Pada pria yang telah kuberikan separuh jiwaku, aku kecewa karena telah begitu mencintai dan mendedikasikan diriku untuknya. Aku terbenam dalam lautan kekecewaan mendalam di mana tangis dan sesal tak lagi berguna untukku. Aku berdiri menahan bola mata berkaca-kaca serta sensasi menyesakkan d**a sementara pria itu melanjutkan tidur tanpa dosa. Lalu apa ... Akhirnya aku tetap harus menyeret diriku ke pengadilan agama, memberanikan diri untuk bicara pada panitera bahwa aku tak sanggup lagi bertahan dalam tirani ini. Aku tak kuasa menerima penderitaan serta cambukan kecemburuan yang setiap hari mendera jiwaku. Mungkin aku berusaha untuk ikhlas, tapi setiap kali bayang senyum Dan tawa Rania terlintas di pelupuk mata, hatiku terbakar kecemburuan yang membara. Bayangkan... Selama lebih dar

