7. coba tegar

561 Words
"Tolong jangan bicarakan Rania dengan konotasi negatif, karena dia adalah wanita yang baik yang tidak pernah meminta waktu dan perhatian untuk dirinya sendiri. Justru dia selalu ingin aku memperhatikanmu dan mencurahkan semua tenagaku untuk fokus pada kesembuhanmu. Rasanya sedih sekali Jika kau salah paham hanya karena kami menikah tanpa sepengetahuanmu." "Apa?" Aku tercekat mendengar ucapan suamiku. Ingin mencoba mengulas dan mencerna satu persatu kalimat yang terlontar itu tapi semuanya terlalu cepat dan masing-masing seperti anak panah yang melesat menuju rongga dadaku. Yang pertama ...dia membanggakan Rania sebagai wanita yang pengertian dan perhatian. Yang kedua dia bilang kalau dia sedih sekali karena aku salah paham pada istri keduanya hanya karena mereka menikah! Ingin sekali berteriak di wajahnya, bahwa, peristiwa yang terjadi sudah masalah yang paling besar di kehidupan rumah tangga kami. Sudah menikah dan ditutupi pula, kini dia memintaku untuk tidak menghujat istrinya. Sakit mana lagi yang akan memecahkan rekor sakit terburuk di jiwaku. Ucapan mana lagi yang harus terlontar, agar aku mati berdiri dan dia ketawa bahagia, serta puas menyaksikan segalanya. Aku terdiam, mulutku setengah terbuka tapi aku kehilangan kata-kata. Melawan bukan bagian dari tindakan dan kebiasaanku sebagai istri yang berbakti. Pun aku bukan wanita yang pemarah, tapi pukulan fakta seperti gelombang tsunami yang terjadi dalam dua hari terakhir lalu memporak-porandakan prinsip dan idealismeku. . Dulu, tugas seorang istri adalah menuruti dan berbakti tapi sekarang, aku harus mengimbangi keadaan, bersabar, menambahkan kelapangan dadaku serta mencoba berdiri diantara penderitaan yang makin bertambah setiap harinya. Haruskah aku seperti ini sampai akhir ataukah aku akan berakhir gila? Kalau aku diam saja Mungkin aku akan menggantung tak bernyawa di seutas tali, atau mungkin menjadi gelandangan dengan rambut berantakan di sepanjang tol Jagorawi. Aku harus bagaimana? "Aku minta maaf atas ucapanku tapi penting bagiku untuk bersikap adil dan membela istriku saat seseorang menilainya dengan anggapan yang buruk!" "Iya, kau benar," jawabku singkat, kendati begitu air mata ini mengalir ke sudut bibir dan membuatku merasakan sensasi asin. "Rania wanita yang baik Andai Dia tidak baik Aku tidak setuju menikahinya. Dia adalah sepupuku, ibunya adalah bibi kesayanganku, saudara-saudaranya adalah sepupu terbaik yang pernah kumiliki jadi bagaimanakah aku membiarkan seseorang melukainya." "Penting untuk membuat seorang istri tidak terluka, tapi bagaimana dengan istri lainnya? Aku juga anak dari seorang pria, aku juga seorang putri yang diharapkan kebahagiaan oleh orang tuanya. Aku juga seorang wanita yang ingin sembuh dan membahagiakan suamiku..." Sampai di sana aku tidak sanggup melanjutkan perkataanku, sebab tenggorokan ini seperti tercekik, hanya air mata yang terus menetes dan membuat wajah ini tak berbentuk, bengkak, sembab menyedihkan, serta mengerikan. "Karena itulah aku meminta keikhlasanmu," jawabnya sambil mendekat dan mencoba memelukku tapi, seperti biasa aku menjauh darinya. "Jangan terus menghindar!" "Aku tidak mau Mas, aku sudah tidak kuasa," jawabku lemas, energiku terkuras dan pikiran-pikiran yang menumpuk menjadikan diri ini semakin menderita. Mas Husein memelukku, membuatku menangis di antara dadanya yang bidang. Aku menjerit dan memukul tapi dia bergeming dan hanya terus mencoba untuk memelukku. Aku tahu ini puncak penderitaan dan hari terburuk dalam hidupku, namun Ke mana aku harus berlari, dulu pelukannya adalah tempat pulang dan bagian ternyaman dari diriku, tapi sekarang aku kehilangan segalanya. Dalam tangisanku Yang pilu aku mulai menyadarkan diriku bahwa, aku sudah harus mulai berkemas dari hati suamiku, aku harus membingkai kenangan, melipat semua harapan, menggulung mimpi-mimpi dan menyimpannya rapat-rapat untuk diriku sendiri, lalu Saat hatiku terkunci kembali, aku bersedia pergi untuk membiarkannya bahagia bersama Rania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD