bab 6

980 Words
Melihat belanjaanku yang masih teronggok di atas meja, aku terpaku. Aku ingin menyusunnya tapi masalah dan pikiran-pikiran yang menumpuk dalam benakku membuatku hanya bisa berdiri sambil menahan air mata. Angka-angka yang terus saling tumpang tindih dalam pikiranku, pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawabannya ...aku masih bingung juga sampai sekarang. Jika selama ini aku dan dia memiliki tabungan bersama, berarti suamiku juga punya tabungan pribadi yang jumlahnya sangat banyak, bahkan aku pun menyadari bahwa aku sama sekali tidak tahu jumlah pendapatan dan bonusnya. "Uhm, sebaiknya kita bicara, Aku ingin kau dan aku bicara baik-baik tanpa ada emosi. Bisakah?" Aku melirik ke arahnya, menatap lelaki dengan celana pendek dan kacamata yang membingkai wajah manisnya, bagiku dia pusat dunia dan cinta sejatiku tapi sekarang aku bias tentang pendapatku sendiri. "Aku belum ingin bicara pada siapapun pikiranku masih kacau dan aku khawatir Itu akan menimbulkan emosi!" Aku membalikkan badan mencoba untuk tidak terlihat meneteskan air mata di hadapannya, percuma aku menangis, toh itu tidak akan memunculkan empati apalagi membuat dia meninggalkan Rania. Lelaki itu telah bersamanya, mereka berumah tangga dan memiliki anak. Bagaimana aku akan bertindak dan membuat pernikahan orang lain menjadi hancur, jujur saja, itu bukan gayaku. Hanya saja aku butuh kepastian apakah dia masih mencintaiku ataukah sebaiknya kami berpisah saja. ** "Aku tidak tahu aku harus memulai dari mana, tapi, kurasa aku benar-benar malu padamu. Aku merasa bersalah telah membohongimu dan ini adalah perasaan terburuk yang kurasakan," ucapnya perlahan. "Syukurlah kalau kau masih memiliki rasa malu tapi bagaimana kau akan mengatasi semua ini?" Tanyaku sambil menahan sensasi rasa sakit yang mulai menjalar di sekitar perutku. Aku lupa minum obat jadi itu membuat sakitnya makin nyeri. "Apa kau sudah minum obat?" Pria itu nampak prihatin padaku dia mendekat sambil mengulurkan tangannya tapi aku segera mengisyaratkan agar dia tidak perlu membantuku. Aku mencegahnya dengan tanganku agar dia terus menjaga jaraknya. "Uhm, Aku hanya ingin membantumu!" "Aku baik-baik saja, mulai sekarang aku baik-baik saja." "Tapi kau sakit, Sayang." "Jika kau tahu bahwa aku sangat menderita dengan penyakitku, Kenapa tak kau gunakan waktu dan tenagamu untuk mencurahkan cinta padaku, agar aku bisa bersemangat untuk sembuh. Kenapa di belakangku kau bahagia dengan wanita lain sementara kau pura-pura perhatian padaku!" "Tidak ada yang pura-pura! Semua ekspresi dan perlakuanku adalah sikap yang jujur! Kau istriku dan aku mencintaimu. Permasalahan hadirnya Rania dan Aisyah itu hanya tambahan dalam hidupku!" "Tambahan? Seperti bonus misalnya?" "Bukan begitu?" "Seperti juga bonus dari kantormu yang tidak kuketahui jumlahnya?" "Jangan mulai lagi, Alya!" "Apalagi yang kau sembunyikan dariku? Jumlah gaji, istri anak, serta keluargamu yang membungkam, semuanya menghianatiku!" ujarku yang tak sanggup lagi menahan air mata. Pecah tangisanku hingga membuatku makin merasa kesakitan. "Dengar tunggu dulu!" Dia mencoba memberi isyarat agar aku tenang. "Bisakah kita bicara tidak saling berteriak lagi!" "Tidak perlu ada pembicaraan, aku baik-baik saja dan aku tidak lagi membutuhkanmu. Bila kau masih peduli maka penuhi saja tanggung jawabmu sementara ini sebagai suami." "Sementara apanya kau adalah istriku dan aku adalah suamimu selamanya! Apa yang sementara?!" "Sementara aku menata hati dan menegaskan keinginanku. Apakah aku masih tetap ingin jadi istrimu atau kita berpisah saja!" Dengan tangan gemetar dan kepala pusing susah payah aku meraih pintu kulkas dan mencari obatku, melihatku terseok-seok pria itu ingin menolong tapi dia sangat segan. Kutumpahkan obat di atas telapak tangan lalu menegaknya dengan cepat, kupejamkan mata seiring dengan air dingin yang menjalari tenggorokan dan lambungku. Air mata ini masih terus mengucur sementara pria itu hanya bisa mendecak perlahan sambil menundukkan kepalanya. "Daripada kau hanya berdiri lebih baik bereskan saja belanjaanku, Aku mau ke kamar dan tidur,", ujarku sambil mengemas air mata lalu perlahan melangkah, tertatih sambil memegangi dinding menuju kamarku. Jujur saja tumor yang ada di rahimku sangat menyiksa, bulan depan aku akan menjalani operasi dan mencoba bertahan untuk sembuh. Tapi sekarang alasan satu-satunya yang membuatku ingin tetap hidup telah memberikan luka yang begitu dalam dengan pengkhianatannya, jadi aku seperti kehilangan setengah motivasi hidupku. * Hujan merintikkan tetesan bening ke atas atap, dedaunan bergoyang, tiupan angin sesekali membuat dahan pohon bergoyang ke kanan dan ke kiri kadang terlihat kadang tidak diantara jendela kamarku. Warna dedaunan hijau dan rintik air, seperti simponi yang saling melengkapi sementara aku masih merana di pembaringanku. Kutemukan, segelas jus dan kue di nakas sebelahku, begitu terbangun dari tidur ini. Aku yakin itu adalah bawaan dari Mas Husein. Dia selalu mencoba ingin memberiku perhatian-perhatian kecil yang dulunya membuatku tersenyum bahagia. Tapi sekarang segalanya terasa getir. * "Kamu sudah bangun sayang?" "Hmmm." "Aku siapkan sup ayam dan bakso yang kau sukai di saat dingin-dingin seperti ini!" "Terima kasih Tapi aku sedang tidak mau makan apapun. Aku baik-baik saja dan aku bisa mengurus makananku sendiri,". balasku. "Jangan berpura-pura keras sementara kau selalu membutuhkanku, kau manja dan sangat bergantung pada suamimu ini." "Itu benar sekali tapi itu dulu! Sekarang kau tidak lebih dari anak mertuaku dan suami dari seseorang yang bernama Rania!" "Dan aku tetap juga suami dari wanita cantik bernama Alya." "Aku hanya istri tidak berguna wanita penyakitan yang tidak bisa memberimu harapan dan anak!" "Jangan merendahkan dirimu!" "Perbuatanmu yang telah merendahkanku! Aku berjuang dengan penyakitku yang mengerikan ini, aku terus berdoa pada Tuhan agar aku bisa sembuh secepatnya dan melahirkan setidaknya seorang putra! Tapi diam-diam kau telah memiliki putri dari wanita lain! Aku merasa jadi wanita paling gagal di dunia ini!" Aku berteriak meninggikan suaraku seiring dengan tetesan yang kembali mengaburkan pandangan mata. Aku ingin tidur untuk memperbaiki perasaanku tapi bangun tidur masih saja dipenuhi dengan luka-luka. Meski aku tahu Mas Husein berusaha membujuk dan bersikap baik tetap saja aku terluka, sikapnya seperti sebuah sandiwara yang semakin menancapkan duri-duri di hatiku. Aku sudah tidak sanggup lagi. "Hei tenanglah, Jangan berteriak, itu membuat sakitmu makin parah." "Peduli apa saat aku sedang berada di puncak kemarahanku! Dan ini... Apa semua ini! Aku tidak lagi menghargainya!" Prang! Nampan berisi segelas jus mangga dan croisant itu terlempar ke lantai dan pecah berkeping-keping. Pria itu terkejut tapi aku hanya memandangnya dengan dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD