar, namun ternyata cukup luas di bagian dalamnya, karena mengambil wilayah taman sebagai bagian dari lokasinya. Tanah taman itu diberi alas terpal dan dijadikan tempat duduk lesehan bagi pengunjung. Situasi lumayan ramai. Raa duduk di sana dan mengajak Kefas serta Pedro memesan makan malam. "Tidak perlu terlalu kenyang," pesannya. "Siapa tahu nanti kita harus makan lagi." "Tugas kita semacam wisata kuliner, ya," ujar Kefas bercanda. Teman-temannya tertawa. Mereka masing-masing memesan nasi goreng, nasi gila, dan nasi goreng gila. Tidak sesuai dengan perintah Raa, memang, namun mereka tidak berselera banyak makan ketika tadi berada di kereta. Dengan lahap mereka memakan makan malam itu. Harganya cukup murah jika dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta, sehingga Raa dengan senang hati membayari teman-temannya makan. "Oke," ucap Raa. "Kalau semuanya sudah makan, yuk kita lancarkan tugas pertama." "Mau kemana, kita?" Tanya Kefas. "Di sini saja." "Di sini saja?" "Ya. Ayo, Kefas, mainkan gitarmu. Pedro, sudah siap *nyanyi '*kan?" Pedro tersenyum dan mengangguk-angguk senang. Ia mengerti maksud Raa. Sekarang, ternyata mereka akan mulai mengamen dari tempat makan ini. Karena lokasinya yang berada dekat jalan raya dan hanya ditutup terpal, tempat makan ini sangat ramah pada pengamen. Mereka bertiga memulai aksinya. "Bapak-Bapak, Ibu-ibu, hari ini kami persembahkan sebuah nyanyian yang lahir dari perut kami yang sudah kenyang," Pedro memberi prolog. "Selamat menikmati!" Gitar mulai dipetik oleh Kefas. Ia tidak seberapa jago, namun permainannya juga tidak buruk. Pada hitungan ke empat, Pedro mulai bernyanyi dibantu oleh Raa. "Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau kehendaki tumbuh~" "Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau kehendaki adanya~" Beberapa pengunjung menoleh tak peduli. Pedro tetap bernyanyi, dan sedikit demi sedikit mulai bergoyang mengikuti irama lagu. Ia bicara dengan berapi-api dan penuh semangat. "Kau lebih suka membangun rumah, merampas tanah. Kau lebih suka membangun jalan raya, membangun pagar besi!" Ada seseorang yang tertawa. Hanya satu orang, namun itu cukup untuk membuat Pedro terpantik semangatnya. Ia menyahut, "entah siapa orang yang dibicarakan ini, tapi ia tentunya kejam sekali!" Semakin banyak orang yang tertawa. "Seumpama bunga, kami adalah yang tak kau kehendaki tumbuh~" "Seumpama bunga, kamilah yang rontok di bumi kami sendiri~" Orang-orang mulai bertepuk tangan. "Hahaha, lucu ya! Nyanyinya bagus!" Seru-seruan seperti itu mulai terdengar. "Begitu saja persembahan dari kami, terima kasih!" Pedro menutup penampilan mereka. Agar lebih meyakinkan, Raa bergerak menghampiri setiap pengunjung yang menonton dan menyodorkan tangannya untuk menerima sedikit uang upah menghibur. Beberapa orang memberi. Ada juga yang menolak. Seseorang yang dihampiri Raa berbisik ketika ia datang mendekat. "Hei, aku aku belum pernah melihat kalian di sini." "Kami baru datang, habis merantau dari beberapa daerah di Jawa." "Terakhir dari mana?" Tanya orang itu lagi. "Dari Jakarta, Bang. Belum punya teman di sini." "Mau ikut dengan saya? Sebentar lagi ada pertemuan komunitas fotografi. Bisa cari teman di sana." Raa tersenyum misterius. "Siap, Bang! Saya ajak yang lain dulu!" Rencana Raa berjalan lebih mulus daripada yang ia pikirkan. Tadinya ia hanya ingin mengajak Kefas dan Pedro sedikit menyenangkan hati dengan bernyanyi dan mengamen, namun kini ia justru mendapat jalan pintas menuju tujuannya selanjutnya. Kefas, Pedro, dan Raa mengikuti orang itu berangkat ke komunitas mereka. Lokasinya dekat, sehingga mereka hanya perlu berjalan kaki untuk dapat sampai ke sana. Dalam hatinya, Raa sudah menghapalkan lokasi tempat berkumpul komunitas fotografi yang diberikan Suarez agar ia jangan sampai menyimpang. Sampai di sana, ternyata halaman rumah yang dituju sudah sangat ramai. Mereka bernyanyi dan mengobrol, jauh dari pandangan Kefas dan Pedro mengenai komunitas fotografi yang serius dan profesional. Di sini, mereka semua justru sangat kekeluargaan. Ketika akhirnya Raa masuk, orang yang mengajaknya tadi memperkenalkan diri. "Jadi, selamat datang di komunitas kami. Perkenalkan, namaku Keno. Di sini ada teman-teman lain yang akan menjadi teman kalian juga." "Halo, Keno," sapa Pedro. Kefas ikut menyapa. "Halo Keno, halo semuanya!" Raa dengan ramah tersenyum. "Halo Keno, halo— Jafra?!" Seorang laki-laki yang masuk ke dalam halaman melotot. Gitar yang ia gendong mendadak menubruk pagar halaman dan menghasilkan bunyi nyaring. Seluruh komunitas terkejut dan memperhatikan mereka berdua. "Raa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD