"Menyerah sajalah," ucapnya lembut namun tegas. "Keluar saja dari bagian keluarga sekaligus perusahaan ini. Mantan suamiku itu hanya ingin mendekatimu untuk mendepakmu.”
Semua kini terdengar masuk akal. Benar bukan? Tak mungkin ia memperburuk kedudukannya sekadar untuk menikahi keponakannya sendiri. Itu akan menjadi skandal besar. Perusahaan ini bisa hancur begitu saja karena satu kesalahan yang tak pantas dilakukan.
Jantungku berpacu kencang. Dadaku terasa sesak. Rasa itu muncul kembali. Persis seperti yang kurasakan dulu saat aku terpaksa hidup bagai pembantu di rumah itu. Sekarang perasaan itu menyergapku kembali. Air mataku menetes perlahan. Aku sadar ternyata aku tidak sekuat yang kukira. Namun apa yang bisa kulakukan? Aku butuh seseorang untuk menunjuk jalan keluar. Tapi siapa? Aku bahkan tak tahu lagi ke mana harus melangkah.
Dalam beberapa detik, panggilan dari Rendra berbunyi. Aku ingat, aku sempat tidak membalas pesannya.
“Hai, kau di mana?” tanya Rendra. Suaranya masih setenang dan seberat biasanya.
Aku menyukai caranya berbicara, caranya menatapku, dan bagaimana dia memperlakukanku sebagai seorang wanita.
“Oh. Aku ada di suatu tempat? Ada apa? Mau kita bertemu,” ucapku.
Bertemu dengan Rendra adalah jalan lari terbaik, jalan keluar dari neraka yang tiba-tiba hadir di dekatku.
“Aku pergi dulu, Bi,” ucapku tanpa bermaksud tak sopan. Lalu aku meninggalkannya tanpa sempat mendengar apa yang akan dia jawab. Aku berlari kecil tanpa sadar bahwa Paman sedang memperhatikanku dari ujung ruangan. Entah apa maksud tatapannya. Yang jelas, dia memikirkan hal tertentu.
Tanganku mengetik alamat di aplikasi driver. Beberapa menit kemudian, mobil itu datang menjemputku.
Aku menuju sebuah kafe, tempat Rendra dan aku akan bertemu. Dia sudah berada di sana. Rendra tampak begitu rapi dan tampan di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela. Dia menyuruhku duduk sembari menyeruput espressonya yang membuatnya tampak begitu tenang.
“Hai, Kak? Sudah lama?”
Aku menarik kursi dan duduk di depannya. Mataku melihat menu dengan tidak sabar, kemudian bergerak menuju meja pemesanan untuk memesan segelas Americano.
Aku membutuhkan kopi, tetapi espresso membuatku menahan nyeri karena rasanya terlalu kuat. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih ringan dan menyegarkan, lalu kembali duduk di depan Rendra.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rendra.
Aku mengangkat bahu dan berusaha menyembunyikan semua masalah yang baru saja menimpaku.
“Bagaimana dengan cita-citamu? Kau bilang ingin masuk ke universitas itu dan mengambil jurusan hukum.”
Aku tidak banyak bicara dan hanya tersenyum. “Apakah kau punya pilihan jurusan lain?”
“Maksudnya?”
“Sebuah jurusan yang biaya per semesternya tidak terlalu berat dan jadwal kelasnya tidak terlalu padat jika aku ingin mengambil pekerjaan sehari-hari.”
“Kenapa kau terlihat begitu membutuhkan biaya?” Aku terdiam. “Bukan apa-apa, Rini. Hidupmu selama ini terlihat baik-baik saja.”
“Itu hanya kelihatannya. Sebenarnya, hidupku cukup tidak menyenangkan.” Aku melirik ke setiap sudut dan memastikan tidak ada orang lain yang kukenal. “Aku ingin lari dari keluargaku, Kak,” ucapku dengan suara bergetar.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa selamanya berada di dalam rumah mereka. Sekarang aku menghadapi masalah yang bisa jadi parah kapan saja. Jadi, aku harus punya rencana yang lebih ringan untuk dijalani seumur hidup.”
“Kau yakin dengan itu?”
Aku mengangguk.
“Memangnya kenapa?” Suaranya terdengar khawatir.
“Mungkin aku merasa perlu memberi ruang untuk diriku sendiri.”
Lalu ponselku berbunyi. Ema menelepon dan suaranya tak sabar. “Dimana kamu? Ayah memerankan ballroom untuk ulang tahunmu dan kurasa acaranya akan lebih besar daripada semua ulang tahunku selama ini”
Ema sebenarnya orang yang baik, hanya saja, perlakuan Paman kepadaku membuatnya iri dan merasa diperlakukan rendah. Pada ulang tahunku yang lalu, misalnya, aku mendapatkan sebuah mobil yang cukup mahal. Sementara itu, beberapa bulan setelahnya, Ema hanya mendapatkan seekor anjing ras.
“Cobalah untuk tak mengacau dan datang tepat waktu!”
Lalu panggilan terputus. Aku menarik napas pelan, lalu mengembuskannya dengan berat.
“Kau bisa datang malam ini,” pintaku pada Rendra. “Sebagai hadiah ulang tahun.”
Wajahku merah. Ternyata tanpa sdar alam pikiranku membayangkan sebuah kejutan yang tidak biasa. Sebuah lamaran, mungkin.
Selama ini Rendra memang terkesan seperti seseorang yang menyukaiku. Dia terlalu manis dan setiap ucapannya terasa begitu penuh keyakinan.
“Mungkin kau bisa datang saja dan memberikanku sedikit bunga,” ucapku malu-malu. “Oh ya. Untuk kopi ini, aku yang bayar, Kak.”
Rendra melirik jam tangannya, lalu mengusap rambutku dengan lembut. “Aku harus pergi. Seseorang menungguku. Aku akan datang ke pesta ulang tahunmu. Jangan mulai tanpa aku, ya!” ucapnya.
Setelah dia meninggalkanku seorang diri, aku kembali memikirkan Rendra. Dia sangat sempurna dalam hal akademis. Dia nomor satu di angkatannya. Dan aku menyukainya. Dia adalah orang kedua yang kuhormati setelah Paman. Tanpa dia, mungkin aku tidak akan bisa bertahan di dunia ini.
Aku sering bertanya kepadanya tentang banyak hal. Tentang kehidupan, bahkan tentang persoalan yang belakangan ini memenuhi kepalaku.
Jam pun berlalu. Aku sedang memperhatikan diriku di depan cermin. Tidak banyak gaun yang kumiliki dan akhirnya, aku memilih sebuah gaun tua yang pernah dipakai Ibu pada hari ulang tahun pernikahannya dulu.
Gaun itu berwarna merah, memperlihatkan pundak dan punggungku yang indah. Aku bisa membayangkan setiap mata orang akan terpaku pada diriku. Tiba-tiba, aku merasa seperti seseorang yang terlalu menginginkan perhatian.
Pintu terbuka. Paman muncul dari baliknya dan tampak terkagum-kagum melihat penampilanku. Dia tak banyak bicara. Dia hanya memintaku turun bersamanya sebelum akhirnya mengantarkanku ke pesta ulang tahunku.
Pesta ulang tahunku kali ini terasa sangat mewah. Tempat itu didesain dengan sangat luar biasa. Lampu-lampu tergantung di berbagai sudut, entah berapa banyak jumlahnya.
Sebuah kue yang sangat indah berdiri di atas meja. Pembuatnya pastilah seseorang dengan keterampilan khusus yang dibayar sangat mahal.
Bahkan, telah disiapkan tumpukan gelas yang berkilauan yang nantinya akan kutang Champagne di atasnya.
Aku memang tidak bisa minum karena belum diizinkan. Namun, hari ini aku berencana untuk menenggak segelas sebagai hadiah untuk diriku sendiri.
Sebuah janji.
Dalam hitungan jam, pesta pun dimulai. Orang-orang mulai berdatangan, dan sebagian dari mereka adalah orang yang tidak aku kenal. Mungkin dari kalangan pejabat, mungkin kerabat-kerabat jauh kami, atau mungkin juga orang-orang yang kebetulan memerlukan bantuan dari Pamanku.
Paman berkata bahwa kelak aku harus mengenal mereka semua, seolah-olah mereka akan membantuku secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Aku sadar aku bagai penduduk luar di dunia ini. Semua tampak penuh kepura-puraan. Mereka tampak kagum padaku, padahal menurutku kilau yang mereka kagumi itu hanyalah pantulan gaun peninggalan Ibuku yang menyelimutiku.
Mereka menjabat tanganku, dan beberapa wanita mendekat lalu mencium keningku. Aku tidak melihat mereka membawa hadiah. Mungkin bagi mereka, hadiah bukanlah sesuatu yang sekadar diberikan, melainkan sesuatu yang bernilai sebagai aset atau ikatan berharga. Pembicaraan mengalir dan aku berdiri melindungi diri di samping tanaman hias yang berdiri di sisi kanan ruangan.
Belum sempat aku berpindah tempat, seorang pelayan mendekat menawarkan minuman. Aku menerimanya. Segera kurasakan perasaan yang tak sanggup kuhindari. Minuman ini akan menjadi langkah pertamaku sekaligus hadiah kebebasanku.
Entah mengapa, kepalaku terasa pening tak lama setelah meminumnya. Aku pun berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah yang terasa memerah. Apakah minuman itu memang sekuat itu, ataukah aku yang memang belum terbiasa dengan alkohol?