waktu yang ( tidak ) salah

1810 Words
Abhi terbangun saat matahari sudah mengintip diantara celah gorden kamar. dirabanya sisi samping tempat tidurnya. kosong... kemana Mona? apa dia sudah berangkat ke kantor. tapi bukankah sekarang hari minggu. setelah melewati perdebatan yang berubah menjadi pertengkaran mereka akhirnya menutup hari dengan pergumulan panas. tidak butuh waktu yang lama bagi Mona untuk mendapatkan maaf dari Abhi. cukup dengan mengarang bebas saja. beralasan tidak mengenali siapa Laksono sebelumnya. dia mengakui mabuk karena sedang emosi pada Abhi yang mengabaikannya. menghilangkan rasa cemburu pada Laras dengan mabuk sendirian di klub malam daripada dia mendatangi Laras dan memarahinya lebih baik dia minum - minum saja. Alasan kenapa dia memilih ikut Laksona semata demi nama baik dan keselamatan Abhi. dia merasa perlu meminta maaf atas nama Abhi pada Laksono. dia tidak ingin Laksono memperpanjang masalah tersebut yang bisa membuat Abhi berurusan dengan pihak yang berwajib. Lihatlah betapa berbakatnya Mona dibidang ini, buktinya Abhi akhirnya bisa luluh dan menerima semua alasannya. Abhi tersenyum teringat dengan apa yang terjadi semalam. kenikmatan yang mereka ciptakan benar- benar memabukkan. Mona selalu bisa memuaskan hasratnya. andai Mona ada disampingnya, rasanya dia ingin kembali mengulangnya sekali lagi. Bangkit dari tempat tidur Abhi melangkah menuju pintu keluar kamar. bukannya langsung ke kamar mandi seperti kebiasaannya setelah bangun tidur selama ini. dia ingin segera bertemu dengan Mona. tidak menemukan Mona diruang keluarga yang merangkap sebagai ruang tamu, Abhi menyeret langkahnya menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan. diatas meja terlihat sebuah bungkusan yang Abhi yakini sebagai sarapan untuknya. selembar notes kecil berwarna kuning menempel dibungkusan tersebut. Abhi meraih kertas itu segera membacanya. Mona harus keluar lebih dulu karena ada urusan mendesak. tidak lupa dia mengingatkan Abhi untuk sarapan dengan nasi goreng yang sudah dia dibeli. Abhi menghembuskan nafasnya malas. Abhi tidak suka nasi goreng yang sudah dingin. Mona dengan memasak memang tidak bisa disatukan. selalu menggampangkan urusan makan. kalau bisa dibeli kenapa harus repot untuk memasak? buang - buang waktu saja, toh fungsinya tetap sama. untuk menghilangkan rasa lapar saja. berbeda dengan Laras yang sebisa mungkin harus memasak sendiri semua makanan yang akan disantap keluarganya. Laras akan memastikan semuanya higienis dan sesuai dengan selera Abhi dan anak - anak mereka. tiba - tiba Abhi teringat akan Laras yang selalu melayaninya. Abhi berjalan cepat menuju kamar mencari ponselnya. tidak menemukan di kamar Abhi kembali keluar menuju ruang keluarga. ternyata hpnya ada di meja ruang keluarga. tadi malam mereka memang lama menghabiskan waktu disini. diraihnya hp tersebut sembari mendudukkan pantatnya disofa. banyak notifikasi yang terlihat. selain pesan ada panggilan tak terjawab juga. satu dari Laras dan sisanya dari Mama dan Papanya. Abhi merasa ada hal buruk yang terjadi. ternyata tadi malam Laras menelfonnya. sekitar pukul dua belas. saat itukan dia sedang bertengkar hebat dengan Mona. kalau Laras menelfon pasti karena dia tidak pulang. biasanya selalu begitu. tapi kalau mama dan papanya... tidak mau menduga- duga yang bisa membuatnya tak tenang, segera disentuhnya tanda untuk memanggil. Abhi memutuskan untuk menelfon Laras terlebih dahulu. tidak aktif. diulangnya sekali lagi, ternyata masih tidak aktif. jangan - jangan Laras sengaja mematikan hpnya karena marah Pada dia. Memang Abhi akui dia bersalah karena tidak ingat mengabari Laras kalau dia akan menginap di tempat Mona. gagal menelfon Laras kali ini Abhi menelfon mamanya. " halo, Assalamualaikum ma..." " papa... ibu pergi..." . bukannya suara mamanya yang menjawab yang terdengar justru suara putri bungsunya yang bercampur dengan tangisan. " papa cariin ibu... Adek mau ibu!" suara tangisan Rara membuat jantung Abhi berdebar kencang. Laras pergi? tiba - tiba perasaannya tidak enak. nggak mungkin Laras pergikan. mungkin Laras cuma pergi kepasar, bukan pergi seperti yang dia fikirkan. " sayang, tenang dulu ya... adek sekarang ada dimana? " " dirumah " " ada oma disitu? " terdengar suara Rara yang memanggil omanya untuk memberikan hp padanya. samar masih terdengar suara tangisan Rara. " puas kamu?!" bentak mamanya . Abhi mematung mendengarnya. " sekarang Laras sudah pergi, kamu pasti puaskan bisa bersama perempuan itu?" Abhi masih mencoba mencerna dengan baik maksud amarah mamanya. benarkah Laras pergi. tapi kenapa? bukankah dua hari yang lalu hubungan mereka justru mulai membaik? bahkan mereka sempat melakukan hubungan suami istri pertama sejak dia menikahi Mona. " maksud mama apa?" nada cemas dan takut terdengar dari suara Abhi. " pulang kamu sekarang, bawa Mona juga. kalau kalian tidak kembali sampai jam makan siang jangan salahkan mama yang akan mengambil alih pengasuhan Sinta dan Rara". " tapi ma... Laras" " Laras kenapa?!" " dia nggak mungkin pergikan?" " kenapa tidak mungkin? apa menurut kamu dia akan tetap berada disisi kamu walau kamu sudah mendua? cih! jangan terlalu percaya diri kamu!" Elmira melampiaskan amarah yang sudah dia tahan sejak subuh tadi. sejak Laras menelfonnya untuk pamit pergi. Elmira tidak bisa melarang Laras untuk pergi, lebih tepatnya suaminya yang mendukung Laras untuk pergi. Ronald ingin Laras bisa menenangkan diri dahulu. saat Elmira menanyakan kemana Laras pergi, Laras tidak mau memberi tahunya. Elmira yang ingin memaksa pun terpaksa mengalah karena Lagi - lagi Ronald mengatakan lebih baik Elmira bersabar saja. Ronald yakin nantinya setelah Laras lebih tenang dia sendiri yang akan menghubungi mereka. Demi bisa membuat Laras pergi dengan tenang disaat anak - anak belum bangun mereka terpaksa datang kekediaaman anaknya pagi - pagi sekali. hal pertama yang mereka temui adalah Rara yang sedang menangis mencari ibunya. " ma, Abhi akan cari Laras sekarang juga" " tidak perlu, biar saja dia pergi " larang Elmira menambah kekalutan Abhi. " tapi ma, Abhi yakin Laras tidak akan pergi jauh..." " jangan bantah mama, sekarang kamu pulang!" tanda menunggu jawaban dari Abhi Elmira mematikan sambungan hpnya secara sepihak. Abhi mengacak rambutnya gusar. Laras pergi adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan. selama ini dia sangat percaya diri kalau Laras akan selalu berada disampingnya. teringat akan perintah mamanya, Abhi segera kekamar untuk mandi. dia harus pulang secepatnya. selesai mandi dan berpakaian Abhi kembali menekuri ponselnya untuk menelfon Mona. berada di luar jangkauan. kenapa dia mesti berada di luar jangkauan disaat genting begini? tak mau membuang waktu lagi Abhi segera keluar dari Apartemen Mona. mungkin nanti dijalan dia akan kembali menelfon Mona. Hingga mobilnya memasuki pekarangan rumah Abhi belum berhasil menghubungi Mona. sebentar lagi jam makan siang. mamanya pasti akan memarahinya. " mana wanita itu? " tanya Elmira yang sedang berkacak pinggang di ruang keluarga. " ma..." Abhi hendak meraih tangan Elmira namun segera ditepis dengan kasar. Abhi menatap sekilas pada papanya yang dibalas dengan tatapan tajam. Rara yang awalnya tiduran dipangkuan opanya langsung bangkit dan menghambur pada papanya. Abhi menyambut putri kecilnya dengan senyuman. meski sudah berhenti menangis namun sesekali masih terdengar tersedu. Abhi menatap iba pada Rara. " pa ayo cari ibu..." rengeknya. Abhi tidak bisa menjawab permintaan anaknya. Lama mereka membujuk Rara, mengalihkan perhatian gadis kecil tersebut. tidak mudah karena yang Rara inginkan cuma Laras. Akhirnya Ronald berinisiatif mengajak kedua cucunya bermain ke taman komplek. banyak tempat duduk yang lumayan teduh disana. sebelumnya dia mampir dulu di Minimarket untuk membeli ice cream. Abhi duduk termenung di ranjang yang beberapa hari terakhir di tempati Laras. dia percaya kalau Laras benar - benar telah pergi. Laras meninggalkannya dan anak - anak mereka. tadi begitu masuk kamar hal pertama yang Abhi lakukan adalah memeriksa lemari pakaian. berharap masih ada barang - barang Laras disana. ternyata sudah tidak ada lagi. benda yang tertinggal justru yang bisa membuat jantung Abhi terpompa lebih cepat. darahnya seolah ditarik ketitik terendah. membuatnya bertambah lemas. buku nikah suami, buku tabungan dan dua buah kartu bank. belum cukup dengan itu semua, sebuah cincin yang biasa Laras pakai juga ada disana. cincin pernikahan mereka. Elmira masuk ke kamar dan duduk tak jauh dari Abhi. ikut sedih melihat anak semata wayangnya yang sedang bersedih. tapi merasa Abhi pantas menerimanya. karena ini buah dari perbuatannya sendiri. " kamu bilang alasan kamu kembali bersama Mona adalah Anak - anak " Elmira membuka percakapan diantara mereka. Abhi cuma mengangguk lemah , tak berniat untuk menjawab. " dari apa yang mama lihat tidak ada urgensinya sama sekali. Mona memang ibu kandung mereka tapi selama ini hubungan mereka tidak benar - benar dekat " " karena itu Abhi menerimanya " " Mama tidak percaya, buktinya hubungan mereka masih tidak ada perubahan kearah yang lebih baik " Abhi menatap mamanya lelah. " semua butuh waktu ma " " benar! kamu memang benar butuh waktu dan proses yang panjang, tapi coba kasih tahu pada mama sejauh ini usaha apa yang sudah Mona lakukan agar bisa lebih dekat dengan Sinta dan Rara? " " itu karena masih ada Laras diantara mereka" Elmira tertawa sinis. " kamu baru saja mengakuinya kan bahwa anak - anak tidak membutuhkan Mona, yang mereka butuhkan cuma Laras" " tapi Mona ibu kandungnya ma, mama nggak bisa menolak itu!" suara Abhi sedikit meninggi karena terpancing emosi . dia keberatan dengan apa yang mamanya ucapkan. " tidak ada yang menyangkal itu Abhiyaksa! semua orang tahu Mona adalah ibu kandung anakmu. tapi kamu juga harus tahu bahwa Ibu kandung anakmu itu sudah tega meninggalkan mereka dahulu. Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya yang masih merah?!" suara Elmira tak kalah keras pada Abhi. " mama!" " anakmu tidak butuh ibu kandungnya, jangan kamu jadikan mereka sebagai tameng nafsumu! kamu yang meninginkannya bukan mereka" Abhi mengeraskan rahangnya menahan emosi agar tidak semakin menjadi. dia tidak mau melampiaskan amarahnya pada Elmira. Abhi bukanlah anak yang suka melawan pada orang tuanya. " karena Laras sudah pergi mama akan bawa mereka tinggal bersama mama". " tapi ma, bagaimana kalau Mona ingin bertemu dengan mereka?" " bagaimana apanya? dia bisa datang kerumah mama kapan saja" " mama nggak akan memarahinya kan?" " kita lihat saja nanti " jawab Elmira. *** Enam jam menempuh perjalanan dengan menggunakan bus akap akhirnya Laras sampai ketempat tujuannya. disinilah dia sekarang. sedang memandang danau luas dari balik jendela tempatnya akan tinggal untuk sementara waktu. barang - barangnya yang tidak seberapa sudah ia susun di dalam lemari yang tersedia di kamar penginapannya. sebuah hotel bergaya castil yang berada dipinggir danau. dari tempatnya duduk Laras bisa melihat ratusan kerambah yang mengapung didalam danau.hari baru lewat tengah hari. ingin makan ke resto hotel Laras rasanya malas. mau tidur dia tidak mengantuk lagi. selama perjalanan dia memilih untuk tidur. semalaman dia tidak tidur karena begitu Anak - anak masuk kamar dia segera berkemas untuk pergi. sebagian besar barangnya dikirim ke toko. sengaja dia titip disana . Dea yang sudah dia beritahu niat nya untuk pergi sangat mendukung keputusannya. selama Laras pergi Dea yang akan mengurus toko sendirian. setelah berfikir lama, Laras sampai pada keputusan untuk segera pergi. Laras tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri pernikahannya. pernikahan mereka tidak sehat lagi, begitu yang selalu dia tekankan dalam hatinya. tapi untuk melangkah pergi meninggalkan anak - anak terasa amat berat baginya. hatinya sakit jika harus berpisah. belum sampai satu hari berpisah ingatannya sudah kembali kerumah. kepada Rara dan Sinta. sedang apa mereka hari minggu ini? air mata jatuh membasahi pipinya. sesakit inikah harus berpisah dengan orang yang kita cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD