Bab 1
Dingin, itulah yang dirasakan seorang gadis kecil yang malangnya tengah terdampar di sebuah gudang yang sangat kotor itu.
Ia menangis tersedu menatap pintu gudang yang terkunci rapat dari luar. Tidak ada siapa-siapa dan tidak ada tanda-tanda yang akan menolongnya
"Vannya kangen bunda... Bunda kenapa pergi ninggalin Vannya sendirian? Vannya takut," ucap gadis itu memandangi selembar foto seorang wanita bergaun putih menjuntai sampai ke rumput. Foto yang sudah lusuh karena terus tersimpan di saku bajunya kemanapun Ia pergi. Satu-satunya barang yang menjadi benda berharganya.
Gadis itu menangis dengan nasib nya yang sangat menyedihkan dan Ia tak bisa melawan ketidakadilan ini.
Gadis yang baru berusia 10 tahun, dimana ia selalu menerima siksaan dari ayah dan ibu tirinya. Kejam Ia rasakan dan pahit Ia terima, semua Ia terima seorang diri tanpa seorang pelindung.
Tiba-tiba, ia mendengar suara bising dari luar, tanpa menunggu lama lagi, gadis itu segera berlari menuju pintu dan mendobrak-dobrak pintu serta berteriak minta tolong. Berharap seseorang diluar dapat mendengar lalu menolongnya.
"Seseorang tolong aku... !!!" teriaknya sambil menangis.
"Please help me...!!" teriaknya lagi dengan tangan yang masih mencoba mendobrak pintu.
Seorang pria yang mendengar itu tiba-tina berbalik dan menatap pintu yang ia lewati.
"Ada apa disana?" tanya pria itu penasaran.
"Seseorang minta tolong dari dalam, apakah kita akan membantu nya?" tanya seorang bodyguard-nya.
"Sepertinya seorang gadis yang berteriak minta tolong," ucap Jeck, tangan kanan sang pria tersebut.
"Buka!" printah pria itu tak terbantah.
Salah seorang membuka pintu itu membuat gadis yang tadi berdiri dibaliknya langsung tersungkur jatuh tepat didepan sang pria.
"Makasih sudah membebaskanku, arrhhh..." Gadis itu mengerang menyakitkan saat Ia mencoba berdiri tapi kaki kanannya yang terluka parah membuatnya tersungkur kembali.
"Kenapa kau di gudang hmm? Siapa namamu?" tanya pria itu menyamakan tingginya dengan sang gadis.
"Aku di kurung disini, namaku Vannya," ucap gadis itu lantang. Iya berharap pria tinggi dihadapan nya akan menolongnya.
"Dikurung? Kesalahan apa yang kau buat?" tanya pria itu penasaran.
"Aku melampaui pringkat kakakku, dan aku dikurung sebulan disini karna selalu mendapat nilai A di pelajaran matematik," ucap gadis itu dengan sesenggukan membuat Pria yang ada di depannya terjengat kaget.
"Kau mau ikut denganku? Kita akan ke Los Angless malam ini," ucap pria membuat gadis yang di depannya langsung berbinar.
"Bolehkah? Kau tak keberatan aku ikut denganmu?" tanya Vannya dengan mata berbinar.
"Tentu, ayo!" ucap pria itu dan membantu Vannya untuk berdiri.
"Siapa namamu? Kenapa kau bisa ada disini? Dan siapa mereka?" tanya Vannya beruntun dan melirik kearah bodyguard pria yang menyeramkan itu.
"Namaku Madrick Giorgio Dantlless, kau bisa memanggilku Daddy, karna kau sekarang putriku. Aku ada keperluan disini, dan mereka adalah bodyguard ku," jawab Mad dan langsung membawa Vannya kedalam mobilnya.
Vannya hanya menurut dan menatap sekelilingnya dengan bingung.
Semua serba mewah disini, bahkan mobil pun terlihat sangat mewah.
"Lalu besok sekolah Vannya bagaimana Daddy?" tanya Vannya dengan wajah polosnya menatap kearah Madrick.
"Kau akan ku sekolahkan disana, dan karna kau sekarang putriku, jadi kau harus selalu mendapat nilai terbaik, daddy akan memberikanmu les private," ucap Madrick mengusap lembut rambut Vannya.
"Siapa nama lengkap mu, Sayang?" tanya Mad penasaran.
"Zavannya Aureva Abnigation, panggil saja Vannya," ucap Vannya tersenyum manis.
"Maaf tuan, sepertinya nona Zavannya tidak bisa ikut ke LA, karena akan membahayakan nyawanya dan akan mempermudah musuh untuk memancing kita," ucap Jeck membuat Mad mangut-mangut dan menatap sendu wajah Vannya.
"Baiklah...," putus Mad.
"Vannya Daddy tinggal di Indonesia ya, Sayang? Vannya nanti tinggal di mansion Daddy dan disana akan banyak yang ngurus Vannya dengan baik, Daddy akan jemput Vannya jika Vannya sudah pandai dan bisa buat Daddy bangga," ucap Mad panjang.
Vannya hannya menatap Mad dengan diam dan membaca raut wajah Mad yang sulit dimengerti.
"Kalo Vannya kangen Daddy gimana?" tanya Vannya
"Vannya bisa telfon Daddy, nanti Daddy belikan Ponsel buat Vannya. Kalo Daddy punya waktu, nanti Daddy jenguk Vannya," ucap Mad yang dijawab Vannya dengan anggukkan.
"Kita sampai tuan,"ucap Jeck
"Ayo sayang. Daddy tunjukkan kamarmu," ucap Mad menggendong Vannya dengan gemas dan keluar dari mobil.
"Rumah Daddy besar, kayak istana," puji Vannya tersenyum menatap Mansion yang megah itu.
"Semoga kau betah disini sayang, karna disini, kau adalah princess," ucap Mad membuat Vannya berbinar.
$$$
"Vannya mau di sekolah biasa saja dad, Vannya kalo disekolah mahal ntar Vannya temennya sombong-sombong," ucap Vannya saat Mad mengajak Vannya keliling mansion selesai membeli perlengkapan Vannya.
"Tapi Daddy pingen Vannya sekolah yang bagus, biar Vannya mendapat bimbingan yang lebih, jadi Vannya bisa cepet ketemu Daddy, emang Vannya nggak mau ketemu Daddy?" tanya Mad membuat Vannya langsung menggeleng cepat.
"Baiklah daddy, Vannya bakal Nurut kata daddy," ucap Vannya yang membuat Mad mencubit pipi gambulnya gemas.
"Pintar. Daddy bentar lagi berangkat, Vannya jangan nakal² disini dan nurut kata David serta Yosi, ok?"
"Ok daddy, Vannya bakal nurut sama mereka." ucap Vannya
"Dan ini untuk Vannya, hadiah dari daddy," ucap Mad memberikan sebuah kotak persegi berukuran 20 centi berwarna merah.
"Apa ini daddy?" tanya Vannya penasaran
"Buka dong! Buat Vannya ini," ucap Mad memberikan kotak itu pada Vannya.
Vannya hannya bingung dan membuka kotak itu.
"Suka nggak?" tanya Mad
"Suka banget daddy, makasih," ucap Vannya dan memeluk Mad dengan erat.
"Sini Daddy pakaikan," ucap Mad dan memasangkan sebuah Kalung gold silver yang dipastikan harganya selangit itu, dengan nama yang tergantung dikalung itu bertulisan 'Zavannya'.
"Cantik," puji Mad
"Makasih daddy," ucap Vannya senang.
"Kau tak ingin memakai cincin, gelang dan anting ini, Sayang?" tanya Mad menunjuk Cincin polos yang terdapat 3 mata berliant dan didalamnya yang tertulis 'Aureva', simple dan cantik.
Mad segera memasangkan cincin dijari manis Vannya dan memasangkan anting ditelinga mungil Vannya.
"Helikopter anda sudah sampai tuan," ucap Jeck yang tiba-tiba datang.
Mad hanya mengangguk dan segera memasangkan gelang pada tangan mungil Vannya.
Gelang yang terbuat dari kain, lebih tepatnya kain sutra ber jahit emas dan selempang gold silver berukiran 'Dantless' yang akan terlihat jika disorot dengan lampu laser biru.
"Daddy berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik dan jangan nakal! Jika ada orang jahat yang akan melukaimu katakan pada mereka jika kau princess nya Madrick Dantless. Jika mereka tak percaya, tunjukkan gelang ini dan suruh mereka untuk menyorotnya dengan laser biru, mengerti?" jelas Mad panjang.
"Mengerti daddy," ucap Vannya semangat.
"Ingat pesan daddy! Daddy akan selalu memantau mu! Jika kau nakal, maka daddy tak akan sayang padamu, mengerti?"
"Mengerti daddy."
"Daddy berangkat, daddy mencintaimu sayang." ucap Mad mencium lembut kening, kedua pipi dan pucuk kepala Vannya.
"Vannya juga mencintai daddy, hati² dijalan daddy," ucap Vannya mencium pipi Mad.
Mad tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar mansion diikuti bodyguard nya.
"Vannya sayang daddy," ucap Vannya dan berjalan menuju kamarnya.