Jauh di Indonesia, Paman Robert membuka ponselnya. Layar itu penuh dengan foto keponakannya. “Kau tampak berbeda,” gumamnya pelan, menatap senyum lebar yang terukir di wajah wanita itu. Namun matanya segera beralih ke sosok Hermis yang berdiri di sampingnya, dan napasnya berubah menjadi nada tak puas. Di setiap foto, ia menyuntingnya, menghapus sosok pendamping itu, lalu menggantinya dengan bayang-bayang dirinya sendiri, seakan hanya dialah yang berdiri di samping keponakannya. Tak lama, napasnya perlahan terasa berat. Ada gejolak liar di dalam dadanya, jantungnya berdebar kencang. Mulutnya mengucap kata-kata kasar, penuh nafsu, hingga akhirnya ia merasa lega dan jatuh tertidur dalam pose kotor. Dan waktu berlalu. Segalanya terasa terlupa dan menjadi hal baru. Pagi itu, aku berdiri

