suara pintu yang dibuka dengan kasar dari luar membuat empat orang yang sedang berbincang serius itu sontak menoleh ke sumber suara.
Abhi dan Devan sedang menerima kedatangan Adrian dan asistennya.
adalah Laras yang masuk tanpa permisi. amarah sedang menguasai dirinya. bagaimana tidak marah jika baru saja didatangi oleh dua orang yang mengaku bagian dari tim pengacara Abhi. mereka meminta Laras untuk segera mengosongkan gedung atas perintah Abhi.
sepertinya Abhi sedang menabuh genderang perang dengannya. Laras tidak akan gentar menghadapinya.
" Laras..." Devanlah yang duluan menyapa.
Laras cuma menoleh sekilas pada Devan kemudian mengunci tatapannya pada Abhi. mulutnya terkatup rapat. matanya menatap Abhi dengan nyalang penuh amarah. Abhi yang ditatap begitu tidak menunjukkan raut yang sama. ia balas menatap Laras dengan tersenyum. " sayang .. kamu kesini? "
cih! sayang..? bisa - bisanya Abhi masih memanggilnya sayang setelah apa yang ia lakukan.
Adrian yang terkejut melihat siapa yang muncul dihadapannya, segera menetralisir raut wajahnya. Adrian mulai menerka hubungan seperti apa yang terjalin diantara wanita patah hati dengan Abhi. sama seperti pertemuan sebelumnya wanita itu tidak menyadari keberadaannya. apa Adrian tidak kasat mata?
sadar sapaannya tidak direspon oleh Laras. Abhi mengalihkan perhatiannya pada Devan dan tamunya." Maaf semuanya, sepertinya istri saya lagi membutuhkan saya." ucap Abhi dengan senyum yang terlalu dibuat - buat " pertemuannya kita tunda dulu. mungkin bisa kita jadwal ulang nantinya."
oh... istrinya, jadi wanita ini patah hati karena dipoligami oleh Abhi? kasihan juga.
" sebaiknya kita ngopi diluar sambil ngobrol - ngobrol " tawar Devan sambil berdiri.
Adrian dan Dika asistenya juga turut berdiri. mereka akan membiarkan dua orang suami istri itu menyelesaikan masalahnya. aura Laras yang menegangkan membuat mereka menyadari kalau ada hal serius yang ingin Laras bicarakan.
kening Laras berkerut saat netranya melihat sosok Adrian. apa ia mengenalnya? tidak mungkin ia mengenal rekan kerja Abhi. tapi bisa jadi. mungkin dulu ia pernah melihatnya saat masih bekerja bersama Abhi.
Adrian tersenyum sopan pada Laras. Laras balas tersenyum kaku padanya.
setelah sedikit berbasa basi, ketiga orang tersebutpun pergi meninggalkan ruangan.
" duduk dulu " Abhi mempersilahkan Laras duduk. Abhi sendiri tidak langsung duduk, ia justru berjalan menuju meja kerjanya. memanggil OB lewat telepon yang ada disana. meminta agar segera membersihkan ruangannya dan mengganti minuman bekas tamu tadi dengan minuman baru untuk Laras.
tidak kunjung bergabung, kali ini Abhi kembali menelfon seseorang dengan ponsel pintarnya.
Laras harus lebih bersabar lagi saat dilihatnya Abhi kembali meraih gagang telepon yang ada diatas meja.
ternyata Abhi sangat sibuk. apa ia datang disaat yang tidak tepat. buru - buru Laras mengusir rasa bersalahnya dengan meyakinkan diri kalau ia terpaksa melakukannya karena ulah Abhi sendiri. Laras butuh kepastian segera mungkin. biarlah ia mengganggu sekarang , nanti setelah semuanya selesai ia akan pergi dengan tenang . Abhi tidak akan ia repotkan lagi.
Abhi bergabung dengan Laras bersamaan dengan OB masuk. membiarkan OB melaksanakan tugasnya.
" Kamu serius mau melakukan ini mas ?" tanya Laras pelan setelah OB keluar.
" Nggak juga, semua terserah kamu saja "
" Maksud mas apa ? "
Abhi tidak menjawab. Abhi mengambil cangkir yang berisi teh manis dan mengangsurkannya pada Laras " minum dulu.."
Laras tidak menggubrisnya. Laras tidak sedang ingin ngeteh cantik sekarang. Abhi tidak terlalu menghiraukan penolakan Laras. Abhi meminum teh bagiannya sendiri. Abhi harus tetap tenang dalam menghadapi Laras. kalau mengikuti emosinya sendiri, ia khawatir akan lepas kendali dan membuat Laras semakin ingin pergi darinya. saat pergi dari Toko Laras emosinya benar - benar memuncak, ingin rasanya segera membawa preman satu genk untuk mengobrak - abrik tempat usaha Laras. tapi Devan berhasil menenangkannya. Devan memintanya untuk berfikir panjang terlebih dahulu. menanyai hati kecilnya apa sesungguhnya yang ia inginkan dari Laras. Dan ya... Abhi ingin Laras tetap berada disisinya. Abhi tidak ingin Laras pergi meninggalkannya. melihat Laras berbicara dengan pria lain saja sudah membuatnya kebakaran jenggot apalagi sampai ada yang menggantikannya sebagai suami Laras. membayangkan tubuh indah Laras akan disentuh oleh pria lain membuat darahnya mendidih. semua yang ada didiri Laras adalah miliknya.
kemarin saat emosi Abhi memang sempat menelfon pengacaranya. hanya sebagai sebuah gertakan saja. sengaja agar Laras datang menemuinya. disinilah Abhi merasa sangat lemah. kenapa untuk sekedar bertemu dengan Laras saja ia perlu bantuan orang lain.
Laras menunggu jawaban Abhi tidak sabar. kenapa rasanya Abhi terkesan memperlama waktu saja. seperti ingin mempermainkan emosinya. baiklah Laras tidak akan kalah. Laras akan mengikuti permainan Abhi. sampai besok pagipun akan ia jabanin yang penting masalahnya cepat selesai.
suara ketukan terdengar dari luar.
Abhi melempar senyuman pada Laras begitu menyuruh masuk pada orang yang mengetuk pintu. Laras menautkan alisnya karena tak mengerti tujuan Abhi tersenyum padanya. radar dikepalanya langsung memasang mode siaga.
Pak Candra dari divisi keuangan masuk. Laras masih ingat dengan beliau yang sekarang sudah menjabat sebagai kepala divisi keuangan.
" ini berkas yang bapak minta " lapornya sambil menyerahkan sebuah amplop besar pada Abhi. oh ternyata urusan pekerjaan.
Abhi memeriksa amplop tersebut sambil mengangguk " terima kasih pak, bapak bisa kembali bekerja "
Pak Candra mengangguk.
" saya permisi dulu pak "
balas Abhi yang mengangguk
Pak Candra menoleh pada Laras.
" bu Laras senang melihat anda disini " ucapnya pada Laras. Laras tersenyum ramah
" Pak Candra apa kabar? keluarga dirumah sehatkan? "
" Alhamdulillah semua sehat bu "
" syukurlah kalau begitu "
Abhi menatap Pak Candra tajam seakan memberi kode untuk segera keluar. menyadari kode yang dilempar oleh bosnya Pak Candra pun bergegas keluar.
sepeninggal Pak Candra kembali keheningan menyelimuti mereka. Laras berharap Abhi yang mulai berbicara untuk menyelesaikan masalah mereka. yang diharapkan tampaknya tidak merasa. kalau Laras tidak salah menduga sepertinya Abhi sedang menunggu kedatangan seseorang. apa orang itu pengacaranya?
" bisa kita lanjutkan pembicaraan kita mas? "
Laras tidak bisa menunggu lagi.
" tunggu sebentar lagi "
Benarkan Abhi sedang menunggu seseorang.
Ponsel Abhi berbunyi.
" Langsung saja keruangan saya " ujarnya pada sipenelfon.
tak lama setelah Abhi meletakkan kembali ponselnya keatas meja pintu kembali diketuk dari luar.
Laras sedikit lega karena orang yang Abhi tunggu sepertinya sudah datang.
" masuk " sahut Abhi cukup keras.
Pintu terbuka menampilkan dua orang beda kelamin . dengan setelan formal khas kantoran keduanya masuk dan bergabung dengan mereka. yang perempuan terlihat membawa berkas.
Abhi berdiri menyambut mereka. bersalaman saling menyebutkan nama masing - masing . Arga dan Melani begitu nama yang Laras dengar.
" kenalin ini istri saya, Larasati... "
Abhi mengenalkan Laras pada mereka. mau tak mau Laras bangkit untuk menyambut uluran tangan kedua orang tersebut.
" sayang, kedua orang ini dari showroom mobil ". Abhi mulai berbicara. jadi Abhi mau ganti mobil. atau pamer mau beli mobil baru. bukan urusan Laras juga.
Mereka sudah duduk saling berhadapan.
Melani mengangsurkan berkas yang sejak tadi ia pegang kepada Abhi.
" ini brosur yang bapak minta "
Abhi menerimanya dan meletakkan dihadapan Laras.
" ini mobil buat istri saya " jawab Abhi menyentak keheningan Laras.
kedua tamu Abhi tersenyum. rupanya sang nasabah sedang merencanakan sebuah kejutan pada sang istri.
" kamu yang pilih sendiri mana yang kamu suka "
Laras menatap Abhi tak percaya. sungguh ia kehilangan kata - kata dengan apa yang sedang Abhi perbuat.
Abhi tersenyum manis melihat Laras. mengira istrinya terharu karena kejutan yang ia berikan. andai Abhi tahu kalau Laras juga menginginkan sebuah mobil pasti sejak jauh hari akan ia belikan.
" Ibu sudah punya gambaran mobil seperti apa yang ibu inginkan ?" Arga bertanya pada Laras.
" Kamu serius Mas..? " tidak menjawab pertanyaan dari Arga, Laras malah bertanya pada Abhi.
" Iya dong, masa Mas bercanda sampai mengundang mereka kesini " ucapan Abhi membuat Arga dan Melani tersenyum geli.
" kamu serius mau merendahkan aku sampai begini? "
glekk
rasa geli diwajah Arga dan Melani langsung berubah dengan sebuah kerutan bingung.
Abhi yang mendengar nada tak biasa dari Laras jadi cemas sendiri. jangan bilang kalau Laras salah faham dengan niat baiknya.
" sayang , maksud Mas.. "
Laras menatap Arga dan Melani.
" bisa tinggalkan kami berdua ? "
Arga dan Melani saling berpandangan. kemudian keduanya memandang ke arah Abhi meminta pendapat. Abhi mengangguk pada mereka.
" nanti saya hubungi lagi, brosurnya ditinggal saja ".
tak menunggu lama Arga dan Melani pun keluar.
" buat apa kamu belikan aku mobil? "
" kok buat apa? ya tentu saja buat kamu pakai "
Laras menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.
" Kamu fikir aku minta cerai karena cemburu kamu membelikan mbak Mona mobil, iya? "
" bukan begitu, Mas cuma merasa buruk karena tidak pernah tahu kamu juga bisa menyetir "
Abhi jujur dengan apa yang ia katakan. sungguh ia merasa begitu buruk setiap mengingat akan hal tersebut.
Amplop yang sedari tadi diantar oleh pak Candra pun dibukanya.
sebuah kartu kredit platinum sama seperti yang ia berikan pada Mona. mengeluarkan dompetnya untuk mengeluarkan kartu debit Laras dari sana. yang Laras tinggalkan di kamarnya.
" Mas juga sudah mengganti kartu kreditmu, ini tanpa limit..."
" mas! "
Laras berteriak frustasi.
" cukup! jangan diteruskan lagi mas " potong Laras dengan nafas memburu. matanya sudah mulai berkaca - kaca.
" yang aku inginkan kita bercerai baik - baik dan Mas mau menyerahkan toko buat aku. apa permintaanku terlalu berlebihan buatmu? aku tidak akan menuntut harta gono gini. tabungan masa depan atas namakupun sudah aku tinggal dirumah "
teramat pelan suara Laras nyaris berbisik. bergetar karena teramat sedih.
" apa karena pria itu ?"
Laras tidak mengerti arah pertanyaan Abhi.
" pria yang berbicara dengan kamu tempo hari di cafe "
Marco.
Jadi Abhi kemarin datang ke toko dan melihatnya bersama Marco. mengapa juga dia tidak masuk dan berkenalan dengan Marco. harusnya Abhi langsung masuk agar tidak berspekulasi begini.
" apa dia menjanjikan masa depan padamu ?"
Laras menggeleng tegas " Namanya Marco, dia cuma pelanggan biasa. Dea yang lebih akrab dengannya "
Abhi tidak percaya begitu saja. sebagai sesama lelaki Abhi tahu apa yang ada di kepala Marco saat melihat Laras. tatapan Marco pada Laras tidak bisa dikatakan tatapan biasa . Marco pasti menaruh hati pada Laras.
" kemarin kami duduk bertiga. mungkin saat kamu lihat kami cuma berdua karena Dea kebelakang beberapa kali "
Laras tidak tahu apa masih perlu ia menjelaskan hal beginian pada Abhi. mengingat yang ia inginkan adalah bercerai harusnya ia bisa memanfaatkan hal ini agar Marco segera menceraikannya. tapi tetap saja seorang Laras yang selalu menjalani hidupnya dengan lurus - lurus saja tidak mungkin mau terjadi kesalahfahaman yang akan merugikan salah satu pihak nantinya.
" gedung itu tetap jadi milik kamu kalau kita tetap bersama " kata Abhi tetap pada pendiriannya.
" kamu nggak mau mengalah ya? "
" kamu pasti tahu apa yang mas maksud, Mas hanya ingin kita tetap bersama "
" apa itu aku bisa minta satu hal sama kamu? " tantang Laras.
Abhi mengangguk.
" ceraikan mbak Mona! "
Laras tentu saja tidak serius dengan permintaannya. Mana mungkin ia bisa bahagia hidup bersama orang yang dihatinya ada wanita lain.
Abhi menatap Laras kaget. tidak menyangka Laras meminta hal yang sulit untuk ia kabulkan.
Laras tersenyum sinis.
" kalau semua pilihan terasa sulit buatmu biar kita serahkan pada pihak ketiga saja " putus Laras sambil berdiri .
berjalan kearah pintu keluar. sebelum menggapai handle pintu Laras membalikkan badannya kembali. menatap Abhi yang juga sedang menatap kearahnya.
" Aku bukanlah tipe orang yang suka mencari keributan, kamu pasti tahu itu kan. tapi karena kamu yang ingin kita menempuh jalan itu maka aku akan bawa masalah ini ke pengadilan. siapkan diri kalian berdua karena selain akan menggugat untuk urusan perceraian kita , aku juga akan menyeret kalian untuk pasal perzinahan! "
Begitu menyelesaikan kalimat panjangnya Laras langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Abhi yang terdiam dengan mulut melongo karena shock.
TBC