Udara sore terasa menyengat dengan debu beterbangan dan asap-asap kendaraan yang menusuk penciuman. Aku duduk di beranda sebuah kafe dengan kopi yang belum tersentuh sedikitpun. Memandangi lalu lalang pengendara, dengan berbagai jenis dan tujuan manusia membuatku melamun sendiri akan tujuan hidup dan bagaimana aku akan mengarungi semua ini. Kemarin aku masih jadi istri yang bahagia, meski dalam keadaan sakit tapi sekarang Aku terjebak sendirian dalam situasi poligami, tak punya tempat untuk bersandar apalagi mengeluh. Aku harus ambil keputusan yang tepat sebelum semuanya terlambat dan kereta hidup membawaku semakin jauh ke dalam penderitaan terdalam. Entah kenapa di antara kebencianku aku masih merindukan suamiku, merindukan peluk dan ciumnya yang hangat, merindukan suasana sore di m

