Pagi di kediaman Abhi dimulai dengan ketegangan karena Rara yang mulai berulah. menolak sarapan roti bakar yang disiapkan oleh bik Asih. Sinta meminta dibuatkan bekal disaat jam sudah mendekati pukul tujuh. Abhi pusing menghadapi ulah kedua anaknya. Mona belum muncul juga dimeja makan. Abhi memang tidak menunggunya untuk turun bersama. seperti biasa Abhi akan bangun duluan. setelah mandi dia membangunkan Mona agar segera mandi juga. akan tetapi hingga Abhi selesai berpakaian Mona belum juga bangun. sekali lagi Abhi mencoba untuk membangunkan Mona. begitu dia yakin Mona sudah bangun barulah dia keluar kamar. menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. dia tidak perlu membangunkan dua bidadari kecilnya karena suara keduanya nyaring terdengar dari ruang makan.
setelah sempat menginap semalam di rumah opa omanya Abhi menjemput mereka kembali. setelah berhasil meyakinkan Mona untuk berkunjung kerumah orang tuanya. syarat agar anak - anak di izinkan tinggal bersama mereka lagi. Mamanya tidak banyak bicara saat itu. Abhi di panggil papanya untuk berbicara berdua saja.
" Jujur papa sangat kecewa padamu "
ucap pria tua yang paling Abhi segani seumur hidupnya. papanya jarang memarahinya. dia sosok yang bijaksana . kalau tidak salah ingat baru kali ini raut kecewa dia terima dari papanya.
" Abhi minta maaf pa..."
Ronald menggeleng.
" jangan minta maaf sama papa. itu hanya akan membuat papa merasa semakin buruk "
" Papa yang salah "
suara Ronald mulai bergetar " Papa bersalah karena telah memberi contoh yang buruk padamu, papa gagal mendidikmu dengan baik"
Abhi menggeleng, tidak ingin papanya kembali mengungkit kisah silam. papanya yang pernah menduakan mamanya dimasa lalu tidak sama dengan apa yang dia lakukan. papanya terpaksa menikah lagi karena harus menutupi aib keluarga pamannya sendiri. Ronald tidak bisa menolak saat diminta pamannya untuk menikahi putrinya yang sedang berbadan dua. pria yang menghamili sepupunya itu kabur tidak mau bertanggung jawab. jadilah Ronald terpaksa menikah lagi meski dia sudah menikah dengan Elmira.
Elmira yang sedang hamil hanya bisa pasrah. mau meminta cerai kasihan pada bayi yang ada di dalam kandungannya.
tidak seperti perjanjian awal yang akan segera bercerai setelah melahirkan. sang istri menolak untuk diceraikan. panjang drama yang harus dia lewati sampai bisa terbebas dari wanita ular tersebut. sampai sekarang hubungan Elmira tidak baik dengan keluarga Paman sang suami. meski pamannya telah meminta maaf tapi Elmira tetap tidak mau Ronald berhubungan lagi dengan mereka. Elmira takut suaminya akan kembali masuk jeratan sang mantan. berulang kali Ronald meyakinkan Elmira bahwa tidak ada wanita lain dalam hatinya tapi tetap sulit untuk diterima oleh Elmira. Ronald hanya bisa terus bersabar menghadapi istrinya itu.
" Abhi yang salah, Abhi minta maaf..."
Abhi tidak tahan melihat papanya menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang ia perbuat.
" Abhi janji akan mencari Laras "
" untuk apa?"
Abhi menatap papanya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Abhi akan bawa Laras kembali pa"
Ronald menggeleng." jangan"
" maksud papa apa melarang Abhi mencari Laras?"
Ronald menatap Abhi penuh makna. Ronald tahu Abhi masih mencintai Laras. Dimatanya, Abhi hanya sedang kehilangan arah. seperti remaja yang sedang di fase pubertas. menggebu saat mendapatkan pacar pertama. Ronald ragu apa Abhi benar - benar menginginkan Mona menjadi istrinya, alih- alih justru menjadikan sebagai pemuas egonya. sebagai lelaki Ronald tahu seberapa besar ego Abhi terluka karena perbuatan Mona padanya. sepertinya sekarang Abhi kesulitan dalam mendefenisikan antara rasa cinta dan euforia semata. Ronald tidak ingin Abhi salah menilai perasaannya sendiri. Abhi harus mampu memahami apa yang sebenarnya ia inginkan. dengan berpisah sementara akan membantunya agar lebih mudah menentukan pilihan.
" biarkan Laras menjalani kehidupannya sendiri, kamu fokus saja pada istri dan anakmu "
" Laras juga istri Abhi pa, dia istri sah Abhi! menantu papa "
Ronald tersenyum samar.
" papa tahu, tapi sebaiknya kamu gunakan saja waktumu untuk membuat Mona bisa dekat dengan anak -anakmu. terutama dengan Rara. jangan sampai Rara sakit karena tidak kalian urus dengan baik"
Abhi tidak membantah ucapan papanya lagi. Abhi memang ingin hal itu terjadi secepatnya. Semoga saja hal itu bisa segera terwujud.
kembali kemasa sekarang, Abhi hanya bisa mengusap wajahnya gusar. Rara masih mogok makan. Sinta memasang wajah cemberut. bik Asih masih sibuk dibelakang tidak kunjung mengantar kopinya.
" bik..!"
Bik Asih datang tergopoh
" kopi saya mana ?"
" astaga pak, bibik lupa. non sinta minta dibuatkan bekal padahal tadi tidak bilang sebelumnya "
Abhi membuang nafasnya kasar.
" bikin saja kopinya dulu bik, ntar lanjutin lagi bikin bekalnya"
bik Asih mengangguk.
" nanti kakak terlambat pah"
" ntar papa suruh pak ujang ngantar sebelum jam makan siang"
Sinta masih juga manyun.
Abhi mengalihkan perhatiannya pada Rara.
" Rara, makan rotinya cepat" kata Abhi tegas.
" adek mau makan nasi goreng " ucap Rara sambil meletakkan rotinya ke piring.
" besok makan nasi gorengnya sekarang habiskan dulu rotinya!"
Rara terpaksa memakan rotinya dengan susah payah. dia takut papanya marah.
Mona memasuki dapur bersamaan dengan bik Asih yang meletakkan cangkir gelas kopi Abhi.
" pagi semua... " sapanya terburu - buru.
tak ada yang menjawab.
diraihnya teko air putih lalu dituangkan kegelas yang tersedia diatas meja. minum dengan anggun sambil berdiri.
" Rara sayang.. besok mama bikinin nasi goreng ya.." janjinya kelewat manis.
" Sinta mau berangkat sama mama?" tawarnya.
Sinta menggeleng. Abhi mengangguk pada Sinta membuat Sinta terpaksa merubah keputusannya.
" Sayang, aku berangkat duluan ya ada meeting pagi.." pamit Mona sambil mencium pipi Abhi. tak menunggu jawaban Abhi dia segera berlalu keluar. mobilnya sudah disiapkan oleh mang Asep.
Abhi menghembuskan nafasnya panjang. Mulai merasa jengah dengan tingkah Mona yang seolah tidak peduli dengan mereka. Seandainya Laras ada disini pasti dia tidak perlu mengalami pagi yang seperti ini.
" non Rara ayo berangkat " ajak bik asih. mulai sekarang Rara akan diantar oleh pak ujang dan bik Asih.
Rara berangkat dengan wajah lesu.
Abhi akan meminta Mona untuk lebih memperhatikan Rara. semoga besok pagi Mona menyiapkan sarapan untuk mereka.
***
Jauh di provinsi yang berbeda, Laras bangun pagi seperti biasa. sadar tidak ada rutinitas yang harus segera dikerjakan Laras kembali rebahan. menyalakan televisi untuk pengusir sepi. sengaja tidak memainkan ponsel karena sejak kemarin tidak ia aktifkan. masih terlalu pagi untuk sekedar sarapan pagi.
televisi menayangkan berita pagi. Laras tidak menyimak sama sekali. yang ada dibenaknya hanya Abhi, Sinta dan Rara. sarapan apa mereka hari ini. apa putri kecilnya mencarinya atau keberadaan Mona sudah bisa menggantikan posisinya.
kenapa rasanya sakit sekali jika hal itu sampai terjadi...
pukul sembilan pagi barulah Laras meninggalkan kamarnya menuju restoran yang berada di lantai teratas hotel. awalnya ingin mengambil menu nasi goreng tapi urung Laras lakukan karena kembali teringat pada Rara. putri bungsunya itu memang sangat menyukai sarapan khas masyarakat indonesia itu. akhirnya Laras mengambil aneka jajanan pasar dan secangkir teh panas. mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan untuk mencari tempat duduk semua meja telah terisi penuh. Laras mengarahkan kakinya menuju balkon. biasanya tamu akan malas duduk di luar saat hari masih pagi. cuaca disini dingin sekali. bisa membuat pengunjung dari luar daerah jadi menggigil kedinginan. benar saja. tidak banyak tamu hotel yang sarapan di luar . hanya beberapa orang saja yang memang sengaja sarapan sambil merokok disana. Laras duduk di sebuah meja yang kosong. meletakkan piring berisi kue beserta teh panasnya. tidak langsung makan Laras malah kembali termenung.
" boleh gabung disini?" sebuah suara memecah lamunan Laras. seorang pria sedang berdiri dengan memegang piring dan cangkir.
menoleh kekiri dan kanan Laras menemukan hampir semua meja telah penuh. sejak kapan orang - orang itu pada datang. kenapa ia tidak menyadarinya.
" bagaimana boleh saya duduk disini? "
Melihat Laras keberatan kembali pria itu berkata," mereka pada merokok kebetulan saya nggak merokok"
ah, begitu rupanya.
Laras mengangguk setuju.
pria itu tersenyum sembari duduk.
" terima kasih "
Mereka kemudian menikmati sarapannya dalam diam. Laras tidak tertarik untuk berkenalan ataupun membuka percakapan ringan. Pria itu sempat melihat gurat kesedihan yang menggelayut di wajah Laras. Wanita ini tidak sedang patah hatikan? batin Adrian.
seharusnya Adrian tidak perlu repot - repot sarapan bersama pengunjung hotel yang lainnya. hotel itu milik kakeknya. sudah diwariskan kepadanya.
setiap berkunjung Kesini, Adrian selalu memposisikan dirinya sebagai pengunjung. dengan begitu pengalaman yang ia dapatkan adalah pengalaman yang sebenarnya yang dirasakan oleh para pengunjung bukan sebaliknya.
Laras menyudahi sarapannya. bangkit tanpa merasa perlu pamitan pada teman semejanya. Laras ingin kembali ke kamar. mungkin sebaiknya ia mengaktifkan kembali hpnya. Laras perlu menghubungi Dea.
Adrian menatap kepergian Laras dengan mengerutkan dahinya. apa ia sedang bermimpi? kapan ya terakhir kali ia dicuekin oleh seorang wanita? SMA ?
bukan, terakhir kali itu saat ia masih SMP . waktu itu dia masih gendut dan berkaca mata. sudah lama sekali masa itu terlewati. sampai ia saja sudah lupa bagaimana rasanya karena sejak SMA ia selalu menjadi rebutan cewek - cewek.
fix! wanita barusan pasti sedang patah hati makanya dia bisa meninggalkan Adrian tanpa berkenalan dulu. dalam situasi normal bisa Adrian pastikan pertemuan mereka akan berakhir dengan saling bertukar nomor kontak bahkan tak jarang menjadi kontak fisik yang menyenangkan.
***
Marco mampir ke 'La bakery dan cafe. hanya ada Dea disana. Ingin rasanya menanyakan keadaan Laras tapi ia urungkan melihat kondisi cafe yang sedang ramai. Dea sendiri ikut turun tangan melayani pengunjung.
Abhi masuk langsung menemui Dea. Marco bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Abhi sedang menanyakan keberadaan Laras. Marco tersenyum samar. jadi akhirnya Laras meninggalkan seorang Abhiyaksa. ternyata Laras tidak selemah yang ia fikir selama ini. tapi kemana perginya Laras.
Marco akan mencari Laras. Marco akan membantu Laras lepas sepenuhnya dari Suaminya.
Abhi menggeram menahan emosi pada Dea. Abhi tahu Dea membohonginya. tidak mungkin Dea tidak tahu kemana Laras pergi.
" kamu yakin mau terus berbohong begini? kamu nggak lupakan kalau gedung ini milik siapa?"
Dea menganga nggak percaya seorang Abhiyaksa bisa mengeluarkan ancaman seperti itu padanya.
" saya tahu "
" kalau kamu tahu kenapa masih ngotot menyembunyikan keberadaan Laras dari saya? "
" saya benar - benar tidak tahu pak "
Abhi menatap Dea dengan sinis. ternyata Dea masih ingin menguji kesabarannya.
" Laras memang pamit tapi cuma lewat telfon. dia juga ngirim barang- barangnya kesini "
Laras pasrah kalau Abhi masih tidak percaya. ia sudah mengatakan kebenarannya.
Abhi percaya Dea tidak berbohong.
kalau Laras mengirim barang - barangnya kesini berarti Laras tidak berniat untuk pergi jauh.
" kalau Laras menelfon, bilang padanya kalau saya akan mengambil alih gedung ini". ancam Abhi tanpa perasaan.
Rasa shock membuat Dea tidak menyadari Abhi sudah berlalu dari hadapannya. berganti dengan Marco.
" kalau Laras menelfon, bilang padanya kalau saya siap membantu dia melawan suaminya "
Dea menatap Marco horor. mengapa Marco tahu apa yang barusan terjadi. sepertinya Marco sudah ada sedari tadi.
Marco mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. " Hubungi saya ke nomor ini, sekalian tolong beritahu Laras juga "
Dea cuma bisa mengangguk .
'duh Laras... kamu dimana?'
Dea tidak ingin Abhi sampai menutup tempat usaha mereka. selain dirinya, ada yang lain juga yang menggantungkan rezekinya disini. hanya Laras yang bisa mencegah agar hal itu tidak sampai terjadi. Dea berdoa dalam hati semoga Laras segera menghubunginya.