harus memilih

1313 Words
Devan tidak menyangka akan kedatangan Laras di kantornya pagi ini. Memang bukan untuk bertemu dengannya, tentu saja Laras akan menjumpai Abhi, suaminya. setelah kedatangan Mona kembali dalam hidup Abhi rasanya Devan tidak pernah melihat Laras berkunjung lagi. sebelumnya Laras dan Rara sering datang sekadar untuk makan bersama dengan Abhi. tak jarang Laras membawa bekal makan siang untuk mereka dari rumah. Devan juga sering diajak makan bersama. karena tidak mau mengganggu quality time keluarga bahagia tersebut maka Devan menolak untuk bergabung . karena Devan sering menolak tak jarang Laras menyiapkan bekal tersendiri bagi Devan. Devan sempat terharu dengan perhatian istri teman baiknya itu. Akhir - akhir ini justru Mona yang sering berkunjung ke kantor mereka. berbeda dengan Laras yang sering membawakan bekal makan siang, Mona datang untuk mengajak Abhi makan di luar. makan siang yang biasanya memerlukan waktu satu jam sering molor berjam - jam. beberapa kali bahkan kebablasan karena Abhi tidak masuk kantor lagi. waktu yang harusnya dipakai untuk bekerja di kantor Abhi pakai untuk bermesraan dengan Mona. Lambat laun para karyawan mereka pun jadi tahu kalau Abhi menikah lagi. berita Abhi yang menduakan Laras cukup menyita perhatian mereka. setelah Devan mengeluarkan peringatan tak tertulis barulah gosip mulai menghilang. tidak akan bisa hilang sepenuhnya karena jelas dari bisik - bisik di belakang Devan masih mendengar mereka menggunjingkan Abhi sebagai suami serakah. tidak sepenuhnya salah memang. " Mas Abhi ada? " Devan tersadar dari lamunan singkatnya. Laras sedang menunggu jawaban darinya tapi Devan tidak bisa langsung menjawab. Lebih tepatnya bingung harus menjawab apa. didalam ruangan Abhi sedang ada Mona. tidak biasanya kedua istri Abhi berkunjung disaat hari relatif masih pagi. biasanya mereka datang saat waktu makan siang. Melihat gelagat mencurigakan dari Devan, Laras tahu ada yang sedang Devan sembunyikan darinya. tanpa meminta izin sebelumnya Laras langsung saja masuk ke ruangan Abhi. " Ras, tung... gu..." ucapan Devan terhenti bersamaan dengan langkah kaki Laras. penyebabnya sama. pemandangan di dalam ruanganlah yang membuat keduanya sontak membatu. Abhi sedang berciuman mesra dengan Mona. bukan ciuman mesra. Abhi dan Mona tidak mungkin cuma berciuman mesra. mereka kalau sedang berciuman akan menjadi Liar. sama - sama agresif . sama - sama saling memuaskan. " Maaf mengganggu... " Devan tidak tahu apa yang harus ia ucapkan begitu mendengar suara Laras yang terdengar tenang dan bersahaja. Devan yang awalnya khawatir dengan kondisi Laras menjadi salut pada ketegaran wanita yang usianya jauh dibawahnya itu. Abhi tersentak kaget dan langsung menghentikan ciumannya demi mendengar suara Laras. wajahnya kaku dan memucat. jika tidak dalam situasi genting begini Devan pasti dengan senang hati untuk mengolok - oloknya. Wajah Abhi yang begitu belum pernah ia lihat sebelumnya. rasain! Mona tersenyum miring. penuh kemenangan . merasa puas dengan yang barusan terjadi. bisa mengobati hatinya walau sedikit. tidak seperti Abhi yang segera melepaskan ciuman dan pegangan tangannya yang sebelumnya ada dipinggul Mona, Mona malah terkesan enggan untuk melepaskan tangannya yang berada di d**a Abhi. Laras yang melihatnya berusaha terlihat biasa saja. hatinya sudah sering tersakiti oleh mereka berdua. Menyadari arah mata Laras. Abhi segera melangkah mundur agar berjarak dengan Mona sehingga tangan Mona bisa terlepas dari dadanya. " Laras... " suara Abhi tercekat di tenggorokan. Ingin mendekat tapi langkahnya tertahan karena pergerakan Mona. " Mas aku pamit duluan, aku tunggu dirumah ya..". matanya mengedip menggoda pada Abhi. tidak lupa sebuah kecupan berlabuh dibibir Abhi. tidak bisa terelakkan oleh Abhi. Abhi sadar kalau Mona sedang memprovokasi Laras. Laras sempat memalingkan wajahnya . Abhi tahu Laras terluka oleh perbuatan Mona. rahangnya mengetat menahan emosi. Mona berlalu tanpa menyapa Laras. Devan sudah lebih dulu menghindar. " aku ingin kita bicara " kata Laras sambil berjalan kearah sofa yang ada di ruangan Abhi. Tempat Abhi biasa menerima tamu. Abhi menyusul Laras dengan langkah tergesa. setelah dekat langsung dipeluknya sang istri dari belakang. Ingin melampiaskan rasa rindu yang membuncah. Laras yang kaget langsung membalikkan badannya. mendorong Abhi sekuat tenaga. Badan besar Abhi terdorong dua langkah ke belakang. Abhi tak kalah kagetnya dengan penolakan Laras. melihat wajah cengo Abhi, Laras jadi tak enak hati. tapi tak membuatnya menyesali apa yang telah ia lakukan pada Abhi. berdosakah kalau raganya menolak disentuh oleh Abhi yang masih menjadi suami sahnya. rasanya aneh jika mengingat tangan yang ingin memeluknya adalah tangan yang sama yang sebelumnya memeluk wanita lain. " Maaf, bisa kita mulai pembicaraannya? " Laras mencoba memecah kekakuan diantara mereka. Laras sudah duduk dengan tenang diujung sofa. Abhi yang sudah berhasil menetralisir perasaannya mendudukkan badannya di samping Laras. " Mas senang kamu kembali " sebuah senyuman manis Abhi berikan pada Laras. tak berbalas karena Laras menatap Abhi dengan wajah datar cenderung malas. " apa maksud kamu mengatakan pada Dea kalau kamu akan menutup toko? " Laras bertanya tanpa menyembunyikan wajah kesalnya. Abhi memandangi Laras dengan senyum - senyum sinting. hatinya sedang senang. " kenapa malah senyum - senyum sih bukannya jawab pertanyaan aku " bukannya menjawab Abhi malah beringsut mendekat. " tetap disitu " cegah Laras dengan gusar. tidak sudi harus berdekatan dengan Abhi. Melihat Laras yang enggan didekati Abhi pun berdiri. berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil jas dan ponselnya. sambil berjalan dikenakannya jas nya. " ayo kita keluar " ajaknya. Laras menautkan alisnya waspada. " ayo cepat !" ajak Abhi kembali saat tak ada pergerakan dari Laras. "mau mas gendong?" sontak Laras melotot ngeri. " mau kemana?" " makan di luar " Laras melirik jam tangannya. belum juga jam makan siang. " Mas lapar temani makan dulu " Laras sebenarnya malas tapi mungkin ini saatnya mereka bisa bicara. Abhi mengajak Laras makan di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari kantornya. Mang Agus yang sekarang jadi sopir kantor yang menyopiri mereka kesana. untuk waktu yang cukup lama mereka lewati dengan diam. Abhi makan dengan lahap. perasaan senang karena kembalinya Laras membuatnya bisa makan dengan berselera. seperti anak kecil yang sedang berbuka puasa. Laras cukup jadi penonton saja karena ia masih kenyang. Laras menyerumput es jeruk dengan perlahan. sambil menunggu Abhi selesai makan Laras membuka aplikasi sosmed cafenya. Dea lumayan rajin menunggah menu - menu cafenya disana. salah satu bentuk ikhtiar mereka dalam memajukan 'La Bakery and Cafe. bunyi sendawa Abhi membuat Laras mengalihkan tatapan dari ponsel pada Abhi. yang ditatap cuma nyengir salah tingkah. tak lama berubah jadi senyuman manis. Laras berdehem. " Jadi apa alasan kamu mau menutup toko dengan menyegel gedung? kamu mau pakai gedung itu? untuk apa? kenapa sebelumnya nggak pernah bilang ?!" Rentetan pertanyaan Laras tidak memudarkan senyuman Abhi. daripada dihindari oleh Laras ia lebih suka dimarahi. jauh lebih melegakan. saat Laras menjauh bahkan sampai pergi dari rumah perasaan nya jadi sesak. seakan ada beban berat yang menghimpit dadanya. " Mas hanya ingin kamu kembali " Mereka saling mengunci tatapan. Mencoba menyelami perasaan masing - masing. masih ada cinta disana. masih sama besarnya. tapi bentuknya tak lagi sama. berkalang noda dan air mata. " seandainya kita bercerai apa Mas mau memberikan gedung itu buat aku? " Bagai tersengat aliran listrik Abhi tersentak saat mendengar kata - kata yang tidak akan pernah mau ia dengar. " kamu bercanda kan? " suara Abhi terdengar parau. air mukanya berubah mendung. ada ketakutan terpancar di matanya membuat mata Laras jadi berkaca - kaca melihatnya. " kamu pasti cuma bercanda kan sayang? kamu tidak mungkin mau kita ceraikan? " Laras menggeleng. mengusap air matanya kasar. Tangan Abhi terkepal meremas gelas minumannya. " kita tidak mungkin begini terus Mas, pernikahan kita sudah tidak sehat. Maaf karena aku egois tidak mau berbagi dengan wanita lain " terdengar suara Laras yang bergetar menahan tangis. Abhi menatap Laras nanar. " kamu harus memilih mas... tidak... " Laras menjeda ucapannya sambil menggeleng tegas " tidak mungkin kamu bisa memilih..." " aku nggak mau " potong Abhi cepat " aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian" Suara Abhi terdengar sama bergetarnya dengan Laras. " aku tahu ... biar aku saja yang memilih. sudah seharusnya aku yang mengalah " Laras menatap Abhi dengan lekat. " Mas Abhi, ayo kita bercerai! " TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD