Menatap Kenyataan
Aku sudah membuka mata bahkan sebelum bunyi pengingat di ponselku terdengar. Aku bahkan sempat memakai sandal sebelum mematikannya. Tepat pukul tiga pagi aku sudah bangun. Sebelum para pembantu di rumah itu terjaga, hal pertama kulakukan adalah menyisir rambutku, mengganti pakaian dengan yang bersih, lalu menyusun barang yang kubawa dan melangkah menuju kamar kakak perempuanku.
Langkah kakiku bergerak pelan agar tak menimbulkan bunyi saat masuk ke dalam kamar Ema. Gadis itu tampak cantik meskipun sedang tertidur lelap. Aku tahu ia hampir tidak pernah membersihkan dirinya sebelum tidur malam, namun kulitnya tetap tampak bersih dan bersinar, membuat siapa pun yang melihat merasa kagum. Ema berganti teman hidupnya dalam waktu yang tak terlalu lama, seperti hal-hal lain yang ia miliki. Ada yang merasa kecewa, namun ada juga yang menerima keadaannya, karena merasa cukup bangga pernah bersamanya.
Aku merapikan pakaian yang berserakan di lantai. Melipatnya satu per satu dengan hati-hati agar tidak ada suara yang terdengar. Aku sudah terbiasa bergerak senyap sejak aku masih sangat kecil. Di rumah ini aku hidup seolah seorang yang bekerja melayani mereka.
Padahal Ibuku berasal dari keluarga yang sangat dihormati, namun entah kenapa ia memilih menikah dengan pria yang sederhana. Pilihan itu membuatnya kehilangan tempat di hati keluarganya sendiri. Bagi mereka ia bukan lagi bagian dari keluarga terhormat itu. Ayahku membawanya pergi dan mereka membangun rumah sendiri. Ayahku bekerja dengan tekun. Usahanya tumbuh perlahan dan mulai dikenal. Namun kerabat ibuku masih tidak memandangnya dengan pandangan yang baik.
Aku tumbuh dalam kasih sayang mereka. Semua terasa penuh harapan. Hingga hari itu datang dan semuanya berubah selamanya.
Aku kembali menyadari apa yang sedang kulakukan. Tanganku terus bergerak membersihkan ruangan itu hingga semuanya tampak tertata. Aku melirik jam. Sudah pukul lima pagi. Ruangan Ema memang luas dan membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya. Namun tak ada satu pun yang bertanya seberapa lelah aku. Yang mereka tahu hanyalah bahwa ruangan itu selalu tampak rapi setiap pagi.
Aku pun bergegas menuju dapur. Hari ini Ayah Ema akan berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Perjalanan ke tempat kerjanya cukup jauh. Aku menyiapkan minuman kesukaannya tanpa gula. Dan sepotong roti yang dipanggang tanpa rasa manis. Semuanya harus tepat.
Ketika orang tuaku tiada seluruh harta peninggalan mereka dipercayakan kepada adik ibuku, yaitu Ayah Ema, sebagai wali yang sah. Harta itu baru akan diserahkan kepadaku saat usiaku genap sembilan belas tahun. Sesuai janji yang dibuat ayahku.
Langkah kaki terdengar di tangga. Ayah Ema muncul. Ia merapikan pakaiannya sambil melangkah turun.
"Kau sudah bangun pagi sekali. Aku akan berangkat sekarang. Mengapa tidak ikut bersamaku saja ke kantor?" ucapnya lembut.
Aku menatapnya sejenak. Di rumah ini hanya ia yang kadang memperlakukanku layaknya keluarga. Pernah beberapa kali ia diam-diam memberiku bantuan agar aku bisa membeli keperluanku sendiri.
Langkahnya terhenti sejenak seakan menunggu jawaban. Wajahnya tampak tenang. Ucapannya sederhana dan wajar. Seperti sikap seorang kerabat yang baik hati. Saat itu aku sama sekali tidak menyangka ada hal lain di balik tatapan itu.
"Ikutlah bersamaku ke tempat kerjaku. Ada hal yang penting untuk kita bahas. Lebih tenang di sana. Tidak ada yang akan mendengar pembicaraan kita." ucapnya sekali lagi.
Aku mengangguk pelan. "Baik Paman. Izinkan aku mengambil tas sebentar."
Perjalanan berlangsung dalam suasana yang tenang. Sesekali ia menyebutkan keadaan cuaca atau jalan yang sedang padat. Pembicaraan yang biasa saja. Seperti yang diucapkan seorang paman kepada keponakannya.
Sesampainya di kantor kami masuk ke ruang kerjanya. Ruangan itu luas dan tertata rapi. Dipenuhi rak berisi buku berjejer rapi. Meja kerjanya terbuat dari kayu yang tampak kokoh. Ia mempersilakanku duduk di kursi yang berada di hadapannya. Lalu ia menutup pintu ruangan itu hingga tertutup rapat. Cahaya masuk dengan lembut dari jendela yang sebagian tertutup tirai. Kemudian ia mendorong sebuah map berwarna gelap ke arahku. Tertulis namaku di bagian depan dengan tulisan yang rapi.
"Perhatikan tanggal hari ini. Tinggal sedikit waktu lagi hingga hari ulang tahunmu yang kesembilan belas tiba. Saat itu tiba, seluruh ketentuan yang dibuat ayahmu akan berlaku dan seluruh harta yang dipercayakan kepadaku akan menjadi milikmu sepenuhnya." ucapnya dengan suara rendah namun jelas.
Aku menarik napas dalam dalam. Tanganku menyentuh permukaan map itu perlahan. Hatiku berdebar kencang. Hari yang telah kuhitung sejak lama akhirnya hampir tiba.
"Di dalamnya tercantum rincian apa saja yang menjadi milikmu. Tanah dan bangunan, simpanan, bagian dari usaha ayahmu dan semua yang telah dicatat sejak awal. Tidak ada yang dikurangi. Tidak ada yang disembunyikan. Tugasku menjaganya hingga kau cukup umur untuk menerimanya." jelasnya tenang.
Aku membuka map itu perlahan. Melihat baris demi baris yang tertulis rapi dan terperinci. Mataku tak kuasa menahan perasaan saat melihat angka-angka itu. Selama ini aku hidup sederhana, melayani mereka pagi hingga malam, tanpa menyadari bahwa semua ini sudah menantiku sejak lama. Bahwa aku tidak harus hidup seperti ini. Sebentar lagi aku bisa pergi. Ke mana pun yang kuinginkan. Bebas.
"Apakah semua ini benar-benar menjadi milikku?" tanyaku pelan. Suaraku sedikit bergetar.
"Sepenuhnya. Ayahmu menyusun semuanya dengan sangat hati-hati, agar kelak kau tidak mengalami kesulitan." jawabnya mantap.
Aku merasa lega meluap di d**a. Terima kasih. Kata itu hampir saja terucap. Karena selama ini ia satu satunya yang tampak memihak kepadaku.
Namun kalimat yang menyusul sesudahnya membuat seluruh tubuhku terasa membeku.
"Akan tetapi ada satu hal lagi yang tertulis dalam perjanjian itu, yang baru boleh kukatakan kepadamu hari ini." ucapnya. Nadanya berubah menjadi lebih berat dan serius.
"Apa?" tanyaku mulai merasa gelisah.
Ia menatapku lekat. Tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Agar seluruh harta itu utuh menjadi milikmu dan tidak ada bagian yang hilang atau dipisahkan, terdapat satu syarat yang harus kau penuhi bersamaan dengan hari ulang tahunmu."
"Syarat apa?" tanyaku semakin cemas. Jantungku berpacu kencang.
Lalu ia menyampaikannya perlahan, satu kata demi satu kata, jelas dan tegas.
"Kau harus menikah denganku, secara sah menurut ketentuan agama dan negara. Menjadi istriku, tinggal bersamaku dan melayaniku sebagaimana layaknya seorang istri kepada suaminya. Itulah yang dituliskan ayahmu sebagai syarat agar warisan dapat diserahkan seutuhnya kepadamu."
Aku terpaku. Dunia seakan berhenti berputar di tempat. Napasku tertahan. Mataku menatapnya tak percaya. Selama bertahun-tahun kebaikan yang ia berikan, perhatian kecil yang kusangka kasih sayang kerabat, semuanya ternyata bukan seperti yang kukira.
"Menikah dengan Paman?" suaraku pecah. Aku hampir tak mengenali suaraku sendiri.
"Benar. Menikah denganku. Itu syarat utuhnya harta itu menjadi milikmu." ucapnya sekali lagi. Tegas dan tak bergeming.