harus memilih 2

1154 Words
Devan menatap Abhi prihatin. setelah drama kepergok ciuman tadi pagi Abhi dan Laras pergi bersama. menjelang sore Abhi kembali lagi kekantor. Devan fikir Abhi tidak akan kembali lagi. harusnya Abhi menghabiskan waktunya bersama Laras. Melihat wajah kusut Abhi, Devan tahu kalau Abhi tidak berhasil menenangkan Laras. istri mana yang tidak akan marah melihat suaminya b******u dengan wanita lain meski dengan istri suaminya sendiri. sebagai seorang lelaki Devan mengakui poligami memang hanya menguntungkan pihak laki - laki saja. secara perasaan wanita sangat dikorbankan. " Laras minta pisah " suara Abhi parau, sarat kesedihan dan kekecewaan. Devan tidak mengatakan apa - apa. bukannya ingin menyumpahi tapi melihat apa yang terjadi memang wajar Laras memilih untuk berpisah. Abhi pantas diceraikan oleh istrinya. " masih ada Mona " sarkas Devan ingin menggoda Abhi. Langsung dihadiahi sebuah tatapan tajam siap membunuh oleh Abhi. Devan terkekeh kecil. " sejak awal kamu pasti tahu bahwa ada resiko yang mengintai perbuatanmu kan? cepat atau lambat pasti salah satu dari mereka akan menyerah lalu minta pisah " tatapan tajam Abhi berubah menjadi raut merana. kenapa Abhi seolah menjadi korban disini. " Kalau aku yang ada diposisi kamu sejak awal aku akan menolak kehadiran Mona... karena aku orang luar jadi tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. tapi terkadang justru karena tidak melibatkan perasaan jadi orang luar hanya bisa melihat saja. dan, dari apa yang aku lihat kamu sudah salah melangkah " Abhi tidak membantah, hati kecilnya membenarkan apa yang Devan katakan. " karena hidup ini sebuah pilihan maka kamu harus memilih " " tapi aku ... " " sekarang kesempatan kamu untuk memilih sudah dipermudah oleh Laraskan? kamu tinggal menjalani saja " Devan menepuk bahu Abhi " sudah saatnya kamu harus melepaskan Laras, kasihan dia " " Aku mencintai keduanya " Devan tersenyum mendengar keegoisan Abhi yang tak pernah ia lihat sebelumnya. " kenapa aku harus memilih salah satu kalau aku bisa menafkahi keduanya. aku hanya sedang belajar untuk menjadi adil buat mereka. mengapa Laras tidak bisa bersabar? " " tidak banyak wanita yang mau dipoligami " " apa Laras nggak mikirin perasaan Rara yang sudah sangat bergantung padanya? " " jadi ini cuma demi Rara? " " bukan begitu, aku juga masih sangat mencintainya. lagipula ini juga demi kebaikan Laras kok. dia juga sudah tidak punya keluarga lagi. hanya ada aku sebagai keluarga dekatnya " " dan kamu merasa melakukannya karena masih peduli padanya? " Abhi mengangguk yakin. " kamu tuh cuma cari alasan! " suara Devan mulai meninggi. Abhi diam tergugu. " jangan egois bro. Laras sudah tidak bahagia hidup sama kamu. melepaskan dia adalah cara yang paling bijaksana. demi semua pengorbanannya selama ini apa menurutmu dia pantas kamu perlakukan seperti ini?! " *** Marco memperhatikan Laras dari tempat duduknya di sudut cafe. mau menyapa tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Laras yang tidak menyadari keberadaan Marco diantara para pengunjung terlihat sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya. Laras sedang memeriksa laporan keuangan 'La Bakery and Cafe . biasanya Laras akan bekerja di ruangannya tapi hari ini ia ingin bekerja dengan suasana yang berbeda. Dea yang duduk dihadapannya juga sedang asyik dengan laptopnya. " Sstt..." kode Dea pada Laras " ada Marco tuh " ucapnya setengah berbisik. Laras tidak langsung bereaksi. Dea sudah menceritakan tawaran Marco padanya. niatnya mungkin hanya sekedar membantu. tapi tetap saja terasa kurang tepat bagi Laras. Marco bukan siapa - siapanya. mengandalkan pertolongan darinya bisa jadi menimbulkan asumsi yang kurang baik dari orang lain. Rasanya Marco sudah sedikit lancang padanya. tiba - tiba melibatkan diri dalam persoalan pribadi orang lain bukanlah perbuatan yang terpuji. " kamu yakin nggak mau terima tawarannya ?" tanya Dea. Laras menggeleng sambil menoleh kearah Marco. Tap. pandangan mereka bersirobok. Laras terpaksa mengulas sebuah senyuman pada Marco yang tentu saja langsung dibalas oleh Marco dengan senang hati. " buat ngadapin Abhi kamu butuh seorang pengacara lho . tidak mungkin dia dengan senang hati membiarkan kamu menceraikannya dan meminta hak atas gedung ini " Dea benar. tidak mungkin Abhi dengan sukarela memberikan gedung ini padanya. gedung tempat cafenya berdiri terletak dikawasan yang sangat strategis. harga sewa gedung dan properti lainnya sangat mahal. semoga Abhi tidak mempersulit perceraian mereka nantinya. " Dia kesini .." ucapan Dea membuat Laras mengalihkan pandangannya kearah tempat duduk Marco. benar saja, Marco sedang berjalan kearah mereka dengan membawa cangkir minumannya. sampai di meja mereka langsung menaruh cangkirnya diatas meja dan menarik kursi yang kosong untuk ia duduki. Laras sempat melirik malas tapi memilih pasrah saja melihat apa yang dilakukan oleh pria setengah bule itu. Dea tersenyum senang menyambut kedatangan Marco. " kamu sudah kembali ?" Laras membalas dengan sebuah anggukan. " tinggal dimana sekarang ?" " kamu tinggal diatas " jawab Dea membuat Laras melotot padanya. sadar salah bicara Dea cuma bisa meringis . Marco tersenyum begitu menyadari kalau hubungan Laras dengan Abhi semakin berjarak. seandainya membaik, pasti Laras sudah kembali kerumah tempat tinggalnya bersama Abhi selama ini . Marco yakin tidak lama lagi mereka pasti akan bercerai. " mau tinggal di tempatku ?" tawar Marco sukses membuat Dea tersedak minumannya. Laras cuma bisa melongo. terlalu shock dengan apa yang barusan ia dengar. " maksudnya tinggal di rumah aku yang kebetulan kosong, bukan tinggal bersama..." jawab Marco mengoreksi pertanyaannya yang ambigu. " Oh... " Dea mengangguk - angguk Laras tersenyum canggung " terima kasih tawarannya. tapi kami tinggal disini saja. tinggal disini tidak terlalu buruk, malah bisa menghemat biaya transport " " iya juga sih... " balas Dea " apa - apa deket dari sini , kami juga bisa memperpanjang jam buka cafe karena tidak khawatir pulang kemalaman " " tapi disini bukanlah tempat tinggal yang nyaman " sanggah Marco. " untuk mereka yang bekeluarga mungkin memang kurang nyaman " Laras mencoba menjelaskan panjang lebar " tapi untuk kami yang saat ini sedang melajang tidak masalah. oke - oke aja kok " Marco tidak membujuk lagi. pasti Laras tidak mau melibatkannya dalam persoalan pribadinya. Marco mencoba memakluminya. untuk saat ini Marco akan melihatnya dari jauh saja. suatu saat Laras butuh bantuan barulah Marco akan turun tangan. Laras menatap Marco dengan berbagai macam praduga yang ia coba singkirkan. tidak mungkinkan Marco sedang melakukan pendekatan dengannya. tapi mendapatkan perhatian seperti ini wajar membuatnya berpikiran begitu. setelah sebelumnya menawarkan jasa pengacara sekarang sebuah hunian tempatnya berteduh, kenapa rasanya terlalu berlebihan. Marco pasti cuma kasihan padanya. Laras harus yakin bahwa semua tawaran Marco karena kasihan semata. Lagi pula, sebagai wanita yang masih terikat tali pernikahan yang sah dimata hukun dan agama Laras tidak bisa menerima kebaikan orang lain dengan sembarangan. takutnya bisa menjadi fitnah dikemudian hari. karena pada dasarnya manusia lebih suka melihat tanpa mendengar. dan itulah yang sedang dilihat oleh Abhi dari luar toko. bukannya langsung masuk dan mendengarkan pembicaraan Laras dan Marco. karena Dea belum kembali dari kamar mandi jadi yang Abhi lihat cuma Laras dan Marco saja. Abhi memilih memutar badan dan meninggalkan tempat itu dengan sebuah prasangka bahwa Laras ingin menceraikannya karena sudah menemukan pria lain sebagai pengganti dirinya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD