Cijantung adalah bagian kota yang paling panas di wilayah Jakarta Timur. Di sana sinar matahari memanggang setiap orang sejak pagi sampai sore hari, dan teriknya tak bisa dilawan bahkan dengan pakaian panjang dan payung sekalipun. Orang-orang di Cijantung sudah terbiasa dengan ini, sehingga mereka kerasan (alias betah) tinggal di sana. Kulit mereka sudah menebal menjadi pelindung sinar matahari mutakhir yang belum pernah ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Untuk yang terakhir itu sepertinya berlebihan. Tapi, serius, Cijantung panas banget!
Kefas dan Pedro sudah bermandi keringat, padahal jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mereka baru saja mengelilingi stasiun dan memperhatikan setiap warung makan serta pintu masuknya, mencari-cari gitar keramat yang seharusnya ada di sekitar situ. Ketika mereka akhirnya sampai di titik awal mereka mencari tanpa hasil apa-apa, mereka frustasi.
"Duh, kagak ada, lagi!"
"Cape banget! Panas! Haus!"
"Kita mau ngamen pake apa?!"
"Raa mana sih, Raa?!"
Gadis yang dicari-cari juga sedang berjuang keras melawan teriknya sinar matahari dan menyusuri sepanjang jalan di sekitar stasiun. Keringatnya menetes deras membasahi pakaiannya. Kendati tidak terbiasa berjalan kaki sejauh ini, ia tetap memaksakan diri. Buat apa pergi jauh-jauh kalau tidak berhasil melaksanakan misi?
Raa melihat Kefas dan Pedro sudah kembali ke depan stasiun, dan ia lekas-lekas menghampiri mereka. Alis mereka berkerut dan wajah mereka memerah, membuat Raa tertawa terbahak-bahak.
"Kok malah ketawa? Lo dari mana, sih?!"
"Lo dapet gak gitarnya?!"
Raa tertawa lagi. "Duh, lo berdua jadi nyebelin kalo lagi kepanasan..."
"Raa, gue gak tahaannn! PANAS BANGET!" Keluh Pedro. Kefas meneguhkan perkataan temannya dengan mengipas-ngipas dirinya sendiri dengan telapak tangan. Gerakan yang sia-sia, tentu saja, tapi setidaknya kipasan itu menghasilkan sedikit angin yang melegakan.
"Yaudah, yuk kita cari tempat makan," ujar Raa. "Cari yang adem, yah. Gak usah jauh-jauh."
"Emang ada yang adem di sekitar sini?" Tanya Kefas.
Raa mengangguk. "Ikut gue, sini."
Kefas dan Pedro mengikuti arah kepergian Raa, menyusuri sepanjang jalan raya Cijantung. Kalau dilihat dari jauh, mereka bertiga terlihat sangat meyakinkan sebagai anak jalanan. Tidak akan ada yang curiga. Penyamaran mereka berhasil mengelabui banyak orang, walaupun hal itu ditambah juga dengan bantuan sinar matahari Cijantung.
Ternyata Raa benar. Di dekat situ, ada sebuah warung makan yang lumayan kece. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca transparan sehingga orang dari luar bisa melihat bagaimana keadaan dalamnya.
"Ada AC-nya," gumam Pedro. "Ayo makan di sini aja."
Kefas mengangguk. Mereka berdua langsung menghambur masuk tanpa menunggu persetujuan Raa. Gadis itu tertawa kecil. Kedua temannya itu terlihat sangat tersiksa. Ia sendiri mengamati tempat makan itu, yang sebetulnya tidak pantas disebut warung, karena penampakanannya sangat modern dan kekinian. Ada meja-meja kecil di bagian luar dengan tanda khusus bagi orang yang merokok. Tempat parkirnya sangat kecil. Ia juga melihat tanda pengamen dan pengemis dilarang masuk ditempel di pintu masuk, dan tiba-tiba saja kesadaran memenuhi pikirannya.
Mereka 'kan sedang menyamar sebagai pengamen?
Cepat-cepat Raa masuk dan mencari teman-temannya. Mereka berdua terlihat sedang antre di depan kasir.
"EH, kalian udah mesen?"
Kefas mengangguk. "Udah. Lo mau dipesenin atau mesen sendiri? Ada banyak es nih."
"Lo boleh mesen?"
Kali ini Pedro yang melongok dan menjawab, "Ya boleh, lah! Masa gak boleh?"
Raa memilih diam. Penjaga kasir juga kelihatan tidak keberatan dengan kehadiran mereka. Ia menyebutkan ulang pesanan Kefas dan Pedro, menghitung biaya total, menerima uang, dan berkata kalau pesanan mereka akan diantarkan segera.
Ketiga orang itu mengambil tempat di sebuah meja di dalam ruangan. Rasanya udara dingin dari AC sangat menyegarkan, setelah berjalan kaki cukup lama di luar. Kefas dan Pedro sampai memejamkan mata dan membiarkan udara dingin menghilangkan keringat-keringat mereka. Raa menatap teman-temannya itu dengan kasihan.
"Guys... Kalian mau menunggu di sini saja sementara gue nyari?"
"Kenapa, Raa?"
"Gue kasihan sama kalian," ucap Raa. "Sampe kepanasan gitu. Gak apa-apa, nanti kalau gue butuh bantuan, gue baru cari kalian. Gimana?"
"Jangan, jangan!" Kefas berkata tegas. "Kita ikut. Ini ngadem sebentar aja, kok."
"Ntar kalo kepanasan lagi, habis tugas kita ke sini lagi aja. Ngadem," Pedro menambahkan.
Raa menatap kedua temannya itu lagi. "Hmmm... tapi sebenernya, di pintu masuk tadi ada tulisan pengamen dan pengemis dilarang masuk. Kok kita bisa masuk, ya?"
"Emang kita pengamen?" Tanya Pedro. Ia langsung disikut oleh Kefas. "IYAA! Kan kita lagi nyamar," ucapnya bisik-bisik.
Pedro menyadari kesalahannya dan nyengir.
"Makanya tadi gue panik, harusnya kita gak boleh masuk. Emang penampilan kita sebagai pengamen gak meyakinkan?" Tanya Raa lagi.
Teman-temannya terdiam sejenak, kemudian Kefas menjawab. "Mungkin karena kita gak bawa gitar."
"Duhh... akhirnya. Gitar itu gak nyusahin lagi, sekarang malah bawa keberuntungan."
"Keberuntungan apa?"
"Kita bisa ngadem begini..."
Makanan mereka sampai. Seorang pramusaji lain datang ke meja mereka dan mengantarkan dua minuman dingin beserta dua makanan ringan. Raa tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada pramusaji itu.
"Sama-sama, Mbak. Selamat makan."
"Eh, bentar, Mas," Pedro memanggilnya. "Mau tanya. Katanya pengamen dilarang masuk, ya? Kok saya dikasih masuk?"
Raa menepuk jidatnya. Kefas menutup wajah dengan tangan. Beruntung pramusaji itu tidak merasa itu adalah pertanyaan yang aneh. Ia hanya tersenyum dan menjawab, "oh, Masnya kesini 'kan mau makan, bukan mau ngamen. Kalau mau ngamen baru gak boleh."
Pedro mengangguk-angguk. Raa dan Kefas menatapnya sinis sampai pramusaji itu meninggalkan meja.
"PEDROOO!"
Ia hanya tertawa. "Maaf, maaf. Cuma penasaran aja. Dah, yuk makan!" Pedro menyerahkan sebuah makanan dan minuman kepada Kefas, kemudian mengambil bagiannya. Mata mereka berdua berbinar-binar melihat semua makanan itu.
"Eh, Raa, lo gak makan?" Tanya Kefas.
Raa mengendikkan bahu. "Nanti aja."
"Kok nanti?"
"Yaa... gue belom laper. Tadi pagi 'kan baru makan. Lagian, kita masih harus mampir ke tempat makan lain habis ini, jadi gue makan di sana aja."
"Kok ke tempat lain?" Protes Pedro. "Di sini enak, adem."
"Tapi gak ada yang bisa ditanya-tanya di sini, Pedro," Raa menjawab, berbisik. "Orang yang mampir ke sini pasti cuma orang berduit. Pengamen gak boleh masuk. Pramusaji dan kasirnya saja tampak serius, tidak bisa sembarangan diajak ngobrol. Nanti rencana kita gagal!"
Pedro mengangguk-angguk. "Jadi, habis ini kita nyari tempat makan lagi?"
"Ya, begitu rencanaku. Kita butuh tempat makan yang lebih sederhana, lebih merakyat, dan tentunya, pengamen boleh masuk!"
"Baguslah," ucap Kefas. "Aku masih lapar."
Raa, Kefas dan Pedro baru selesai makan dan mendinginkan tubuh pada pukul sebelas tiga puluh. Artinya, selama satu setengah jam itu mereka menikmati surga buatan di kota Cijantung. Setelahnya mereka terpaksa keluar lagi dan berhadapan dengan sinar matahari yang begitu terik.
Kefas dan Pedro berjalan di belakang, mengikuti Raa yang berjalan di depan.
Gadis itu hendak mencari tempat makan lain yang bisa ia mampiri untuk makan siang. Seperti yang sudah ia katakan tadi, tempat makannya harus merakyat dan sederhana sehingga mereka bisa mengobrol banyak dengan orang-orang di sana. Raa juga meminta teman-temannya untuk membuka mata lebar-lebar, karena siapa tahu mereka bisa menemukan gitar yang diletakkan Suarez.
"Raa, tuh ada warung!" kata Pedro. Raa menoleh sejenak, tapi lalu ia menggeleng.
"Terlalu kecil."
"Ada lagi tuh, Raa!" Kali ini, Kefas yang menunjuk.
Sekali lagi Raa menggeleng.
"Keramean!"
Pedro dan Kefas bertatapan, merasa sebal. Raa yang penuh perhitungan adalah diri Raa yang paling sulit dipuaskan. Mereka mulai berkeringat lagi akibat berjalan jauh lagi, karena mereka sudah hampir mengambil jalan memutar.
Sampai akhirnya, Raa sendiri yang menunjuk sebuah warung. Letaknya di pinggir jalan, tepat di depan pintu keluar stasiun.
"Tuh, kita makan di situ, yuk!"
"Kan tadi gue udah nunjuk!"
"Oh, masa?" Ucap Raa. "Sorry, gue gak ngeh."
Pedro bergumam sebal. Mereka bertiga akhirnya berjalan menghampiri warung itu yang ternyata sepi. Tempat duduknya tak terlalu banyak. Raa duduk, diikuti Kefas dan Pedro.
Satu-satunya penjaga warung itu menghampiri mereka berdua, menawarkan sebuah selebaran berisi menu. "Mau pesen apa, Abang dan Neng?"
"Buat makan siang yang enak apa ya, Pak?" Raa bertanya.
"Ada nasi kerak telor, ada sop kimlo. Ada nasi goreng juga sih, cuma kayaknya nasi goreng enakan buat malem ya, Neng?"
Raa mengangguk-angguk. "Apa ya? Nasi pake sop kimlo aja deh, satu."
"Oke, Neng. Abang-abangnya gak ikut mesen?"
"Air putih aja pak, yang dingin kalau bisa..."
"Oke deh, siap meluncur! Ditunggu yaa..." Ujar penjaga warung itu. Ia kemudian pergi ke dapur dan mempersiapkan makanan.
Mereka tidak banyak bicara sembari menunggu. Udara panas terasa menyiksa. Raa masih berusaha mengotak-atik telponnya yang masih tidak terhubung sinyal, sementara Kefas dan Pedro memandangi usaha temannya yang sia-sia itu.
Kehilangan sinyal dan gitar adalah dua hal yang sama sekali tidak terprediksi dan tidak ada dalam rencana. "Padahal gue udah latihan nyanyi," kata Pedro. "Tapi kita gak jadi ngamen."
"Coba nyanyi dulu," tantang Kefas. Pedro mengeluh. "Kalau gak ada gitarnya, nyanyinya gak seru!"
"Kan pemanasan, sambil nunggu nih," kata Kefas lagi. Ia terus merayu Pedro agar mau bernyanyi.
"Oke, oke, gue nyanyi ya. Tapi jangan ketawa!"
Kefas menahan tawanya sambil memberi jempol. Raa memperhatikan aksi kawan-kawannya itu. Pedro mulai bernyanyi.
"Kala ku pandang kerlip bintang nan jauh di sana~"
"Asik!"
"Sayup kudengar melodi cinta yang menggema..."
"Goyang, Bang!"
"Terasa kembali gelora jiwa mudaku. Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut~"
"HIYAAA~"
Kefas begitu asik menyahuti lantunan lagu Pedro, membuat sang empunya suara merasa semakin naik daun. Ia lanjut bernyanyi.
"Api asmara yang dahulu pernah membara,"
"Asek!"
"Semakin hangat bagai c i u m a n yang pertama~"
"Tarik, Bang!"
"Detak jantungku seakan ikut irama~"
Mereka berdua berdiri dan bergoyang dengan seru. Keduanya menyanyikan bagian akhir lagu itu bersama-sama. "Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut!"
Raa tertawa ngakak. Kedua temannya itu terpingkal-pingkal karena aksi mereka yang sedikit gila. Penjaga warung itu pun, yang sejak tadi mengintip dari dapur, ikut tertawa.
"Waduh-waduh-waduh. Kalian bisa jadi pengisi acara di sini, nih!"
Kefas dan Pedro tertawa. Mereka kembali duduk. Mereka kemudian menjawab celetukan penjaga warung tadi dengan berkata, "Iya Bang, kita mah mau-mau aja. Cuma ada yang kurang, nih!"
"Kurang apa tuh, Bang?"
"Kurang musik!"
Penjaga warung itu keluar, membawakan nasi serta sop kimlo pesanan Raa. Ia duduk bersama mereka di meja makan dan menjawab, "Iya, loh. Harusnya ada gitar sama gendang di sini buat ngiringin kamu nyanyi."
"Suara saya bagus ya, Pak?"
Penjaga warung itu memberikan dua jempolnya. "Jempolan!"
Pedro tertawa lagi. Rasa0rasanya ia mudah sekali akrab dengan penjaga warung ini. Kefas menyambung obrolan, "Sayang banget, duh, gak ada musiknya!"
"Harusnya nih Neng main gitar buat dia!"
"Gak ada gitarnya, Pak. Ntar dicari dulu dah!"
"Yee, gitar kok dicari," penjaga warung itu berkelakar. "Dibeli, atuh!"
Mereka tertawa lagi. Raa memanfaaatkan kesempatan ini untuk bertanya, "Pak, mau tanya dong. Ada rekomendasi lagu yang cakep gak?"
"Lagu cakep gimana tuh, Neng?"
"Iyaa, jadi lagunya bagus, seru, tapi sesuai sama kehidupan kita-kita ginilah, Pak."
Kefas yang mengerti arah pembicaraan ini menyambung. "Iya, Pak. Siapa tahu bisa kita nyanyiin. Ntar kita tampil di warung Bapak!"
Pedro tertawa. "Tapi ntar cari gitar dulu, ya!"
Raa rasanya ingin menjitak kepala Pedro. Perkataannya barusan terdengar aneh, seakan-akan menunjukkan mereka sudah memiliki gitar yang berada entah dimana. Mereka kan sedang menyamar!
Untung saja, penjaga warung itu tidak banyak memikirkan perkataan Pedro. Ia menjawab serius, "Nah, sini saya kasih tahu. Ada lagu yang betul-betul mau ku rekomendasikan ke anak muda seperti kalian."
"Seru gak, Pak?" Tanya Pedro.
"Seru! Saya suka banget nyanyiin lagu ini di dapur."
"Lagu apa, Pak? Kalau bisa, yang bisa dinyanyiin pake gitar, ya."
"Bisaaaa! Lagu ini justru dibawakan pertama kali dengan gitar. Judulnya Bunga dan Tembok."
"Nyanyiin dikit dong, Pak."
"Ah, suara saya jelek," ucap penjaga warung itu, "Nanti deh, kalian harus dengar sendiri dari penyanyinya langsung!"
"Wira Nagara?!" Gumam Pedro.
"Apa?"
"Oh, enggak-enggak."
Raa memutar matanya sebal. Pedro harus diurusnya nanti. Untuk sekarang, ia butuh menggali lebih banyak informasi. "Kalau boleh tahu, Pak, itu lagu dari mana ya? Kok saya gak pernah denger?"
"Ada, Nak. Anak-anak sini suka nyanyiin. Pakai gitar, loh! Tapi sekarang emang udah jarang dinyanyiin di jalan, karena anak-anak itu udah cabut keluar kota."
"Yaah..." Kefas menjawab. "Baru aja saya kepikiran mau main bareng mereka."
"Seru banget ya, kalau bisa begitu!" Ujar Raa.
Penjaga warung itu terpancing. Ia berkata, "Eh, bisa kok. Coba aja kamu ke Yogyakarta, cuma beberapa jam naik kereta. Mereka katanya lagi di sana sekarang!"
"Ayo, ayo, ayo," ucap Pedro. "Gue gak sabar mau nyanyi bareeenggg! Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut~"
Penjaga warung itu tertawa. Raa berkata, "Pak, kalau kami betul ke sana, kami cari kemana ya anak-anak itu? Yogyakarta kan luas, Pak!"
"Gak usah jauh-jauh. Mereka gak mungkin jauh-jauh dari Stasiun. Cari aja komunitas teater, musik, atau fotografi terdekat."
"Baik, Pak," ucap Raa. "Ntar saya cari, deh."
"Kalau ketemu, tolong sampein salam dari saya ya!" Penjaga warung itu berpesan. Setelah sedikit basa-basi, ia akhirnya kembali ke dapur untuk membereskan beberapa masakan. Raa lanjut makan.
"Jadi ... kita ke Yogya?" Tanya Kefas. Raa mengangguk senang. Ia tak bisa menyembunyikan senyum yang merekah di wajahnya. Gadis itu merasa sangat puas dengan semua kerja yang sudah ia lakukan hari ini.
Akhirnya, mereka mendapat titik terang.
"Pedro, siap-siap latihan lagu baru, ya. Judulnya Bunga dan Tembok!"
"Raa..." Bukannya menjawab, Pedro malah menunjuk sebuah tempat di seberang tempat makan mereka. Di sana, tersembunyi di balik sekumpulan tanaman besar-besar, terdapat sebuah gitar teronggok. "Itu kan gitar kita..."
Raa menepok jidat. "Astaga, kalian kok bisa gak ngeliat gitar itu daritadi?!"