9

903 Words
* Setelah memastikan lelaki itu pergi, aku keluar dari kamar. Mendapati dia telah menyiapkan ku sarapan roti lapis dengan telur dan keju kesukaan aku hanya bisa meneteskan air mata. Rasanya ingin ku tahan tidak makan apapun tapi sensasi lapar ini membuat tubuhku lemas. Aku beranjak kemeja makan sambil memperhatikan segala s**u yang sudah ia tutup, dengan sebutir garam tanpa gula, dia ingat betul, dan selalu hafal bagaimana cara istrinya menyeduh s**u. Aku duduk di depan makanan tersebut, mencoba meraihnya dengan tanganku yang gemetar, kalau kusentuh roti itu dan kuarahkan untuk mencicipinya. Rasanya masih sama, seperti buatan suamiku, rasanya seperti tidak ada yang berubah, tapi fakta bahwa kini ia memiliki wanita lain di hatinya dan tentu saja seorang anak yang jadi buah cinta mereka pasti melebihi posisiku di atas segalanya. Mungkin dia mencintaiku tapi dimensi cinta untuk Rania dan anaknya Aisyah, pasti melebihi dari dunia dan segala isinya. Aku kalah, aku kalah telak oleh wanita yang bisa menghasilkan anak untuk Mas Husain. Mungkin tak pantas bagiku menyebut Rania sebagai mesin penghasil anak, itu sebutan yah sangat rendah dan melecehkannya. Namun kebencian dan kemarahanku yang membuncak hingga membuatku mengucapkan sesuatu di luar nalar, aku membencinya membenci wanita yang bahkan tidak menggangguku. "Bagaimana ia tidak menggangguku, dia merebut suamiku dan menghancurkan rumah tangga kami. Dia mesin penghancur yang sesungguhnya!" Lalu aku menangis, air mataku tumpah, berderai-derai diantara kulit pipiku yang terasa perih dan kering, bibir ini juga merasakan pedih yang sama, retak karena dehidrasi dan depresi. Aku menyadari bahwa mentalku mulai terguncang oleh penderitaan dan berita baru yang sangat menyakitkan ini. Dan beberapa detik kemudian aku tidak melanjutkan sarapanku, hanya duduk termenung memikirkan apa yang harus kulakukan. *Tring! Ponselku berdenting, aku pandangi layar dan itu adalah nama Jessica sahabatku. Dia menelponku, mungkin untuk menyapa aku tapi aku sedang enggan untuk bicara dengan siapapun. Tring! Panggilan itu terus berdenting, intens dan terulang sampai ketiga kalinya. "Halo?" "Sayang, how are you Dear, apa kau baik baik saja?" Ucapannya dari seberang sana terdengar sangat khawatir. "Tidak." "Aku dengar apa yang terjadi dan aku benar-benar prihatin. Bagaimana denganmu?" "Kau tahu dari mana?" "Aku...." "Aku tidak menceritakannya pada siapapun Kau tahu dari mana?" "Aku dengar kabar dari salah satu anggota keluarga Husain." "Hah, sudah kuduga," jawabku menghela napas. "Apa itu benar?" Sahabatku dengan nada ragu bertanya dengan hati-hati padaku. "Iya, suamiku punya istri dan bahkan sudah punya anak." "Astaga, Sayang. Aku benar benar menyesal...." "Aku juga menyesal tidak menyadari segalanya dari awal, aku menyesal terjebak dalam pernikahan ini dan kini aku tidak tahu harus kemana!" "Pasti ada solusi, tunggu di situ aku akan mendatangimu," ujarnya yang segera menutup telepon tanpa menunggu jawabanku. Jessica adalah sahabat karibku, sejak zaman SMA dan kuliah aku dan dia tidak pernah terpisahkan, jadi tak pernah ada rahasia diantara kami. Bahkan sisi-sisi terdalam, semuanya kami saling mengetahui. Pukul 08.30 mobil Jessica tepat berhenti di depan rumahku, dia tergopoh datang dan segera menjumpaiku di dalam rumah. "Kau baik-baik saja?" Dia mendekat dan merangkulku yang sedang berbaring di sofa, melihat tatapan matanya yang penuh dengan iba, aku tak mampu membendung air mataku. Aku menangis sementara Ia hanya menatapku dengan kasihan. "Sabar," ujarnya menggenggam tangan. "Mungkin mudah jika hanya bersabar, tapi apa yang harus kulakukan?" "Tanyakan pada suamimu apa yang dia inginkan." "Tentu saja lelaki pasti ingin mempertahankan istri dan merasa keren." "Apa dia mencintai wanita itu?" "Jelas saja," balasku, "mereka punya anak." Aku membuang pandangan tetapi air mataku terus berderai, mungkin ini sudah tangisan 1200 kali dalam empat hari terakhir. "Kamu harus bangkit dan memperbaiki keadaan. Lihat dirimu sudah berapa hari kau tidak mandi?" "Sepertinya aku depresi." "Kakak jangan buat dirimu jatuh dalam keterpurukan. Kamu bisa bangkit dan melawan keadaan ini. Pertahankan suamimu sebab aku tahu kau dan dia saling mencintai!" "Bagaimana aku mempertahankannya untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa egois, Jess, dia dan wanita itu punya anak?" "Jadi kau mau mundur?" tanya sahabatku dengan tatapan mata yang seakan tidak mengizinkanku melakukan itu. "Lalu aku harus bagaimana?" desahku pasrah. "Pasti ada jalan keluar di antara semua ini. Sudah bicara dengan mertuamu?" "Sudah dan dia hanya menaburkan cuka di atas sayatan yang ada." "Astaga...." "Dan semua iparku hanya diam saja." "Mereka tahu?" "Nggak mungkin nggak tahu kan?" "Iya juga," balas Jesica dengan ekspresi miris. "Aku sudah dibuang oleh keluargaku, aku dikhianati suamiku dan tidak ada seorangpun yang berdiri untuk membela diri ini." "Ini aku di hadapanmu!" tegasnya. "Maksudku keluarga." "Aku juga keluargamu Aku adalah sahabat yang melebihi saudaramu. Bila kau beritahu orang tuamu mereka juga akan memberimu solusi jadi jangan pendam semua ini sendirian," balasnya sambil mendekat dan menggenggam tanganku serta memberiku tatapan penuh kepastian. "Ayo bangkit dan mandilah kita akan pergi ke rumah orang tuamu." "Tapi itu akan menambah beban mereka." "Kenapa kau masih memikirkan beban orang lain sementara kau sendiri dalam keadaan sakit dan Apa kau tidak sadar kalau kau juga butuh diselamatkan?" Aku menangis, terseduh aku di hadapannya sementara ia segera merangkulku dan mencoba menenangkan diri ini. "Tenanglah, Jangan pikirkan orang lain fokuslah pada dirimu sendiri." Tepukan halusnya di punggungku membuatku merasa sedikit reda. "Bagaimana aku mengakhiri pernikahan selama 15 tahun ini?" "Ada pepatah Jepang yang mengatakan, kalau kau terjebak dalam kereta yang salah maka turunlah di terminal terdekat, sebelum kereta itu membawamu lebih jauh lalu biaya untuk kembali akan jadi lebih mahal. Sebaiknya berhenti sekarang, sebelum kau benar-benar terluka dan menyesal!" Perkataan Jessica benar-benar membuka kesadaran dan membangkitkan semangatku. Aku mengangguk perlahan, lalu menghapus air mata dan beranjak menuju ke kamarku untuk mandi dan ganti pakaian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD