(13) Martabak Orion

1946 Words
Raa sekali lagi pergi ke Martabak Orion bersama Galih, dan kali ini, ia benar-benar terjebak. Tidak ada Siska, tidak ada Haris. Raa tidak sempat mengajak siapa-siapa karena Galih tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan merengek seperti anak bayi agar mereka bisa pergi ke Martabak Orion. Ia punya banyak alasan yang sebetulnya cukup bagus, seperti misalnya, "Kau tidak akan kuberikan catatan kalau tidak mau ikut," dan "Aku belum sempat bertanya apa arti Orion pada pelayan di sana." Sebetulnya bisa saja Raa meminta catatan dari anak lain, karena 'toh temannya ada dimana-mana (aku tidak sedang menyombong!), tapi Galih terus-menerus mengikutinya seharian kalau Raa tidak mau memberi jawaban. Persis anak bayi. Ketika Raa sedang bersantai di kelas, sambil menunggu dosen, Galih muncul dan duduk di sebelahnya. "Raa, please... Mau ya ke Martabak Orion?" Ketika Raa sedang izin ingin pergi ke toilet, tiba-tiba saja Galih muncul dan menghadang jalannya. "Raa, gue gak tahan banget. Penasaran. Mau tahu apa arti Martabak Orion. Lo tega?" Ketika Raa hendak meminjam buku ke perpustakaan, Galih tiba-tiba saja mengekorinya dan tak mau pergi sekalipun diusir. "Sonooo ahh, elahh luuu," begitu kira-kira ucap Raa, yang akan dibalas Galih dengan, "Makanya hayuk, ke Martabak Orion." Mengingat dirinya masih punya hati, akhirnya Raa tidak menolak. Toh Galih sudah bekerja keras demi mengajaknya, dan itu bukan hal mudah. Begitu seluruh kegiatan perkuliahan selesai, Galih sudah mengantisipasi rencana licik Raa dan menunggu gadis itu di depan pintu kelasnya. "Martabak Orion?" Begitu katanya. Raa memonyongkan bibirnya dan mengangguk. "Yaudah, ayo." Dengan begitu, Galih menuntun Raa langsung ke mobilnya di tempat parkir tanpa sempat mampir kemana-mana dulu. Voila! Akhirnya mereka pergi berdua saja ke Martabak Orion. Di sana, Galih terus-menerus nyengir menatap Raa yang memandangnya sebal. Usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil menarik putri es ini makan berdua. Namun Raa masih memonyong-monyongkan bibir tak terima. "Ini karena lo baik aja sama gue, Lih," ucap Raa, "dan kebetulan gue gak ada kerjaan." "Lo mau martabak apa?" "Kalo ada kerjaan gak bakal bisa gue diculik gini, Lih. Lagian lo maksa banget, sih!" "Oh, keju s**u. Oke." Galih memesan satu martabak keju s**u dan satu martabak coklat keju. Wow, banyak sekali. Laki-laki itu kemudian membayar tunai termasuk martabak milik Raa. Melihat semua itu, Raa tidak banyak berkomentar. Sudah sepantasnya laki-laki yang membayar kalau ia mengajak sampai merengek seperti tadi. Kemudian, sunyi yang menggelisahkan terjadi. Inilah yang Raa tidak suka dari bertemu dengan laki-laki dan makan berdua. Ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan, ia harus terus mencari topik percakapan, dan karena itu juga ia jadi tidak sempat memperhatikan banyak hal. Seperti sekarang. Galih terlihat mulai risih dengan keadaan yang diam ini dan membuka pembicaraan dengan bertanya, "Lo lagi sibuk apa sekarang, Raa?" "Yaaa, sibuk kuliah. Sama kerja. Kan lo udah tahu." Galih menggaruk-garuk kepalanya. "Aduh, nanya apa ya, Raa? Gue bingung." Sekarang ganti Raa yang mengendikkan bahunya. "Gue juga bingung." "Oh iya! Catetan lo." Galih yang buntu akhirnya menemukan sebuah aktivitas yang setidak-tidaknya dapat mengisi waktu canggung mereka. Ia menyerahkan catatan-catatannya yang tidak seberapa rapih kepada Raa dan meminta Raa menyalinnya sekarang juga, sembari mereka menunggu martabak datang. "Kok sekarang?" Tanya Raa. "Males, ah. Gak boleh dibawa pulang?" Galih menggeleng. "Sekarang aja. Kalau nanti belom kelar, baru bawa pulang." Mau tidak mau, Raa menyetujui itu. Ia mengeluarkan buku binder dan alat tulisnya, kemudian menaruh semua itu di atas meja. Galih merasa tergusur tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan Raa yang sekarang mulai menulis, anak-anak rambutnya jatuh di dahi dan bulu matanya yang lentik. Tangan gadis itu begitu lincah menulis (sebetulnya tidak juga, sih) tapi karena Galih sedang kesengsem, segala hal yang dilakukan Raa terlihat begitu istimewa. Akhirnya, Galih dapat memperhatikan Raa dengan tenang tanpa merasa canggung lagi. Gadis itu sedang fokus ke buku catatannya. Ia senang sekali berhadapan seperti ini, walau tidak mengobrol atau tidak melakukan apa-apa, tapi setidaknya ia merasakan gadis itu hadir di dekatnya. Cinta yang aneh. Sambil tetap merekam setiap gerak-gerik Raa dengan matanya, Galih bertanya. "Raa, lo suka baca?" Raa menggeleng. "Gak terlalu. Lo?" "Gue juga gak terlalu," jawab Galih. "Kirain lo suka baca." "Kenapa?" "Soalnya lo keliatan pinter, sih." Raa tertawa kecil. "Emang gimana sih keliatan pinter itu?" "Jidatnya lebar." "Heh!" Sekarang Raa mengangkat wajahnya, menatap Galih dengan cemberut. Galih tertawa ngakak. Raa kembali menunduk, menyalin catatannya, namun mulutnya menggumam, "Apa-apaan itu, ngeledekin fisik." "Becanda, Raaa," ujar Galih. Ia masih tertawa-tawa senang dengan reaksi Raa. Beberapa saat kemudian, martabak pesanan mereka datang. Raa membereskan dulu semua buku catatan dan alat tulisnya ke dalam tas agar meja mereka bisa dipergunakan untuk makan. Galih menunggu Raa beres, kemudian meletakkan martabak mereka di meja. Tiba-tiba, ketika Raa hendak menyuap sepotong martabak ke mulutnya, Galih berseru. "Aduh!" "Eh, kenapa?" "Aduh, Raa. Gue lupa sesuatu." "Apa tuh?" Ucap Raa acuh tak acuh, kembali menyuapkan sepotong martabak ke dalam mulutnya. "Coba tebak." Mendengar ucapan Galih itu, Raa memandang laki-laki itu dengan alis berkerut. Ia selalu tidak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki, namun yang satu ini jelas lebih memusingkan dari biasanya. Ia yang lupa, kok Raa yang disuruh menebak? "Iyaaa, ayo coba tebak. Apa yang gue lupa?" Galih bertanya, dan Raa menerimanya sebagai tantangan. Sayang sekali, laki-laki tidak tahu kalau Raa adalah seorang pengamat ulung. Ia mengingat kembali setiap percakapannya dengan Galih dari pagi hingga siang ini seperti sebuah tayangan televisi yang ditayangkan kembali. "Oh," jawab Raa, "soal Orion." Galih mengangguk bersemangat. "Ya! Betul, betul. Kau ingat juga ternyata." Yaiyalah, batin Raa, namun ia tidak mengucapkannya kencang-kencang agar Galih tidak tersinggung. Sebaliknya, ia malah tersenyum dengan manisnya dan berkata, "Sebetulnya, tanpa perlu bertanya, aku bisa memberitahumu apa artinya itu." "Apa, tuh?" Tanya Galih. Raa mengeluh dalam hati. Ternyata orang ini betul-betul tidak tahu apa-apa. Ia menjelaskan, "Orion, setahuku, adalah sebuah rasi bintang. Ada juga yang menyebutnya 'waluku' atau 'beluku'." "Rasi bintang? Kok gue gak pernah denger, ya?" Raa mengendikkan bahunya. "Padahal rasi bintang Orion adalah rasi bintang yang paling terkenal, dan paling mudah dikenali. Mungkin, kalau lo gak tahu rasi bintangnya, lo tahu soal mitologi?" "Mitologi?" Galih memiringkan kepalanya, bingung. "Makanan apa, tuh?" Kini, Raa tidak hanya mengendikkan bahu, tetapi memutar bola matanya dengan jengah. Inilah yang membuatnya tidak betah berbincang lama-lama dengan lelaki. Mereka jarang bisa diajak ngobrol dengan seru. Ia kembali menjelaskan, "Mitologi itu sebuah cerita mitos. Dalam Mitologi Yunani, ada seorang raksasa bernama Orion. Ia adalah raksasa yang tampan, sebab itu ia terkenal." "Lo suka membaca mitologi?" Tanya Galih. "Ya, iya, dong. Mitologi 'kan seru banget!" Galih mengagguk-angguk, menyembunyikan rasa malunya karena tidak tahu apa-apa. Raa juga jadi canggung karena telah berbicara terlalu banyak. Mereka berdua makan martabak dalam diam, sampai akhirnya Raa berceletuk, "Tapi yang gue bilang tadi belom tentu benar." Galih mengangguk-angguk. "Nanti tanya aja lagi ke Mbaknya. Siapa tahu, beda. Kan gak nyambung juga, rasi bintang Orion jadi martabak." Galih nyengir, dan Raa jadi ikut-ikutan tertawa. Mereka membayangkan martabak yang mereka makan berasal dari rasi bintang antah-berantah. "Atau, atau," ucap Galih, "mungkin Martabak Orion itu berasal dari raksasa Orion yang tampan. Pantas saja satu porsinya sangat besar seperti ini." "Dan bagus untuk branding mereka," lanjut Raa, "Seorang raksasa ganteng pernah makan di sini, lho. Siapa mau coba?" Mereka berdua tertawa-tawa dengan renyah. Galih menyambung, "Nanti, ya, pas pulang kita tanya sama Mbaknya kenapa Martabak ini dikasih nama Martabak Orion." Raa langsung saja setuju. Mereka masing-masing menyuap kembali potongan-potongan martabak itu ke dalam mulut, dan kini suasana sudah kembali hidup. "Eh, Raa." "Apa— Eh, bentar,bentar," Raa memotong ucapan Galih. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan nama yang tertera di sana merupakan prioritas atas. "Bentar, yaa," ucap Raa kepada Galih, kemudian ia berdiri dan keluar dari Martabak Orion. Galih bertanya-tanya mengapa Raa harus keluar dan mengangkat telpon di tempat parkir, seakan-akan ia seorang penguping atau apa sehingga tidak boleh tahu sama sekali mengenai urusannya. Lagian, siapa 'sih yang menelpon Raa? Galih penasaran, namun ia tidak mungkin berani bertanya. Di tempat parkir, Raa mengangkat telepon dari Suarez dan langsung berbisik, "Halo? Ada apa?" "Raa. Kau lagi di kampus?" "Mmm, ya. Secara teknis sih tidak, tapi aku sedang ada urusan dengan seorang teman kampus— gini, gini, deh. Biar cepat, anggap saja aku lagi di kampus. Ada apa?" "Ayahmu dan aku berhasil menemukan tempat terakhir Wira Nagara menetap. Ia ada di Yogya sekarang." "Yogya?!" Raa berbisik lagi. Dalam hati, sebetulnya ia berseru, 'Yogya, lagi?" Sudah berkali-kali ia pergi ke Yogya untuk melacak Wira Nagara namun laki-laki itu seakan-akan raib begitu saja setiap Raa datang ke sana. Ia melanjutkan pertanyaannya pada Suarez, "Sampai kapan ia akan ada di Yogya?" "Mana aku tahu," suara datar Suarez terdengar. "Ia bisa pergi kapan saja, apalagi kalau ia merasa sudah ketahuan. Kemarin ia bergabung dengan sebuah komunitas teater di sana." "Aku harus kesana sekarang," ucap Raa. Hatinya menggebu dengan antisipasi dan semangat, tak sabar ingin segera menangkap laki-laki yang sudah lama ia cari. "Betul," Suarez menyambung, "Kalau kau pergi ke stasiun sekarang, ada kereta yang akan berangkat dalam lima belas menit. Kau ikut kereta itu dan langsung menuju ke alamat yang akan aku kirimkan." "Bagaimana dengan Kefas dan Pedro?" Tanya Raa. "Mereka terlalu lambat untuk misi cepat seperti ini," kata Suarez, "selain itu, tidak ada waktu. Kau tidak bisa berlama-lama, Raa." Raa mengangguk setuju dengan arahan Suarez, walau ia tidak terima dengan penilaian asal laki-laki itu terhadap teman-temannya. Terlalu lambat, katanya? Suarez memberikan arahan terakhir, mengenai apa saja yang harus dibawa dan lain-lain, kemudian telpon dimatikan. Raa sudah menyiapkan semua itu di dalam tasnya karena ia sudah berkali-kali menjalani misi mendadak, sehingga ia bisa langsung pergi ke stasiun. Baru saja ia hendak melangkah, ia teringat kalau beberapa menit lalu ia sedang makan martabak bersama dengan seorang laki-laki. Raa menepuk jidatnya. Ia harus pamit dulu! Raa akhirnya masuk dengan terburu-buru dan menghampiri Galih yang menatapnya dengan heran. "Galih, gue pamit dulu, ya?" "Hah? Kenapa?" "Gue, umm, ada kerjaan." "Kerjaan apa, Raa? Yah, masa pergi gitu aja sih—" "—gue buru-buru, Lih. Ada yang mau nengok rumah di Yogya. Gue harus ke Stasiun sekarang." Galih mengerutkan keningnya. Ia semakin bingung dengan pekerjaan Raa, namun tidak ada waktu untuk protes atau bertanya lebih jauh. Raa sudah seperti cacing kepanasan, berdiri dengan tidak sabar. Tangannya gesit memanggul tas punggung yang tadi ia bawa. Akhirnya, mau tak mau, Galih mengangguk. "Yaudah, hati-hati yaa Raa." Raa berseru senang. "Thanks, Galih!" Ia putar-arah lalu langsung melesat ke Stasiun, menumpang sebuah bus yang kebetulan sedang ngetem di sana. Galih hanya bisa menatap dengan hati masygul. Beberapa menit setelah Raa pergi, seorang pramusaji restoran datang menghampiri meja mereka. "Permisi, Mas, ini request pesenan Mas ya..." Galih menatap pramusaji restoran itu dengan datar, dan membiarkan ia meletakkan sebuah martabak di meja. "Makasih, Mbak," ucap Galih. Pramusaji itu mengangguk kemudian pergi. Galih menatap martabak yang ada di atas meja itu, sebuah martabak coklat keju ukuran besar dengan tulisan di atasnya: "You are Artemis and I am Orion. If you are optimist then I'm ready to be your own." Kau adalah Artemis, dan aku adalah Orion. Kalau kau optimis, aku siap untuk menjadi milikmu. Namun sebelum martabak istimewa pesanan Galih ini sampai, Raa bahkan sudah pergi. Sejujurnya, Galih tahu semua yang Raa katakan tadi. Ia tahu mengenai rasi bintang Orion, yang diciptakan dewi Artemis untuk mengenang teman sejatinya raksasa Orion. Ia tahu mengenai raksasa Orion yang merupakan anak dari dewa Poseidon, ia tahu Orion adalah salah satu teman terbaik Artemis, namun satu kesialannya: ia meninggal lebih cepat sebelum ia mampu lebih jauh menjalin hubungan persahabatan. Setidak-tidaknya, Galih mau jadi sahabat Raa. Ia mau mendengarkan Raa dan mendengarkan setiap ceritanya, ia mau hadir dalam peristiwa-peristiwa terseru hidupnya, dan ia mau menolong Raa semampunya. Namun, seperti juga raksasa Orion, Galih gugur sebelum berkembang. Raa pergi meninggalkan martabak itu sampai dingin, dan Galih sendiri juga tidak tertarik untuk memakannya. Ia berdiri pulang dan memberikan martabak itu untuk seorang pramusaji yang beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD