sesampainya di kamar Laras tidak segera menelfon Dea. niat yang tadi sempat menggebu mendadak sirna. telfon genggam yang sedari tadi dipegangnya tidak kunjung ia nyalakan. kembali ditaruhnya di atas meja. ada ketakutan saat telfon dinyalakan ia jadi tidak bisa menahan diri untuk menelfon Abhi. Rasa rindu pada suami dan anak - anaknya akan jadi alasannya. Perasaannya masih labil. Laras masih butuh banyak waktu untuk menyendiri.
Laras perlu mengalihkan fikirannya agar tidak terus terjebak pada masalah yang sama. dan cara terbaik bukan dengan mengurung diri. Laras harus mencari suasana yang baru. memang itu niatnyakan.
maka, disinilah Laras sekarang. sedang berjalan menyusuri pasar tradisional yang ada di luar kawasan hotel. disepanjang pasar yang berada di kiri kanan jalan banyak yang menjual jajanan pasar, lauk matang hasil dari danau dan aneka barang kerajinan tangan. pasar yang tidak terlalu besar itu memang lebih banyak menjual barang jadi. sepertinya memang sengaja untuk menarik minat para wisatawan yang datang kedanau kedua terbesar di daerah tersebut. secara keseluruhan pasar yang berada di simpang empat jalan tersebut bisa Laras lalui tak lebih dari setengah jam saja. yang bikin jalanan macet tentu saja karena wisatawan tidak akan lewat begitu saja seperti Laras. mereka pasti lebih banyak singgah disetiap lapak para pedagang. bukan seperti Laras yang terus berjalan tahu - tahu sudah keluar dari area pasar. melepaskan pandangan kesekeliling tempatnya berdiri Laras bisa melihat jalan lurus menuju rumah penduduk. sebelum lanjut berjalan Laras menoleh kebelakang ketempat ia datang tadi. memastikan lagi agar nantinya jangan sampai tersesat saat kembali. setelah yakin dengan ingatannya sendiri, Laras pun berjalan kearah perumahan penduduk. rasa takjub mulai menyusuri jiwanya. bagaimana tidak, sejauh matanya memandang yang ia lihat ada lah deretan rumah yang semuanya dipagari oleh bunga. ada yang memakai bunga rombusa putih, soka , pucuk merah dan lain sebagainya yang Laras sendiri tidak tahu namanya. semuanya terlihat begitu asri dan indah dipandang mata. Laras jadi membayangkan betapa nyamannya tinggal disini. rumah sederhana dengan halaman ditutupi batu kerikil putih. terlihat bersih dan rapi. di timpahi bunyi deburan ombak yang berasal dari danau yang terletak di belakang perumahan. Alangkah beruntungnya kalau ia bisa tinggal disini...
terus berjalan sambil melihat kiri dan kanan, mata Laras melihat sebuah rumah yang ditempeli tanda akan di jual. Rumah bergaya minimalis tersebut mengunci indra penglihatan Laras. rumah tersebut terlihat berbeda karena dipagari oleh bunga bambu air.
sadar tidak membawa ponsel untuk sekedar memotret rumah tersebut, Laras cukup berpuas diri hanya bisa melihat saja. mungkin nanti sore atau besok pagi ia kembali lagi dengan membawa ponselnya.
Adrian yang sedang bersepeda santai menghentikan sepedanya tepat didepan rumah yang rencananya akan ia beli. kemarin Adrian sudah janjian dengan pemiliknya. rumah tersebut nantinya akan ia jadikan salah satu homestaynya. selain rumah tersebut sudah ada lima buah rumah yang sudah menjadi miliknya. mengingat banyak wisatawan yang tidak semuanya menginginkan tinggal di penginapan berupa hotel maka Adrian menyediakan rumah yang bisa disewa dalam jangka waktu yang singkat. setiap ada warga yang ingin menjual rumahnya Adrian tidak akan berfikir lama untuk membelinya. asalkan masih berada disekitaran danau. rumah yang sudah tua dan rusak akan direnovasi dulu sebelum diposting di website hotel. khusus rumah yang sekarang akan ia beli sudah bisa langsung ditempati karena sebelumnya masih sering dikunjungi oleh pemilik rumah disetiap akhir pekan.
Adrian memicingkan matanya begitu melihat wanita patah hati sedang berdiri diteras rumah.
merasa ada yang memperhatikannya Laras membalikkan badan. benar saja, ada seorang pesepeda yang juga melihat kearah rumah yang akan dijual tersebut. Laras segera keluar dari pekarangan rumah. sebelum berlalu pergi Laras tersenyum sekilas sebagai tanda permisi.
Adrian terpaku melihat senyuman wanita itu. wanita yang manis. tapi... Jangan bilang dia tidak mengenalinya. sebagai teman semeja saat sarapan yang bahkan belum lewat dari enam jam. Pesonanya tidak mempan rupanya. pasti karena dia tidak tahu siapa Adrian prawira sebenarnya.
***
Untuk makan siang Laras sudah membeli kerang pensi pedas dan nasi. kerang pensi adalah hasil dari danau yang ada di dekat hotel.
rasa pedas dan asin dari kerang cukup menggugah selera Laras. lumayan menambah tenaga setelah beberapa hari belakangan jadwal makannya jadi kacau.
selepas sholat Ashar barulah Laras menyalakan hp nya.
banyak panggilan dan pesan yang masuk.
beberapa dari Abhi yang memintanya untuk menelfon balik. Laras belum berniat untuk menelfonnya sedikitpun.
selain dari pesan dari mama Elmira yang menanyakan kabarnya, pesan dari Dea cukup menyita perhatiannya.
setelah membalas pesan dari sang mertua dengan mengatakan kalau ia sedang baik - baik saja. Laras segera menelfon Dea.
"akhirnya kamu menelfon" ucap Dea begitu telfon mereka terhubung. Merasa lega sekali. semua yang terjadi bisa Dea sampaikan pada Laras.
Laras menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan demi mengurangi emosinya. apa yang dikatakan oleh Dea membuatnya semakin merasa apa yang dilakukannya sekarang memang sudah benar. apakah sudah waktunya untuk berpisah?
" Ras kamu masih dengerin akukan? "
Dea memanggil Laras karena tidak ada tanggapan dari Laras.
" kapan kamu akan kembali dan menyelesaikan masalah ini? "
" secepatnya De..."
" Maaf ya Ras bukannya aku tidak bersimpati dengan apa yang terjadi tapi anak - anak butuh kepastian nasib mereka, takutnya kalau suami kamu benaran sampai menyegel gedung meraka mau kerja apa? "
kembali Laras menarik nafas berat. teganya Abhi mengancam karyawannya.
" De, kamu tenangkan yang lain ya. yakinkan mereka bahwa semuanya akan baik - baik saja. aku akan segera kembali " ucap Laras menenangkan Dea.
" oke bos! kamu bisa ngandalin aku " nada jenaka dalam nada suara Dea sengaja dia lakukan untuk menghibur Laras. walau sejujurnya Dea masih khawatir dengan kelangsungan usaha mereka jika Laras bercerai dari Abhi nantinya. dalam hatinya yang terdalam Dea masih berharap Abhi nantinya diberi kesadaran untuk kembali kesisi Laras. jika selama ini Laras sangat mencintai Abhi dan anak - anaknya maka sudah seharusnya Abhi juga mencintai Laras.
Laras tidak langsung pulang karena nantinya ia tidak mau kemalaman di jalan. Laras akan pulang besok pagi saja. rasanya lebih aman bepergian jauh pada siang hari.
Pagi hari, Laras memulainya dengan memastikan semua barangnya sudah masuk kekoper. Laras tidak sarapan di hotel seperti biasanya. Laras akan sarapan di pasar saja. sayang rasanya melewatkan kesempatan untuk mencoba kulineran khas daerah tersebut.
Laras chek out tepat pukul sembilan pagi. karena travel yang akan ia tumpangi belum tiba, Laras memilih untuk menunggu di Lobi. tak banyak pengunjung yang ada disana. karena pastinya sebagian besar masih sarapan di restoran yang berada di lantai teratas gedung.
seorang pria yang duduk disana sedikit menyita perhatian Laras. sepertinya wajah orang itu lumayan familiar baginya. tapi Laras tidak yakin apa ia mengenalnya. Malas dianggap sok kenal maka Laras hanya menyapa dengan sebuah anggukan saja. yang justru membuat orang itu mengerutkan dahinya. orang itu Adrian. sama seperti Laras , Adrian juga sedang menunggu jemputannya. balas mengangguk Adrian juga tersenyum pada Laras. setelahnya mereka asyik dengan ponselnya masing - masing. tidak seperti Laras yang memang fokus dengan ponselnya. Adrian masih sempat curi pandang pada Laras. sepertinya wanita patah hati sudah mulai kembali normal. suasana adem di tempat ini memang bagus untuk mereka yang sedang healing.
begitu travel minibusnya datang Laras segera bangkit dan berlalu tanpa pamit pada Adrian. pria itu memandang kepergian Laras dengan sedikit rasa sesal karena tidak sempat berkenalan. rasa percaya dirinya yang cenderung berlebihan memaksa Adrian untuk menunggu. Adrian yakin ia hanya cukup menunggu karena seperti yang biasanya terjadi pasti sang wanita yang ngebet untuk ngajak kenalan. tapi Adrian harus mengakui untuk pertama kalinya pesonanya tidak menarik dimata wanita itu. Adrian menghembuskan nafasnya kasar. entah kenapa ia harus kesal untuk hal yang sepele begitu.
***
sampai di 'La bakery and Cafe Laras disambut dengan heboh oleh karyawannya. seperti prajurit pulang perang saja.
selesai beramah tamah dan meyakinkan mereka kalau semuanya akan tetap berjalan seperti biasanya Laras meninggalkan mereka menuju lantai atas . Mulai sekarang Laras akan tinggal di toko saja. tempatnya sangat layak untuk si tempati. sangat bersih karena memang selalu dirawat. tempat Rara tidur siang selagi menunggu Laras bekerja. putri kecilnya, apa kabarnya hari ini? Laras tidak pernah melewatkan waktu tanpa mengingat anak - anaknya.
sambil rebahan di kasur, Laras memandangi fhoto mereka di sana . Rara yang ceria. Sinta yang lebih banyak diam dan Abhi ...
Mas Abhi ... saat kita bersama, apa kamu tidak cukup bahagia ?
Sebulir air bening lolos dari mata Laras. rasa sesak menyeruak di dadanya. badannya bergetar menahan tangisan.
" Ibu bangun! "
suara itu.
" Ibu cepat bangun adek lapar! "
tidak mungkin suara Rara.
" Ibu....!! "
teriakan Rara tepat ditelingan Laras membuatnya langsung terlonjak bangun. terduduk linglung. retinanya menangkap sosok yang ia rindukan sedang tersenyum padanya. diraihnya tubuh Rara untuk meyakinkan apa ini nyata atau cuma ilusi. Rara menghambur kepelukannya. menangis .
Laras yakin ia tidak sedang bermimpi.
" Ibu jahat, pergi nggak ngajak adek..."
Laras ikut menangis bersama anaknya. diambang pintu Elmira menyaksikan sambil menyeka air matanya. tadi saat Rara memaksa datang ke toko untuk bertemu Laras , ia sudah menolak . takut membuat cucunya semakin bersedih. tapi Rara terus memaksa. Elmira sudah memikirkan akan membawa Laras ke Mall setelah dari toko untuk menghiburnya. tapi ternyata ketakutannya tidak terjadi. Laras sudah kembali.
" Ibu jahat..."
Laras memeluk Rara tambah erat.
" sstt... "
Rara masih menangis sesegukan.
" Maafin ibu ya sayang " bisiknya pelan.
" Ibu janji nggak akan pergi lagi "
Diciumnya pipi gembul Rara. sambil tangannya menyeka air mata yang mengalir.
" adek jangan nangis lagi ya? "
Rara hanya mengangguk dalam dekapan Laras.
Elmira ikut bergabung. dipeluknya Laras penuh kerinduan.
Puas melepas rindu. mereka bertiga makan bersama dengan makanan yang sudah dipesan oleh Dea.
" kamu yakin tidak tinggal sama mama saja?"
sekali lagi Elmira meyakinkan Laras untuk ikut pulang bersama mereka.
Laras mengangguk yakin.
" kamu berani tinggal sendirian disini? "
" Dea akan menemani Laras tinggal disini".
Dea memang berjanji akan sering menginap. Seandainyapun Dea tidak ada Laras juga tidak takut harus sendiri.
Mama mertuanya hanya sedikit berlebihan saja . Cafe Laras berada di komplek rukan yang sangat padat. siang dan malam nyaris tidak ada bedanya.
" adek mau tinggal disini saja sama Ibu "
Laras menggeleng, " jangan nak, nanti papa sama mama nyariin"
Rara cemberut.
" pulang sekolah adek bisa main sama Ibu sepuasnya disini"
Rara menatap Laras dan omanya bergantian.
Elmira mengangguk meyakinkan.
" apa sih salahnya adek tinggal disini. sekolah adek juga dekat. pasti adek lebih rajin sekolahnya "
celotehan Rara membuat Laras dan Elmira tersenyum geli.
" kalau ada apa - apa jangan sungkan menelfon mama papa ya? "
Laras mengangguk. setelah saling berpelukan, Elmira dan Rara pun pulang.
sengaja Laras tidak membahas persoalan toko dengan Elmira. tidak mau melibatkan Elmira terlalu banyak dalam persoalannya dengan Abhi.
***
sejak subuh Mona sudah berkutat di dapur. sengaja ia memasang Alarm agar bisa bangun pagi demi menyiapkan sarapan buat suami dan anak - anaknya. Mona akan menunjukkan pada mereka kalau ia juga bisa melakukan apa yang Laras biasa lakukan. jika Mona tidak segera melakukannya ia yakin anak- anaknya akan selalu menganggap Laras lebih baik darinya. Mona tidak mau selalu dibayang - bayangi oleh Laras. meski tidak mengatakan secara langsung tapi ia tahu kalau anak - anaknya membandingkannya dengan Laras. bik Asih yang berniat membantu sudah ia suruh pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Abhi, Sinta dan Rara sudah duduk dengan tenang di ruang makan.
Ketenangan mereka tidak bertahan lama karena sarapan yang ditunggu tidak kunjung datang sedangkan jam didinding terus berputar mendekati jam tujuh. tinggal sepuluh menit lagi tepat pukul tujuh. anak - anak masuk sekolah jam setengah delapan. jarak tempuh dari rumah kesekolah kalau tidak macet sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Abhi melihat muka anak - anaknya sudah mulai cemberut. hari masih pagi dan mood mereka sudah buruk.
Abhi bangkit dari duduknya untuk menyusul Mona kedapur. Langkah kakinya lansung berhenti melihat penampakan dapur yang berantakan. sisa bumbu berceceran diatas meja dapur. sampah kulit telur, kulit bawang dan bungkus kemasan sosis berserakan dari samping kompor sampai ke sink. mengapa dapur yang biasanya terlihat bersih dan rapi bisa berubah menjadi seperti kena tiupan angin kencang begini. Mona yang belum menyadari kedatangan Abhi nampak sedang menyelesaikan masakannya.
" sudah siap ma? "
Abhi hendak berjalan mendekat.
Mona membalikkan tubuhnya.
" sebentar lagi, papa tunggu di depan saja." jawabnya meyakinkan Abhi.
Abhi melongok kearah panci. terlihat cukup menggugah selera.
" papa mau teh atau kopi? "
Abhi mengedarkan pandangnya " bik Asih mana? "
" kok malah nanyain bik Asih sih? mama kan nanyain papa mau minum apa? "
Abhi tersenyum kecut.
" mama kan sedang sibuk masak, kenapa tidak minta bantuan bik Asih? "
Mona tersenyum penuh percaya diri " mama sengaja nyuruh dia ngerjain kerjaan yang lain. khusus hari ini mama akan masak spesial buat papa dan anak - anak".
Abhi tersenyum mendengar ucapan Mona. hatinya menghangat melihat Mona yang mulai menunjukkan perhatiannya pada mereka.
" jadi papa mau minum apa?"
" kopi saja "
setelah mengatakan pesanannya dan mengikuti permintaan Mona, Abhi kembali ke meja makan.
tak lama Mona muncul dengan nampan berisi empat piring nasi goreng dan secangkir kopi untuk Abhi.
dengan cekatan Mona menyajikan masakan buatanya tersebut di depan anak dan suaminya.
" silahkan dinikmati..." ucapnya seperti pelayan di restoran. Lengkap dengan senyuman manisnya.
Abhi langsung meminum kopinya. pahit sekali. mungkin Mona terlalu sedikit memasukkan gulanya, atau justru tidak sama sekali.
" hambar, gak ada rasanya! adek nggak mau.."
Rara mendorong piringnya padahal baru makan satu sendok saja.
Sinta memilih seolah tidak mendengar kata - kata Rara.
Mona menatap Rara tidak terima makanan yang telah susah payah ia masak diperlakukan seperti itu.
Abhi melihat anak istrinya bergantian.
diambilnya sendok dan langsung dimakannya. ia juga penasaran dengan rasa masakan Mona. seingatnya masakan Mona tidaklah terlalu buruk. masih layak untuk dimakan.
krekk...
Abhi menutup matanya dramatis begitu giginya mengunyah garam yang menggumpal. pantas saja Rara merasa makanannya hambar karena garamnya tidak tercampur rata.
" Hmm... enak kok dek, papa aja suka"
Abhi memilih untuk berbohong untuk menjaga perasaan Mona. benar saja, muka Mona yang awalnya sudah asem jadi manis lagi. Sinta menatap papanya nggak percaya. tapi tidak mengatakan apa - apa.
Abhi berdehem untuk mengusir rasa salah tingkahnya karena ketahuan berbohong oleh Sinta.
" Adek tetap nggak mau makan. nanti adek minta roti sama Ibu saja". ucapnya sambil berlalu keluar. menuju pak ujang yang sudah menunggu sejak tadi.
Abhi tidak salah dengarkan? tadi Rara bilang akan meminta Roti kepada Laras. apa itu artinya Laras sudah kembali.
Abhi menggeleng . tidak mungkin Laras kembali. kalau Laras kembali pasti dia sudah menemuinya.
pasti yang Rara maksud adalah roti dari toko Laras.
" Adek tungguin! kakak mau bareng ".
Sinta ikut berdiri.
" Sinta duluan pa , ma..." pamitnya sambil bergegas mengejar Rara. sama seperti Rara, Sinta juga tidak menghabiskan sarapannya.
Abhi menatap kepergian anak - anaknya sekilas kemudian kembali menyendok sisa nasi gorengnya.
" nggak usah dimakan "
" ya "
Abhi menatap Mona dengan selidik.
" kalau nggak enak nggak usah dimakan, sudah cukup pura - puranya ".
Abhi menaruh kembali sendoknya diatas piring . Ia iba melihat Mona yang seperti ini, tapi tetap tidak bisa menyalahkan anak - anak juga. Rara masih kecil jadi wajar kalau dia selalu jujur dengan apa yang dia rasakan. anak kecil memang cenderung tidak bisa menjaga perasaan orang lain karena dia belum mengerti segala macam intrik dan drama kehidupan ini.
Abhi berdiri dan berjalan kearah kursi Mona. dipeluknya ibu dari anak - anaknya itu dari belakang.
" Kamu yang sabar ya sayang... nanti anak - anak pasti akan menerima kamu juga"
Mona melepaskan pelukan Abhi dengan kasar.
dibalikkan badannya kearah Abhi.
" kapan Mas?! Kapan saat itu tiba? " tanyanya sarat emosi.
Abhi tidak tahu harus menjawab apa. karena sejujurnya ia juga tidak tahu kapan masanya.
" masa itu tidak akan pernah terjadi karena Laras sudah meracuni otak mereka selama ini!"
" Mona! jangan menuduh sembarangan. Laras bukan orang yang seperti itu "
Tuduhan Mona pada Laras tidak mendasar sama sekali. Abhi tidak terima wanita sebaik Laras dituduh sekeji itu. Semua kebaikan Laras tulus pada mereka, tidak pernah sekalipun Abhi meragukannya.
" kamu membela dia mas? "
" aku cuma mengatakan yang sebenarnya"
Mona mendengkus sinis " sepertinya ada yang tidak rela istrinya di jelek- jelekin" sindir Mona tak terima.
Abhi tidak ingin terbawa emosi.
" aku berangkat dulu " pamitnya tanpa mencium Mona seperti biasanya.
Abhi memejamkan matanya sepanjang perjalanan ke kantor. bayangan Laras menari di benaknya. demi Tuhan, Abhi sangat merindukan wanita itu.