Jalan Lain

1138 Words

“Jadi kau tak mau diatur istrimu?” tanyaku dengan nada manja, merapatkan wajahku ke dadanya. “Mungkin kali ini, biarkan aku yang mengatur,” jawabnya, lalu tersenyum lebar, senyum yang selalu membuat hatiku berdebar tak karuan. “Ya sudah, aku mandi dulu. Aku mau roti bakar tanpa mentega.” Aku mengerutkan kening sedikit, menatapnya heran. “Tumben? Biasanya selalu minta mentega, bahkan minta yang agak banyak.” Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, lebih mendalam, seakan ada makna tersembunyi di balik senyum itu. “Mentega yang aku mau sudah meleleh di pelukanku tadi.” Wajahku merah lagu, bukan sekadar merah muda, melainkan merah yang membara, hingga aku tak berani menatapnya lagi. Hermis tertawa kecil melihat reaksiku, lalu berjalan menuju kamar mandi sambil bersenandung pelan. Suara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD