8. meninggalkan luka

831 Words
Meski aku menangis dalam pelukannya tapi tak lagi kutemukan yang bisa memberiku kenyamanan, sebuah tempat yang damai yang akan membuat tangisan terseduku menjadi reda dan tarikan nafas yang tenang. Aku menarik diri dari rengkuhannya, mundur sambil menatapnya dengan gelengan kepala, mas Husein nampak heran, tapi dia ingin terus membujukku dengan tatapan matanya yang terlihat memelas dan turut sedih. Entah pemikiran apa yang sedang terlintas di hatinya, benarkah dia sungguh kasihan padaku atau hanya pura-pura terlihat menyesal dan bersedih agar tidak terlalu nampak tak berperasaan. "Kenapa sayang? Tolong jangan tarik dirimu seperti itu!" "Aku sudah sadar mas tidak ada harapan diantara kita,"jawabku parau, air mata ini meluncur dengan cepat, lalu jatuh ke atas hijabku. "Jangan bilang begitu... Apa yang berat bagi sungguh juga berat bagiku." "Oh sungguhkah?" Beraninya Dia terlihat pura-pura prihatin padahal sebenarnya begitu banyak rahasia yang ia sembunyikan dariku. Masalah wanitanya, anaknya, keluarganya yang kompak bersandiwara serta uang dengan jumlah yang fantastis, yang selama ini tak pernah kuketahui wujudnya. Jangankan wujudnya dalam bentuk tulisan slip gaji saja aku tidak pernah melihatnya. Haruskah, aku membahasnya sekarang? Sepertinya, untuk apa aku bertanya lagi. "Sebaiknya kita istirahat, kita bisa lanjutkan percakapan ini besok." "Hatiku tetap akan resah Mas, sebaiknya mari selesaikan percakapan kita." "Aku sudah katakan padamu semuanya, ini adalah kesepakatan keluarga dan keinginanku juga, tapi bagian salahnya aku tidak memberitahumu! Aku menyesali hal itu sebagai dosa besar dan aku benar-benar merasa sangat buruk," ucapnya sambil menghela nafas dan membenahi kacamata. "Lalu bagaimana dengan gaji 100 juta? Kenapa aku tidak pernah tahu bahwa penghasilanmu sebanyak itu?" "Hmm!" Dia mendongak padaku dan terkejut, lalu nampak gelagapan gesturnya terlihat panik. "Aku menemukan slip gaji, struk belanja istri dan anak-anakmu juga tagihan-tagihanmu!" "Astaga aku benar-benar menyesal aku lalai tidak membuangnya segera!" "Bukan masalah kau buang atau tidak, pantai-pandainya kau sembunyikan pasti akan ketahuan. Kenapa kau tidak memikirkannya?" "Dengarkan aku... Gajiku memang sebanyak itu tapi kau juga tahu bahwa pos pengeluaranku juga tidak sedikit. Aku masih membiayai adikku yang kuliah, itu orang tuaku dan ..." "Dan uang belanja istrimu yang cantik itu kan?!" tanyaki menohoknya. Dia hanya menggeleng cepat sambil membuang nafasnya. "Bukan begitu?" "Andai pun aku tahu aku tidak serakah untuk segera merampas uangmu. Aku tahu itu hakmu dan kau bebas membagikannya pada siapapun yang kau inginkan, hanya saja, aku merasa tidak dihargai sebagai istri!" "Aku tetap menghargaimu?" "Dengan uang 10 juta dari 100 juta?" "Bu-bukan?" "Atau sebegitukah nilai cinta dan harga diriku? 10% dari semua penghasilan dan ketulusanmu?!" "Bukan!" "Jangan menyela, aku muak!" Aku benar-benar berteriak, kali ini aku melampaui ketinggian yang sudah kutetapkan, aku melanggar batasanku sendiri bahwa aku tidak akan pernah marah dan meninggikan suara pada suamiku, kali ini aku sungguh kehilangan kesabaranku. "Jangan membujukku, jangan bicara padaku, jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku!" Begitulah ucapanku untuk yang terakhir kalinya. ** Adzan subuh berkumandang dari kejauhan, membawa perasaan tersendiri yang terasa mencabik hatiku. Lantunan ayat Alquran, panggilan untuk beribadah terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang perih, aku kehilangan separuh alasan untuk bertahan juga harapan-harapanku. Hanya air mata yang terus menetes di atas bantal, dalam keadaan sepanjang malam tanpa bisa tertidur. Lamat Lamat, suara di dapur terdengar, mas Husain sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Aroma kopi roti bakar terbawa oleh udara menuju kamarku menciptakan rasa lapar, lalu ingatan bahwa kemarin sama aku sama sekali tidak makan. Entah, kapan terakhir kali aku makan, dua hari kemarin atau mungkin lidah ini sama sekali tak mengecap apapun. Keterkejutan ini, luka luka yang menganga di hati ini telah menghilangkan perasaan untuk makan, selera untuk mengisi lambung dan memperbaiki diri, pergi mandi atau beristirahat dengan cukup menguap entah ke mana. Aku seperti orang gila yang hanya bangun, rebahan, lalu bangun lagi dan menangis lagi. ** Tok tok.... Entah berapa lama aku meringkuk di peraduan sampai matahari tepat menyoroti wajahku, jamaikir yang ada di meja sebelah tempat tidur mulai menunjukkan pukul 07.30, dan pintu kamarku sekali lagi diketuk oleh mas Husein. "Sayang aku berangkat yaa." Aku tidak menjawabnya. "Aku tidak akan terlambat pulang," lanjutnya. Selama ini dia memang tidak pernah terlambat pulang, entah bagaimana dia mencuri waktu untuk bertemu dengan wanita itu, bercinta dengannya lalu berhasil membuat anak, tapi dia mengelabuiku dengan cara paling sempurna. "Terserah mau terlambat pulang atau tidak, mau sekalian pindah ke rumah wanita itu juga tidak masalah aku sudah tidak peduli," jawabku lirih. "Jangan bilang begitu sayang aku tetap akan pulang padamu memperhatikan dan merawatmu!" "Enyah kau!" Aku meraih remote AC dari atas meja dekat jam weker tadi, lalu melemparnya ke arah pintu dengan keras. Prak!! Suaranya benar-benar kencang remote itu terjatuh dan pecah. Aku mampu melihat bayang suamiku dari celah-celah pintu, dia masih berdiri di sana tapi sepertinya dia tercekat. "Baiklah sayang, aku berangkat kerja dulu ya, doakan aku." "Tidak sudi lagi aku mendoakan, tidak akan pernah dan mudah-mudahan saja kau celaka!!" jawabku sambil menangis dan membenamkan diri di atas bantalku. Lelaki itu tidak mengatakan apapun tapi pintu rumah terdengar ditutup kembali dan suara mobilnya menderu. Dia berangkat meninggalkan luka dan tangisan yang tak akan pernah lekang dari hati dan wajahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD